Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Ayo, Menikah!


__ADS_3

Melihat wajah Dhira yang memerah, Hexa tergelak, lantas ia membawa tubuhnya sedikit mundur, dan membuka lemari yang sedang disandarkan oleh Dhira, hingga wanita itu pun terpental.


Dhira mencebik kesal menatap punggung Hexa, beruntung ia tak jatuh.


"Kenapa? Masih belum puas melihat tubuhku?" tegur Hexa ketika melihat Dhira mencebik ke arahnya.


Gadis itu pun seketika memalingkan tubuhnya membelakangi Hexa, diam-diam pria itu pun tersenyum lebar dan segera mengenakan pakaiannya.


Usai tubuh itu terbalut oleh pakaian tidur, Hexa perlahan mendekati Dhira tanpa wanita itu sadari.


Ia membisikkan sesuatu ke telinga Dhira. "Ayo, kita menikah."


Dhira seketika tersentak kaget dan mundur beberapa langkah.


"A-apa?"


"Lahirkan anak untukku."


"Hah?"


"Berhenti ternganga, aku serius."


Hexa menekan dagu Dhira hingga mulut gadis itu pun terkatup kembali.


"Tapi kenapa, Tuan?"


"Kau tahu alasannya."


Dhira terdiam, berpikir sejenak.


'Apa karena warisan itu?' pikirnya.


"Namun, kenapa harus saya, Tuan?"


Hexa mengendikkan bahunya sembari berjalan ke arah pintu untuk keluar dari ruang ganti.


Sambil berkata, "Aku tak mau wanita lain."


Dhira bergegas mengikuti Hexa dari belakang.


"Nona Ressa."


Tiba-tiba Dhira teringat akan wanita itu.


"Bukankah dia pilihan yang tepat?"


"Nona Ressa cantik dan anggun, dia juga pernah jadi kekasih Anda, 'kan?"


Seketika itu juga Hexa menatap Dhira, sementara wanita itu terdiam detik itu juga.


Apakah Hexa marah karena ia mengatakan hal itu? Tiba-tiba ia menyesal sudah mengatakannya.


"Dia tidak bisa hamil."


Hexa tidak marah, tapi seperti ada sebuah kegetiran dalam ucapannya.


Mungkinkah pria itu belum bisa melupakan mantan kekasihnya?


Dhira seketika memalingkan wajahnya ke samping, kenapa tiba-tiba dadanya terasa sakit, ia seperti mendapat goresan melihat kegetiran dari ucapan Hexa.


"Apakah saya hanya sebuah pelampiasan untuk Anda?"


Hexa kembali diam, ia masih menatap lekat ke arah Dhira.


"Bukan," jawabnya sambil menggeleng.

__ADS_1


"Lantas?"


"Kau tidak perlu tahu alasannya, yang aku mau, kau jawab iya atau tidak?"


Dhira lagi-lagi tak bisa berkata-kata, memangnya ia bisa mengatakan tidak pada pria itu? Hexa sudah memegang kendali atas hidupnya.


"Bolehkah saya meminta syarat untuk pernikahan ini?"


"Kau setuju?"


Dhira perlahan mengangguk pelan.


"Katakan syaratnya."


Sebelum itu, Dhira menarik napas cukup panjang, dan membuangnya sedikit kasar.


"Setelah saya melahirkan seorang anak, saya ingin Anda menceraikan saya." Ucapannya terhenti sejenak.


"Saya ingin Anda membiarkan saya menjalani hidup sendiri dengan kebebasan, apa bisa?"


Kini giliran Dhira yang menatap pria itu dalam-dalam, siapa tahu ia bisa menerka jawaban yang akan keluar dari mulut Hexa.


Hexa tampak berpikir sejenak, arah pandangannya tampak kosong.


Perlahan ia mengangguk. "Tak masalah," ujarnya.


Dhira memaksakan diri tersenyum.


"Deal." Sembari mengulurkan tangannya di hadapan Hexa.


Melihat Dhira sesemangat itu, Hexa pun mengulum senyumnya, ia menerima uluran tersebut dan berjabat tangan dengan wanita itu.


Namun, Hexa malah tak berniat untuk melepaskan tangan Dhira, ia terus menggenggam tangan mungil itu, telapak tangan Dhira terasa sedikit kasar.


Sebelumnya entah apa yang sudah dilalui wanita di hadapannya ini.


Entah kenapa Dhira merasa ada yang tak beres.


Senyuman pria itu terlihat begitu picik.


Dhira semakin terkejut saat Hexa menarik tangannya, hingga wajah mereka pun saling tatap di jarak yang begitu dekat.


"Haruskah kita buat anak sekarang?" ucap Hexa dengan sebuah maksud yang terkandung di dalamnya.


