
"Semuanya apa masih perlu bukti?" tanya kakek pada mereka semua.
Tidak ada lagi yang berani bicara, semua terpukul rata oleh keterdiaman masing-masing.
"Baik, kalau begitu waktunya aku bicara." Kakek mengangguk lega, tidak ada lagi perdebatan di antara anak cucunya.
"Waktuku mungkin tidak lagi lama di dunia ini, penyakitku semakin hari juga semakin parah, selagi aku masih bicara, akan kukatakan sekarang, takut tidak sempat, di sini ada pengacaraku yang menjadi saksi." Kakek menatap pengacaranya yang dari tadi hanya diam duduk di sampingnya.
"Salam kenal semuanya." Ia menyapa dengan sopan, tapi malah tidak ada yang menyahut, sapaannya tidak berbalas hingga satu orang bersuara.
"Salam kenal juga, Pak." Dhira yang tak enak hati pada sang pengacara karena terabaikan, ia akhirnya ikut menyapa.
Tampak dari raut wajah pengacara itu bahwa ia sedikit merasa lega, setidaknya masih ada yang mendengar sapaannya. Mungkin semua orang di sana sedang tuli kecuali Dhira.
"Seperti yang sudah kalian ketahui, aku memiliki aset di mana-mana, juga pemegang saham terbesar di perusahaan yang kini dipimpin oleh Defan, ayahnya Hexa, dan Hexa sebagai CEOnya. Sementara pamannya Hexa mengurus anak cabang perusahaanku yang lain." Kakek berhenti sejenak.
Lalu kembali melanjutkan, "Posisi sebagai pemimpin perusahaan, akan dilanjutkan oleh Hexa, dan kamu Defan, pindah ke anak cabang, biarkan Hexa yang mengurus kantor utama secara penuh."
"Tapi, Pa," sela ayahnya Hexa.
"Aku belum selesai bicara kau berani menyela ucapanku?" Kakek melotot tajam dan Tuan Defan pun menciut.
__ADS_1
"Setengah asetku akan kuberikan pada Hexa, sementara setengahnya lagi, akan diberikan setelah Hexa memiliki anak, tapi jika Hexa tak kunjung memiliki anak dalam jangka waktu tiga tahun, maka setengah aset akan jatuh ke tangan Derta."
"Pa, bukankah ini tidak adil? Jika Hexa berhasil memiliki anak, itu berarti anakku Derta tidak mendapatkan apa-apa?" Kini ayahnya Derta yang menyela.
"Jadi selama ini kau sangat mengharapkan warisan ini?" tanya kakek.
"Bukan begitu, Pa." Ia tampak serba salah.
"Dari awal aku bekerja keras mati-matian mengembangkan perusahaan hingga memiliki anak cabang di mana-mana, itu semua agar nanti aku bisa mewarisinya ke darah dagingku, agar kelak tidak perlu merasakan susahnya menjadi aku di waktu dulu."
"Apa yang kuberikan pada kalian selama ini apa masih belum cukup? Jika saja aku tidak mengadopsimu, apakah kau bisa mencapai titik seperti ini? Menjadi bagian dari keluarga Prinanda yang disegani banyak orang? Kalian akan tetap mendapat bagian seperti biasa, jika kalian tidak terima, silahkan tinggalkan keluarga Prinanda, aku tidak butuh anggota keluarga yang serakah," bentak kakek dengan lantang.
Antara mereka, memang hanya Hexa yang merupakan darah dagingnya, ayahnya Derta hanya anak angkat yang ia adopsi saat menemukannya di jalanan, kasihan melihat keadaannya yang memprihatinkan. Kakek hanya memiliki satu anak yaitu ibunya Hexa, sementara Hexa tidak memiliki saudara kandung, jadi otomatis yang akan mendapatkan semua asetnya adalah Hexa sendiri.
Lebih baik bertahan tanpa warisan ketimbang diusir, setidaknya meski tanpa warisan, ia masih memiliki nama yang akan disegani setiap orang.
"Pa, aku tidak mendapatkan apa-apa?" timpal Tuan Defan yang masih berharap ia akan mendapat bagiannya juga.
