Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Kemenangan


__ADS_3

Ibu angkat yang melihat wajah gusar Ressa, lantas berdiri dan berkata dengan senyum liciknya. "Sudah, tenangkan dirimu. Bukankah kamu tahu sendiri bagaimana watak Hexa? Dia tidak akan semudah itu menerima wanita lain masuk dalam hidupnya. Tenang saja, wanita itu paling hanya sebuah alat untuknya."


Ressa tampak menghela napas kasar, menyilangkan kedua tangannya di depan dada menatap sinis pada Pak Wang.


"Ayo, mama juga mau melihat rupa asli dari wanita yang dinikahi anak mama." Sang ibu lantas menuju ke arah kamar Hexa bersama Ressa.


Pak Wang seketika panik, lantas mengikuti mereka dengan cepat sambil berusaha mengucapkan kata-kata untuk mencegah kedua wanita itu mengganggu tidur Dhira.


"Apa kata sandinya?" tanya ibu angkat terhadap Pak Wang, kini mereka sudah berada di depan pintu.


"Akan tetapi, Nyonya." Pak Wang tidak ingin mengatakannya, tapi desakan demi desakan membuat Pak Wang semakin ragu.


"Jika Anda tidak ingin wanita itu terganggu, cepat buka pintunya, atau aku akan teriak agar dia keluar dengan sendirinya?" Ressa pun mulai mengancam.


"Akan tetapi tolong jangan ganggu nona muda jika sudah masuk ke dalam. Tuan Muda Hexa bisa marah besar." Pak Wang tampak panik, bahkan wajahnya pun terlihat pucat.


Kedua wanita itu kini berkacak pinggang memelototi Pak Wang, pria paruh baya ini pun tak punya pilihan lain, ia akhirnya membuka pintu dengan kata sandi yang memang hanya dia yang diberi kepercayaan atas kamar majikannya.


Mereka bergegas masuk setelah Pak Wang selesai memencet kata sandinya.


"Hah! Apa-apaan ini? Hexa menikahi wanita seperti ini?" gumam ibu angkat dengan menyunggingkan senyum ilfill terhadap Dhira yang masih tertidur pulas, sebab ia begadang malam tadi.


"Dasar wanita murahan!"


Byur!


Bersamaan dengan terucapnya makian itu, wajah Dhira kini sudah basah kuyup karena disiram segelas air oleh Ressa. Wanita itu tampaknya begitu geram melihat Dhira.


Dhira yang tak tahu apa-apa, tersentak kaget dan duduk seketika.

__ADS_1


Ia mengernyit menatap kedua wanita di hadapannya serta Pak Wang yang tampak gelisah.


"Ternyata kau sudah menikah dengan Hexa? Lalu kau tidak ingin mengatakannya padaku?" Ekspresi yang angkuh ditunjukkan oleh Ressa membuat Dhira tersenyum sinis.


Dhira memutar bola matanya dengan malas dan menatap ke arah jendela yang menampakkan pemandangan daratan lepas yang dihiasi gedung-gedung tinggi.


"Aku berbicara denganmu, apa kau tuli? Atau bisu?" Ressa semakin terlihat geram pada Dhira yang terlihat tak takut sama sekali padanya.


"Oh, kamu berbicara denganku?" Dhira tersenyum miring menatap Ressa, serta menampakkan senyum lebar yang sedikit picik.


Dhira perlahan bangkit, segelas air di atas nakas yang memang disiapkan untuknya, belum sempat ia minum, lantas ia mengambilnya dan berjalan gontai menuju ke arah Ressa serta ibu angkat.


"Nona." Pak Wang menyapa dengan sedikit menunduk, wajahnya terlihat khawatir. Dhira membalasnya dengan senyuman, seolah memberitahu Pak Wang bahwa dirinya baik-baik saja.


"Ternyata rumah ini kedatangan tamu, maaf sekali tidak menyambut, suamiku tidak mengatakan apa pun sebelum ia pergi." Nada sinisnya sangat mendukung untuk membuat Ressa semakin gusar, sembari meneguk sedikit air yang ada di tangannya.


Kini Dhira sudah berada di hadapan Ressa serta ibu angkat, ia selalu menampilkan senyumnya yang sudah jelas-jelas membuat Ressa semakin tak betah.


