
Ressa mencoba untuk meraih tangannya, tapi Hexa lebih dulu menjauh dan tak ingin wanita itu menyentuhnya.
"Jawab!" Cecah Hexa dengan sorot mata menyala pada Ressa.
"Maaf, Hexa." Ressa tak berkutik.
"Minta maaf sama dia, bukan denganku!"
Dalam hati, Ressa berdecak kesal, bisa-bisanya pria yang dulu begitu menyayanginya berubah drastis dan lebih membela wanita lain, bahkan setelah ia memsang wajah menyedihkan di depan Hexa, pria itu sama sekali tak peduli.
"Ck!"
Ressa berdecak sembari menghentakkan kakinya dengan kesal, berlalu begitu saja meninggalkan mereka berdua.
Memintanya untuk meminta maaf? jangan harap!
"Sialan," desis Hexa kesal.
"Wajahmu bagaimana?" kini Hexa balik menoleh pada Dhira.
"Saya tidak apa-apa, Tuan." Sembari menyembunyikan wajah dengan telapak tangannya.
"Perlihatkan."
Hexa meraih tangan Dhira agar tidak menutupi wajahnya, Hexa mengernyit melihat wajah istrinya memerah.
Perlahan pria itu menyentuh pipi Dhira dengan lembut, sembari berkata, "Apa masih sakit?"
Dhira menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Tuan."
Dhira kehabisan kata-kata, walau bagaimanapun, sikap Hexa tiba-tiba perhatian dengannya, sungguh membuatnya tercengang.
Bagaimana tidak? Selama ini Hexa tidak pernah menunjukkan sikap seperti ini, lalu ada apa sekarang? Pria itu sudah seperti orang lain yang baru dikenal oleh Dhira.
"Ikut aku." Hexa menarik lengan Dhira agar ikut bersamanya.
"Mau ke mana? Para tamu masih ada di sana."
Dhira tak mengerti Hexa membawanya ke mobil, entah mau dibawa ke mana ia sekarang.
Bukannya menjawab, Hexa malah diam dan masuk ke mobil dan menyalakannya, bersiap meninggalkan gedung tersebut.
Dalam perjalanan, Dhira diam saja, toh juga percuma jika ia bertanya, Hexa juga tidak akan menjawabnya.
Dhira membuka sedikit kaca mobil untuk menikmati semilir angin malam. Ya, acara pernikahan mereka bahkan berlangsung hingga malam hari, bagaimana bisa dikatakan tak lelah.
Rasanya detik itu juga Dhira ingin rebahan sambil memejamkan mata, ingin terbang ke alam mimpi yang sekarang sepertinya sudah memanggil-manggil namanya.
Namun, baru sekejap mata menikmati angin malam, Hexa malah menaikkan kembali kaca mobil di samping Dhira dengan tombol di sampingnya.
Dhira pun refleks menoleh.
__ADS_1
"Angin malam tidak baik untuk kesehatan."
Seolah mengerti dengan reaksi Dhira, Hexa menjawab tanpa ditanya.
Yang ingin ditanyakan Dhira sekarang bukan hal itu, ia malah lebih penasaran kenapa Hexa sekarang begitu perhatian dengan kesehatannya.
Pria ini baik-baik saja, 'kan? Apa dia sedang kerasukan setan?'
Dhira terus menerka dalam hatinya.
Tak lama mobil terparkir didepan sebuah gedung tinggi berwarna putih.
Sebuah rumah sakit besar di kota itu, juga Hexa merupakan donatur di rumah sakit tersebut sehingga saat ia masuk, mendapat sambutan dari beberapa orang.
"Tuan, kita mau ngapain di sini?"
Pertanyaan Dhira tak mendapat jawaban dari Hexa.
"Tolong periksakan keadaan wajahnya." Hexa langsung memerintahkan seorang dokter ketika mereka tiba di ruang praktek milik dokter tersebut.
"Tuan, saya baik-baik saja, ini hanya masalah kecil, tidak perlu diperiksa oleh dokter."
"Diam dan menurut saja apa tidak bisa?" Hexa malah menatap Dhira sedikit kesal.
Dhira pun terdiam, tak berani mengatakan apa pun lagi.
Cuma masalahnya, kenapa harus dalam keadaan seperti ini pergi ke rumah sakit? Gaun dan mahkota pernikahannya saja masih menempel di tubuhnya.
Tak dapat terbendung bagaimana malunya ia saat semua orang menatap ke arahnya yang masih menggunakan gaun pengantin.
