
"Aku ingin bertemu dengan bos kalian. Minggir, jangan halangi aku!" Ressa menerobos perusahaan milik Hexa, tak peduli dengan pandangan setiap karyawan terhadapnya.
"Saya ibunya Hexa, tolong jangan menghalangi." Akhirnya ibu angkat pun bicara. Kedua satpam itu terdiam, lalu menundukkan kepala, menyadari bahwa wanita paruh baya itu memang ibu dari bos mereka.
"Maafkan kami, silahkan masuk." Satpam pun mempersilahkan.
Ressa berdecak kesal melihat kedua satpam itu, lalu masuk dengan berkacak pinggang begitu sombong.
Saat tiba di depan ruangan Hexa, Ressa kembali dicegah oleh staff sekertaris.
"Anda tidak boleh masuk, Nona. Tuan Hexa sedang tidak ada di ruangannya," ucapnya dengan sopan.
"Aku tunangannya, berani sekali kamu melarangku!" Ressa menghardik wanita itu dengan kesal, harus berapa kali lagi ia dilarang untuk bertemu dengan Hexa.
"Ressa, sudahlah. Kamu tunggu saja, nanti Hexa juga akan kembali." Ibu angkat akhirnya menegur Ressa, dari tadi ia cukup pusing melihat wanita ini, sudah seperti orang gila yang kesurupan, memangnya Hexa masih mau dengan wanita sepertinya? Jika bukan karena ia ada perlu dengan Hexa, ia juga tidak akan mau pergi bersama Ressa.
"Mm ... Mbak, bisa tolong beritahukan pada anak saya bahwa saya ada di depan ruangannya sekarang," ujar sang ibu.
"Baik, Bu." Staff tersebut pun segera menelepon Sekertaris Jo untuk menyampaikan pesan.
"Baiklah." Sekertaris Jo menjawab lalu memutuskan sambungan telepon dan membisikkannya pada Hexa, saat ini rapat masih berlangsung. Hexa tak mengatakan apa pun, ia tetap fokus dengan rapat yang sedang berjalan.
"Apa katanya?" tanya ibu angkat pada staff itu lagi.
"Tuan Hexa sedang rapat, Bu, beliau akan kembali jika sudah selesai."
"Baiklah."
Detik berikutnya, usai rapat berlangsung, Hexa kembali ke ruangannya, di depan pintu sudah ada ibu serta mantan kekasihnya. Hal itu membuat Hexa mencebik kesal.
Hexa masuk tanpa menyapa keduanya, berlalu begitu saja seolah tidak ada orang di depan pintu.
"Hexa!" Ressa segera masuk dan berteriak keras.
__ADS_1
"Nona, tolong jaga sikap Anda, tidak boleh ada keributan di ruangan Tuan Hexa." Sekertaris Jo langsung mencegah Ressa untuk mendekati bosnya.
"Lepaskan, beraninya kau melarangku bertemu Hexa, memangnya siapa kau, hah!" bentaknya geram.
Sekertaris Jo tersenyum sinis. 'Beraninya wanita ini membentakku.' Sekertaris Jo membatin sambil mencengkram tangan Ressa begitu kuat, sudah siap untuk melempar wanita itu keluar dari ruangan.
"Lepaskan!" berontak Ressa dengan wajah yang semakin memerah.
"Jo, biarkan dia bicara, kau dan Ibu keluar dulu." Hexa pun memberi perintah, ia ingin melihat seberapa berani wanita di hadapannya ini bicara di depannya.
"Baik, Tuan. Mari, Bu." Sekertaris Jo patuh dan membawa ibu angkat Hexa keluar dari ruangan.
"Ck!" Ressa berdecak kesal sembari merapikan rambutnya usai kedua orang itu keluar dari ruangan, menyisakan dirinya dan Hexa di dalam ruangan berdua.
Ia tersenyum pada Hexa. "Aku tahu kamu tidak akan begitu tega terhadapku," ujarnya penuh percaya diri.
Ia mengitari meja kerja dan berhenti di samping Hexa.
Hexa memutar kursinya menghadap ke arah Ressa, kini mereka saling memandang satu sama lain.
"Ke mari." Hexa menggerakkan telunjuknya pada Ressa.
Wanita itu tersenyum cerah, ia percaya bahwa Hexa memang masih tidak bisa melupakannya.
