Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Tremor


__ADS_3

Detik di mana setelah Hexa selesai mandi, Dhira keluar dengan tubuh yang gemetar, entah Hexa yang terlalu biasa atau dirinya yang terlalu lebay. Tapi ia benar-benar seperti orang yang diguyur air es, menggigil.


"T-Tuan, saya keluar dulu." Apa yang sudah terjadi di kamar mandi barusan, seperti sebuah mimpi, kesambet apa pria itu sampai meminta dimandikan. Untung dimandikan dalam keadaan hidup, kalo tidak? 'kan seram, ya.


Apalagi jika mengingat saat Dhira tanpa sengaja menyentuh barang antik milik Hexa, sudahlah, semuanya gelap gulita, entah di mana akan ia taruh mukanya.


Namun, Hexa yang mengira bahwa Dhira sudah terbiasa melihat tubuh seorang pria, maka ia pun bersikap seolah semua baik-baik saja, karena Dhira dari awal ia pungut di rumah bordir, tempat di mana para lelaki bisa menemukan pemuas hasrat dengan mengeluarkan beberapa uang untuk wanita-wanita yang mereka pilih.


Tak terkecuali Dhira dalam pikirannya, pasti sudah sering diboking oleh beberapa pria sehingga ia tak memikirkan bagaimana malunya wanita itu.


Dhira turun dengan tergesa-gesa menuju meja makan, ia meneguk beberapa gelas air putih sampai perutnya terasa kembung tanpa ia sadari, apalagi ia belum makan apa pun sejak sore hingga tengah malam.


"Hayo, ketahuan." Derta yang menepuk pundak Dhira membuatnya tersentak kaget.


"Astaga, kau mengejutkanku saja," tangannya pun masih bergetar


"Hayo, kamu lupa dengan hukuman yang diberikan Kak Hexa?"


"Ck, memangnya aku tidak tahu bahwa kamu sudah makan dan minum di pesta tadi? Biar sekalian dihukum sama-sama." Dhira tak peduli lagi, saat ini dia benar-benar butuh asupan lebih setelah tenaganya terkuras hebat, ia seakan dehidrasi setelah melihat pusaka paripurna itu.


"Kau kenapa, Dhira? Sakit? Tanganmu sampai gemetar gitu." Derta pun menyentuh dahi Dhira untuk mengecek suhu tubuhnya. Dhira buru-buru menyembunyikan tangannya yang gemetar, itu sangat memalukan jika sampai Derta tahu penyebabnya.


"Suhunya normal, kok. Lantas kenapa kau gemetar?" Alis Derta mengerut.


"Bukan apa-apa, mungkin karena aku tak makan malam, jadinya gini," jawab Dhira asal, sekarang ia tak punya alasan lain.


"Kalau begitu pergi saja makan, di dapur masih ada makanan, suruh Pak Wang panaskan untukmu. Kasian sampai gemetar gini." Derta menggenggam tangan Dhira dengan erat, tak tega melihatnya.


Andai saja kamu tahu, Derta. Dhira gemetar bukan karena lapar, tapi terlalu kenyang, kenyang dengan tontonan gratis oleh kakak sepupumu.


"Kak Hexa mana?" tanya Derta sambil menoleh ke atas tempat kamar Hexa berada.


"Ada di kamarnya." Menjawab itu, wajah Dhira berubah jadi merah merona, ia juga salah tingkah sebab tragedi di kamar mandi masih membayang-bayangi pikiran, menari-nari sampai membuatnya kehilangan konsentrasi.


"Kalau begitu aku temui dia dulu, kamu jangan lupa makan, ya. Jangan sampai ini menyebabkanmu sakit." Derta yang nakal dan suka ceplas-ceplos, ternyata memiliki sisi perhatian, ia peduli pada Dhira, memikirkan kesehatan Dhira.


Apakah Derta dan Hexa sungguh ada hubungan keluarga? Kenapa jauh sekali perbandingan wataknya? Pikir Dhira.

__ADS_1


"Kak, kau sudah tidur? Aku masuk, ya?" Tak ada jawaban dari dalam, Derta pun memutuskan untuk masuk ke kamar Hexa tanpa izin.


"Kau mulai lancang sekarang?" sahut Hexa yang tiba-tiba mengagetkan Derta.


Pria dengan tubuh atletis dan kuat itu, sedang duduk di pinggiran ranjang dengan menatap layar laptopnya.


Memang pria yang gila kerja, bahkan sudah tengah malam pun, ia masih memikirkan bisnisnya.


"Kak, kau tidak menemui Kak Ressa di kamar hotel yang ia sebutkan tadi?" tanya Derta yang sedikit demi sedikit ngesot mendekati Hexa.


"Tidak penting," jawab Hexa dengan wajah datar, nyaris tak peduli.


"Pantas saja dia banyak bertanya padaku, dia menanyakan hubunganmu dan Dhira, bahkan mengira bahwa kalian sudah menikah."


Seketika Hexa menoleh tajam pada Derta. "Lalu apa yang kau jawab?"


