
"Dhira!"
Dhira tersentak kaget mendengar namanya disebut, ternyata Derta yang memanggilnya.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Derta ketika ia berada di hadapan Dhira.
"Katakanlah."
Sedikit lama Derta diam menatap Dhira dengan mimik wajah yang serius.
"Ada hubungan apa antara kamu dengan Kak Hexa?
Dhira mengerutkan alis, pasti karena di ruangan tadi, Derta sudah salah paham mengira bahwa Dhira adalah kekasih kakak sepupunya.
"Sebenarnya kamu mau ngomong apa?" tanya Dhira yang tak ingin terlalu lama berhadapan dengan Derta, itu membuatnya canggung, tak tahu harus jawab apa.
"Kamu bahagia dengan Kak Hexa?"
Dhira masih diam.
"Jawab jujur, Dhira!" desak Derta lagi.
"Kamu tidak seharusnya menanyakan ini, Derta. Hubunganku dan Tuan Hexa tidak semudah yang kamu bayangkan, aku terikat olehnya, aku akan tetap tinggal bersamanya sampai apa yang dia inginkan terwujudkan," ujar Dhira yang tak ingin mengatakan bahwa pada awalnya ia mengikuti Hexa karena terpaksa.
"Lantas kenapa kamu mengenakan baju ini?" tanya Derta.
Dhira memperhatikan pakaian yang ia kenakan, walau bagaimanapun, ia tak menemukan kesalahan pada baju itu, lantas kenapa Derta mempertanyakannya?
"Memangnya kenapa?" Dhira balik bertanya.
"Kak Hexa tidak memberitahumu soal tradisi di keluarga ini?"
__ADS_1
"Tradisi?" Dhira mengangkat alisnya setinggi mungkin, sebenarnya apa yng tidak ia ketahui?
"Ini sudah menjadi sebuah tradisi di keluarga kami, jika seorang laki-laki memberikan pakaian ibunya pada seorang wanita, maka itu artinya ia sudah memantapkan hati pada wanita itu, mereka akan terus berjalan beriringan, tidak terpisahkan kecuali maut yang datang menghampiri salah satunya." Derta pun menjelaskan dengan serius.
Dhira menggelengkan kepalanya. "Tuan Hexa tidak mengatakan apa pun mengenai hal ini."
"Berarti sudah jelas dia hanya ingin memanfaatkanmu. Kak Hexa orangnya begitu, dia tidak mudah jatuh cinta, kurasa dia masih mencintai mantan kekasihnya, hanya saja enggan untuk bicara."
"Intinya, kau jangan sampa jatuh cinta sama Kak Hexa, ya!" pinta Derta sungguh-sungguh, Dhira hanya mengerucutkan keningnya tak mengerti kenapa juga Derta begitu peduli mengenai perasaannya ke Hexa.
"Karena yang sepadan itu cuma aku, aku akan melamarmu setelah masalah keluarga selesai." Seperti biasa, Derta yang usil dan ceria seolah kembali lagi. Ia mengerlingkan mata pada Dhira serta sebuah kiss bye untuk wanita itu, lalu ia kabur dan meninggalkan Dhira yang masih terbengong, tapi juga merasa lucu melihat tingkah anak itu.
Di sisi lain.
"Apa lagi, Hexa?"
"Kau seharusnya tahu di mana tempatmu, jangan pernah temui Dhira apalagi membawanya kabur, atau aku tidak akan mengampunimu," ancam Hexa dengan tegas, sorot matanya semakin menajam.
"Lalu kau siapa? Seorang peri yang datang untuk menyelamatkannya? Kau pikir aku tidak tau maksud dari semua itu, hm?" Cecah Hexa yang semakin geram.
"Aku kasian sama kamu, Hexa. Demi menolak perjodohan ini, kamu sampai rela mengorbankan seorang wanita yang masih muda, yang masih belum mengerti banyak hal tentang kehidupan, kenapa kau harus melakukan ini? Tidakkah kau berpikir bahwa wanita itu akan mengalami depression jika terus tinggal bersamamu?"
"Lagian apa kurangnya aku? Aku juga tidak benar-benar mau menikah denganmu, aku menerima perjodohan ini agar bisnis ayahku berjalan dengan lancar dan akan mendapat keuntungan besar jika bekerjasama dengan perusahaan kakek, jadi kau tidak perlu berpikiran terlalu jauh." Sorot mata Lina mulai berubah.
"Kau bukan tipeku, ini hanya masalah keuntungan, bukan masalah hati. Jadi, stop menganggap dirimu istimewa, tidak semua wanita menyukai pria sepertimu. Contohnya aku dan Dhira." Usai memberikan kata-kata yang cukup tajam, Lina dengan santainya melangkahkan kaki pergi meninggalkan Hexa sendirian di atap gedung.
