Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Hukuman Anak Nakal


__ADS_3

"Huh, bosannya," gumam Dhira sambil membuka pintu balkon yang ada di kamar.


Sepasang matanya menangkap seseorang yang memasuki halaman rumah.


Tak lama setelah itu.


Ceklek!


Terdengar pintu kamarnya sedang dibuka karena memang ia tidak mengunci pintu agar saat Pak Wang membawa makanan, ia tidak perlu lagi membukakannya.


Itu pasti Pak Wang dan dayang-dayangnya yang membawa makan siang.


Beberapa detik ia menunggu, tapi tidak ada suara apa pun. 'Tumben sekali,' batinnya.


Dhira pun memutuskan untuk masuk, melihat apa yang terjadi, kenapa Pak Wang tidak bersuara.


Tapi yang ia tangkap malah sosok pria yang kini duduk di meja dengan memakan sesuatu.


'Siapa dia?' pikir Dhira dengan rasa penasaran, ia pun menghampiri pria itu.


"Astaga, copot!" Pria itu tersentak kaget hingga ayam goreng di meja hampir jatuh ke lantai.


"Hah, kamu siapa? Kenapa ada di kamarku?" tanya pria itu sambil menatap Dhira bingung.


"Harusnya aku yang tanya, kamu siapa dan ngapain ada di sini?" Dhira balik bertanya.


Pria itu tampak bengong dengan rahang yang terus bergerak mengunyah makanannya yang belum sempat ia telan karena kaget.


"Aku? Aku adik sepupu yang punya rumah ini. Lah, kamu sendiri siapa? Kamar ini milikku, kenapa kau menempatinya?" tanya pria itu dengan sejuta rasa penasaran.


Tumben sekali kakak sepupunya membawa seorang wanita masuk ke rumah, biasanya jika bukan untuk bekerja sebagai pelayan, ia tidak akan membiarkan wanita masuk, apalagi sampai bermalam di rumahnya.


"Aku?" Dhira menunjuk dirinya sendiri.


"Aku juga tidak tahu siapa diriku."


"Lah, gimana sih?" Alis pria itu menukik tajam, lantas tiba-tiba tertawa.


Ia merasa Dhira wanita yang cukup unik, pantas saja bisa membuat kakak sepupu yang kejam dan dingin itu bisa membawanya masuk ke rumah yang biasa tidak pernah diinjak oleh wanita mana pun selain pelayan.


"Ayo, sini. Tidak peduli siapa aku dan kamu, sekarang kita adalah teman, mungkin pria kulkas itu sengaja membawamu ke sini agar aku punya teman bicara dan tidak mengganggunya." Ia menarik tangan Dhira agar duduk di kursi.

__ADS_1


"Kamu mau?" Sembari menyodorkan ayam goreng ke hadapan Dhira.


Bukan main senangnya Dhira saat ditawari makan ayam goreng, kebetulan sudah sangat lama sekali sejak terakhir kali ia makan ayam kriuk itu.


"Memangnya boleh?" tanya Dhira memastikan.


"Tentu saja, siapa yang akan melarangmu? Biar aku yang hadapi." Pria itu pun berkata dengan sangat percaya diri, hal itu membuat Dhira semakin senang karena ada kambing hitamnya saat ia ketahuan oleh Hexa.


Mereka tampak menikmati makanan itu dengan sangat gembira, sambil mengobrol penuh candaan hingga suasana kamar terasa lebih hidup, lewat obrolan itu pula mereka saling mengetahui nama masing-masing.


"Bagaimana kesanmu selama bekerja dengan Kak Hexa?" bisik Derta.


Dhira mendekatkan wajahnya. "Menurutmu?" Sembari menyipitkan mata penuh arti.


Derta pun melakukan hal yang sama dan berkata. "Aku tau apa yang kamu rasakan." Lantas mereka saling tersenyum penuh maksud, berhasil mengundang gelak tawa di antara mereka dan tanpa sadar ayam goreng beserta nasi pun ludes, masuk ke perut masing-masing manusia yang sedang sama-sama kelaparan.


"Astaga, aku sangat kenyang. Terimakasih, Derta yang manis. I love you so much." Dhira mencubit wajah Derta gemas dan senang.


"Sama-sama, Manisku." Derta tak kalah, ia menoel dagu Dhira dengan senyum menggoda, lantas mereka saling merasa geli dan pada akhirnya kembali tertawa tiada henti. Sampai pada waktu di mana suara ketukan pintu berhasil membuat mereka terdiam dan saling melotot.


"Siapa kira-kira? Kak Hexa?" tanya Derta.