Ressa mendekatkan wajahnya, sembari memejamkan mata, sudah membayangkan bibir Hexa yang akan mendarat ke bibirnya.
"Enyahlah dari hadapanku!"
Namun, tak sesuai dengan bayangannya, bukan mendapat sentuhan dari Hexa, melainkan kalimat mematikan yang langsung membuatnya membuka mata dengan cepat.
Saat ia membuka mata, Hexa tidak lagi menatapnya, melainkan sebuah buku nikah yang diletakkan di atas meja kerjanya.
"Apa itu cukup untuk membuatmu menghilang dari kehidupanku?"
__ADS_1
Sebuah kalimat penegasan dari Hexa membuat jantung Ressa berdetak cepat, hampir saja ia mengeluarkan bulir bening di kelopak matanya manakala melihat sebuah buku nikah yang terpampang jelas di depan mata.
Perlahan wanita itu meraih buku nikah tersebut dengan tangan gemetar, seolah menolak apa yang terlihat saat ini.
Wajah Dhira serta wajah mantan kekasihnya ada di dalam buku tersebut, napasnya semakin memburu, dunianya seolah berhenti berputar dari porosnya. Apa ia benar-benar kalah sekarang? Bisakah ia melepaskan Hexa begitu saja setelah ia berusaha untuk berjuang dari sakit yang ia derita selama ini?
"Kamu menolakku karena aku sudah tidak bisa hamil lagi, 'kan? Kamu tidak memilihku karena kamu takut tidak akan memiliki anak, bukan?" Ressa melempar buku nikah tersebut di atas meja.
"Jika kau sudah tau jawabannya, silahkan keluar, kau tidak butuh penjelasan apa pun lagi, apa yang ingin kau tanyakan sudah kau ketahui jawabannya. Silahkan keluar, pintu sudah terbuka lebar." Hexa berdiri dan berpindah tempat menuju ke sofa, ia duduk dengan santai penuh dengan kharisma yang begitu memesona. Semakin membuat Ressa tak rela untuk melepaskan pria itu.
Ressa ikut berpindah dan berjalan menuju ke hadapan Hexa. "Kalau begitu kenapa tidak kita manfaatkan saja dia, setelah wanita itu melahirkan anak untukmu, kamu bisa membuangnya, aku akan menjadi ibu dari anakmu meski aku bukan ibu kandungnya."
Hexa mengernyit, tatapan tak suka terlihat jelas di matanya. "Johan!" seru Hexa, dan Sekertaris Jo pun masuk dengan tergesa.
"Bawa wanita ini keluar, pastikan dia tidak menggangguku lagi!" Tatapan tajamnya tersorot ke arah Ressa, ia semakin muak mendengar setiap jengkal kata yang diucapkan wanita itu.
"Nona, silahkan ikut saya." Sekertaris Jo mempersilahkan dengan sopan, tapi Ressa malah tak menggubrisnya.
"Tolong jaga sikap Anda di sini, Nona. Mari ikut saya." Sekertaris Jo langsung saja menarik tangan wanita itu dengan paksa, tak peduli apakah Ressa setuju atau tidak, selama kehadiran wanita itu mengganggu majikannya, maka ia tidak akan sungkan melemparnya sejauh mungkin demi ketenangan Hexa.
Tak tanggung-tanggung, Sekertaris Jo bahkan menyeret Ressa keluar sampai ke pintu utama perusahaan, hingga hal itu berhasil mengundang perhatian setiap karyawan yang dilewatinya.
"Silahkan pergi, tolong jangan membuat Tuan Hexa mengatakannya berkali-kali, jangan pernah mengganggunya lagi, paham?!" Tubuh Ressa ia lempar begitu saja.
Bagi Sekertaris Jo, tak ada ampun bagi pengganggu yang terus datang mengacaukan suasana hati majikannya. Baik pria, maupun wanita.
'Sialan, beraninya seorang sekertaris memperlakukanku seperti ini.'
Ressa bersusah payah untuk bangkit, rasanya seluruh tubuh itu seperti sedang diremukkan secara bersamaan.
"Kau tidak apa-apa? Maaf, bibi tidak bisa membantumu untuk membujuk Hexa."
Keduanya tampak sama-sama kecewa, wajah muram terlihat begitu jelas pada keduanya. Sebelumnya ia juga kalah dari Dhira, lalu sekarang? Sudah dua kali, kekalahan yang benar-benar sempurna tiada tandingannya.
__ADS_1