Semakin kuat angin bertiup, Hexa semakin tertampar oleh kenyataan mendengar ucapan Lina, bahwa tidak semua wanita sudi bersamanya. Mungkin selama ini ia selalu berpikir kuasanya mampu menaklukkan semua wanita, tapi nyatanya, Dhira pun ingin melarikan diri darinya. Itu membuktikan bahwa Dhira tak bahagia.
"Sial," umpat Hexa sambil menggertakkan giginya begitu kesal.
Belum sempat ia pergi dari sana, tiba-tiba Derta datang menghampirinya.
__ADS_1
"Ada apa lagi kau ke sini?" Hexa yang masih begitu kesal, lantas menatap Derta tak suka. Terakhir kali anak itu membuatnya marah, sekarang malah datang di waktu yang tidak tepat.
"Bisakah Kak Hexa lepaskan Dhira?"
Pertanyaan Derta semakin memprovokasi Hexa, siapa pun yang di sana, tolonglah bawa Derta pergi secepatnya dari pria berdarah dingin ini, atau jika tidak Hexa akan benar-benar menghabisinya.
"Dia tidak bahagia tinggal denganmu, Kak," lanjut Derta.
Aih, sudahlah, Derta. Kau hanya akan membuat singa jantan ini marah, tapi entah kenapa malah Derta semakin ingin mengatakan yang sebenarnya, bahwa ia menginginkan Dhira.
"Dia sudah cerita banyak tentang bagaimana ia ketakutan dan tersiksa berhadapan denganmu, aku hanya ingin menyelamatkannya."
Seketika Hexa terkekeh. "Memangnya kau siapa ingin menyelamatkannya?"
"Aku dan Dhira saling menyukai, kami pun sudah tidur bersama malam itu, seharusnya aku tidak perlu menjelaskan secara detailnya, 'kan? Kak Hexa sendiri tau jika pria dan wanita tidur bersama, apa tidak akan terjadi sesuatu?" ujar Derta berbohong. Iya, sangat-sangat berbohong, itu ia lakukan agar Hexa menyerah dan melepaskan Dhira.
Derta tidak tahu, ia sudah membangunkan singa jantan ini, semua sudah terlambat, pukulan keras mendarat ke wajah Derta.
Bukannya kapok, Derta malah melanjutkan ucapannya. "Kami bahkan melakukannya di rumahmu sendiri, Kak." Sambil tersenyum puas ke arah Hexa. Ia benar-benar berniat untuk memprovokasi, ia tak bisa melihat Dhira terus merasa ketakutan bersama kakak sepupunya. Derta juga berharap Hexa membuka hati dan berterus terang bahwa ia masih menyukai Ressa, mantan kekasihnya itu. Agar semuanya jelas dan tidak ada yang saling melukai.
Namun, sayang. Pikiran Hexa tidaklah sesuai dengan kenyataan yang ada. Hati dan pikiran Hexa telah lama kosong semenjak Ressa pergi dalam kehidupannya, dan sekarang kekosongan itu diisi oleh Dhira, meski belum sepenuhnya, tentu saja ia tak akan dengan mudah melepaskan wanita yang sekarang tinggal bersamanya.
Bugh!
Hexa tak bisa berkata banyak, ia hanya bisa melakukannya dengan tindakan, kedua pukulan berhasil membuat Derta meringis memegangi sudut bibirnya yang terasa perih. Pukulan yang tidak main-main sakitnya.
Siapa suruh ia membangkitkan amarah Hexa, ia pun siap dengan segala resiko yang akan ditanggungnya setelah mengatakan hal bodoh yang sama sekali tak pernah terjadi.
"Apa pun yang kau lakukan padanya, aku tidak peduli, wanita kotor memang untuk pria sampah sepertimu. Ambillah jika kau mau, aku tidak membutuhkan wanita penghibur yang menjajalkan tubuhnya ke semua pria. Menjijikkan!" Emosi itu benar-benar menggelapkan hati dan mata Hexa. Walau bagaimanapun ia tak terima mendengar Dhira ternyata sudah tidur bersama Derta, adik sepupunya sendiri.
"Brengsek!" Derta tak dapat menahan amarahnya ketika mendengar Hexa menjelekkan Dhira di hadapannya, ia membalas pukulan Hexa dan itu berhasil mengenai hidung pria itu, hingga seketika darah segar pun mengucur keluar lewat hidungnya.
__ADS_1
Tidak mengapa jika Hexa ingin menyebutnya pria sampah atau apalah itu, tapi kenapa harus Dhira yang ia rendahkan dengan perkataan kotor? Dhira jelas tidak seperti itu dalam pendangannya.