"Dhira pun menggeleng dengan cepat, sepertinya bukan, dia tidak pernah pulang secepat ini, seharusnya itu Pak Wang," sanggah Dhira yang ikut panik.


"Kalau Pak Wang ngadu, gimana?"


"Aku bisa mengatasinya." Derta tampak abai. Sejauh yang ia tahu, selama ini ia selalu berhasil membujuk Pak Wang jika ia melakukan kesalahan.


Melihat kepercayaan diri Derta, Dhira pun tak ragu membukakan pintu.


Lalu, jreng-jreng!


Pria tegap nan memesona itu sedang berdiri di hadapan Dhira.


Seketika Dhira melotot hingga bola matanya seakan ingin lepas melihat Hexa yang kini menatap dingin ke arahnya.


Derta yang semulanya duduk dengan tenang, tiba-tiba bangkit dengan wajah pucat pasi. "Kak Hexa?" Jantungnya pun berdegup tak karuan.


15 menit berikutnya.


Dua orang ini sekarang merasa sedikit lelah berdiri menggunakan satu kaki dengan kondisi tangan yang menyilang memegangi telinga, persis seperti anak SD yang mendapat hukuman dari guru karena melakukan kesalahan, atau bisa juga dibilang karena terlalu nakal.

__ADS_1


"Kak, apa masih belum cukup? Kami sudah melakukannya cukup lama, kakiku pegal, Kak," rengek Derta meminta belas kasihan.


Sementara Dhira, seperti biasanya, ia tak berani bicara banyak di depan Hexa. Alih-alih meminta belas kasihan, sudah membiarkannya hidup saja sudah jauh lebih dari cukup.


"Sstt, jangan banyak bicara, itu hanya akan membuatnya lebih murka, kamu mau hukumannya ditambah dengan yang lebih berat?" bisik Dhira memperingatkan selagi Hexa sedang membelakangi mereka.


Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Hexa sekarang, ia sudah berdiri menatap jendela besar di kamar itu cukup lama, bahkan tanpa bicara sama sekali setelah memberi hukuman kepada dua cunguk itu.


Detik berikutnya Hexa berbalik badan menatap keduanya, mereka berdua pun sama-sama menunduk, tak berani adu pandangan dengan pria kulkas.


Selangkah demi selangkah, akhirnya Hexa berada di samping Derta dan menatap anak itu dengan lekat.


"Bertengkar lagi dengan mama papamu?" tanya Hexa.


"Iya, Kak." jawab Derta pasrah dan masih menunduk.


"Diusir lalu datang ke sini untuk bersenang-senang?" Nada bicaranya benar-benar seperti sedang mendakwa Derta. Sementara yang sedang didakwa, hanya diam tak berkutik.


Memang selama ini seperti itu, jika Derta diusir oleh orang tuanya, pasti ia akan datang ke rumah Hexa untuk numpang tidur, mandi, dan makan. Bahkan Hexa pun sudah hapal dengan tabiatnya.


"Main ke klub malam lagi?" Hexa kembali bertanya, karena biasanya itu adalah penyebab kenapa mereka bertengkar, orang tua Derta tak suka jika anak itu selalu bermain di klub malam.


"Memangnya kenapa dengan klub malam? Aku sudah bukan anak-anak lagi. Apakah dengan pergi ke sana aku juga dianggap sebagai anak nakal? Pemikiran orang-orang tua seperti kalian ini memang tidak pernah bisa mengerti jiwa anak muda sepertiku." Akhirnya Derta pun mengangkat kepalanya menjawab dengan berani.


Hexa semakin menegapkan badannya menatap tajam. "Siapa yang kau bilang tua?"


"Tentu saja papa, mama dan-" Ucapannya terhenti sejenak.


"Dan apa?" tuntut Hexa tak sabaran.


"Dan Kak Hexa."


Bruk!


Hexa seketika menendang kaki Derta yang menjadi satu-satunya penopang tubuh agar tetap berdiri, kini ia pun tersungkur ke lantai.


Entah Derta yang sengaja atau benar-benar polos, kenapa juga ia harus mengatakan itu di depan orangnya langsung, sudah tahu watak pria itu memang keras dan kejam, masih saja memancing kemarahannya.


Hexa kini berjalan mendekati Dhira yang masih tertunduk takut. Semakin Hexa mendekat, jantung Dhira semakin terasa ingin copot.


'Tuhan, bantu aku,' batinnya.

__ADS_1


'Dhira, kau harus berpikir matang, jangan sampai berakhir seperti Derta,' lanjutnya lagi sembari menyiapkan hati dan pikiran agar nanti tak salah bicara saat ditanya.


__ADS_2