
Selesai Hexa mengenakan pakaiannya, ia pun beranjak keluar dari kamar Dhira, meninggalkan wanita itu tanpa kata.
Tak tahu seberapa kesal sudah wanita yang memberikan sorot mata tajam pada punggungnya yang berlalu pergi.
"Hah! Akhirnya dia keluar juga." Dhira melempar tubuhnya di atas kasur, ingin mengeringkan tubuhnya dari keringat dan lalu pergi mandi.
Belum satu menit memejamkan mata, ponselnya bergetar, satu tanda pesan telah masuk.
(Pakaian dalamku jangan lupa dicuci, distrika, dan dilipat dengan baik, jika tak sesuai dengan keinginanku, kau harus melakukannya sampai aku puas dengan hasilnya.) Begitu isi pesan yang terpampang jelas di layar ponselnya.
Mata Dhira membulat sempurna, sesaat pikirannya kosong, lalu kembali tersadar dengan cepat dan bangun dari tempat tidur.
Ia memutar bola matanya ke segala penjuru arah, di mana letaknya sesuatu yang digunakan untuk menyimpan benda pusaka milik pria itu.
"Cih, apa dia tidak punya malu, segala pakaian dalam pun harus aku yang urus," cetus Dhira dalam gumamnya, sambil matanya terus mencari.
Drrtt!
Satu pesan masuk lagi.
(Cuci pakai tangan, jangan gunakan mesin pencuci!) sambungnya lagi.
"Dasar sialan, kenapa tak kau bunuh langsung saja aku? Penyiksaan macam apa ini! Memalukan." Dhira melempar ponselnya ke atas kasur dengan raut wajah yang membara. Ya, api di hatinya semakin berkobar ingin menelan orang.
Di kamar Hexa, pria yang kini sedang berbaring di kasur dengan kedua tangan yang mengganjal kepalanya, sekarang sedang tersenyum sendiri membayangkan betapa menariknya jika ia bisa melihat raut kekesalan dari wajah Dhira saat ini.
"Wanita itu pasti mau makan orang saat ini," gumamnya begitu saja. Tanpa ia sadari.
Di lain sisi.
Dhira membuka kamar mandi dengan hati-hati, seolah ada bom yang akan meledak di dalam sana. Ya, ****** ***** milik Hexa sudah seperti sebuah bom untuknya.
Dhira melirik ke bak mandi, air bekas rendaman tubuh Hexa masih menggenang di sana, tapi mana pakaian dalamnya? Sudah seperti orang bodoh ia mencari hanya untuk sebuah pakaian dalam pria.
'Nah, itu dia' batin Dhira sembari menujukan matanya pada celana segitiga bermuda yang tergantung indah di tempat gantungan handuk.
Ah, sial, matanya lagi-lagi ternodai oleh benda itu. Otaknya ikut berkelana ke mana-mana. Lihat, begitu kotornya pikiran Dhira saat ini.
Dhira langsung keluar dari kamarnya dan menemui kepala pelayan.
"Pak, Pak Wang," panggil Dhira dari luar dapur.
Pak Wang menoleh dan menghampiri Dhira segera. "Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
"Pak, di rumah ini, apa ada sabun cuci pakaian? Saya mau minta sedikit, boleh?" tanya Dhira dengan suara pelan.
"Apakah pelayan rumah ini tidak mencucikan pakaian Nona?" tanya Pak Wang.
"Bukan, bukan baju saya. Saya mau cuci benda pusaka, jika ketahuan kalau yang cuci bukan saya, nanti saya dapat masalah, Pak." Dhira kembali menjelaskan.
Pak Wang tampak berpikir sejenak sebelum ia berkata, "Baik, Nona tunggu sebentar di sini, saya akan ambilkan." Pak Wang berlalu ke dapur setelah ia menunduk hormat pada Dhira.
Detik berikutnya, Pak Wang kembali dengan sabun pencuci di tangannya. "Ini, Nona." Ia berikan pada Dhira.
__ADS_1
"Terimakasih, Pak. Pak Wang adalah yang terbaik." Dhira menepuk bahu Pak Wang beberapa kali sambil tersenyum senang. Pria paruh baya itu hanya menggaruk wajah dengan bingung, ada apa gerangan yang sudah terjadi?
***
"Permisi, Tuan Muda. Saya membawakan susu buat Anda," ujar Pak Wang sambil mengetuk pintu pelan.
"Masuk!" terdengar suara dari dalam.
"Maaf mengganggu, Tuan. Silahkan." Pak Wang memberikan gelas berisi air susu di dalamnya.
"Letakkan saja di sana," jawab Hexa yang sibuk dengan layar ponselnya.
Namun, tiba-tiba, ia menatap Pak Wang. "Apa wanita itu ada menemui Anda malam ini?"
"Maksud Tuan Muda, Nona Dhira?" Pak Wang balik bertanya.
"Apa ada wanita lain di rumah ini yang perlu kutanyakan selain dia?" Hexa menjawab dengan tegas.
Benar juga, memangnya Hexa peduli pada wanita selain Nona Dhira, pikir Pak Wang.
"Ada, Tuan Muda, nona muda meminta sabun pencuci pada saya."
Bibir Hexa tersenyum sedikit. "Untuk apa?"
"Saya kurang tahu, Tuan Muda, tapi beliau bilang untuk mencuci benda pusaka," jawab Pak Wang yang tak tahu apa-apa mengenai benda pusaka itu.
