Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Kau Bebas Menyentuhku


__ADS_3

Usai mandi, Hexa terdiam di depan pintu, menatap Dhira yang sudah duduk manis di tepi ranjang, serta pakaian ganti untuknya yang sudah disiapkan oleh wanita itu.


"Kau? Bagaimana kau bisa masuk ke sini?"


Seingatnya tadi, ia sudah mengunci pintu, lantas bagaimana caranya Dhira bisa masuk?


Dhira tersenyum penuh arti, sekarang ia tahu bagaimana caranya membuat pria itu tak lagi mengerjainya.


Melihat Hexa yang menolak untuk ia layani, kini ia paham bagaimana membuat pria itu dengan sendirinya berhenti mengganggu kehidupannya, ia harus memiliki inisiatif sendiri agar Hexa yang menjauhinya, dengan begitu ia tidak akan terlalu merasakan tekanan batin setiap hari.


"Tuan, Anda sudah selesai mandi, ini sudah saya siapkan baju ganti untuk Anda." Dhira berdiri dan melangkah maju mendekati dengan membawa baju Hexa.


"Berhenti di sana!" seru Hexa yang tiba-tiba menghentikan langkah Dhira.


Wanita itu pun akhirnya berhasil menampilkan tawa jahat di hatinya.


Sekarang Hexa dengan sendirinya tidak mau didekati, bukankah ini kabar bagus untuk Dhira?


"Tuan, saya cuma mau memberikan Anda baju ini."


Dhira malah berpura-pura polos di hadapan Hexa.


"Kau belum menjawab pertanyaanku barusan. Bagaimana caramu bisa masuk ke sini?"


Hexa tak bergeming sedikit pun dari tempatnya. Menunggu jawaban dari wanita yang berdiri di hadapannya dengan jarak satu meter.


"Saya memanjat lewat jendela." Sembari menunjuk arah jendela di belakangnya.


Hexa berkacak pinggang sembari menghela napas kasar.


Tanpa disadari oleh Hexa, Dhira telah berhasil membohongi pria itu, tentu saja ia tidak akan bisa memanjat, ia masuk lewat pintu karena berhasil membujuk Pak Wang untuk memberi tahu kata sandi kamar Hexa, tapi sesuai dengan perjanjian, Pak Wang tak ingin terlibat, jadi namanya tak boleh disebut di depan Hexa.


Tanpa mengatakan apa pun, Hexa berjalan melewati Dhira, mengabaikan wanita itu dan tidak menerima pakaian yang dipilih oleh Dhira.


"Tuan, ini baju Anda."


Dhira malah sedikit berlari mengejar Hexa yang ingin masuk ke ruang ganti, tapi tiba-tiba saja Hexa menghentikan langkahnya secara mendadak dan akhirnya tanpa sengaja kepala Dhira membentur punggung kekar pria itu yang tanpa menggunakan sehelai benang pun.


Dhira sedikit berdesis ketika kepalanya terbentur, sambil sesekali menggosok keningnya meski tak sakit sama sekali.


Kini Hexa sudah berbalik badan dan menatap wanita yang sudah begitu berani padanya.


'Wanita ini sedang menantangku?'


Ia menatap lekat ke arah Dhira, tak melakukan apa-apa, lalu berbalik badan lagi masuk ke ruang ganti untuk mengetes wanita itu.


Benar saja, Dhira malah mengikutinya dengan tanpa ia tahu bahwa Hexa sudah merencanakannya dan memasang jebakan untuk Dhira.


Posisi mereka kini masih sama, Dhira masih dibelakang Hexa dan Hexa berdiri membelakangi wanita itu.

__ADS_1


Lalu tiba-tiba Hexa berbalik badan menuju pintu ruang ganti dan seketika menguncinya.


"T-Tuan, kenapa dikunci?"


Sekarang Dhira malah panik.


Tidak mungkin, 'kan, dirinya harus melihat Hexa berganti pakaian? Bukankah sangat memalukan untuknya?


Hexa tak menjawab pertanyaan Dhira, ia menyeringai menatap Dhira.


"Awalnya aku tak percaya, tapi sepertinya kau memang benar-benar menginginkannya, 'kan?"


Sambil terus melangkah mendekati Dhira, tapi Dhira malah mengambil langkah mundur menjauh dari Hexa.


"Maksud Anda apa, Tuan?" Suaranya sudah mulai bergetar.


Tiba-tiba jantungnya pun berdegup sangat kencang.


Hexa hanya membalasnya dengan senyum tipis sambil terus mendekat.


