Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Dulu dan Sekarang Berbeda


__ADS_3

"Nona Ressa, tolong jaga jarak, Tuan Hexa tidak suka orang lain mendekatinya." Sekertaris Jo berucap sambil mendekat agar Ressa sedikit menjauh.


"Orang lain?" Ressa terkekeh sinis.


"Aku tidak tahu kalau aku ini orang lain di matamu, Hexa," lanjutnya sambil menatap Hexa nanar.


Ressa kembali mengambil langkah untuk semakin dekat dengan Hexa.


"Nona."


Baru ingin mencegah Ressa, Hexa sudah memberi isyarat pada Sekertaris Jo untuk membiarkannya saja.


Sekertaris Jo mundur beberapa langkah, tidak ikut campur sesuai yang diinginkan Hexa.


"Aku ingin mengundangmu untuk bicara berdua, apakah bisa?" Ressa menawarkan. Sementara Hexa masih diam saja.


"Aku harap kamu tidak menolakku dua kali, Hexa." Ia melanjutkan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Hexa menatap Dhira yang masih berdiri di sampingnya, Dhira pun refleks menatap pria itu.


"Kamu ikut sama Johan sebentar," titahnya, lalu Dhira pun mengangguk mengerti.


"Jo," panggilnya sembari mengangguk memberi isyarat bahwa ia ingin menitipkan Dhira. Sekertaris Jo sangat mengerti, ia juga membalas dengan anggukan.


"Mari, Nona Dhira. Saya ajak berkeliling." Sekertaris Jo pun mempersilahkan Dhira untuk jalan.


"Tunggu!" Orang yang di belakang berseru, menghentikan langkah Dhira dan menoleh ke arahnya.


"Apakah dia wanita yang dimanfaatkan oleh Hexa untuk mendapatkan hak warisannya?" tanya Tuan Sandi dengan bibir yang tersenyum sinis.


"Tolong jaga ucapan Anda, Tuan." Sekertaris Jo maju lebih dulu, siapa pun tak ada yang boleh mengintimidasi Dhira selama ia masih di sana.


"Hanya seorang bawahan, kau tidak pantas menjawab pertanyaanku. Lagi pula aku tidak bertanya padamu," jawab Tuan Sandi ketus.


"Tuan Hexa menitipkan Nona Dhira pada saya, jadi beliau adalah tanggung jawab saya sekarang, siapa pun yang ingin mengintimidasinya, harus melewati saya terlebih dahulu, tidak terkecuali Anda sendiri." Dengan berani Sekertaris Jo melawan ucapan Tuan Sandi.


Meski hanya seorang bawahan yang mungkin tidak pantas bicara lancang, tapi bukan berarti ia akan membiarkan seseorang untuk berniat memprovokasi, apalagi menyangkut tentang Dhira, Hexa tidak akan memaafkannya jika sampai Dhira diganggu orang.


"Kau masih tak mengerti siapa aku?" Tuan Sandi tampak geram.


"Kalau begitu mohon bantuan Anda untuk menjelaskannya, Tuan." Sekertaris Jo bersikap tenang, tapi senyumnya sangat mematikan.

__ADS_1


Dhira hanya bisa memperhatikan setiap bait ucapan Sekertaris Jo serta setiap jengkal ekspresi yang diperlihatkannya.


Sikapnya dan Hexa hampir sama, mungkin Sekertaris Jo bisa lebih kejam ketimbang Hexa, sebab dari sorot matanya saja, pria itu mampu menyimpan aura memangsa hanya dengan sebuah senyuman.


"Jika Ressa menikah dengan Hexa, siap-siap saja kau dipecat dari pekerjaanmu!" Dengan marah ia berkata sembari menunjuk wajah Sekertaris Jo.


Sekertaris Jo hanya tersenyum. "Saya menantikan hari itu tiba, Tuan."


"Kau!" Tuan Sandi sudah semakin geram.


Sementara Sekertaris Jo, sunggingan bibirnya tak dapat dielakkan, itu membuat Tuan Sandi semakin naik pitam melihat ketenangan pria itu meski sudah diprovokasi berkali-kali.


Puncak kekejaman seseorang terletak di mana ia masih begitu tenang dalam memberi hukuman, hanya dengan satu kalimat, ia mampu mengikis semua pertahanan lawan. Itu bisa menjadi julukan untuk Sekertaris Jo.


"Jika tidak ada lagi, saya pamit undur diri. Ingat, saya menantikan hari di mana Anda mampu memecat saya." Dengan senyumnya saja, membuat Dhira bergidik, seberapa mengerikannya orang ini, pikir Dhira.


Sekertaris Jo membawa Dhira ke tempat ramai, di mana para tamu undangan berbincang satu sama lain.


"Jika Anda bosan, bisa katakan pada saya, akan saya ajak ke tempat lain," ujar Sekertaris Jo dengan sopan.


"Tuan, boleh saya bertanya?" bisik Dhira.


