
Setelah kejadian tak terduga malam itu, tidak ada pembicaraan apa pun lagi di antara keduanya.
Mereka sama-sama membisu hingga pada akhirnya sama-sama terlelap dalam mimpi yang mengembara.
Hingga terik mentari menyeruak, dan menampilkan sinar hangatnya yang cerah.
Dhira menggeliat, tidurnya terasa nyenyak, seperti ada sebuah magnet di kasur ini, ia benar-benar tak ingin bangun saking nyamannya.
Dhira melirik jam weker di atas nakas, masih pukul 06:00 pagi, lalu ia berbalik lagi menggeliatkan tubuhnya, mengangkat kaki setinggi mungkin sambil menguap, lalu menjatuhkan kembali kakinya tepat di atas tubuh Hexa.
Setelah dirasa kakinya menimpa sesuatu yang tidak mirip seperti guling, ia pun tersentak dengan mata melotot, menolehkan kepala dengan kasar.
Setelah tahu yang ia tindih adalah Hexa, buru-buru ia menarik kakinya dengan cepat.
"Duh, bodoh banget sih, kamu!" Dhira memukul kakinya sendiri.
Untung saja Hexa tidak terbangun ketika kaki itu menimpa tubuh Hexa, kalau tidak, tak tau lagi apa yang akan terjadi.
Pelan-pelan Dhira turun dari ranjang, mengendap agar tak mengganggu tidur Hexa yang tampak begitu pulas.
Ia masuk ke kamar mandi dan menguncinya.
Dhira masih berdiri di depan kaca wastafel menatapi wajahnya sendiri, lalu terjadi kilas balik mengenai adegan malam tadi saat ia mencium wajah Hexa.
Perlahan tangan itu bergerak menyentuh bibirnya, sambil senyum-senyum tak karuan dan melompat riang seperti orang yang kehilangan kewarasannya.
Namun, tak berlangsung lama, detik berikutnya ia tersadar dan menghentikan aksinya yang melompat-lompat seperti anak kecil.
Senyum yang tadinya begitu lebar, kini mulai mengendur lagi.
"Aku kenapa?"
Lagi-lagi ia menatap bingung wajahnya sendiri di depan cermin.
Kenapa ia sebahagia ini ketika mengingat kejadian malam tadi?
Pun jantungnya ikut berdebar kencang jika mengingat tatapan Hexa padanya.
Ah, dia pasti sudah gila sekarang.
Kalau tidak, ia tak mungkin sesenang ini.
Beberapa detik berlalu, akhirnya Dhira menghela napas panjang dan mengeluarkannya perlahan.
"Tenang, Dhira, tenang. Sadarkan dirimu dan tempatkan dirimu di tempat yang seharusnya." Dhira bergumam kecil menyadarkan dirinya sendiri.
Dengan kesadaran penuh, Dhira sadar bahwa ia sedang merasakan perasaan yang berbeda pada pria itu, tapi ia tak ingin terlalu dalam memendamnya, agar nanti ia tidak begitu terluka dengan segala kemungkinan yang ada pada saat mereka bercerai nanti.
__ADS_1
Ah, Dhira kesal pada dirinya sendiri, kenapa juga harus dirinya yang tak bisa menahan diri, seharusnya dari awal ia sudah memasang tembok besar antara dirinya dan Hexa, agar perasaan suka, kagum, dan ingin memiliki itu tak akan pernah ada.
Namun, mau bagaimana lagi, perasaannya sudah terlanjur tumbuh untuk laki-laki kejam yang berdarah dingin itu, ia sudah gila karena menginginkan pria itu menjadi miliknya.
Padahal, baru kemarin ia meminta Hexa untuk menceraikannya setelah ia berhasil memberikan anak, tapi apa yang terjadi?
Ia jatuh lebih dulu sebelum menapakkan kaki ke dalam jurang.
Ia sadar dirinya bodoh, tapi perasaan tak pernah bisa berbohong, ia tak bisa mengendalikan diri dan malah terbawa perasaan dengan kepedulian-kepedulian kecil yang dilakukan Hexa untuknya.