Sampai pada akhirnya punggung Dhira sudah terbentur di lemari, dan ia sudah tak bisa ke mana-mana.


Tubuh Hexa semakin dekat, wajah Dhira pun semakin memerah malu melihat dada Hexa yang berotot dengan jarak yang begitu dekat.


Hexa menyergap tubuh Dhira di hadapannya, tangan kirinya ia tempelkan di pintu lemari tepat di sebelah sisi kepala Dhira, sementara tangan kanannya ia gunakan untuk mengangkat dagu Dhira agar ia bisa melihat wajah merah wanita itu dengan jelas.


Seketika baju yang dipegang oleh Dhira tadi terlepas dari tangannya, jatuh ke lantai karena terkejut dengan reaksi Hexa sekarang.


Hexa semakin mendekatkan wajahnya, membuat Dhira semakin berkeringat dingin.


"Apa kau sangat ingin menggodaku?"


'Hah? Sejak kapan aku ingin menggodanya?'


Aliran darahnya semakin panas hingga raganya terasa gerah detik itu juga.


"Kau sangat ingin menyentuh tubuhku, 'kan?' bisik Hexa tepat di telinga Dhira.


Napas pria itu benar-benar menggelitik area lehernya, seketika bulu roma pun meremang, menambah suasana mencekam di hatinya.


Sekarang Dhira menyesal, bukannya membuat Hexa menjauh, malah membuat pria itu semakin nekat pada dirinya.


"Berhubung suasana hatiku sedang baik saat ini, maka kuizinkan kau menyentuhku, terserah mau di bagian mana."


Sejenak menghentikan kalimatnya, dan mendekat lagi membisikkan di telinga Dhira.


"Kau kuberi kebebasan untuk memilih sendiri," bisiknya dengan nada yang sedikit licik.


Bukan lagi, jantung Dhira semakin tak karuan dibuatnya, bagaimana ia harus menjawab?

__ADS_1


"Ayo."


Hexa kini melepaskan tangannya yang menempel di pintu lemari, berdiri tegap di hadapan Dhira.


'Bagaimana ini? Masa aku harus menyentuhnya?'


Dhira kembali tertunduk, mata dan giginya terkatup rapat.


"Apa yang kau tunggu?"


Semakin Hexa bersuara, semakin membuat Dhira tak tahu harus berbuat apa.


Sampai pada akhirnya ia kalah, tangannya bergerak perlahan, dan Hexa tampak menunggu dengan tak sabar.


Telapak tangan Dhira menempel di bahu Hexa, sangat jelas tangan itu gemetaran, padahal bukan pertama kalinya ia menyentuh Hexa, tapi kenapa sekarang ia malah begitu gugup?


Senyum kepuasan tampil di bibir Hexa.


Niatnya mau mengerjai Hexa, tapi malah kembali dikerjai oleh pria itu.


'Ini namanya senjata makan tuan' batinnya.


Cepat-cepat ia menurunkan tangannya kembali usai menyentuh bahu Hexa.


"Aku khawatir kau tidak hanya ingin menyentuh di satu sisi saja, kau pasti ingin lebih, 'kan?"


Hexa kembali menggodanya.


"T-tidak, Tuan. Saya tidak berani lancang."


Hexa meraih tangan Dhira dan meletakkan di dadanya sebelah kiri, hingga Dhira dapat merasakan detak jantung pria itu yang berirama.


Percayalah, tidak ada rasa malu yang pernah ia rasakan melebihi rasa malunya saat ini, bahkan telinganya pun mungkin ikut memerah saking malunya.


Dhira ingin berteriak sekeras mungkin, tapi ia tak mampu melakukannya, tertahan dengan detakan jantung yang semakin melaju tak tentu arah.


"Bagaimana? Apa kau sudah puas?"


'Puas kepalamu! Ini kau sendiri yang memaksa!'


Jika ada kehidupan selanjutnya, Dhira benar-benar ingin memasukkan Hexa ke dalam blender, dengan begitu Hexa tak akan bisa lolos lagi bukan?


"Jangan-jangan kau juga berniat untuk menciumku?"


'Hei, buaya. Hentikan ekspektasimu tentang hal itu, siapa juga yang mau mencium pria kutub sepertimu?'


"Tidak masalah, lakukanlah."


Dengan postur tubuh penuh percaya diri, ia tersenyum picik di depan Dhira.

__ADS_1


Sampai wanita ini malu setengah mati, siapa yang berani menolongnya sekarang? Ia sudah sekarat, benar-benar sekarat.


__ADS_2