
Orang yang menjadi ibu kandungnya, tapi juga orang yang tanpa belas kasih telah menjualnya ke tempat terkutuk yang selamanya ia tak ingin kunjungi.
"Kenapa ketus begitu? Seharusnya kamu berterimakasih pada mama, jika bukan karena mama, kamu tidak akan bisa menginjakkan kaki di mall ini, jangankan masuk ke sini, membayangkannya saja kamu tidak akan mampu," cetusnya kesal melihat Dhira yang berwajah masam padanya.
"Jika bukan karena mama, memangnya dari mana kamu mendapatkan uang untuk jalan-jalan?" lanjutnya lagi. Ia benar-benar mengira bahwa apa yang ia lakukan pada Dhira adalah sebuah tindakan yang patut disyukuri.
"Lantas? Kamu mau aku berterimakasih seperti apa? Sujud di kakimu?" balas Dhira dengan alis yang menukik, ucapan ibunya itu hanya seperti sebuah lelucon yang tidak lucu sama sekali.
Siapa yang akan berterimakasih setelah dijual paksa, apalagi oleh ibu sendiri.
"Sekarang kamu sudah pandai menentang mama, ya! Mentang-mentang sudah berduit, sekarang begitu berani." Ibunya tampak semakin tak suka dengan sikap Dhira yang lancang.
Ia tampak memberi isyarat pada kedua wanita yang berdiri di sampingnya, lantas kedua wanita itu pun memegangi kedua tangan Dhira dengan kuat.
"Kalian mau apa? Lepaskan!" Dhira sedikit terkejut, terus berusaha untuk berontak agar bisa lepas dari cengkraman mereka. Namun, nihil, ia tak bisa mengimbangi kekuatan dua orang itu.
"Kau harus berterimakasih dengan cara memberiku uang." Ibunya merampas tas kecil milik Dhira secara paksa, mengeluarkan dompet di dalamnya dan mengambil kartu serta selembar uang seratus yang ia pinjam dari Pak Wang.
"Jangan ambil kartu itu, Ma. Kumohon!" teriak Dhira geram, itu bukan kartu miliknya, ia tak ingin isinya berkurang sedikit pun. jika tidak maka dirinyalah yang akan mendapat masalah.
"Gold card?" Alisnya menukik sambil tersenyum sinis pada Dhira.
"Cih, Kau benar-benar kaya rupanya sekarang, sudah berapa banyak lelaki yang menjamahmu? Kau pasti dibayar mahal oleh madam." Lantas ia tampak menyeringai, sekaligus senang sudah mendapatkan apa yang ia mau.
"Tidak, kembalikan kartu itu!" Entah sudah sekuat apa Dhira mencoba, tetap saja ia tak bisa melepaskan diri.
"Kamu tenang saja, kehilangan kartu ini tidak akan membuatmu miskin seperti dulu lagi, masih banyak lelaki yang akan membokingmu, dan kau bisa kembali mengumpulkan uang dari hasil menjual diri, sampaikan salamku pada madam." Wanita paruh baya itu mencium kartu milik Hexa yang diberikan pada Dhira dan melempar tas yang tadi ia rampas, tepat mengenai wajah anaknya.
"Ayo kita pergi," ajaknya pada kedua orang wanita yang memegangi Dhira.
Dhira pun dilepaskan dan ditendang ke lantai, ia sudah sangat menyedihkan, kenapa harus begitu apes bertemu dengan ibunya yang lebih kejam dari binatang buas.
"Sebaiknya kau tetap patuh padaku, apa yang kuambil darimu sekarang, masih belum cukup untuk membayar hutang padaku yang sudah melahirkanmu ke dunia ini. Dasar anak sialan!" umpatnya sambil mendecak kesal pada Dhira, lalu ia pergi bersama dua temannya tadi.
