
"Selamat malam, Tuan Hexa," sambut seseorang yang merupakan manager di sebuah klub malam.
Seperti biasa, menghubungi pihak manager di suatu tempat yang ingin didatangi oleh Hexa adalah tugas Sekertaris Jo. Pria yang sudah lama kerja bersama Hexa, tak menginginkan ada satu kesalahan pun terjadi dilingkungan bosnya, semua harus sesuai dengan kendali. Termasuk meminta sang manager menyambut kedatangan Hexa di depan pintu.
Hexa tak menjawab sapaan tersebut, itu sudah menjadi hal yang lumrah bagi pria yang dikenal berdarah dingin. Tidak ada yang pernah berani berharap mendapatkan jawaban untuk sekedar sapaan yang tak berguna.
"Tunjukkan jalan," ujar Sekertaris Jo dengan wajah datar, sama dinginnya dengan Hexa sang majikan yang diikuti selama bertahun-tahun.
Semua orang berkata, bahwa Sekertaris Jo sudah ketularan oleh sikap dingin dan kejamnya Hexa.
"Baik, Tuan. Sebelah sini." Manager tersebut mempersilahkan dengan sopan dan hormat.
Hiruk pikuk keramaian serta bisingnya tempat itu, ditambah bau alkohol yang menyengat, membuat Hexa geram. Namun, tempat itu pula yang selalu menjadi sasaran utama saat ada pertemuan bisnis. Sudah terbiasa, tapi tetap membuatnya seakan ingin melenyapkan semua orang yang ada di sana.
Setelah tiba di ruang VVIP, barulah telinga terasa tenang, tidak ada kebisingan dari luar, ruangan tersebut juga kedap suara hingga tidak akan ada yang mendengar percakapan yang ada di dalamnya.
Di sana sudah menunggu seorang pria paruh baya, berkumis dan memiliki kulit sedikit coklat. Ia berdiri dan tersenyum melihat kedatangan Hexa.
Dua orang wanita di sampingnya, dan dua wanita lagi duduk di sofa yang seharusnya ditempati oleh Hexa.
"Selamat datang, Tuan. Suatu kehormatan bisa bekerjasama dengan Anda," sapa pria itu sambil menundukkan kepala.
"Tuan Hexa belum menandatangani kontraknya. Jadi, tolong bisakah Anda lebih bijak memilah kata yang benar?" Sekertaris Jo yang menjawab.
"M-maaf, Tuan. Saya yang salah. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Tuan Hexa, seorang bisnismen termuda yang sukses dalam banyak hal." Pria itu tampak tersenyum canggung dan takut, sekaligus meralat ucapannya barusan, mengganti dengan kalimat yang menjilat membuat Sekertaris Jo berdecih dalam hati. Semuanya munafik.
Hexa masih diam, sementara Sekertaris Jo yang tahu akan tugas-tugasnya, kini sudah berdiri menatap tajam pada kedua gadis yang duduk di sofa.
"Silahkan berdiri dari sana," titah Sekertaris Jo.
Kedua wanita itu mendongak menatap pria yang berdiri di dekat mereka, wajah datar dan dingin itu membuat mereka takut.
"A-apa, Tuan?" Reflek bertanya tanpa dipikir terlebih dahulu.
__ADS_1
"Aku tidak akan mengulangi kata-kataku," tegasnya lagi dengan sorot mata yang mengatakan bahwa tak ingin ada banyak pertanyaan.
"Baik, Tuan." Keduanya berdiri dengan tergesa, berpindah di kedua sisi sofa.
Sekertaris Jo mengeluarkan tissu serta cairan disinfektan yang selalu ia siapkan setiap kali menemani Hexa bertemu dengan orang luar. Menyemprotkannya ke sofa yang diduduki oleh dua wanita tadi, seolah ada kuman atau pun virus menempel di sana yang dapat menyebabkan penularan dan mengganggu kesehatan tuan mudanya.
Setelah memastikan semuanya aman, ia pun berdiri tegap dan menoleh pada Hexa. "Silahkan, Tuan Muda." Mempersilahkan dengan hormat.
Pria dengan tubuh tinggi dan proporsi tubuh yang nyaris sempurna itu pun mengambil langkah dan duduk di sofa yang sudah dibersihkan tadi.
"Jika Anda ingin bersenang-senang, pilihlah waktu yang tepat, jangan mengganggu ketenangan Tuan Hexa saat membicarakan soal pekerjaan, wanita atau pekerjaan, Anda bisa memilih salah satunya tanpa mengambil keduanya." Ucapan mempringati dengan tegas yang keluar dari mulut Sekertaris Jo tertuju pada pria paruh baya itu.