Hexa tiba-tiba tergelak mendengarnya. Benar-benar hiburan di penghujung malam.
"Dia tidak meminta pelayan agar mencucikannya?"
"Saya sudah menawarkan nona muda, Tuan. Namun, beliau berkata bahwa ia akan mendapat masalah jika ketahuan tidak mencucinya sendiri," jawab Pak Wang apa adanya. Yang masih belum paham dibalik benda pusaka yang sedang dibicarakan.
'Ia benar-benar patuh pada perintah' batinnya dengan senyum yang masih terukir indah di bibir yang sangat memesona itu.
"Baiklah, Anda boleh keluar," titah Hexa
Saat Pak Wang hendak keluar Hexa pun memanggil, pria paruh baya itu menghentikan langkahnya dan berbalik badan. "Ada yang bisa saya lakukan, Tuan Muda?"
"Panggil wanita itu ke sini."
"Sekarang, Tuan Muda?"
"Apa saya harus memberitahu Anda sekarang untuk sesuatu yang akan dilakukan dua tahun lagi?" tanya Hexa dengan sorot mata tak senang dengan pertanyaan Pak Wang.
"Maafkan saya, Tuan Muda. Akan saya panggilkan sekarang." Pak Wang tampak panik. Di rumah ini, membuat Hexa marah adalah larangan lama yang tak boleh dilakukan. Ia tak ingin merubah suasana hati tuan mudanya yang semula sedang baik-baik saja.
"Nona, Nona Muda." Sambil mengetuk pintu.
Dhira menajamkan pendengarannya, terdengar lagi suara ketukan pintu yang membuatnya beranjak dengan cepat dari kamar mandi, ritual pembersihan benda pusaka masih dalam proses pencucian.
Dengan tangan yang masih basah, Dhira membuka pintu tanpa ingin orang yang mengetuk menunggu lama.
"Ada apa, Pak Wang?"
__ADS_1
"Tuan muda memanggil Anda ke kamarnya sekarang, Nona." Pak Wang langsung mengatakan perintah Hexa.
"Tidak bisa nanti saja, Pak? Saya sedang sibuk," tawar Dhira dengan wajah memelas, juga terlihat sangat lelah.
"Tuan muda memintanya sekarang, Nona."
'Ggrr, menjengkelkan sekali' batinnya.
"Baik, Pak, saya segera ke sana." Terpaksa dan sangat terpaksa Dhira akhirnya keluar dan menutup pintu kamar, tangan yang tadinya basah, ia lap sembarangan di bajunya.
"Permisi, Tuan. Saya datang." Dhira mengetuk pintu sambil sedikit mengintip karena pintu kamar Hexa tidak tertutup rapat.
"Masuk," ujar seseorang di dalamnya. Ya, siapa lagi kalau bukan pemilik kamar itu sendiri.
"Anda memanggil saya, Tuan?" tanya Dhira sopan.
Penampilan yang acak-acakan, baju yang basah sana-sini, membuat alis Hexa menukik tajam. "Kenapa penampilanmu kotor begitu? Kau tidak tahu aku tak suka dengan sesuatu yang jorok?" Baru kalimat pertama sudah begitu pedas.
'Hei, apa kau tidak tahu seberapa bekerja kerasnya aku malam ini? Semua ini karena ulahmu sendiri, 'kan? Kenapa menyalahkan penampilanku?' gerutu Dhira kesal.
"Maafkan saya, Tuan. Tadi saya tergesa sebab Anda meminta saya untuk datang sekarang, jadi tidak sempat rapi-rapi dulu."
"Kau menyalahkan aku?"
"Ayolah, siapa pun tolong bunuh saja pria ini, hidupnya benar-benar menyusahkanku," gumam Dhira tanpa sadar.
"Kau berani memakiku?" tegur Hexa dengan sorot mata yang menajam.
Dhira dengan cepat menggeleng. "Tidak, Tuan. Anda salah dengar, justru saya sedang memuji Anda." Dengan cepat memberi alasan.
Hexa bangkit dari tempatnya dan mendekati Dhira. "Benarkah? Pujian apa barusan yang kau katakan?"
Dhira tersenyum cengengesan, sambil berpikir pujian apa yang harus ia katakan agar membuat tuan muda ini bisa senang.
"Saya, saya bilang, tubuh Anda bagus, Tuan, impian semua wanita," celetuknya begitu saja.
'Ah, aku pasti sudah gila memujinya seperti itu,' batin Dhira berteriak.
"Termasuk impianmu?"
"Iya, Tuan." Dhira sampai mengangguk cepat seperti orang bodoh.
Lagi-lagi Hexa tak bisa menahan untuk tidak tersenyum.
"Lantas kau berharap bisa memeluk tubuh sempurnaku ini?" Hexa semakin memancing.
"Iya, Tuan."
'Cukup katakan iya, maka semua akan baik-baik saja, 'kan?' pikir Dhira.
Namun, ah, ia pasti sudah benar-benar gila mengatakan seperti itu. Jangankan memeluk tubuh Hexa, menyentuh sedikit kulit pria itu saja membuat jantungnya jedag-jedug tak karuan.
'Aahh! Hentikan penderitaan ini, ya Tuhan!' Dhira terus berteriak di balik kepalan tangan dan mata terpejamnya.
__ADS_1