Dhira seketika terbelalak, segera mendorong pelan tubuh Hexa agar ia bisa berdiri dan menjauh.


"Kita bahkan belum menikah, bagaimana mungkin?"


Dhira berpaling wajah, kedua belah pipinya sudah semerah tomat sekarang.


"Kenapa terkejut? Kau tak akan bisa memberiku anak jika kita tak melakukannya."


Mulai lagi, Hexa kembali mengerjai wanita itu.


Dhira sampai gelagapan, tak tahu mau jawab apa sekarang.


'Ish, dia kenapa menatapku seperti itu, membuatku takut saja.'


Dhira semakin salah tingkah melihat tatapan Hexa.


"Namun, setidaknya kita juga harus menikah terlebih dahulu, 'kan, Tuan?"


Akhirnya Dhira pun kembali bersuara meski nada bicaranya terbata.


"Pernikahan akan diselenggarakan besok."

__ADS_1


"Hah!"


Lagi-lagi Dhira tercengang.


Secepat itu? Pikirnya.


"Tidakkah terlalu terburu-buru, Tuan?"


"Semakin cepat akan lebih baik."


Hexa menarik selimut menutupi kakinya, ia bersandar dan berkata, "Kemarilah, sudah waktunya tidur, bangun pagi-pagi untuk pernikahan besok."


Sembari menepuk kasur di sampingnya, ia pun juga tersenyum kharismatik.


Dhira seolah berhadapan dengan orang yang berbeda sekarang.


"Apa lagi yang kau pikirkan?" tanya Hexa ketika melihat Dhira tak bergeming dari tempatnya.


Dhira tersadar, lantas ia pun melangkah pelan menuju tempat tidur, ini merupakan malam kedua ia tidur satu ranjang bersama Hexa.


"Selamat tidur, Tuan."


Dhira tersenyum kikuk pada Hexa ketika ia sudah berada di samping pria itu.


Sembari mematikan lampu dan berbaring membelakangi Hexa.


Ketika lampu sudah mati, ruangan hanya diterangi oleh lampu tidur, tapi tiba-tiba saja seperti ada sesuatu yang merayap ke arahnya.


'Apa lagi ini?' batin Dhira.


Rasanya ingin memekik detik itu juga, tapi mengingat sudah malam, ia tak ingin mengganggu penghuni lain di rumah itu.


Ya, tangan Hexa melingkar di perutnya, sudah tidak ada jarak di antara mereka, tubuh mereka benar-benar menempel, sampai napas Hexa pun dapat dirasakan oleh Dhira yang mengenai lehernya.


Dhira berusaha untuk bergerak, berharap Hexa hanya mengigau melakukan hal itu.


"Tetap diam dan tidurlah, kau harus terbiasa seperti ini mulai sekarang, sebab setelah kita menikah, bukan hanya seperti ini posisi yang akan kita lakukan," ujar Hexa pelan di telinga Dhira.


'Tahan Dhira, kau harus tenang. Percayalah, semua akan baik-baik saja.'


Dhira membatin sembari memejamkan matanya dengan paksa, Hexa membuat jantungnya semakin terpacu dengan ganas menyerah hingga ke otak. Ia tak bisa berpikir apa-apa lagi saat ini.


Namun, ia tak bisa memungkiri, bau harum yang berasal dari badan Hexa benar-benar membuatnya nyaman.


Hingga bibirnya tanpa sadar melengkung indah seperti bulan sabit di tengah rembulan malam.


"Kau sungguh ingin terus membelakangiku seperti ini?" Hexa kembali bersuara.


Mata Dhira terbuka seketika.


"A-anda kenapa belum tidur, Tuan?"


Kini mereka seperti pencuri yang sama-sama berbicara dengan suara pelan, bahkan suara burung hantu pun lebih mendominasi.


"Tuan, kenapa ada suara burung hantu?" tanya Dhira, berusaha mengalihkan topik.


Posisi seperti itu saja membuat jantungnya berdisco, bagaimana mungkin ia bisa tidur dengan posisi saling berhadapan dengan pria itu.


"Aku mungkin bisa mengendalikanmu, tapi bukan berarti aku juga bisa mengendalikan seekor burung untuk terbang ke mana."


'Ya Tuhan!' Dalam hati Dhira memekik.


Kenapa suara Hexa semakin lama semakin terdengar memesona? Ini sungguh benar-benar godaan iman yang begitu dahsyat. Sudah cukup, jangan bersuara lagi, atau jika tidak, maka Dhira mungkin akan berubah pikiran dan memeluk Hexa seketika.


'Tahan, Dhira. Kau tidak menyukainya, 'kan? Lantas untuk apa kau tergoda dengan pria ini?'

__ADS_1


Dhira terus berusaha memejamkan matanya, berharap ia bisa tertidur lelap dan melupakan kejadian malam ini.


__ADS_2