"Ya, aku jawab saja, kalian tidak punya hubungan apa-apa, dan dia bebas mengejarmu hingga kau luluh." Entengnya Derta menjawab dengan kebohongan.


"Sialan, apa yang dipikirkan oleh otak bodohmu ini, hah?" Hexa terus memukul kepala Derta dengan menggunakan bantal.


"Ampun, Kak, ampun. Aku berbohong, aku tidak mengatakan seperti itu." Lalu akhirnya pukulan Hexa pun terhenti, Derta kembali merapikan rambutnya yang berantakan.


"Coba katakan sekali lagi?" Kini Hexa memberikan kepalan tangan di hadapan Derta, memberi isyarat bahwa jika anak itu berani mengatakannya sekali lagi, maka ia akan memberikan pukulan dengan tangannya sendiri.


"Iya deh, maaf." Derta pasrah, daripada wajahnya bonyok.


"Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak mencoba menerima Kak Ressa lagi, Kak?" tanya Derta serius.


"Beban," jawab Hexa singkat, tapi Derta tak mengerti, siapa yang dimaksud, dirinya ataukah Ressa?


"Kak Ressa beban?" tanyanya memastikan, dan Hexa tak menjawab.


"Memangnya kau tak mencintainya lagi, Kak?" cunguk ini tak hentinya membubuhi Hexa dengan berbagai pertanyaan, entah apa untungnya bagi dia menanyakan begitu banyak tentang Ressa.


"Sudah berapa tahun? Kau pikir aku yang dulu dan sekarang masih sama? Waktu bisa merubah segalanya, kau akan tahu setelah kau sudah serius dalam menjalani hidupmu." Masih dengan fokus di depan laptopnya.


"Sekarang kau masih kecil, kukatakan seberapa banyak pun, kau tak akan mengerti," lanjutnya.

__ADS_1


"Enak saja, kau ini selalu menganggapku anak kecil," gerutunya tak suka.


"Kalau begitu kenapa kau tak pertimbangkan Kak Lina? Wanita pilihan kakek? Dia cukup cantik, tidak kalah dengan Kak Ressa."


Entah apa maksud dan tujuan Derta begitu banyak bicara, bahkan sampai meminta Hexa untuk mempertimbangkan Lina, untungnya bagi dia apa?


"Semakin hari kau akan semakin tua, Kak Hexa. Beda denganku, perjalananku masih panjang, masih sempat memilah beberapa wanita, sementara kau sendiri? Sudah berapa usiamu, Kak?"


"Kau pikir tubuh dan wajahmu akan terus seperti itu seiring berjalannya waktu?"


"Memangnya kau pikir wajahmu tidak akan keriput?"


"Jaman sekarang sudah sulit bagi wanita untuk menerima pria tua, kecuali jika kau memang memutuskan untuk hidup sendiri seumur hidupmu."


"Tapi satu hal yang harus kukatakan, hidup sendiri tanpa keturunan, itu tidak enak, Kak. Siapa coba yang mau meneruskan kariermu di masa mendatang saat kau sudah tua renta? Kau tidak bisa mengurus bisnismu lagi ketika kau mulai jadi pria bungkuk, Kak."


Astaga, Derta. Jauh sekali pikiranmu berkelana, meski apa yang ia katakan adalah kebenaran, memangnya Hexa akan peduli dengan segala ocehan anak ingusan yang hanya taunya bersenang-senang itu?


Namun, dibalik kalimat Derta yang mengatakan bahwa jaman sekarang sulit wanita untuk menerima pria tua, itu membuatnya seketika mengingat Dhira, entah kenapa tiba-tiba Dhira mengunci pikirannya, hingga hanya memikirkan tentang dia dan dia, tidak terpikirkan tentang wanita lain, apalagi Lina dan Ressa.


"Ah, sudahlah. Aku sudah terlalu banyak bicara, tapi kau malah diam saja."


"Tapi, Kak. Terlepas dari apa yang kuucapkan tadi, kusarankan agar kau tidak jatuh cinta pada Dhira," bisik Derta.


"Kenapa?" Hexa yang semulanya tak pernah menoleh saat Derta banyak bicara, sekarang malah dengan cepat bertanya dengan sejuta rasa penasaran yang Derta pun menyadarinya.


"Karena dia milikku." Derta pun tersenyum lebar lalu bangkit secepat mungkin, kabur adalah jalan ninja yang paling ampuh agar tak dapat hukuman dari Hexa.


"Sialan," desis Hexa kesal saat mendengar Derta mengatakan bahwa Dhira adalah miliknya. Entah kenapa ia tidak terima mendengar itu.


Sejak itu pula Hexa jadi tak fokus dengan pekerjaannya, ia mulai gelisah.


Gulang-guling, ke sana ke mari, tapi tak bisa tertidur mengingat ocehan Derta. Galau tingkat dewa.


Bersambung.


Ada yang mulai gelisah nih, Guys. Hihi.

__ADS_1


Kawal sampai halal yuk, tapi gak tau deh, si Hexa mau halalin Dhira apa kagak, itu orang mah gak ada kepastiannya. Wkwk


__ADS_2