
"Lantas, kenapa Anda membawa saya pulang ke sini jika tidak peduli?" tanya Dhira tak mengerti. Kenapa tidak biarkan saja ia pergi, kenapa harus memaksanya untuk pulang.
"Kau masih harus berpura-pura, sampai aku mendapatkan apa yang harus kudapatkan." sergah Hexa dengan wajah tenangnya, tapi tetap terlihat begitu dingin.
Terkadang juga heran, kenapa begitu banyak wanita yang menjadikannya sebagai lelaki idaman, tidakkah mereka-mereka itu berpikir tentang sikap Hexa yang dingin dan acuh itu? Mereka mungkin tidak akan berhenti mengidolakan Hexa sebelum merasakan apa yang dirasakan Dhira. Tersiksa batin, plus bikin jengkel setiap hari, dan parahnya, meski semua dirasakan, malah tidak bisa memberi perlawanan, hanya bisa tunduk dan patuh.
Dhira hanya tidak tahu, bahwa sebenarnya Hexa lah yang sudah ia buat kalang kabut, tidak ingin sampai ia pergi dan membuat semuanya terasa kosong.
"Tuan, boleh saya bertanya?" Kini nada suara Dhira memelan, berharap Hexa tidak akan marah jika ia bertanya.
Hexa hanya menoleh menatap Dhira tanpa kata, sebenarnya juga menunggu, pertanyaan apa yang membuat Dhira berwajah seserius itu.
"Ada banyak wanita yang mengantri untuk menjadi pasangan Anda, bahkan sekedar untuk berpura-pura pun mereka akan rela melakukannya, tapi dari banyaknya wanita di luaran sana, kenapa Anda memilih saya?" tanya Dhira dengan serius.
"Oh, jadi kau sebanarnya ingin mengatakan bahwa kau tak senang jika aku memilihmu, begitu?"
'Duh, kenapa salah lagi, sih? Padahal sudah berusaha memilih kata agar dia tidak marah.' Dhira menggaruk alisnya yang tidak gatal, mungkin bentuk dari refleks yang terjadi saat ia sedang berpikir keras.
Apa lagi yang akan ia katakan untuk merubah pertanyaannya dengan kata yang lebih halus lagi? Benar-benar si Hexa, seorang lelaki, tapi wataknya begitu sensitif. Marah-marah tak jelas.
"Mmm, bukan begitu maksudnya, Tuan." Dhira berusaha untuk meralat ucapannya, tapi malah otaknya terasa abu-abu untuk mengucapkan kalimat berikutnya.
"Kau tidak usah merasa bahwa dirimu itu terlalu istimewa, cuma wanita penghibur saja, apa yang perlu dibanggakan? Setelah mendapatkan uangku, lalu kau ingin melarikan diri? Kau tidak mungkin ingin mengatakan bahwa uangmu belum ditransfer sama pengasuhmu, 'kan? Sudah tanggal berapa sekarang, bohong jika kau tidak menerima uang dari hasil menjual diri."
__ADS_1
Pengasuh yang dimaksud Hexa adalah madam, wanita paruh baya yang menikmati semua hasil penjualan diri Dhira, tapi Dhira sama sekali tak pernah berpikir bahwa ia menjual dirinya pada Hexa, menerima uang dari madam pun ia tak mau, tak sudi menyentuhnya.
Tiba-tiba saja, entah dari mana datangnya serangan sesak di dada Dhira, ia sedikit sulit mengatur napasnya mendengar sebuah kata penghibur yang diutarakan untuknya.
Dhira tak terima dikatakan sebagai wanita penghibur, sebab karena memang ia bukan wanita seperti itu.
Bahkan bermalam di rumah bordir itu pun tidak pernah.
Dijual oleh ibunya, lalu malam itu juga ia malah dibawa pergi oleh Hexa.
Di mana letak kata penghibur dari dirinya? Namun, tak terima pun hanya bisa diam saja, tak bisa melakukan perlawanan sebab Hexa adalah penguasanya di rumah itu. Dia bisa apa?
Lagipula Hexa mana tau tentang dirinya yang dijual, dan belum pernah diboking oleh siapa pun sebelum pria itu datang, lantas tidak ada yang bisa Dhira salahkan selain ibunya yang sudah tega menjual anaknya sendiri.