Tampak dengan jelas pria yang didikte oleh Sekertaris Jo memasang wajah tak suka, tapi tetap tersenyum sopan.
"Maafkan saya, Tuan. Tidak tahu jika ternyata Tuan Hexa tidak suka wanita?" jawabnya sedikit membela diri.
"Bisa perjelas kalimat Anda barusan?" senyuman miring dari Sekertaris Jo terlihat mengerikan, tentu saja berhasil membuat pria itu menciut.
Tuan Hexa tidak suka wanita, kalimat itu terdengar ambigu. Dengan kata lain bisa diterjemahkan bahwa pria itu mengatakan bahwa majikannya adalah pria yang tak normal.
"Berikan proposalnya." Dengan nada dingin serta mengintimidasi, Hexa yang dari tadi diam, kini bersuara. Sejenak ruangan tiba-tiba hening. Jika Hexa sudah bicara, maka yang lain tidak boleh bersuara, sekecil apa pun itu. Termasuk Sekertaris Jo.
"Baik, Tuan." Tak berlangsung lama, keheningan itu dihentikan oleh pria di hadapan Hexa, sembari membuka tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah map berisi proposal pengajuan kerjasama.
"Silahkan bicara pada intinya," titah Hexa sambil mengamati proposal tersebut tanpa menatap pria di hadapannya.
Dengan sigap dan lugas pria itu menjelaskan tujuan utama kerjasama, serta proyek-proyek yang akan dijalankan, diselingi dengan kalimat menjilat agar pengajuan kerjasama itu bisa disetujui oleh Hexa.
Hexa dibuat pening olehnya, tenggorokan ikut kering mendengarnya bicara dari A sampai Z, tanpa titik koma, lurus seperti jalan tol.
"Berikan," pinta Hexa sambil menunjuk gelas berisi minuman bersoda di atas meja di hadapannya.
Dengan sigap salah satu wanita mengambilkan dan menyerahkannya pada sang tuan muda.
__ADS_1
Namun, Hexa tak bergeming, tidak menyambut gelas berisi yang disuguhkan oleh wanita yang berdiri di sampingnya.
"Lepaskan!" Sekertaris Jo merampas gelas tersebut dari wanita itu.
"Apa Tuan Hexa memintamu untuk mengambilkannya?" Wajah Sekertaris Jo tampak masam.
"T-tapi Tuan Hexa butuh minum," jawab wanita itu gelagapan sekaligus panik.
"Apa beliau menyebut namamu untuk mengambilkannya minum?" tanya Sekertaris Jo lagi dengan wajah gusar.
Wanita itu menggeleng pelan. "Tidak, Tuan."
"Tempatkan dirimu di tempat yang seharusnya, jangan merusak suasana dan ketenangan Tuan Hexa. Keluar, minta pelayan ganti gelas yang baru!" titahnya tegas tanpa bisa dibantah.
"Baik, Tuan." Dengan tertunduk takut, wanita itu melangkah pelan. bersyukur ia bisa keluar hidup-hidup dan tidak disakiti. Wanita yang satunya pun mengekor di belakang. Pria di hadapan mereka sangat mengerikan, daripada mati ditempat, mending kabur dengan cepat.
Sementara pria di hadapan Hexa tampak menelan salivanya dengan berat, seolah ada sesuatu yang mengganjal tenggorokannya. Tanpa menunda waktu lagi, ia pun segera meminta kedua gadis yang disampingnya untuk ikut keluar, agar suasana hati Hexa bisa lebih tenang dan tentram.
Sekarang di ruangan itu hanya ada mereka bertiga, tanpa ada wanita.
Tak berapa lama kemudian, pintu diketuk dan terbuka, sosok pelayan menggunakan setelan seragam berwarna merah masuk hingga menghentikan pembicaraan mereka.
Deg!
'Astaga, apa aku salah tempat? Kenapa bisa ada dia di sini?' Dhira berteriak dalam hati, suhu tubuhnya yang tadinya normal, seketika menurun. Begitu dingin disertai keringat yang tiba-tiba muncul begitu saja.
"Maaf, sepertinya saya salah ruangan." Dhira baru saja ingin berbalik, tapi suara berat dari sekertaris Jo menghentikan langkahnya.
"Anda tidak salah ruangan, Nona." Ikut berpura-pura tidak mengenali.
"Ah, benarkah?" Dhira sebisa mungkin menampilkan senyumnya. Senyum palsu yang disertai rasa takut.
Apa itu?
__ADS_1
Ya, senyum sinis terlihat di bibir Hexa. Menatap Dhira dengan posisi duduk yang tenang.