Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Mulai Perhatian


__ADS_3

Usai mandi dan mengenakan pakaian, Dhira duduk di meja rias dengan handuk yang membalut rambutnya.


Menatap pantulan wajah di cermin, ada satu jerawat kecil di pipinya.


Ia mengusapnya pelan.


Ia tidak pernah menggunakan apa pun pada wajahnya, ia hanya menggunakan bedak tabur setiap hari. Skincare atau perawatan kulit apa pun itu tak pernah menyentuh kulitnya, bukan karena tak mau, tapi memang tidak ada uang untuk menomorsatukan masalah kulitnya.


Pun saat ia habis bepergian menggunakan ojek motor, ia tak pernah membersihkan wajahnya dengan apa pun selain menggunakan air biasa, atau paling menggunakan sabun mandi untuk membersihkan wajahnya dari polusi.


Jadi, sudah tak heran jika ia melihat satu atau dua jerawat timbul di permukaan kulit wajahnya.


Sementara Hexa, pria itu masih berada di ruang ganti mengenakan pakaiannya.


Dhira terbayang, jika saat Hexa akan menyentuhnya, apakah pria itu akan geli atau pun jijik dengan jerawat di wajah itu? Akankah hubungannya tidak jadi dilakukan malam ini?


'Eh, apa yang sedang kupikirkan?'


Dhira menepuk wajahnya beberapa kali untuk menyadarkan diri dari pikiran terkutuk itu, bagaimana mungkin ia malah berpikir yang aneh-aneh seolah ia menginginkan hubungan itu bersama Hexa.


Tak lama Hexa keluar, matanya langsung tertuju pada Dhira yang terus menepuk wajahnya dan beberapa kali menggelengkan kepala, alis Hexa terangkat dan mengayun langkahnya menuju ke arah Dhira.


Dhira terkejut ketika melihat sosok pria tinggi berdiri di belakangnya, ia menatap wajah Hexa lewat pantulan kaca dengan wajah tegang.


Hexa tidak mengatakan apa pun, ia langsung saja membuka balutan handuk di rambut Dhira.


"T-Tuan?" lirih Dhira, suaranya tak berani ia keraskan karena ia sendiri tak tahu Hexa mau melakukan apa terhadapnya, ia takut malah dirinya yang salah paham duluan dan heboh sendiri.


Hexa masih diam, tangannya terulur ke arah laci yang terdapat di meja rias tersebut, mengeluarkan sebuah hair drayer dan mencolokkannya ke listrik.


"Tuan, saya bisa lakukan sendiri," ujar Dhira sembari menoleh pada Hexa.


"Diam dan patuh!"


Hexa akhirnya bersuara, tapi ya begitulah, hanya itu yang akan diucapkan Hexa agar Dhira tidak membantahnya.


Dhira memang benar-benar diam dan duduk dengan patuh, sembari menatap wajah Hexa yang fokus mengeringkan rambutnya.


Dhira menipiskan bibirnya dan juga mata yang memicing menatap wajah pria itu, Hexa tidak benar-benar kerasukan setan baik, 'kan? Pikirnya.

__ADS_1


Sikap Hexa benar-benar berubah drastis setelah pernikahan, tapi wajah dinginnya tetap terpampang jelas di wajah itu yang membuat Dhira bingung mau jengkel atau senang terhadapnya.


"Kau berjerawat?"


Sekian lamanya Hexa berkutat dan fokus pada rambutnya, dan sekarang Hexa baru bicara lagi.


Namun, kenapa harus menyinggung soal jerawatnya, Dhira malah semakin malu jika Hexa memerhatikan jerawat itu.


"Kenapa berjerawat?"


'Tuh kan, dia pasti langsung ilfeel melihat jerawat ini, tapi bagus juga, jika dia merasa jijik, bukankah malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak?'


Diam-diam Dhira tersenyum tanpa mengatakan apa pun.


Hexa menyadari senyum Dhira, dan dia pun ikut meringis.


"Jerawat cinta?"


Dari banyaknya alasan yang bisa memicu timbulnya jerawat, kenapa Hexa harus menempatkan jerawat itu sebagai jerawat cinta?


Rasa-rasanya Dhira tak pernah mendapatkan jerawat di wajahnya jika sedang jatuh cinta.


"Kau jatuh cinta padaku?"


