
Keesokan pagi, setelah sarapan, Hexa bersiap untuk berangkat ke perusahaannya. Hari ini adalah pelantikan dirinya sebagai pemimpin perusahaan menggantikan sang ayah.
Dhira mengikuti Hexa dari belakang untuk mengantar pria itu sampai di depan teras, disusul dengan Pak Wang yang menenteng tas kerja milik majikannya.
"Ini tas milik tuan muda," ujar Pak Wang sembari memberikan tas di tangannya pada Sekertaris Jo yang berdiri di samping mobil, sementara Hexa sudah masuk duluan, tanpa mengatakan apa pun baik pada Dhira maupun pada sekertarisnya.
"Nona Dhira, sepertinya hari ini Tuan Hexa akan pulang larut malam," ujar Sekertaris Jo memberitahu.
'Iya, lantas? Memangnya kenapa jika dia pulang larut malam? Kenapa malah melapor padaku, memangnya aku peduli?' jawab sinis Dhira dalam hati. Ya, hanya sekedar suara hatinya yang berani bicara seperti itu.
"ini ada kartu debit tanpa sandi yang bisa Anda gunakan untuk jalan-jalan jika Anda merasa bosan tinggal di rumah seharian, saya juga sudah menyiapkan sopir pribadi untuk Anda, nanti dia akan datang satu jam lagi, minta sopir untuk mengantar Anda ke mana pun yang Anda inginkan," kata Sekertaris Jo sembari memberikan kartu berwarna kuning emas pada Dhira.
Dhira menerimanya dengan heran.
Tumben sekali, sudah begitu lama tinggal di sini, baru sekarang diberi kebebasan untuk jalan-jalan. Entah apakah ini perintah Tuan Hexa?
Benar, ini pasti perintah dari Hexa, Sekertaris Jo mana mungkin memiliki wewenang atas diri Dhira apalagi memberikan kartu debit untuk dipakainya sendiri, pasti Hexa yang memerintahkan, dan tak ingin Dhira tahu hal itu.
Dhira menoleh ke mobil di mana ada Hexa di dalamnya, yang tadinya pria itu memerhatikan Dhira, kini tiba-tiba berpaling muka saat Dhira menoleh padanya.
Dhira kembali menatap Sekertaris Jo, lalu tersenyum ramah dan menundukkan kepala. "Terimakasih, Tuan."
"Tidak perlu sungkan, Nona. Jika Anda perlu sesuatu, bisa katakan pada saya langsung atau bisa cari Pak Wang, dia akan membantu kesulitan yang mungkin Anda tidak bisa selesaikan sendiri." Sekertaris Jo membalas dengan senyum sopan.
'Termasuk membantuku bebas dari Tuan Hexa?' cibirnya dalam hati. Lama-lama ia geram sendiri.
Mana mungkin hal itu bisa terjadi, ia hanya akan terlihat seperti punguk yang merindukan bulan, Hexa tidak akan melepaskannya semudah itu.
"Kalau begitu saya permisi, Nona." Sekertaris Jo menundukkan kepalanya dan berbalik badan, tapi tiba-tiba ia kembali menoleh pada Dhira.
"Satu hal lagi, Nona. Meski Anda memiliki waktu untuk jalan-jalan, tapi bukan berarti Anda bisa melewati batas yang sudah ditentukan. Pulanglah sebelum Tuan Hexa berada di rumah, ini kewajiban yang harus Anda patuhi."
Secara tidak langsung, Sekertaris Jo sedang memperingatinya dengan tegas, bahwa dirinya tidak lain dan tidak bukan, hanya sebagai seorang pelayan yang harus tetap tunduk pada sang majikan, harus ada setiap kali dibutuhkan, tanpa terlambat barang sedetik pun.
"Baik, Tuan." Lagi-lagi senyum keterpaksaan itu terukir indah di bibir Dhira. Ya, hanya bisa seperti itu. Menutupi rasa kesalnya dengan senyuman yang amat sangat palsu.
Lalu Sekertaris Jo pun masuk ke mobil dan mereka berlalu pergi.
"Saya permisi duluan, Nona," ujar Pak Wang yang dari tadi berdiri menunggu kepergian majikannya.
"Silahkan, Pak," jawab Dhira.
Ia kembali menatap kartu di tangannya, melihat tampilannya saja membuat tubuhnya bergidik. Pasti isinya tidak main-main, harus berapa banyak lagi ia berhutang pada Hexa jika sampai ia menggunakan uang yang ada di kartu itu, bukankah akan semakin sulit baginya untuk memikirkan kehidupan bebas di luar sana?
__ADS_1
Ah, sudahlah. Kebebasan itu hanya akan ada dalam angan-angannya.
Di dalam kamar, Dhira merenung sendirian, entah ada berapa banyak beban yang sedang ia pikirkan sekarang.
Berhubung diperbolehkan keluar rumah, Dhira pun beranjak mengganti pakaiannya, barang kali dengan sedikit jalan-jalan di luar sana, ia bisa mengusik semua beban yang bersarang di otak. Namun, bukan berarti ia ingin menggunakan uang yang diberikan Hexa.
Lebih baik main aman saja, ketimbang daripada nanti apa yang digunakannya akan diungkit kembali oleh Hexa, itu akan jadi masalah baru untuknya.
"Nona Muda, permisi." Saat menuruni anak tangga, Pak Wang menunggunya di bawah.
"Ada apa, Pak?" tanya Dhira.
"Siang ini, Nona Muda ingin maka apa?"
"Tidak usah, Pak. Saya mau keluar, belum tahu akan pulang jam berapa." Sembari menggeleng pelan.