Dhira hanya bisa menatap dendam pada ibunya, jika boleh memilih, ia pun tak sudi dilahirkan oleh wanita seperti itu. Seorang ibu yang selama ini ia harapkan bisa mengayominya, tetapi malah menjerumuskannya ke lembah yang begitu hina.
Lalu sekarang tanpa rasa malu datang menuntut ucapan terimaksih dari Dhira dan merampas semua yang bukan menjadi miliknya. Siapa yang tidak akan dendam jika diperlakukan seperti itu.
Bisa dikatakan, nasib Dhira dan Hexa percis sama, sama-sama terlahir dari hubungan terlarang, tapi apakah mereka yang menginginkan itu? Tentu tidak, semua orang tidak ada yang menginginkan hal seperti itu, apalagi mendapat julukan sebagai anak haram di masa kecilnya. Namun, tidak dengan Hexa, saat ia lahir, ibunya telah memiliki suami sehingga orang-orang pun berpikir bahwa Hexa lahir dari pernikahan yang sah secara hukum dan agama.
Namun, bagaimana dengan Dhira? Seluruh penduduk desa tahu siapa ibunya, pulang merantau tiba-tiba membawa anak, sejak itu tidak pernah pulang lagi menjenguk Dhira yang masih kecil, hidupnya yang miskin bersama nenek, selalu menjadi bualan penduduk desa serta anak-anak di kalangannya.
Julukan anak haram, benar-benar sudah begitu melekat di dalam otaknya, ia bahkan hapal dengan nama-nama orang yang pernah menghinanya, tak akan pernah lupa.
Dhira merunduk menatap isi dompetnya yang sekarang benar-benar kosong. Kenapa ia bisa sampai lupa kalau kartu itu masih tersimpan di dompetnya, seharusnya ia mengeceknya terlebih dulu sebelum keluar rumah.
Jika ia tak membawa kartu tersebut, ibunya tidak akan merampasnya. Lalu sekarang? Bagaimana ia harus menghadapi Hexa? Ia tidak akan mampu mengganti rugi dengan semua uang yang ada di kartu tersebut.
__ADS_1
Dhira segera mengusap bulir air mata yang jatuh tanpa bisa ia kendalikan, perlahan menyimpan kembali dompetnya ke dalam tas dan berdiri.
Sekuat tenaga menahan bendungan air mata yang mengufuk di pelupuk matanya, pada akhirnya tetap jatuh juga.
Bingung, sangat bingung apa yang harus ia lakukan sekarang. Ke mana arah yang harus ia tempuh, semua tampat penuh dengan duri hidup yang seakan siap menancap ke tubuhnya.
Dhira sudah tidak berselera lagi untuk menyusuri mall tersebut, ia keluar dari sana dengan wajah lesu.
Pak sopir yang melihat Dhira keluar dari bangunan tersebut, ia pun bergegas keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Dhira.
"Silahkan, Nona." Dengan hormat ia mempersilahkan Dhira saat wanita itu sudah tiba di dekat mobil.
"Bapak pulang dulu saja, ini perintah dari Tuan Hexa," ujar Dhira. Sekarang ia masih belum ingin pulang, juga tidak ingin diantar. Saat ini ia hanya ingin menenangkan diri tanpa mendapat kepedulian dari orang lain.
"Ini ...." Pak Sopir tampak bingung, apa benar yang dikatakan Dhira bahwa Tuan Hexa yang memerintahkan? Ia sedikit ragu dan takut untuk meninggalkan Dhira.
Sesuai dengan perintah, ia harus menjaga wanita itu, bahkan nyawanya saja bisa jadi taruhan jika sampai terjadi sesuatu pada wanita di hadapannya ini.
"Bapak tidak percaya dengan ucapan saya?"
"Tidak-tidak, bukan begitu, Nona." Pak Sopir langsung menggeleng dengan cepat.
"Saya percaya, hanya saja saya takut jika terjadi sesuatu pada Anda." Raut khawatir tampak jelas di wajah pria itu, yang kini kulitnya sudah mulai keriput.