Dhira terkekeh pelan, tawanya mengandung sejuta ledekan untuk Ressa. "Kalau tidak salah, kamu sepertinya yang kemarin menghampiri suamiku, 'kan? Namun, sepertinya suamiku sama sekali tidak tertarik denganmu." Tatapan mata Dhira yang memindai seluruh tubuh Ressa dari atas sampai bawah, membuat Ressa semakin jengkel.


Sudah sangat jelas Dhira mengejeknya terang-terangan.


"Sepertinya aku harus mengatakannya dengan jelas terhadap wanita tak tahu diri sepertimu." Ressa masih mempertahankan sikap angkuhnya.


"Asal kau tau, aku adalah kekasih Hexa, dari dulu sampai sekarang, Hexa akan tetap menjadi milikku." Ia menekankan ucapannya dengan tegas, wajahnya pun sampai memerah, tapi tak habis pikir, kenapa bisa Dhira bersikap begitu tenang meski ia sudah mengatakan hal yang memprovokasi.


"Nona, kamu tidak malu mengatakan hal itu langsung di depan istrinya?" Dhira menyeringai.


"Boleh aku meralat kata-katamu barusan, Nona?"

__ADS_1


"Kau hanya mantan kekasih. MANTAN KEKASIH, apa kau dengar?" Dhira memperjelas kata-katanya dengan senyum meledek.


"Kau!" Baru saja telapak tangan Ressa akan melayang ke wajah Dhira, tapi Dhira lebih dulu menyiram air ke wajah Ressa sebelum telapak tangan itu menyentuh wajahnya.


Ia memang sengaja menyisihkan setengah gelas air untuk berjaga-jaga jika diperlukan, tak menyangka cukup berguna untuk menghalau dedemit di depan matanya, air bekas ia minum cukup sakti mandraguna. Buktinya Ressa kini terdiam dengan mulut serta kedua mata yang terbuka lebar.


Ressa tak menyangka Dhira akan berani melakukan itu terhadapnya.


Siapa bilang Dhira tak berani, justru dia akan lebih ganas jika ada yang mengajaknya berduel dengan terang-terangan.


"Bagaimana rasanya? Cukup segar, 'kan?" Dhira benar-benar puas melihat wajah geram Ressa, itu artinya ia berhasil memberikan pukulan balik terhadap wanita itu.


Dhira bukan wanita yang gampang ditindas oleh wanita lain.


Tentu saja Dhira tak terima ketika Ressa menyiram air ke wajahnya, lantas melakukan hal yang sama sebagai bentuk balasan yang nyata agar Ressa tahu bahwa tidak semua orang takut padanya.


Sementara ibu angkat, saat ini hanya diam saja tanpa membela siapa pun, ia masih belum tahu siapa di antara kedua wanita ini yang akan dibela oleh Hexa, jadi ia tak bisa bersikap sembarangan.


Apalagi sekarang Hexa sudah menguasai seluruh harta warisan dari kakeknya, jika masih ingin hidup enak, ia harus berada di pihak wanita yang didukung oleh anak angkatnya itu.


"Berhentilah menganggap dirimu berkuasa, karena kau hanya bagian dari masalalu yang bahkan sudah tidak penting lagi untuknya," ujar Dhira sembari memberikan gelas kosong pada Pak Wang yang menerimanya dengan senang hati.


Aktingnya sebagai nona besar di rumah itu sangat di luar ekspektasi, kualitas akting yang ia perankan tidak main-main, bahkan Dhira merasa bangga dengan dirinya sendiri dengan modal akting yang tanpa pernah ia pelajari sebelumnya.


Sepertinya ia layak mendapat penghargaan sebagai aktris terbaik tahun ini.


"Kau!" Ressa menghentakkan kakinya dengan keras, ia begitu geram sampai meremas tangannya di depan wajah Dhira seolah ingin menghancurkan seisi rumah yang ada.


"Awas saja kau nanti, aku akan mengadukan semua ini pada Hexa." Lantas ia pun pergi dengan membawa sejuta rasa jengkel di hatinya. Bahkan tak habis pikir bisa-bisanya ia kalah dari Dhira.

__ADS_1


Ibu angkat juga pergi dari sana, mengikuti Ressa yang kini sudah bersiap meninggalkan rumah itu.


Pak Wang seketika bertepuk tangan begitu senang melihat kemenangan Dhira, lantas Dhira pun ikut bertepuk tangan kecil memberi penghargaan untuk keberaniannya hari ini. Ia pantas bangga terhadap dirinya sendiri.


__ADS_2