Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Penyuka Sesama Batang


__ADS_3

Keesokan paginya Hexa dan Dhira kembali ke rumah, dalam perjalanan, dua sejoli ini tampak sama-sama dilanda kebisuan, raut wajah mereka terlihat sama-sama canggung, seperti sedang terciduk melakukan kesalahan.


Sekertaris Jo yang terus memperhatikan dua orang ini pun tampak heran, kenapa lagi mereka?


"Tuan Sekertaris, nanti jika aku tertidur, kamu jangan kasih jasmu lagi, ya. Aku takut ketiga istrimu salah paham jika mereka tahu tentang itu," ujar Dhira yang memecah keheningan.


Hexa tergelak, tapi ia tahan agar tidak mengeluarkan suara, memalingkan wajah ke samping tersenyum diam-diam.


Sementara Sekertaris Jo tampak memaksakan diri tersenyum.


Bolehkah mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki istri? Jangankan tiga, satu saja tidak punya.


"Lain kali, ajak aku melihat anak-anakmu, ya, Tuan. Pasti seru bermain dengan mereka. Oh, ya, anakmu semua perempuan atau laki-laki?" tanya Dhira dengan polosnya.


Tiba-tiba Hexa mengeluarkan sedikit suara, tidak dapat menahan tawa yang dari tadi terus mengganggu.


"Kenapa Tuan tertawa?" tanya Dhira penasaran ketika ia menoleh pada Hexa, meski tak terlihat sepenuhnya, tapi Dhira tahu bahwa Hexa sedang menertawakannya.


Hexa segera mengatupkan bibir dan menekuknya seperti biasa, dingin dan datar. "Apa kau tidak melihat bibirku dari tadi tertutup rapat? Siapa juga yang mau menertawakan sesuatu yang tidak lucu?" jawabnya ketus.


Bibir Dhira tampak cemberut. 'Jelas tadi aku mendengar ia tertawa,' batinnya kesal.


"Jadi bagaimana, Tuan Sekertaris?" tanya Dhira yang kembali membahas soal anak Sekertaris Jo yang sebenarnya tidak ada.


"Ah, Nona Dhira tampak bersemangat membicarakan soal anak, mungkinkah Nona Dhira juga ingin memiliki anak?" tanya Sekertaris Jo yang berusaha mengalihkannya ke Dhira, ia harus jawab apa tentang anak yang sama sekali tidak ada?


"Kupikir semua orang juga mungkin ingin memiliki anak, siapa yang tidak mau memiliki penerus? Bukankah manusia akan punah jika mereka tidak ingin berkembang biak?"


Memang sih, apa yang dikatakan Dhira memang benar, semua orang pasti memiliki keinginan untuk mempunyai seorang anak, tapi kata-katanya sedikit menohok untuk kedua pria yang ada di mobil. Sebab di usia mereka yang sudah beranjak tua, malah pasangan pun tidak punya.


Sepertinya pikiran Hexa dan Sekertaris Jo saat ini sama. Sama-sama tersindir oleh ucapan Dhira.

__ADS_1


Dua pria ini bahkan tak pernah memikirkan soal wanita, apalagi berkeinginan memiliki anak, mungkin mereka tidak tahu arti sebuah penyesalan, tidakkah mereka akan menyesal ketika tua nanti tidak memiliki pasangan dan anak? Di saat sudah ingin mencari pendamping, barulah tidak ada yang mau karena semua organnya sudah letoy, tak ada yang keras lagi, bagaimana bisa punya anak jika senjatanya saja tidak lagi memiliki peluru.


"Kalau boleh tahu, Nona Dhira ingin memiliki anak bersama siapa?" tanyanya lagi.


Detik itu juga Hexa tiba-tiba tersedak mendengar pertanyaan Sekertaris Jo, tapi diam-diam ia juga penasaran dengan jawaban Dhira.


"Anda kenapa, Tuan? Ini ada air, minumlah." Dhira dengan segera memberikan sebotol air mineral pada Hexa.


Hexa heran, di mana Dhira mendapatkan air, wanita ini cukup siaga dalam segala hal. Ia pun menerimanya dan meminum beberapa tegukan.


"Jangan panik, aku tidak apa," ujar Hexa.


"Apakah saya terlihat panik, Tuan?" tanya Dhira polos, tapi wajahnya terlihat serius.


Sekertaris Jo membungkam mulutnya rapat-rapat agar tidak kelepasan, kini gilirannya yang menertawai Hexa.


Sementara majikannya itu, parasnya tampak begitu kesal dengan jawaban Dhira yang tak sesuai dengan harapannya. Aih, salahnya juga, kenapa malah berharap gadis itu akan khawatir hanya karena ia batuk. Seketika Hexa merasa malu sendiri dalam benaknya, apalagi disaksikan oleh bawahannya sendiri.


