
Mereka tiba di rumah Hexa ketika malam hari, perjalanan panjang membuat sekujur tubuh Dhira terasa seperti habis dicambuk ratusan kali.
Untuk berdiri tegap pun rasanya begitu sulit, dengan langkah yang terseok-seok mencoba mengimbangi kecepatan langkah Hexa yang sejak tadi tidak bicara satu patah kata pun.
Dhira juga sempat melirik ke arah Sekertaris Jo, pun tetap sama, tubuh mereka bahkan tetap bugar meski berada dalam perjalanan sepanjang hari.
'Terbuat dari apa tubuhnya itu? Mereka seperti tidak merasakan lelah sedikit pun setelah duduk di mobil selama berjam-jam,' batin Dhira, terus merasa heran ketika langkah mereka berdua begitu cepat masuk ke rumah sementara dirinya masih tergopoh-gopoh di depan teras.
Dhira segera menghempaskan tubuhnya ke sofa demi melapas penat untuk sementara waktu, tapi Hexa menoleh ke arahnya dan berkata dengan suara yang begitu dingin.
"Siapa yang mengizinkamu duduk di situ?"
Dhira menatap Hexa yang duduk di sampingnya dengan bingung, lalu berpindah menatap Sekertaris Jo yang berdiri di samping Hexa berharap mendapat jawaban dari pria itu mengenai sikap Hexa yang tiba-tiba begitu galak, tapi Sekertaris Jo malah menundukkan kepala seolah tak peduli.
'Kesalahan apa lagi yang sudah kuperbuat?' Dhira terus bertanya dalam hatinya, tapi tetap tak menemukan jawaban sampai pada akhirnya Hexa berkata, "Berdiri sekarang!"
Dhira dengan cepat mematuhinya dan berdiri meski tubuhnya sakit semua.
"Kau kembalilah, besok jemput aku tepat waktu, aku tak suka ada keterlambatan sedetik saja, apa pun alasannya, kau paham?!" ujar pria dingin itu pada Sekertaris Jo.
"Baik, Tuan. Saya pamit undur diri," jawab Sekertaris Jo dengan sopan dan membungkukkan badan sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan rumah majikannya.
"Kalau begitu saya juga pamit naik ke atas dulu, Tuan," ujar Dhira dengan nada yang sesopan mungkin, pria di hadapannya ini sedang sensitif, tidak boleh melakukan kesalahan baik dalam berbicara maupun bertingkah, jika tidak maka pria itu bisa saja berubah menjadi harimau ganas dalam sekejap.
Baru ingin melangkah, Hexa sudah menghentikannya dengan berkata, "Aku tidak mengatakan bahwa kau boleh pergi sekarang."
Lagi, Dhira menatap Hexa dengan raut wajah heran, bukankah beberapa hari belakangan, pria ini tidak lagi begitu dingin terhadapnya? Kenapa sekarang malah semakin menyeramkan?
'Sia-sia saja kemarin aku membela di depan kakeknya, tau sikapnya akan seperti ini, lebih baik kukatakan saja terus terang kalau dia memang memaksaku untuk tinggal dengannya. Dasar, tidak ada rasa terimakasih sedikit pun.' Gerutunya, yang tidak terdengar oleh siapa pun, hanya Dhira dan Tuhan saja yang tahu.
Benar juga, memangnya apa arti dari ucapan terimakasih bagi Hexa? Daripada mengatakan hal itu, ia lebih suka menunjukkannya langsung dengan wujud nyata sebagai tanda terimakasih, bukan hanya sekedar ucapan yang baginya tidak berguna sama sekali, tapi karena sekarang ia sedang kesal, maka Dhira harus menerima pahitnya rasa kesal Hexa yang tidak ia ketahui penyebabnya.
"Bantu lepaskan sepatuku, setelah itu berikan pijitan ringan di kepalaku," titahnya sambil meluruskan kaki memperlihatkan kedua sepatu yang masih menempel sempurna di kakinya. Ia benar-benar seperti seorang bos angkuh. Oh tidak, lebih tepatnya dia memang seorang bos yang hanya dengan satu kata, maka semua orang akan patuh dengan perintahnya. Hal itu juga membuat Dhira semakin tak bisa berbuat banyak.
__ADS_1
'Dasar pria hidung belang, ketimbang menganggapnya seorang bos, pria hidung belang sepertinya lebih cocok untuknya, ia lupa sudah menciumku tanpa izin, dan sekarang malah bersikap acuh seolah aku adalah kambing percobaan.'
Dhira lagi-lagi membatin, sambil satu persatu membuka sepatu serta kaus kaki Hexa yang kini sedang bersantai dengan menyenderkan punggung serta kepalanya di badan sofa.
'Sial, bahkan punggung kakinya saja terlihat begitu memesona,' batinnya lagi sambil memalingkan wajah kesal pada dirinya sendiri, sebab telah terpesona dengan sepasang kaki, bahkan adalah bagian tubuh yang terletak paling bawah di antara bagian tubuh lainnya.
Itu memang kali pertama bagi Dhira melihat kaki Hexa dengan jarak dekat, dan tak terduganya lagi, ia malah terpesona dengan pandangan pertama itu, benar-benar konyol bukan.