"Wanita yang bersama Tuan Hexa tadi itu siapa?" Mimik wajah Dhira tampak begitu penasaran.


"Anda bisa tanyakan langsung pada Tuan Hexa, Nona." Sekertaris Jo berucap dengan wajah datar, tampaknya ia sama sekali tak berniat untuk menjawab pertanyaan Dhira.


"Ck, lupakan saja, anggap aku tak bertanya." Dhira berwajah masam dibuatnya.


'Memang sangat menyebalkan, siapa pun di luaran sana sepertinya juga tidak ingin bicara dengannya. Setiap jengkal kalimat yang ia katakan, mengundang rasa jengkel yang teramat sangat.'


Dhira memaki di hatinya sambil menatap keki pada Sekertaris Jo. Ia sudah bertanya dengan orang yang salah.


Di sisi lain, tepatnya di taman samping vila Hexa dan Ressa berada.


"Katakan langsung pada intinya, jangan membuang waktuku!" desak Hexa yang tak mau berlama-lama berdua dengan mantan kekasihnya.


Ressa tampak diam sambil memejamkan mata, ia sedang mengumpulkan napas agar bisa bicara jujur pada Hexa.


"Aku terpaksa pergi waktu itu." Ia pun memulai ceritanya.


Melihat Hexa diam saja, cukup membuat Ressa tahu bahwa pria itu memang sangat marah padanya.

__ADS_1


"Aku mengidap kanker rahim stadium 2 saat itu. Kanker yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawaku kapan saja. Aku takut, Hexa." Matanya mulai berembun menampung buliran bening yang siap terjun bebas di kedua belah pipinya.


Hexa terkekeh, ia sudah mengetahuinya sejak lama, tapi ia tak berpikir bahwa Ressa akan memutuskan hubungan mereka karena suatu penyakit yang dideritanya.


"Penjelasanmu sudah terlambat, sekarang kau mau mati di hadapanku pun, aku tak peduli."


Dulu dan Sekarang, sudah menjadi hal yang berbeda. Ressa hanya bagian masa lalu yang tak pantas untuk kembali dikenang.


"Hexa, kenapa kau berubah begitu kejam."


Kini akhirnya bening air mata itu jatuh perlahan, kedua pundaknya bergetar menahan sesak di dada. Berapa tahun lamanya ia menahan rindu pada pria yang kini duduk di sampingnya, tapi saat sudah bertemu, ia malah tak dianggap penting lagi oleh Hexa.


Betapa tak bisa ia menerima semua itu. Kenapa harus kenyataan pahit yang selalu ia telan? Kenapa keberuntungan tak pernah berpihak padanya? Sebegitu tidak adilnya kah kehidupan ini untuknya?


"Hexa, aku sangat merindukanmu. Izinkan aku memelukmu sebentar saja." Ia butuh sandaran, sandaran yang paling tepat saat ini adalah pundak Hexa.


Namun, tak semudah yang ia bayangkan, saat ia mendekat dan ingin bersandar, Hexa segera menepiskan tangannya dan berdiri detik itu juga.


"Jika kau hanya ingin membahas hal tak penting seperti ini, maka maaf, aku bukan orang yang tepat untuk kau bercerita." Hexa melangkah, membawa kakinya untuk pergi dari sana, tindakan Ressa sudah di luar batas.


Tidak ada satu pun wanita yang boleh menyentuh tubuhnya.


Ressa sedikit berlari untuk mengejar, ia mampu meraih tubuh Hexa dan memeluk pria itu dari belakang. Langkah Hexa terhenti.


"Sebentar, hanya sebentar saja, Hexa. Kumohon." Ressa sampai sesenggukan memohon pada Hexa.


"Lepaskan!" sergah Hexa dengan gertakkan gigi yang tampak begitu geram.


"Tidak, aku tidak ingin kau meninggalkanku." Ressa semakin menguatkan pelukannya.


"Jangan paksa aku untuk berbuat kasar. Lepaskan sekarang, atau aku yang melakukannya!" ancam Hexa.


Ressa pun segera melepaskan tubuh Hexa, ia sadar bahwa Hexa yang dulu dan sekarang sudah sangat jauh berbeda. Pria ini sudah berubah, bukan Hexa yang selalu menyayanginya dengan kelembutan, melainkan seorang Hexa yang berhati dingin dan tanpa ampun.


Hexa menghela napas kasar dan menatap Ressa dengan kemarahan.


"Sekali lagi kau mengulangi hal barusan, kau akan melihat sisi lain dariku yang tak pernah kau lihat sebelumnya." Hexa pun berlalu pergi sembari membuka jasnya dan melempar jas tersebut ke tong sampah.


Sesuatu yang sudah disentuh oleh wanita lain, memang harus dilenyapkan dari pandangannya.


Ia tak sudi menyentuh barang yang sudah disentuh oleh orang lain.

__ADS_1


__ADS_2