"Kau belum jawab pertanyaan Johan," ujar Hexa, masih penasaran akan jawaban Dhira.


"Pertanyaan apa?" Dhira pun balik bertanya, ia tiba-tiba lupa dengan pertanyaan Sekertaris Jo.


'Dasar wanita, apakah otaknya cuma sebesar biji jagung? Baru sebentar saja sudah lupa,' batinnya gemas.


"Kau mau punya anak sama siapa?" tegasnya dengan sedikit menekankan suaranya.


Dhira tampak berpikir, sekilas Hexa menoleh, menunggu jawaban gadis di sampingnya ini, gadis yang sudah berhasil mengacak-ngacak adrenalinnya.


"Memangnya itu penting?" Lagi dan lagi, Dhira bertanya, entah apa karena memang polos, atau sengaja ingin memecah belah rasa penasaran Hexa yang dari tadi kian menggunung. Ah, pikiran Hexa benar-benar kalut karena ulah Dhira.


"Bagiku tidak penting, tapi Johan sepertinya tampak begitu penasaran akan jawabanmu, mungkin dia bisa bantu mencarikanmu seorang pria yang sesuai dengan kriteriamu." Hexa masih menatap lurus ke depan, enggan untuk menoleh pada Dhira.

__ADS_1


Gigi Sekertaris Jo terkatup rapat mendengar ulasan Hexa yang lagi-lagi menjadikannya sebagai kambing hitam, sejak kapan dia menjadi duta pencarian jodoh, untuk apa juga ia mencarikan Dhira pria lain sementara pria yang sangat ia kenal hanya Hexa, apakah maksud majikannya itu, dia harus memperkenalkan Hexa pada Dhira? Merekomendasikan Hexa sebagai lelaki unggul yang mampu menghasilkan bibit unggul pula?


Ck, benar-benar susah sekali menjadi kaki tangan seorang bos yang gengsian. Kalau cinta bilang cinta, sayang bilang sayang, suka juga harus bilang suka, kenapa harus ditutup-tutupi, bikin orang lain susah saja.


Sekertaris Jo terus membatin, yang hanya bisa diam tanpa bisa berbuat apa-apa dengan tingkah serta ulah menggemaskan bosnya itu.


"Saya tahu seseorang yang bisa menghasilkan benih-benih unggul yang dapat membantu terciptanya sang jenius, tapi tidak tahu apa Nona Dhira akan menyukainya atau tidak," ujar Sekertaris Jo yang langsung paham akan maksud tuan mudanya.


"Sudahlah, tidak usah. Saya bisa cari sendiri. Mendengarnya saja saya merasa geli dan ngeri, Tuan," tolak Dhira dengan cepat. Hal itu membuat kedua pria ini mengerutkan alis mereka bertanya-tanya, apa yang membuat Dhira geli dengan ucapan Johan?


"Kenapa, Nona?" tanya Sekertaris Jo.


"Anda mengetahui pria itu memiliki benih unggul, bukankah Anda sudah pernah melihatnya? Atau mungkin Anda dan orang itu pernah melakukan hal-hal terlarang yang seharusnya tidak dilakukan? Bukankah itu mengerikan bagi kami wanita normal? Saya tidak berminat dengan pria penyuka sesama batang." Dhira mengendikkan bahunya dengan sedikit tersenyum geli saat mengutarakan ucapannya.


Tak terkecuali dua pria itu, mereka malah lebih merasa geli mendengar ucapan Dhira, bagaimana mungkin gadis polos ini malah berpikiran hal yang menjurus ke topik kotor seperti itu, yang bahkan keduanya ini tidak pernah terpikirkan akan hal itu.


"Sudah cukup, aku muak mendengar kalian dari tadi terus berbicara omong kosong, sama sekali tidak berguna." Rasa kesal Hexa semakin memuncak, ia tahu pria yang dimaksud Johan adalah dirinya, tapi Dhira malah berimajinasi dengan sesuatu yang jorok menggunakan otak kecilnya itu.


Namun, ia tak bisa berbuat lebih, sebab itu salahnya juga, salahnya kenapa begitu penasaran. Selalu mendesak Dhira untuk menjawab pertanyaan Sekertaris Jo.


Alhasil, apa yang ia dapat? Malah mendengar Dhira mengucapkan imajinasi kotor itu, lagian siapa juga yang menyukai sesama batang? Ia masih begitu normal, bahkan sangat normal.




Dhira mah emang kadang-kadang, ya. Jadi, Tuan Hexa tolong bersabar, ini ujian dalam menghadapi wanita yang terus berburuk sangka pada pria. Wkwk.


Wanita memang kadang-kadang polos, tapi kadang-kadang juga menjengkelkan. Hihi.


Tinggalkan like dan komennya guys ^\_^

__ADS_1


__ADS_2