"Memangnya kau siapa? Kau bahkan bukan ayah kandung Hexa, syarat yang kau pinta saat aku memintamu menikahi anakku, itu semua sudah kuberikan tanpa sisa, apa lagi yang kau harapkan? Memangnya selama ini kau pernah merawat cucuku dari ia lahir sampai sedewasa ini? Kau bahkan menikah lagi saat kepergian anakku yang belum genap dua bulan, apa aku pernah memperhitungkan itu?"
"Sudah berapa tahun hidupmu dinaungi oleh keluarga Prinanda, kau menikmati fasilitas keluarga ini tanpa syarat, sudah puluhan tahun bahkan aku masih berbelas kasih memberimu makan enak, tempat tidur nyaman, serta nama yang mengangkat derajatmu, apa lagi yang ingin kau pinta dariku?" Kakek tampak tak suka dengan keinginan Tuan Defan yang terlalu banyak maunya.
__ADS_1
"Sementara untuk Derta, sebenarnya kakek ingin memberikan setengah saham perusahaan untukmu tanpa syarat, tapi karena kau memiliki niat buruk untuk merebut wanita pilihan Hexa, aku mengurungkan niatku, semua saham akan jatuh ke tangan Hexa, baik di perusahaan utama, maupun di anak cabang, kau akan mendapatkan setengah asetku dengan syarat jika Hexa tidak memiliki keturunan dalam waktu tiga tahun, kau mengerti?"
Derta hanya mengangguk, walau bagaimanapun ini semua memang kesalahannya, mencintai orang yang salah.
Ada begitu banyak wanita di dunia ini kenapa hatinya harus berlabuh pada Dhira, wanita yang diinginkan oleh kakak sepupunya sendiri.
Selama ini Hexa selalu bersikap baik padanya, menganggap dirinya sebagai adik kandung, tapi dirinya yang lancang itu, malah dengan tidak sopannya mengungkit masalalu sang ibu yang membuat Hexa marah besar, bahkan untuk kedepannya mungkin mereka tidak akan pernah seakur dulu. Padahal hanya Hexa yang selalu mengerti keinginannya. Bisa dibilang, ia adalah orang yang tak tahu diri, dan juga tak tahu malu.
"Untuk kamu, Lina. Kakek minta maaf padamu untuk waktu yang kamu habiskan setiap kali datang menjeguk kakek, sampaikan permintaan maafku pada ayahmu, katakan padanya bahwa rencana perjodohan hanya berhenti sampai di sini, dengan kata lain semua yang sudah direncakan, dibatalkan secara total. Kakek akan memberikan kompensasi padamu dan juga ayahmu."
Lina juga hanya mengangguk, tidak mengatakan apa pun lagi, mulai sekarang ia sudah resmi tidak boleh mengikut campuri urusan Hexa, ia bukan siapa-siapa lagi dan bukan pula calon istri Hexa. Dia hanya orang lain mulai dari sekarang, tidak ada lagi keterkaitannya dengan keluarga Prinanda.
"Untuk cucuku, Hexa. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu. Sementara untuk kamu, Dhira, cintai cucuku semampumu, jika kau tidak sanggup atau ingin meninggalkannya, segeralah pergi, agar cucuku bisa mendapatkan wanita lain yang mau mencintainya, aku tidak ingin cucuku dipermainkan, mundurlah jika kau tidak benar-benar menyukainya, tapi jika kau benar menyukainya, selagi rasa suka itu masih ada, tolong jangan tinggalkan dia, apa bisa?"
Kini kakek tidak ingin lagi melarang segala sesuatu yang diinginkan oleh Hexa. Ia sudah belajar dari masalalu ketika ia melarang anaknya untuk menikah dengan lelaki pilihannya, sampai ibunya Hexa meninggal, ia tak dapat bersama dengan pria yang ia cintai, dan itu menjadi penyesalan kakek yang amat tak bisa ia lupakan selama hidupnya.
"Mengerti, Kakek. Dhira tidak akan meninggalkan Hexa selama bukan Hexa yang meminta Dhira untuk pergi," jawab Dhira dengan sopan.
Lagi-lagi Hexa menyembunyikan senyumnya, entah kenapa bibir itu dengan sendirinya melengkung setelah mendengar jawaban Dhira.
Kakek menyadarinya, ia lega ternyata Hexa memang memiliki rasa yang tak mudah untuk diungkapkan, cucunya ini begitu spesial sampai perasaannya sendiri pun tak bisa ditebak.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya guys, masih sepi bener ini. ^_^