Dokter pun mempersilahkan Dhira serta menunjuk ke arah brankar yang ada di sudut ruangan.
Suara sang dokter membuyarkan lamunan Dhira seketika.
"Oh, iya, Dokter."
Dhira tersenyum canggung, ia harus mengatakan apa jika dokter bertanya padanya, bukankah ini akan membuat malu dirinya sendiri.
Dokter melihatnya dengan teliti, mau diperiksa seperti apa pun, itu terlihat baik-baik saja, hanya sedikit memerah yang seperti terkena benturan.
"Apa Anda terjatuh, Nona?"
Dhira tersenyum ragu. "Sepertinya begitu, Dok."
Ia tak ingin mengatakan bahwa ia mendapat tamparan dari seseorang, bukankah itu akan membuatnya terlihat lemah?
Hexa mendengar jawaban Dhira, segera meralat.
"Dia habis ditampar."
Dokter pun menoleh pada Hexa.
__ADS_1
Hexa menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kenapa? Apa lukanya parah?"
Sang dokter malah tidak tahu harus menjawab apa.
Dia sedang membayangkan, jika semua orang memiliki sifat seperti Hexa yang luka ringan begini saja harus diperiksakan ke rumah sakit, lantas apakah rumah sakit ini akan penuh setiap harinya?
"Saya tidak menemukan tanda-tanda bahaya di wajahnya, Tuan. Saya akan meresepkan obat untuk dioles ke wajahnya, itu akan membantu meringankan rasa nyeri dan memar."
Dokter berbalik badan kembali ke mejanya.
"Apa saya bisa percaya begitu saja? Bagaimana jika nanti wajahnya membengkak, biru, dan membusuk?"
'Astaga, apa yang dia katakan?'
Dhira mengernyit, Hexa yang mengatakan itu, tapi malah dirinya yang merasa malu.
"Apa Anda sudah yakin tidak ada pemeriksaan yang terlewat? Bagaimana dengan peredaran darahnya? Apakah bekerja dengan normal?"
Hexa terus menumpuk pertanyaan hingga sang dokter pun tak dapat lolos untuk menjawab.
"Saya sudah memastikan Nona Dhira baik-baik saja, jika setelah memakai salep yang saya anjurkan tidak bekerja dan membuat wajah beliau membengkak serta membusuk, Anda boleh menuntut saya, Tuan."
"Jika diagnosamu salah dan benar terjadi sesuatu pada wajahnya, membuat Anda dipenjara saja tidak akan cukup, saya akan membuat wajah Anda hancur detik itu juga!"
Lihatlah, Hexa malah mengancam seorang dokter.
Dhira buru-buru turun dari brankar tersebut dan menarik pergelangan tangan Hexa, bisa bahaya jika terus membiarkan suaminya itu berada di sana terlalu lama.
Bisa-bisa rumah sakit pun berani ia bakar.
Dhira semakin tak mengerti, kenapa Hexa bisa seprotektif itu sekarang.
"Kenapa kau menarikku? Aku belum selesai bicara padanya." Hexa menahan tangannya dan Dhira berhenti melangkah seketika.
"Sudah cukup, Tuan? Dokter itu tidak salah apa-apa, saya memang baik-baik saja, tamparan Nona Ressa tidak ada apa-apanya, bahkan kulit wajah saya lebih keras dibanding telapak tangan Nona Ressa."
Dhira mencoba untuk menjelaskan, meski ia tak tahu apa kegunaan dari ucapannya itu.
Hexa malah menatap Dhira lebih lama.
"Anda tidak percaya? Apa perlu saya buktikan?"
Dhira malah mencubit kedua belah pipinya cukup keras, dan Hexa segera menyingkirkan tangan Dhira agar tak melakukan hal itu lagi.
"Sudah cukup, kita pergi sekarang." Hexa pun melangkah pergi dengan cepat, Dhira malah ditinggalnya begitu saja.
Tadi barusan ia begitu posesif, sekarang malah bersikap dingin seolah tak peduli.
Pria itu benar-benar berhasil memporak-porandakan hati Dhira.
Dhira memonyongkan bibirnya menatap punggung pria yang kini sudah menjadi suaminya, lantas mengangkat gaunnya yang tergerai panjang dan sedikit berlari mengejar Hexa.
__ADS_1
Entah ke mana lagi Hexa akan membawanya sekarang, ia hanya perlu patuh dan diam, hanya seperti itulah yang memang harus ia lakukan jika berhadapan dengan pria yang hatinya tak bisa ditebak.
Sikapnya berubah-ubah tak kenal waktu dan tempat.