
Hexa tersenyum miring. "Aku sungguh tidak tahu bahwa kau memiliki otak yang kotor."
"Kamu butuh bantuan?" tanya Hexa.
"Bantuan apa, Tuan?"
"Mencuci otak kotormu." Hexa menoyor kening Dhira dengan kuat sampai wanita itu mundur dua langkah saking kuatnya.
'Tuhan, bisa tidak, sehari saja aku jadi binatang buas, ingin kugigit pria di hadapanku ini biar tahu bagaimana rasa sakitku.'
Beruntung ia tak jatuh akibat toyoran tersebut, tubuhnya yang lelah hanya bisa pasrah, menerima setiap perlakuan aneh dari Hexa.
Hexa yang kini sudah duduk santai di kasurnya, memanggil Dhira menggunakan jari telunjuk.
Dengan manutnya Dhira melangkah mendekat.
"Minum susu."
"Hah!" Tanpa sengaja Dhira berteriak.
Hexa menyipitkan matanya menyingsing permukaan wajah Dhira yang terkejut.
"Kau berani berteriak di hadapanku?"
"Maaf, Tuan." Dhira kembali tertunduk, tanpa sengaja matanya melirik ke sebuah gelas berisi susu putih di atas nakas, tepat di samping Hexa duduk.
'Oh, astaga. Jadi maksudnya susu itu? Ya ampun, Dhira, apa-apaan pikiranmu ini? Bisa-bisanya berpikir hal lain yang begitu jauh.'
Dhira tak kuasa, betapa malunya ia saat ini, belum lagi dirinya sampai berteriak keras di depan Hexa. Mau taruh di mana mukanya sekarang.
"I-ini, Tuan." Dhira mengambil gelas itu dan menyerahkan pada Hexa.
"Apa aku mengatakan aku ingin minum susu?" ujar Hexa.
"Lantas, maksud ucapan Anda tadi ...?"
"Kau saja yang minum!" jawabnya lagi.
"Tapi, Tuan."
"Minum!" titahnya tanpa bisa dibantah.
Mau tak mau Dhira harus patuh dan terus patuh pada pria itu. Ia sampai bingung, kenapa dirinya selalu tak bisa lepas dari pria di hadapannya ini.
Sampai terdengar bunyi saat Dhira meminum susu tersebut, teguk demi teguk.
__ADS_1
Hexa membiarkan Dhira meminumnya sampai tandas. Lantas berkata, "Kenapa kau habiskan? Aku juga mau minum."
Tiba-tiba Dhira terbelalak kaget. "Tapi Anda barusan bilang tidak ingin minum susu."
"Itu, kan, kau yang bilang, aku tidak merasa pernah mengatakannya," kelit Hexa.
Perasaan Dhira sekarang tengah berguling-guling ke sana-sini. Kenapa bisa ada makhluk mengerikan seperti ini di hadapannya?
'Apa perlu aku membawa alat perekam setiap kali ingin bicara dengannya? Biar aku punya bukti setiap kali ia mempertanyakan sesuatu yang memang pernah ia ucapkan.'
'Dia sangat jago dalam hal bersilat lidah, para pejabat di luar sana, silahkan beri dia penghargaan yang luar biasa agar bisa mengembangkan bakat alaminya.'
Tak ada habisnya Dhira menggerutu kesal dengan permainan yang dimainkan oleh Hexa, sampai mulai bosan dibuatnya.
"Ambilkan aku yang baru," perintah Hexa dengan begitu santai. Apakah ia tidak tahu bagaimana lelahnya Dhira seharian ini?
Mulai dari berjalan kaki tanpa arah tujuan, bekerja di bar, lantas sampai rumah malah semakin dibuat lelah oleh Hexa.
Ini sudah jauh tengah malam, apa ia tidak berkesempatan untuk tidur malam ini? juga, apakah Hexa tidak mengantuk sama sekali setelah bekerja seharian penuh? Seberapa banyak tenaga yang disimpan pria itu dalam tubuhnya?
Dengan langkah yang begitu malas menuruni anak tangga, sambil menenteng gelas kosong bekas minumnya tadi, ia menghampiri Pak Wang yang nampaknya sudah selesai dengan segala aktivitasnya.
'Apakah Pak Wang selalu tidur di jam segini setiap malamnya?' batin Dhira.
"Nona, Anda belum tidur?" sapa Pak Wang yang juga baru keluar dari dapur.
Gila, rasa lelahnya melebihi mengurus anak bayi, jika boleh memilih, Dhira mau jadi pengurus bayi kecil saja ketimbang mengurus bayi besar, merepotkan.
"Berikan pada saya, Nona." Pak Wang mengambil alih gelas di tangan Dhira dengan hati-hati.
"Pak Wang istirahat saja, biar saya yang buat, kalau untuk susu saja, saya juga bisa sendiri, kok." Dhira merasa tak enak, sebab Pak Wang pun tampak sangat lelah, terlihat dari matanya yang mulai sayu.
