
"Morning."
Dhira yang baru saja buka mata dari tidur panjangnya, seketika tersentak mendapat sapaan pagi dari Hexa.
Pria di sampingnya ini sedang berbaring miring menghadap ke arahnya, menggunakan tangan sebagai penyangga kepala, sambil tersenyum menampilkan deretan gigi yang tersusun rapi.
Wajah Dhira bersemu merah, ia kembali menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, sekarang ia hanya ingin bersembunyi saking malunya.
Terbayang kembali ingatan yang semalam.
Ketika Hexa mengetahui fakta bahwa dirinya masih perawan, tiada detik yang terlewat dari tatapannya, Hexa terus menatapnya yang entah sedang memikirkan apa, Dhira pun tak tahu.
Saat Dhira ingin ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya setelah aktivitas panas yang penuh gairah itu, Hexa tanpa diminta langsung menggendong tubuhnya karena melihat ia kesulitan saat berjalan sebab organ intimnya masih perih.
Pun saat ia keluar dari kamar mandi, Hexa masih menunggu di depan pintu dan kembali menggendongnya naik ke atas kasur untuk istirahat.
Tiada detik yang terlewatkan untuk Dhira menatap bingung pada pria itu.
Sampai pada akhirnya Hexa mendaratkan sebuah ciuman di keningnya dan berbisik, "Istirahatlah, aku akan menjagamu."
Masih sangat segar dalam ingatannya mengenai kalimat terakhir Hexa sebelum ia terlelap, dan pagi ini ia kembali dikejutkan oleh sikap Hexa yang lain dari biasanya.
"Pagi ini mau sarapan apa?" tanya Hexa tanpa memaksa Dhira untuk keluar dari selimut.
Dhira mengerjap beberapa kali, sedang berpikir apa yang akan ia ucapkan untuk menjawab pertanyaan suaminya.
"Mau makan lontong sayur, boleh?" jawab Dhira sedikit ragu sekaligus bertanya yang lebih tepatnya memintaa izin, sebab selama ini Hexa tak memberinya izin untuk sarapan seperti itu, dia bilang tidak sehat, itu akan membuatmu jadi penyakitan, seperti itulah kira-kira ceramahnya pada Dhira.
Ia masih menunggu kalimat Hexa berikutnya tanpa membuka selimut yang menutupi tubuh.
__ADS_1
"Oke." Hexa bangkit dari posisinya, bersiap untuk turun dari ranjang.
Dhira seketika membuka selimut. "Beneran boleh?" tanyanya dengan binar mata bahagia.
Hexa menoleh. "Kamu tunggu di sini dan jangan ke mana-mana, jika mau ke kamar mandi tunggu aku kembali terlebih dahulu."
Hexa berjalan menuju walk in closet, beberapa detik berikutnya ia keluar lagi dengan menggunakan sebuah jaket hitam untuk menutupi baju tidurnya.
"Tuan."
Hexa menghentikkan langkahnya dan kembali menoleh.
"Mau ke mana?"
Dhira penasaran, jadi tidak tahan untuk tak bertanya.
"Mau keluar sebentar, cuma sebentar. Jadi jangan bergerak dan tetap berbaring di sana," peringat Hexa dengan muka serius.
'Pria ini semakin protektif saja,' batinnya.
Sesuai janjinya, ia pulang dengan cepat tanpa ingin Dhira menunggu lama, langsung masuk ke kamar untuk menjumpai istrinya.
Patuh, Dhira adalah wanita yang patuh akan perintah, jadi sekarang ia masih guling sana sini tanpa berniat turun dari kasur sesuai apa yang diminta oleh Hexa.
Saat mendengar pintu terbuka, Dhira langsung duduk.
Tampak Hexa berjalan ke arahnya dengan menenteng sebuah plastik yang Dhira tak tahu apa isinya.
"Lontong sayurnya masih ditangani oleh Pak Wang, sembari menunggu, kamu pergi periksa dulu."
__ADS_1
Hexa meletakkan kantong plastik itu di samping Dhira, sekilas Dhira mendongak menatap wajah Hexa sejenak, lalu menunduk menatap kantong plastik di sampingnya.
"Ini apa, Tuan?"
Hexa tak menjawab.
'Dia ingin aku periksa apa?'
Sembari tangannya membuka plastik tersebut dan ternyata isi di dalamnya berhasil membuat Dhira terperangah sekaligus mengernyit.
"Tuan, apa maksudnya?"
"Kenapa bertanya? Sudah jelas kan, semalam kita melakukan itu dan kamu harus memeriksanya agar lebih jelas apa usahaku semalam berhasil atau tidak."
Dhira menaikkan alisnya setinggi mungkin.
"Tapi kita melakukannya baru tadi malam, Tuan. Bukan berarti bisa langsung diperiksa."
Ya, di pagi buta begini Hexa keluar dan pulang membawa sekantong plastik, dan isi kantong plastik itu ternyata sebuah tast pack yang semua jenis merk ternyata ia beli, entah apa memang mau periksa atau mau mengoleksinya, tidak harus membeli sebanyak ini kan?
"Memangnya tidak bisa diperiksa langsung?"
Akhirnya Dhira terkekeh. "Kehamilan akan terdekteksi oleh test pack ini jika sudah ada dua minggu atau lebih, Tuan. Ini baru satu malam, lho."
"Oh, benarkah?" Hexa tiba-tiba berpaling muka, wajahnya memerah malu sekarang.
"Kalau begitu simpan saja, dua minggu kemudian, baru kamu periksa." Hexa buru-buru masuk ke kamar mandi, ia tak bisa terlalu lama menahan rasa malu di hadapan Dhira.
Sesemangat itukah dia menanti seorang anak? Sejak kapan? Bukankah selama ini ia tak pernah memikirkan hal itu?
__ADS_1
Apa untuk warisan? Namun, hatinya mengatakan bahwa ini tidak sesederhana itu, ia ingin sesuatu yang lebih di mana bisa membuat dirinya dan Dhira terikat satu sama lain.