
Perjalanan kali ini, mereka diantar oleh sopir pribadi Dhira yang biasanya selalu mengantarnya ke mana pun.
Sekitar satu jam perjalanan, mereka tiba di tempat tujuan.
Sebuah vila yang cukup besar, eh, bukan cukup, tapi sangat besar juga mewah, ini sudah seperti sebuah kastil kecil.
Entah bagaimana di dalamnya.
Dhira mendongak sedikit untuk menatap bangunan besar itu, raut wajah penuh takjub serta bibir menganga tipis.
"Ayo masuk!" Hexa merangkul pundaknya hingga membuat Dhira refleks mendongak menatap wajah pria itu karena ukuran tinggi badan mereka yang berbeda.
Kaget juga mendapat rangkulan yang mendadak, apalagi dari Hexa, sejak kapan pria ini mau berinisiatif merangkulnya dengan lembut.
Tanpa mengatakan apa pun, Dhira tetap patuh dan berjalan berdampingan dengan suaminya.
Di belakang ada Pak Sopir yang menyeret dua koper besar milik mereka.
Baru tiba di halaman, sudah terlihat beberapa orang berdiri rapi di depan teras vila.
Dhira menduga bahwa itu adalah para pekerja vila yang disiapkan oleh Hexa, sebab pakaian mereka seragam dengan warna yang sama.
Satu pria dengan setelan jas hitam yang berdiri paling depan dari para pelayan itu, tersenyum hormat menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang, Tuan dan Nona Muda." Ia membungkuk dengan senyum yang tak teralihkan, dan beberapa pelayan wanita dan pria di belakangnya ikut membungkuk.
Dhira merasa tak enak diperlakukan seperti itu, ia pun ikut membungkuk untuk balik menghormati mereka, sesama manusia, derajat mereka sama saja, tidak ada yang lebih tinggi ataupun lebih rendah, Dhira tak terbiasa mendapat perlakuan yang berlebihan.
"Kalian bisa bangun," ujar Hexa yang memerintahkan mereka untuk bangkit, sebab ia tahu bahwa Dhira akan terus membungkuk jika mereka tak berhenti.
"Silahkan masuk, Tuan dan Nona Muda," ucapnya sambil tersenyum ramah.
Dhira dan Hexa pun masuk, mereka duduk di ruang tengah.
Dhira tak berhenti menatap setiap sudut vila dengan pandangan terpukau akan desainnya yang bisa dikatakan sangat luar biasa itu.
"Kamu menyukainya?" tanya Hexa, dan tanpa sadar Dhira mengangguk dengan senyuman, tanpa menoleh pada Hexa.
Namun, detik berikutnya ia tersadar, dan menatap Hexa cepat. Pria itu memandangi tingkahnya yang mungkin menurutnya aneh dan kampungan.
"M-maaf, Tuan."
__ADS_1
Ia mulai gugup, menundukkan kepala dan meremas ujung bajunya untuk menyalurkan rasa gugup itu.
"Jangan minta maaf, kemarilah." Hexa menepuk ruang kosong di sampingnya.
Sedikit ragu, tapi Dhira tetap mendekat.
Hexa meraih minuman di atas meja yang sudah disiapkan oleh para pelayan tadi, lalu menyerahkannya pada Dhira.
Dhira yang tak mengerti maksudnya, masih diam tak bergeming, mengerjap beberapa kali sambil menatap gelas di tangan Hexa.
"Minumlah, pasti haus dalam perjalanan tadi."
"Oh, iya, Tuan."
Dhira meraih gelas itu dan meneguk isinya sedikit.
Ah, jantungnya benar-benar tak aman sekarang, kenapa bisa segugup ini, padahal hanya sebuah minuman saja, tapi jantung Dhira berdisco ria tanpa kendali.
Keringat dingin mulai menjalar ke seluruh tubuh. Gemetar? Sudah pasti, tapi Dhira cukup pandai menyembunyikannya.
"Aku sudah bilang, jangan panggil tuan lagi, kamu lupa?"
Hexa mendekatkan wajahnya, pipi Dhira seketika merona merah.
"Lalu saya harus panggil apa, Tuan?"
"Terserah kamu."
'Panggil apa, ya? Masa aku harus panggil Mas? Dia kan seorang tuan muda? Mana mungkin mau, tapi kayanya lucu juga kalau dipanggil mas.'
Dhira terkikih geli dalam hati, bagaimana kira-kira reaksi Hexa jika ia memanggilnya dengan sebutan mas? Akankah kaget?
"Mas?!"
Ragu-ragu Dhira mengutarakan apa yang ada dipikirannya, penasaran juga rasanya akan reaksi Hexa.
"Ya."
Demi apa pun, Dhira tak menyangka Hexa menjawab panggilannya, jadi itu artinya dia setuju jika dipanggil dengan sebutan mas.
Dalam hati lagi-lagi Dhira tertawa geli, sungguh sebuah realita yang tak terduga.
__ADS_1
"Anda setuju saya panggil mas?"
"Aku sudah katakan, terserah kamu mau panggil apa, aku menyukai semuanya."
Senang campur geli rasanya.
Senang karena Hexa tidak bersikap begitu dingin lagi padanya.
Geli hati karena baru kali ini rasanya seorang tuan muda mau dipanggil mas.
Tak lama pria berjas hitam tadi menghampiri mereka dengan map coklat di tangannya.
"Ini yang Anda inginkan, Tuan Muda." Pria itu menyerahkan map tersebut pada Hexa.
Hexa pun menerimanya, mengeleuarkan selembar kertas putih di dalamnya.
"Kamu tanda tangan di sini." Sembari menunjuk arah yang harus ditanda tangani oleh Dhira.
"Ini apa, Mas?" tanya Dhira dengan alis yang mengerut.
"Pemindahan hak pemilik vila."
"M-maksudnya?" Dhira tak mengerti.
"Hadiah ulang tahun dari suamimu."
Hexa menatap Dhira intens, Dhira salting dibuatnya.
Dhira berpaling dari tatapan Hexa karena malu.
"Vila ini awalnya ingin aku jual pada orang lain, sudah ada yang menawar, tapi aku berubah pikiran, kurasa akan lebih berguna jika menghadiahkannya sebagai kado ulang tahun untukmu."
Dhira menelan ludah dengan susah payah.
Apa lagi ini? Sudah cukup beberapa hari ini Hexa menguji pacu jantungnya, lama-lama ia bisa kena serangan jantung mendadak dengan hal-hal tak masuk akal begini.
"Ini terlalu berlebihan, Mas." Enggan untuk menerimanya, ia merasa tak pantas mendapatkan itu.
"Tanda tangan saja, jangan merusak rencanaku." Hexa meraih tangan Dhira dan meletakkan pulpen agar Dhira menandatangani surat pemindahan itu.
'Harus banget gitu maksa-maksa?'
__ADS_1
Mau tak mau Dhira pun memberi goresan hitam di atas putih tersebut, ia tak pernah membayangkan akan mendapat sesuatu yang begitu besar sebagai kado ulang tahunnya.
Ah, orang berduit memang beda.