Usai melepas sepatu, Dhira berjalan ke belakang kursi dan memijitkan kepala Hexa, tidak pelan dan juga tidak terlalu keras, berharap pria itu tak mencari-cari kesalahan melalui pijitannya.
"Cukup, jangan teruskan." Hexa menjauhkan kepalanya dari Dhira.
"Sekarang lebih baik kau siapkan air untuk aku mandi, pijatanmu terlalu biasa, sama sekali tak meringankan sakit kepalaku," cetusnya dingin, Dhira tak dapat berkata apa-apa, lalu melangkah pergi menapaki anak tangga dengan langkah lunglai.
Ia benar-benar lelah sekarang, dan malah harus mengurusi bayi dewasa yang tak bisa melakukan segala sesuatunya sendiri, ia cukup tak percaya kenapa pria seperti Hexa bisa sesukses itu dalam kariernya, padahal mengurus dirinya sendiri saja tidak bisa.
"Huft ... sabar Dhira." Ia hanya bisa mengelus dada sambil membaringkan kepala di pinggiran bak mandi, sambil menunggu air penuh untuk mandi sang tuan muda manja.
Tak lama terdengar suara tapak kaki yang mendekat ke kamar mandi, Dhira segera bangun, jangan sampai terlihat malas-malasan jika tak ingin melihat harimau itu mengaum lagi.
Apa sebenarnya yang membuatnya kesal? Pikir Dhira.
"Baik, Tuan." Dhira buru-buru keluar dari sana, dan Hexa pun mengunci pintu bersiap membersihkan tubuhnya.
Detik berikutnya, Hexa keluar dan berganti pakaian di ruang ganti.
Dibalik itu, ada pengorbanan seseorang yang tak dianggap, Dhira bahkan berkeringat meski berada di bawah naungan AC. Entah seperti apa bau badannya sekarang.
"Keluarlah, aku mau istirahat," ujarnya tanpa peduli kerja keras Dhira yang ke sana ke mari menyiapkan segala sesuatu yang ia butuhkan.
'Habis manis sepah dibuang. Beginilah nasib orang yang tak punya apa-apa,' batin Dhira yang tak dapat mengibaratkan perasaannya yang entah sudah terjun sedalam apa sekarang.
Dhira masih diam di tempat.
__ADS_1
"Tuan, andai kata jika saya mampu melunasi uang yang sudah Anda keluarkan untuk membeli saya waktu itu, apakah saya boleh keluar dari rumah ini dan hidup bebas?"
Sebenarnya sangat ragu untuk menanyakan hal itu, tapi ia benar-benar tertantang dengan sikap Hexa yang berubah-ubah, sulit jika terus tinggal dengan pria itu untuk selamanya.
Hexa tiba-tiba menatap Dhira dengan sorot mata tajam, bagaikan sebuah elang yang hendak menerkam mangsanya, hal itu membuat Dhira sedikit menguncup.
"Kau berani mempertanyakan hal itu?" Dengan senyum yang menukik tajam dan sinis.
Ia masih kesal pada Dhira, ditambah wanita itu malah mempertanyakan sesuatu yang tidak ingin ia dengar.
Dhira pun semakin tertunduk. Percayalah, ia benar-benar menyesal telah begitu banyak bicara di depan Hexa.
Hexa mendekati Dhira dengan langkah yang mampu mengintimidasi, jangankan Dhira, cicak di dinding pun ikut kabur melihat aura dingin yang begitu pekat di raut wajah Hexa.
"Kau ingin hidup bebas? Tidakkah kau bertanya lebih dulu seberapa banyak jumlah uang yang harus kau lunasi?"
"Ck, bahkan jika kau membayarnya dengan seluruh hidupmu, kau tidak akan mempu melunasinya." Seringaian Hexa tampak lebih mengerikan di jarak yang begitu dekat. Mampu membuat bulu roma berdiri seketika.
'Ya, memang sangat bodoh, hidupku memang begitu hina, tak bisa dibandingkan dengan uangnya, aku yang begitu dungu berani berharap kebebasan darinya.'
Dhira hanya bisa mengatakannya dalam hati, merutuki diri yang tak tahu malu dan tak menyadari siapa dirinya.
"Keluarlah, kau membuatku semakin pusing." Hexa membalikkan tubuhnya menuju ke meja dan bersandar di sana, Dhira dengan patuh meninggalkan kamar tersebut dengan langkah putus asa.
Kedua insan yang sama-sama tak dapat menyadari seperti apa perasaan masing-masing, hanya bisa meluapkan dengan cara yang berbeda.
Hexa menatap daun pintu yang tertutup rapat setelah kepergian gadis yang telah membuatnya kalang kabut.
"Ish, sudah bagus aku tak menyentuhnya, dia malah terus-terusan memancing emosiku," gumamnya yang merasa semakin gemas terhadap Dhira.
Semakin Dhira menginginkan kehidupan yang bebas, maka ia semakin tertantang untuk terus mengurung gadis itu dalam penjaranya.
__ADS_1
Maafkan Tuan Hexa, ya, Guys. Tetap cintai dia dengan segala kelebihannya. Hihi..