"Saya akan baik-baik saja, Pak. Anda tidak mungkin menentang perintah Tuan Hexa, 'kan?" Hanya bisa berbohong dengan menggunakan nama Hexa. Jika tidak seperti itu, maka ia tak akan mau meninggalkan Dhira.
Jika tidak, maka nyawa saya yang akan jadi taruhannya. Begitulah yang ditangkap Dhira dari makna ucapan Pak Sopir yang memintanya menjaga diri baik-baik.
Setelah kepergian pria paruh baya itu, kini giliran Dhira yang celingak-celinguk menatap ke sekelilingnya. Sekarang bingung mau ke mana, sanak saudara pun tak punya di kota metropolitan ini.
"Ada kabar lagi?"
Sekarang sang bos besar ini begitu doyan bertanya kabar pada Sekertarisnya. Sang sekertaris pun dengan sigap selalu memantau kabar baru dari gadis yang selalu ditanyakan oleh Hexa.
"Beberapa menit yang lalu, ada pemberitahuan transaksi pembayaran dari kartu debit yang Anda berikan pada Nona Dhira. Jumlah yang keluar sebesar 500 Juta, Tuan," jawab Sekertaris Jo sambil menatap ponsel di tangannya sekali lagi, takut salah lihat nominal transaksi yang tercantum di laporan tersebut.
"500 Juta berapa kali transaksi?" tanya Hexa.
__ADS_1
"Satu kali, Tuan."
"Satu kali?" tanyanya lagi memastikan.
"Benar, Tuan muda." Sekertaris Jo hanya bisa mengangguk, ia pun juga sedikit terkejut saat pertama kali melihat pemberitahuan itu.
"Sudah kamu periksa apa saja yang ia beli?" Hexa kembali bertanya. Bukan ia merasa sayang dengan uang yang keluar, hanya saja tak pernah ia duga ternyata Dhira benar-benar membutuhkan uang, selama ini ia tak pernah memberikan apa-apa pada Dhira, dan wanita itu pun tak pernah memintanya.
"Pakaian dan tas wanita dari brand ternama, Tuan."
Benar juga, ia memang tak pernah membeli barang-barang seperti itu kecuali jika ingin membawa Dhira ke suatu acara. Jika diingat-ingat lagi, selama ini sepertinya Dhira hanya memiliki beberapa pakaian kumuh yang baginya sudah tak layak pakai, kenapa ia tak pernah terpikirkan untuk menyiapkan wanita itu pakaian yang layak?
"Jo, haruskah kita berinvestasi di pusat perbelanjaan yang didatangi oleh wanita itu? Atau apa kubeli saja mall itu untuknya? Biar dia bebas memilih apa saja yang ia inginkan."
"Bagaimana menurutmu?" Hexa menatap Sekertaris Jo meminta pendapat, pria yang berdiri di hadapannya itu malah menggaruk pelipisnya bingung.
Kenapa juga bertanya pada Sekertaris Jo, jelas-jelas yang punya uang adalah dirinya sendiri, memangnya Sekertaris Jo memiliki hak untuk berkata tidak jika ia menginginkan sesuatu?
'*Untuk seorang pelayan pribadi, bukankah ini sedikit berlebihan*?' Hati Sekertaris Jo mulai bicara, dan otaknya pun ikut berpikir. Entah apa yang ia pikirkan, hanya dirinya dan Tuhanlah yang tahu.
Sepertinya Hexa tanpa sadar sudah menempatkan Dhira di suatu sudut yang hanya bisa dijangkau olehnya. Tanpa disadari, Dhira sudah banyak menyita waktunya saat bekerja. ia bahkan sering terlihat tak fokus pada pekerjaan, ini tak pernah terjadi sebelumnya setelah bertahun-tahun.
Sekertaris Jo pun mulai menyadari itu, ia tak bisa berbuat apa-apa, karena Hexa adalah aturan yang harus dituruti oleh setiap bawahannya.
__ADS_1