Dari tadi hanya Hexa yang terus bicara, dan Dhira diam saja tanpa menjawab satu pun pertanyaan yang keluar dari mulut Hexa, dan pria itu pun sama sekali tak mempedulikan jawaban dari Dhira.


"Kalau begitu kau harus lebih berusaha lagi meluluhkan hatiku, membuatku senang setiap hari, mungkin aku akan mempertimbangkannya setelah itu."


'Dih, narsis sekali,' cebik Dhira dalam hati.


Tak terasa rambut Dhira sudah kering, Hexa pun mematikan alat pengering tersebut dan meletakkannya di atas meja rias, tangannya berpindah meraih sesuatu berwarna putih kecil di atas meja tersebut.


Lalu membalikkan kursi yang Dhira duduki dan dan menariknya.


Dhira refleks mencengkram kedua lengan Hexa sebagai bentuk pencegahan terhadap tubuhnya yang hampir jatuh akibat tarikan kursi yang didudukinya.


Hexa duduk di pinggiran kasur, sementara Dhira sudah berada tepat dihadapannya dengan jarak begitu dekat.


Hexa mengoleskan sebuah krim berwarna putih tepat di bagian wajah Dhira yang ada jerawatnya.

__ADS_1


"Besok pagi jerawat ini akan mengecil," ujarnya sembari mengoles pelan krim tersebut.


Obat jerawat itu ia letakkan di pangkuan Dhira sembari berkata, "Jika nanti kau mengalami masalah kulit yang sama, oleskan itu untuk menghilangkannya."


Hexa kembali mendorong kursi Dhira agar mendekat ke meja rias, dan lagi-lagi Dhira mencengkram tangan Hexa agar wajahnya tidak nyosor ke wajah Hexa.


Hexa sendiri kembali ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya, menarik selimut sampai ke atas dada dan memajamkan mata.


Diam-diam Dhira menatap pria itu sambil senyum-senyum salah tingkah.


'Sweet banget, sih,' celetuk Dhira dalam hati, tanpa sadar ia berbunga-bunga dengan perlakuan Hexa yang peduli padanya.


Namun, untuk sepersekian detik berikutnya, ia kembali tersadarkan oleh kenyataan bahwa dirinya bukan siapa-siapa selain alat pencetak anak.


Lalu dia pula yang meminta pada Hexa agar menceraikannya setelah ia berhasil melahirkan anak untuk pria itu.


Lantas kenapa malah dirinya sendiri yang luluh?


'Ah, bodoh sekali kamu Dhira.'


Dhira beberapa kali menepuk kepalanya agar sadar diri dan tidak berharap yang macam-macam, kalau tidak, maka dirinya yang akan jatuh sendiri tanpa ada yang menolong.


Dhira kembali meletakkan obat jerawat di tangannya ke atas meja, lalu ia beranjak ke tempat tidur tepat di samping Hexa.


Mematikan lampu dan memejamkan mata, berharap tidak ada kejadian apa pun malam ini dan ia tidur nyenyak, bangun-bangun sudah fresh dan bugar kembali.


Namun, baru sedetik memejamkan mata, sebuah tangan meraup bagian perutnya hingga mata yang tadinya terpejam, seketika terbelalak lebar dan menurunkan pandangannya ke arah tangan tersebut yang tak lain adalah tangan Hexa.


Apa yang ingin dilakukan Hexa padanya?


Dhira terus berpikir cemas padahal Hexa hanya melingkarkan tangan di perutnya, tidak melakukan apa pun.


Namun, siapa yang akan menyangka kalau pria itu akan melakukan hal lebih sebagai seorang pria normal.


Kemungkinan itu bisa saja terjadi, sementara Dhira belum siap untuk saat ini.


Dhira semakin membulatkan matanya ketika Hexa mendaratkan hidung dan bibir di bagian lehernya, hal itu spontan membuat Dhira bergidik.


'Tenang, Dhira, kau harus tenang. Pria ini pasti sedang mengingau dan menganggap tubuhmu sebagai guling, cukup diam dan anggap dirimu benar-benar guling, jangan sampai ia terbangun dan melakukan hal gila.'

__ADS_1


Dhira terus berbicara dalam hati untuk menenangkan dirinya sendiri, meski napasnya sudah naik turun dengan detak jantung yang kian menggebu-gebu, ia masih bisa berpura-pura untuk tenang dalam hitungan menit, tapi bagaimana jika Hexa benar-benar menuntut haknya malam ini juga?


__ADS_2