"Tidak berani bicara lagi? Kenapa? Apa ucapanku salah? Oh, kurasa kau tersinggung karena apa yang kukatakan adalah kebenaran yang sebenarnya." Hexa terkekeh sinis.
Itu sebuah penghinaan yang cukup fatal, pada siapa pun kalimat itu diutarakan, dengan wanita penghibur sekali pun, mereka juga akan merasa dilukai.
"Cukup, Tuan. Bisakah jaga ucapan Anda? Anda tidak sadar ucapan Anda itu mengandung sebuah hinaan yang tak berdasar?" Kini Dhira mulai sedikit berani memberi pembelaan atas martabat dan marwahnya sebagai seorang wanita yang masih suci, bukan seperti apa yang dikatakan oleh Hexa.
"Tak berdasar? Kau sudah lupa tempat asalmu di mana terakhir kali? Aku bahkan masih ingat pakaian yang kau gunakan untuk menggodaku." Hexa lagi-lagi tersenyum picik, membuat Dhira semakin kesal.
'Menggoda? Kapan aku menggodanya? Apakah saat berbaris bersama wanita lain itu? Dia berpikir aku menggunakan pakaian itu untuk menggodanya agar tertarik dan memilihku? Ck, naif sekali. Aku bahkan tak pernah berharap untuk dipilih.' Hati Dhira sudah mulai resah.
__ADS_1
Namun, bagaimanapun, tetap ada sisi baiknya dipilih oleh Hexa. Setidaknya ia tak akan dipilih oleh pria mana pun yang ingin memuaskan hasrat sesaat mereka.
Sejauh ini Hexa juga tidak pernah bersikap kurang ajar pada tubuhnya.
Hanya lidahnya saja yang begitu tajam hingga menusuk ke bagian yang paling dalam, hal itu juga yang membuat Dhira tak pernah bisa untuk melawan, apalagi sampai membuat pria itu marah.
Seharusnya ia berterimakasih, karena secara tak langsung, Hexa telah menyelamatkannya dari para hidung belang di luaran sana. Namun, perkataan Hexa tadi benar-benar membuatnya hilang kendali hingga berani menjawab beberapa kata.
"Pulihkanlah tenagamu, malam ini kita akan melakukan perjalanan lagi." Melihat wajah runduk Dhira yang tak mengatakan apa pun, ia merasa sedikit tak enak, seketika tersadar bahwa ia telah begitu banyak bicara yang mungkin membuat gadis itu terluka.
Namun, ia juga sulit untuk menutupi rasa kesal dan marahnya ketika Dhira berusaha melarikan diri darinya.
Jika Dhira bisa nurut dan patuh, mungkin ia juga tidak akan mengatakan hal yang begitu menyakitkan.
Hexa keluar dari kamar setelahnya, ia tak bisa tahan begitu lama melihat wajah sedih wanita itu. Seakan ada sebuah perintah yang entah datangnya dari mana untuk stop berkata pedas lagi di hadapan Dhira. Bahkan sedikit tergerak untuk meminta maaf, tapi ia malah menepisnya dengan cepat. Itu akan membuat dirinya malu. Seperti sedang menjilat ludahnya sendiri.
Setelah tubuh Hexa lenyap di depan matanya, Dhira seketika melepaskan sesak yang mengikat hatinya, lewat bulir air bening yang keluar di kedua kelopak mata. Mereka jatuh dengan deras tanpa izin darinya. Semua tak terkendali hingga tangisnya sampai sesenggukan.
Satu jam kemudian ia keluar dari kamar setelah puas mengalirkan air matanya di dalam sana.
"Kau menangis?"
Astaga, terkejut setengah mati ketika Hexa tiba-tiba menghadangnya dengan sebuah pertanyaan.
__ADS_1
Pria ini, sudah satu jam berlalu, apa ia terus berdiri di depan kamar selama satu jam? Sedikit konyol bukan? Tapi itulah kenyataannya. Ia enggan untuk pergi sebelum melihat Dhira keluar dari kamar dengan keadaan baik-baik saja.
Jika ingin tahu apa yang dilakukan Hexa di depan kamar, ia sebanarnya sedang berpikir, minta maaf atau tidak, ya? Ia gengsi melakukannya, tapi jika tidak dilakukan, takut Dhira malah benci padanya. Entah kenapa ia begitu peduli tentang apakah Dhira akan membencinya atau tidak, ia merasa tidak rela jika dibenci oleh wanita itu.