Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Perubahan Sikap Hexa


__ADS_3

Pagi hari ini Dhira terbangun lebih dulu, ia menatap wajah suaminya yang masih terlelap.


"Suami siapa sih ini? Ganteng banget," gumamnya sambil merapikan rambut Hexa yang menutupi sebagian keningnya.


Hexa menggeliat saat tangan Dhira menyentuh kulitnya.


"Mmhh." Hanya terdengar gumaman kecil dari mulutnya sembari meraih tangan Dhira dan menggenggamnya.


"Lucu sekali bayi besarku ini." Dhira tak berhenti memandangi setiap jengkal wajah Hexa, sekarang ia tak perlu sembunyi-sembunyi lagi, ia bisa memandangnya sepuas yang ia mau.


"Ck, siapa yang akan menyangka bahwa kamu adalah lelaki yang berhasil menaklukkan hatiku, kamu merebut separuh jiwaku dan membawanya kabur."


Disela gumamannya, Dhira memberikan cubitan gemas di wajah Hexa dan itu cukup keras hingga membangunkan sang pemilik pipi yang dicubit.


"Kamu kenapa?" Hexa mengernyit sambil memegangi wajahnya yang sedikit terasa perih.


"Habisnya kamu itu menyebalkan."


Sontak saja ucapan Dhira membuat Hexa mengangkat alis setinggi mungkin, dia tidak mengatakan apa pun atau bertingkah aneh, ia hanya tidur, lantas kenapa dianggap menyebalkan.


Hexa bangkit dan duduk menghadap Dhira, menatap manik mata mungil itu cukup lama.


"Bilang aja mau dicium." Hexa pun mendaratkan bibirnya ke wajah Dhira, tidak hanya satu, tapi kedua belah pipi mendapat jatah yang sama pagi ini.


"Kamu, ih." Dhira memukul lengan Hexa kesal, tapi detik berikutnya ia ikut tersenyum melihat Hexa tertawa.


Detik berikutnya Hexa kembali berbaring, memejamkan mata dengan senyum yang masih mengembang.


"Kok tidur lagi? Katanya mau berenang? Udah janji semalam, 'kan?" tagih Dhira.


Hexa membuka mata menatap istri cantiknya yang sedang menggembungkan pipi padanya, lucu sekali, hingga membuatnya tak bisa jika tak tertawa.


"Cium dulu," pintanya sambil tersenyum.


"Ih." Mata Dhira memicing, ia tahu ini hanya alasan Hexa saja agar bisa dicium.


"Tak mau cium, kita tidak berenang." Hexa semakin percaya diri dengan senyum jahilnya.

__ADS_1


"Oke, tapi tutup mata dulu."


Hexa menurut dan menutup matanya dengan cepat.


Dhira tersenyum licik, ia menggigit wajah Hexa sampai terlihat memerah lalu ia turun dan kabur keluar kamar, takut Hexa akan menangkapnya dan masalah akan semakin panjang.


Hexa tergelak melihat tingkah Dhira, wanita itu selalu bisa membuat moodnya bangkit sepenuhnya.


Hexa ikut keluar menyusul istrinya, Dhira sudah duduk di meja makan dan menyantap nasi goreng requestnya pada para pelayan.


"Makan sendirian suami tidak diajak." Sembari duduk di samping Dhira dan menatap istrinya begitu intens.


Dhira tak memedulikannya, jika sudah begitu tak ada cara lain lagi, Hexa kembali memberi kecupan manis di wajah Dhira dan itu berhasil, istrinya ini langsung melotot ke arahnya.


"Ya udah, kamu makan juga nih."


Duh, pria di sampingnya ini kenapa bisa sampai seperti ini? Perasaan dulu tidak seperti ini? Sekarang manjanya melebihi anak-anak.


Usai menyendok nasi di piring, ia pun meletakkannya di hadapan Hexa.


Namun, Hexa tak bergerak, tak berniat untuk memakannya, fokusnya belum teralih dari istri kecilnya ini. Semakin dilihat, kenapa semakin membuatnya ketagihan.


"Kenapa tak di makan?" Dhira menoleh melihat nasi goreng yang menganggur di depan Hexa.


"Tiba-tiba tanganku kram." Sambil meremas kedua tangannya dengan wajah memelas. Pertanda dan sebuah kode bahwa ia minta disuapi.