'Aku tak membayangkan, ternyata semua orang di lingkungannya bekerja sangat keras, semua menderita karenanya. Aku tak sendirian' batin Dhira, merasa kasihan pada Pak Wang.
"Jangan, Nona. Ini adalah tanggung jawab saya. Anda tidak boleh terlalu lelah." Pria paruh baya itu dengan cepat masuk ke dapur.
'Ketahuilah, Pak Wang, sebelum ke sini, aku memang sudah terlalu lelah, kakiku rasanya mau meledak," batinnya, sambil memandangi punggung Pak Wang dari belakang.
Dhira menunggu di meja makan, ia rebahkan kepalanya sambil memainkan jarinya membentuk sebuah lingkaran di atas meja.
Detik berikutnya Pak Wang keluar dari dapur. "Berikan pada saya, Pak Wang." Dhira mengambil alih gelas yang sudah terisi penuh dengan susu putih.
"Anda bisa, Nona?"
"Tenang, hal kecil ini tak membuatku lelah, Pak," jawab Dhira berbohong dengan menampilkan senyum ceria, padahal tubuhnya meronta-ronta minta direbahkan di atas kasur.
__ADS_1
"Kalau begitu terimakasih, Nona." Pak Wang menunduk sopan pada Dhira.
"Berterimakasihlah pada tubuh Anda, Pak Wang, sebab masih tetap kuat dan sehat sampai di detik ini." Dhira menepuk pelan bahu Pak Wang dan tersenyum, lalu meninggalkan Pak Wang yang masih berdiri mematung.
"Nona muda gadis yang baik," gumamnya.
"Permisi, Tuan. Ini segelas susu yang Anda minta." Dhira masuk dan menyerahkan gelas di tangannya pada Hexa.
Hexa menerimanya, meneguknya satu kali tegukan dan memberikannya lagi pada Dhira. "Habiskan."
"Hah?!"
'Coba katakan sekali lagi, sepertinya aku salah dengar.' Dhira menaikkan alisnya setinggi mungkin.
"Aku bilang habiskan!" titahnya tegas, penuh penekanan.
"Saya, Tuan?"
'Aku sungguh salah dengar, 'kan? Dia tidak mungkin memintaku meminum susu itu lagi, 'kan?' Dhira tak ingin percaya.
"Aku mengantuk, sudah tidak ada mood untuk minum susu, jadi kau habiskan saja semuanya." Dengan santai ia membuat Dhira menerima gelas itu dari tangannya, lalu ia berbaring dan menutupi setengah badannya dengan selimut tebal.
'Bercanda, 'kan? Dia ingin aku diare dengan minum susu terlalu banyak? Susu bekas minumnya lagi, yang ada aku ketularan penyakit anehnya,' cetus Dhira gusar.
"500 ribu menjadi milikmu, asal kau meminumnya," tawar Hexa.
'Oh, sudah mulai main sogok-sogokan? Baiklah, siapa takut?'
Dhira meneguk habis susu tersebut sampai benar-benar tandas, sampai ke titik penghabisan. Lumayan uangnya, bisa ia gunakan untuk bayar hutang dengan Pak Wang.
Benar-benar menggelitik hati ketika memerhatikan Dhira yang tersiksa dengan segala caranya, rasa senangnya membuat bibir indah itu lagi-lagi tersenyum.
'Ya, senyumlah sepuas-puasnya, kau pasti sangat senang sekarang, kan?' gerutu Dhira. Ia tak senang melihat Hexa meledeknya dengan senyuman. Itu sangat memalukan.
"Keluarlah," usir Hexa.
"Tapi, uangnya, Tuan?" tagih Dhira.
'Ck, apa semua wanita begitu tergila-gila dengan uang?' Wajah Hexa berubah tak sedap. Teringat kembali alasan mantan kekasihnya pergi ke negara asing dan meninggalkannya di tanah air, semuanya karena uang, harta dan tahta.
Hexa meraih dompetnya dan mengeluarkan semua uang yang ada di dalamnya. "Berusahalah untuk mendapatkannya." Uang itu ia jatuhkan begitu saja, hingga berhamburan di atas lantai.
Dhira hanya bisa mengepalkan tangannya, memungut semua uang yang berhamburan, jika ia tak benar-benar butuh dengan uang itu, tak akan ia sudi memungutnya seperti orang yang begitu hina dan tergila-gila akan uang.
"Segeralah keluar setelah kau selesai dengan uang itu. Jangan lupa matikan lampu." Kini Hexa sudah memejamkan mata.
__ADS_1
"Saya pamit keluar, Tuan. Terimakasih uangnya. Selamat malam dan selamat tidur, semoga Anda mimpi indah." Dhira membungkuk hormat, padahal hatinya sangat marah. Tak ingin berlama-lama, tanpa jawaban, Dhira keluar dari kamar itu setelah mematikan lampu.