Ia mengakui bahwa hatinya memang lemah hingga terjerat cinta yang tak akan berbalas.
Puas memandangi wajah diri sendiri, Dhira pun lanjut mandi.
Usai mandi dan mengganti pakaian di ruang ganti, Dhira kembali melihat Hexa, apakah pria itu sudah bangun atau belum.
Ternyata Hexa sudah membuka mata, tapi ia enggan untuk bangun.
"Anda sudah bangun, Tuan?"
Menyadari ada Dhira yang berdiri di sampingnya, Hexa pun menoleh yang tadinya sedang menatap ke arah jendela.
"Hm." Jawaban singkat yang terdengar menggairahkan.
Hexa duduk di tepi kasur dengan kaki yang menapak ke lantai, ia berusaha mengembalikan kesadarannya secara penuh dengan memijit pangkal hidungnya beberapa kali.
"Minum dulu, Tuan."
Hexa tak langsung menjawab, sebaliknya malah menatap ke netra Dhira lekat dan dalam.
Dhira dibuat salah tingkah olehnya dan hampir tergagap.
Melihat Dhira yang tak nyaman ia pandangi seperti itu, Hexa pun memutus kontak mata dan meraih gelas berisi air di tangan Dhira.
"Terimakasih."
Dhira mengerjap heran.
Untuk pertama kali setelah sekian lama ia mendengar Hexa mengucapkan terimakasih padanya.
Apa ia sungguh tidak bermimpi?
Ditengah kesibukannya yang sedang terheran-heran, Hexa kembali menyerahkan gelas yang sudah ia minum airnya hingga setengah.
Meski Hexa tak langsung meletakkan gelas itu ke atas nakas, tapi Dhira dengan senang hati menerimanya dan memegang gelas itu seperti benda berharga.
"Air mandi sudah saya siapkan, Tuan."
__ADS_1
"Hm."
Lagi-lagi Hexa menjawabnya singkat.
Dhira sempat berpikir, apakah pria ini sedang marah karena ia sempat mencuri cium wajahnya malam tadi?
Namun, lamunannya buyar ketika Hexa bertanya, "Kamu sudah mandi?"
"Sudah, Tuan."
"Mau mandi lagi?"
Entah apakah Hexa sedang menggodanya atau tidak, yang jelas Dhira semakin dibuat salah tingkah oleh pertanyaan itu.
Kilas balik mengenai ingatan malam itu, di saat mereka saling menggosok punggung dengan lembut.
Ah, Dhira seakan ingin terbang melayang-layang bagai superman saking malunya.
Malu, tapi nagih. Itulah yang Dhira rasakan.
Tanpa menunggu jawaban dari Dhira Hexa bangkit.
"Jika mau mandi lagi, susul aku ke kamar mandi, pintunya tidak dikunci."
Lalu ia melangkah pergi menuju ke kamar mandi.
Kalimat Hexa berhasil membuat wajah Dhira bersemu merah.
Usai memastikan Hexa sudah masuk ke kamar mandi, Dhira pun meloncat dan menghempaskan tubuhnya di kasur dan berguling ke sana sini.
Entah sejak kapan ia sampai segila ini, yang jelas hatinya sekarang tidak sedang baik-baik saja.
Dua Puluh Menit berlalu, Hexa sudah siap dengan setelan kantor.
Usai Dhira memasangkan sepatu di kaki Hexa, ia pun bangkit, kini mereka sama-sama berdiri dan berhadapan dengan satu garis lurus dan saling menatap satu sama lain.
Tiba-tiba saja ....
Hexa menadaratkan bibirnya ke wajah Dhira dan dengan spontan Dhira membulatkan mata dengan sempurna.
Terkejut dan tak percaya dengan aksi Hexa.
"Ini balasan dari apa yang kamu lakukan padaku semalam," gumam Hexa ditengah keterkejutan Dhira dan masih belum sadar sepenuhnya.
Tubuhnya membeku seketika, dan Hexa malah menampilkan senyum tpis yang terlihat licik.
Apa yang sedang ia rencanakan? Pikir Dhira.
__ADS_1