Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Keindahan Malam


__ADS_3

Malam telah tiba, Dhira mencari ke mana-mana, tapi ia tak menemukan sosok lelaki yang ia cari.


"Ke mana perginya?" Dhira bergumam, lelah juga dari tadi menyusuri setiap sudut vila yang cukup besar ini.


Bukannya apa-apa, ia hanya takut Hexa meninggalkannya sendiri, nanti dia pulang pakai apa? Memang sih, ini vila sudah jadi miliknya, tapi kan tetap saja ia tak mungkin tinggal di sini sendiri apalagi harus mengatur beberapa pelayan setiap harinya.


"Maaf, Nona. Anda cari Tuan Muda Hexa?" lelaki yang tadi siang pun menghampiri.


Dhira mengangguk pelan tanpa menjawab dengan kata.


"Beliau ada di kolam renang, Nona."


"Terimakasih informasinya, saya ke sana dulu." Dhira tersenyum.


Dibalas anggukan dan pria itu pun menunduk.


Terlihat Hexa duduk di pinggiran kolam, di sampingnya ada lilin aromaterapi yang menyala.


Memakai kemeja putih, celana bahan berwarna hitam yang ia gulung sampai dibawah lutut, sementara kakinya menjulur ke bawah membiarkan air membasahi setengah kakinya.


"Berkharisma sekali," gumam Dhira sambil menatap kagum pada pria itu.


Entah apa yang dipikirkan suaminya saat ini, tapi dari raut wajahnya terlihat seperti tidak menyenangkan.


Dhira jadi ragu untuk menghampiri. Lama ia mematung dengan jarak sekitar 10 meter dari Hexa, hingga tanpa sengaja Hexa menoleh dan menyadari keberadaannya di sana.


Mau tak mau karena sudah kepalang basah, lebih baik hampiri saja, urusan marah atau tidaknya Hexa, sudah menjadi resikonya.


"Maaf kalau aku mengganggu."


"Tidak, kemarilah." Hexa menepuk tempat di sampingnya agar Dhira duduk.


Dhira pun menurut dan ikut menjulurkan kakinya hingga menyentuh air kolam.

__ADS_1


"Bukannya istirahat malah ke sini." Hexa mengacak rambutnya gemas.


"Kamu sedang apa sendirian di sini?" tanya Dhira. Ia tak ingin memanggil Hexa dengan sebutan mas, karena rasanya pria ini tak cocok untuk panggilan itu.


"tidak ada, cuma mau menikmati suasana malam."


"Kenapa? Tidak betah ditinggal sendiri?" goda Hexa. Dhira tersenyum malu-malu membuat Hexa semakin gemas.


Hexa mencuri satu buah kecupan di wajah Dhira, membuat wanita ini seketika terbelalak menatapnya.


"Kenapa? Begini juga tidak boleh? Aku suamimu." Hexa menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Dhira manyun, tapi detik berikutnya ia pun melakukan hal yang sama sebagai bentuk pembalasan.


Sejenak Hexa terdiam, lalu mengerjap beberapa kali menatap Dhira yang kini sudah berpaling muka karena malu.


Oh, sekarang sudah berani membalas, ya?" Hexa menoel samping pinggang Dhira hingga Dhira tertawa geli.


"Apa? Mau lagi, hm?" Hexa makin semangat menggelitiki istrinya hingga Dhira terbaring lemas sambil tertawa keras, ia tak bisa melawan sebab kekuatan Hexa jauh lebih besar.


Hexa pun menghentikan gerakannya dan menatap wajah Dhira yang begitu manis. Ya, sekarang ia menyadari bahwa istrinya ini bahkan lebih manis dari apa pun.


Sementara Dhira masih sibuk mengatur napasnya yang tak beraturan, dadanya naik turun saking cepatnya jantung itu berdetak.


Hexa ikut berbaring di sampingnya, ia meletakkan lengannya di kepala Dhira sebagai bantal agar Dhira tak kesakitan.


Kini Dhira baru menyadari, lelaki dingin yang selama ini selalu memerintahnya, ternyata memiliki sisi lembut begini.


Kini jarak kepala mereka sudah dekat, sambil menatap bintang-bintang yang bertabur indah dan bulan sabit yang menggantung di tengahnya.


"Indah sekali," gumam Dhira.


"Iya, tapi tak bisa mengalahkan indahnya wanita di sampingku ini," jawab Hexa.

__ADS_1


Lagi-lagi wajah Dhira merona, sejak kapan pria ini pandai menggombal, belajar dari mana dia.


Selang beberapa detik tidak ada percakapan, Hexa kembali mencuri kecupan di wajah Dhira, entah kenapa pipi gembil itu membuatnya ketagihan untuk terus menciumnya, atau kalau bisa, ia tak ingin berhenti walau semenit saja.


Untuk pertama kali setelah beberapa tahun lamanya, Hexa kembali merasakan debaran-debaran aneh setiap kali bersama wanita di sampingnya ini.


"Haruskah aku memakanmu lagi malam ini?"


Dhira menoleh, kini wajah mereka hanya berjarak satu senti. "Memakan?"


"Buat anak." Hexa memperjelas kalimatnya.


Dhira seketika menyembunyikan wajahnya di ketiak Hexa, ia makin malu jika pembicaraannya mengarah ke sana.


Jujur ia tak paham mengenai beberapa hal dalam adegan begitu, itu membuatnya sedikit kikuk seperti patung yang hanya bisa diarahkan terlebih dahulu.


Dhira insecure, takut Hexa bosan jika bermain dengannya yang tak memiliki pengalaman apa pun dalam hal seperti itu.


Melihat Dhira yang menyembunyikan wajahnya, Hexa pun memeluk tubuh mungil itu dalam dekapan, erat seolah takut kehilangannya.


Kini mereka saling berpelukan satu sama lain, tidak ada lagi rasa canggung dari keduanya, seolah mereka sudah lama menjalani pernikahan hingga bebas untuk bermesraan kapan pun.


"Kamu bisa berenang?" tanya Hexa tiba-tiba.


"Bisa."


"Mau berenang?"


"Tapi ini sudah malam."


"Lagian siapa yabg ngajak berenang malam ini? Geer sekali," ledek Hexa.


"Ih, menyebalkan." Dhira mencubit perut Hexa cukup keras hingga pria itu meringis kesakitan, lalu tergelak dengan senyum yang mengembang bebas.

__ADS_1


"Besok pagi kita berenang sama-sama," bujuk Hexa agar istri kecilnya ini tidak ngambek.


Dhira awalnya yang berdecak kesal, pun ikut terkekeh melihat senyum Hexa yang begitu lebar, lalu saling mengeratkan pelukan dan tak ingin melepaskannya, sama-sama nyaman hingga tak menyadari perasaan masing-masing yang sudah mulai berkembang sejauh ini.


__ADS_2