"Baik, Nona. Sopir Anda juga sudah ada di depan, mari saya antar." Pak Wang membentangkan tangannya mempersilahkan Dhira jalan lebih dulu.
Dhira segera menggeleng cepat. "Tidak perlu antar, Pak. Saya bisa sendiri. Cuma kalau bisa, apakah saya boleh pinjam uang Anda, Pak Wang?" Tak ada jalan lain, ia terpaksa harus meminjam uang pada kepala pelayan untuk jaga-jaga, siapa tahu di luar nanti ia butuh, setidaknya ia tak harus memakai pemberian Hexa.
"Untuk apa Nona muda meminjam uang? Bukankah yang diberikan Tuan muda jauh lebih besar dari jumlah uang yang bisa kupinjamkan? Apa itu tak cukup?" Pak Wang membatin sebelum menjawab permintaan Dhira.
"Anda butuh berapa, Nona?" Walau sebesar apa pun rasa penasarannya, ia tetap tak boleh lancang bertanya pada Dhira mengenai untuk apa meminjam uang, Dhira sudah termasuk majikannya, sebab tuan mudanya pun melindungi gadis di hadapannya ini
"Hanya Seratus Ribu? Bukankah itu terlalu sedikit? Lantas kenapa harus pinjam? Bukankah kartu yang diberikan sekertaris tuan muda jauh lebih banyak isinya?" Lagi-lagi Pak Wang berpikir keras, tapi tetap saja ia tak mengerti dengan jalan pikir nona muda di hadapannya itu.
"Kalau begitu bisakah Anda menunggu sebentar, Nona? Akan saya ambilkan," ujar Pak Wang yang tak mau terlalu lama membuat Dhira menunggu jawabannya.
"Boleh, Pak?" tanya Dhira sekali lagi untuk memastikan, tak menyangka Pak Wang dengan cepat menyetujui permintaannya.
"Tunggu sebentar, Nona." Pak Wang tampak setengah berlari ke arah dapur, Dhira tampak lega, ternyata semudah itu Pak Wang meminjamkannya.
Tak lama Pak Wang kembali dengan tergesa, tentu dengan selembar uang kertas di tangannya.
"Ini, Nona." Ia berikan dengan sopan sambil menunduk.
Dhira juga ikut menunduk menerima uang itu, tersenyum cerah, secerah harapannya yang tak kunjung menjadi kenyataan.
"Terimakasih, Pak. Saya janji akan melunasinya sesegera mungkin setelah saya mendapatkan uang."
Pak Wang hanya tersenyum tipis, dan Dhira pun segera melangkah keluar dari rumah.
"Selamat pagi, Nona Muda." pria paruh baya yang berdiri di samping mobil itu tampak membungkuk melihat kedatangan Dhira.
__ADS_1
Itu pasti sopir yang di maksud Tuan Jo. Pikir Dhira.
"Selamat pagi juga, Pak." Dhira membalasnya dengan tersenyum ramah.
"Silahkan, Nona." Pak Sopir membuka pintu mobil bagian belakang mempersilahkan Dhira masuk.
Dhira mengulas senyum simpul lalu memasuki mobil tersebut.
"Entah ada berapa banyak mobil yang dimiliki pria itu, dia benar-benar kaya. Orang kaya yang segala sesuatunya harus berjalan sesuai dengan ketentuannya," batin Dhira sambil celingak-celinguk memperhatikan mobil yang begitu besar, tapi hanya dia seorang penumpangnya. Sayang sekali bukan?
"Permisi, Nona. Izinkan saya bertanya ke mana arah tujuan kita sekarang?" Suara Pak Sopir seketika membuyarkan lamunannya. Dhira segera menguasai dirinya kembali.
"Ke mana sajalah, Pak. Muter-muter kota juga tidak apa-apa," jawab Dhira asal. Ia sendiri pun tak tahu ke mana arah tujuannya, hanya ingin mengusik beban dan rasa bosan, itu saja.
Sementara di sebuah perusahaan besar yang memiliki puluhan lantai serta ribuan karyawan, ada seorang bos yang saat ini sedang tak fokus dengan meeting yang sedang berjalan. Siapa lagi kalau bukan Hexagonal Prinanda.
Sekertaris Jo menghampiri Hexa dan membisikkan sesuatu di tengah rapat.
"Kepala Pelayan Wang memberi tahu bahwa Nona Dhira memutuskan untuk jalan-jalan, dia baru saja keluar dan diantar oleh sopir." Begitulah bisik Sekertaris Jo, yang ternyata berhasil menghalau ketidak fokusan Hexa dalam bekerja. Lelaki yang dikenal begitu dingin dan kejam, kini tersenyum tanpa ia sadari. Ada dorongan tersendiri yang membuat bibirnya tertarik tanpa kendali.
Semua yang ada di ruang rapat tampak saling melempar pandangan, semua dibuat heran oleh Hexa.
Seorang bos yang tadinya bicara acuh tak acuh, selalu marah-marah pada mereka, eh sekarang tiba-tiba senyum-senyum sendiri tanpa mereka ketahui penyebabnya.
Tentu saja itu kali pertama bagi mereka melihat senyuman Hexa, ternyata lelaki itu semakin terlihat kharismatik dan memesona dengan senyumnya.
Itu tak berlangsung lama, senyum itu hanya berlangsung beberapa detik, wajahnya kembali ke pengaturan awal, dingin dan acuh. Sorot mata yang tajam membuat mereka kembali menciut, tertunduk patuh tanpa berani menatap atasannya.
__ADS_1