Dhira melengos pasrah. "Baiklah, aku yang suapin."


Dhira mengangkat sendok dan mengarahkannya pada Hexa, dengan senang hati tentunya Hexa membuka mulut untuk menyambut suapan Dhira. Sambil senyum-senyum tak jelas.


Perubahan sikapnya cukup drastis, bahkan Dhira tak tahu apa yang menyebabkan pria di sampingnya ini jadi seperti sekarang, tapi ia menyukai itu, sebab rasanya begitu bahagia menikmati hari-hari seperti ini.


"Sayang."


Lamunan Dhira buyar, ia mengerjab beberapa kali untuk menetralisir ucapan Hexa, apa itu ditujukan untuknya?


Dhira celingak-celinguk menatap ke sekeliling, apa Hexa memanggil pelayan dengan sebutan sayang?

__ADS_1


Hexa menangkup wajah Dhira, menatap dalam netra berwarna hitam pekat itu.


"Aku memanggilmu."


"Hah? A-aku?" Dhira menunjuk wajahnya sendiri.


"Lantas siapa lagi? Kamu pikir aku memanggil mereka?" cetus Hexa sambil memandang dua pelayan yang berdiri tidak jauh dari sana.


"Tau ah, aku mau berenang." Dhira pun kabur lagi, ini semua ia lakukan demi menyembunyikan rona merah di wajahnya. Ah, malu sekali rasanya dipanggil sayang oleh Hexa.


"Kesurupan apa sih dia?" celetuk Dhira sambil menepuk wajahnya beberapa kali, berusaha untuk sadar barangkali ini hanya mimpi.


Hexa menyusul Dhira ke kolam renang, kini Dhira hanya memakai sebuah tanktop dan celana pendek di atas lutut dengan warna senada.


Hexa menelan ludah beberapa kali melihat penampilan Dhira yang sangat wow di matanya.


"Dia terlihat semakin mungil dengan pakaian seperti itu," gumamnya sambil berjalan gontai menghampiri Dhira.


Tanpa pemberitahuan, Hexa langsung mendekap pinggang ramping itu dari belakang, menyesap leher jenjang Dhira bagaikan sebuah kopi candu yang tak bisa berhenti untuk dinikmati.


Dhira hanya memejamkan mata, biarkan saja Hexa melakukan apa pun yang dia mau, toh mereka sudah sah sebagai suami istri, tidak berdosa jika Hexa menyentuhnya.


Dipikir-pikir, ada baiknya juga saat itu keperawanannya di renggut oleh Hexa, setidaknya pria ini langsung berubah drastis dalam bersikap, ya meski ia sendiri tak tahu apakah pria yang memeluknya ini menyukainya atau tidak, seperti perasaannya yang sudah mulai tumpuh pada Hexa, atau mungkin rasa sukanya hanya bertepuk sebelah tangan.


Dhira tak tahu, apakah mungkin juga setelah berhasil memiliki anak, apakah mereka akan melanjutkan perceraian seperti yang ada di dalam perjanjian, atau mereka akan tetap bertahan dengan perasaan yang saling menyukai.


Semua pertanyaan ini hanya ada pada Hexa, jika benar dia menyukai Dhira, mungkin mereka juga akan mempertahankannya bahkan hidup menua bersama, tapi jika tidak, maka dengan terpaksa Dhira harus merelakan cinta pertamanya ini.


Ah, Dhira semakin frustasi mengingat perasaannya pada Hexa, bagaimana mungkin dari banyaknya lelaki baik di dunia ini, hatinya malah berlabuh pada Hexa yang belum tentu juga menyukainya.


"Apa yang kamu pikirkan?" Pertanyaan Hexa berhasil memecah lamunannya.


Dhira segera menggeleng. "Bukan apa-apa."


Hexa membalikkan tubuh Dhira agar menghadap ke arahnya, ditangkupnya kedua pipi gembil itu dengan kedua telapak tangan kekarnya.


Mengecup bibir ranum Dhira perlahan, lalu menatap lekat ke arah matanya.

__ADS_1


"Apa pun yang kamu ragukan, percayalah bahwa ada aku yang mampu menyelesaikannya."


Dhira tersenyum. Berlama-lama ditatap oleh Hexa begitu, jantungnya semakin tak aman, ia yakin bahwa Hexa pasti dapat mendengar detak jantungnya yang begitu kuat.


__ADS_2