Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Tongkat Kehidupan


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Hexa terus diam tanpa mengatakan apa pun. Dhira ikut linglung karena tak berani bertanya, apa yang sudah membuatnya gusar.


Sesampainya di rumah, Derta menyambut mereka, saat itu ia langsung pulang dengan menggunakan taksi setelah diintrogasi oleh Ressa, sebab mobil telah dibawa oleh kakak sepupunya itu.


"Ciee, yang habis ketemu mantan," sapa Derta sambil senyam-senyum penuh ledekan, hal itu membuat Hexa semakin kesal, ia tak memedulikan Derta dan berjalan tanpa henti menuju kamarnya.


"Hust, kamu ini. Jangan mengacau, Tuan Hexa sedang gusar," bisik Dhira yang dengan cepat mencegah anak itu agar tidak banyak oceh di depan Hexa.


"Dia membawamu ke mana? Lama sekali baru pulang," tanya Derta penasaran.


Dhira mengangkat bahunya setinggi mungkin. "Aku pun tak tahu dia membawaku ke mana, mobil tidak pernah berhenti berjalan, sampai pada akhirnya tiba di rumah ini."


Mereka berdua menatap pintu kamar Hexa dari lantai bawah yang kini telah tertutup. Namun, tiba-tiba pintunya terbuka lagi.


"Mau apa lagi pria tua ini?" gumam Derta saat melihat kakak sepupunya menuruni anak tangga dengan langkah cepat.


Hexa menghampiri mereka berdua, dan tanpa kata pria itu langsung mencengkram tangan Dhira dan membawanya pergi, pergi ke kamar dan meninggalkan Derta seorang diri.


Bibir Derta menukik sebelah. "Dia keluar terburu-buru seperti orang yang ketinggalan barang lalu turun untuk mengambilnya kembali," gumam Derta yang merasa semakin hari kakak sepupunya itu makin menyebalkan.


Hexa tak membarinya kesempatan untuk ngobrol lebih lama dengan Dhira.


Sementara di sisi lain, di kamar Hexa. Pria itu menatap Dhira begitu lama, Dhira pun dengan polosnya menatap Hexa penuh tanda tanya.


"Kau kenapa diam saja dari tadi?" desak Hexa kesal, ia kesal kenapa Dhira tidak ingin mengatakan apa pun, ya minimal katakanlah sesuatu yang bisa membuat hatinya senang.


Kenapa terdengar seperti Hexa sedang menunggu untuk dibujuk? Ya, anggap sajalah seperti itu ya. Kadang-kadang pria dingin memang sedikit egois, juga sulit dimengerti.


"Lalu saya harus apa, Tuan?" Pertanyaan yang membuat Hexa semakin kesal. Ya masa dia harus bilang bahwa dirinya ingin dibujuk? 'Kan tidak mungkin.


"Ayo." Lagi-lagi Hexa menarik tangan Dhira.


"Mau ngapain, Tuan?" tanya Dhira panik, sebab Hexa membawanya ke kamar mandi.

__ADS_1


"Temani aku mandi." Dengan entengnya Hexa mengatakan itu sementara si wanita sedang kalang kabut karena panik. Bagaimana mungkin minta ditemani mandi, ditemani seperti apa? Mandi bersama? Ck, konyol.


"T-tunggu dulu, Tuan. Maksud Anda bagaimana?" Dhira segera melepas tangannya dari cengkraman Hexa.


"Kau pelayan pribadiku, 'kan?"


Dhira mengangguk.


"Ya kalau begitu kau harus siap melakukan apa pun yang kumau." Tanpa ingin dibantah, Hexa terus mendesak.


"Namun, melakukan apa dulu? Masa saya harus temani Tuan mandi?" Karena panik, Dhira akhirnya tak sadar bahwa dirinya begitu banyak mengonsumsi kata di hadapan Hexa, membuat pria itu semakin kesal karena ucapan Dhira menandakan sebuah penolakan, sementara ia benci akan hal itu.


"Aku ingin kau mandikan aku." Hexa pun Mengatakan apa yang dia mau.


Memang sangat konyol, bagaimana mungkin pria dewasa masih ingin dimandikan, bahkan oleh seorang wanita, apa tidak malu jika seluruh tubuhnya terlihat?


Jawabannya mungkin sebaliknya, malah Dhira-lah yang akan malu jika sampai matanya melakukan dosa dengan menonton tubuh pria yang tak berpakaian, mungkinkah hasrat kewanitaannya akan bangkit? Ampun, membayangkannya saja Dhira tak berani.


"Tuan, bukankah ini sedikit memalukan?" Secara halus dan tanpa langsung Dhira menolak keinginan Hexa. Mata dan jiwanya masih suci, tolong jangan nodai gadis yang polos ini dengan memberikan tontonan plus-plus yang gratis.


"Apa, Tuan?" Sungguh, apa pun syaratnya, mungkin ia akan dengan cepat untuk setuju.


Ya, daripada memandikan pria dewasa yang berotot? Siapa yang akan tanggung jawab jika naluri wanitanya ternodai?


"Nikahi aku."


Jleb!


Kalimat nikahi aku membuat jantung Dhira serasa ditancapkan sebuah anak panah, dan mati seketika.


Saraf otaknya apa ada yang geser setelah ketemu mantan?


Tiba-tiba minta dinikahi, seperti wanita yang tidak diberi kepastian saja.

__ADS_1


Tolonglah, Dhira ingin berteriak sekeras mungkin, syarat macam apa yang begitu konyol ini? Lebih anehnya keluar dari mulut Hexa, pria yang tak kekurangan wanita serta uang.


Dia bisa menemukan wanita di mana saja, kenapa harus minta dinikahi oleh gadis miskin seperti Dhira.


Seberapa besar mahar yang akan dikeluarkan oleh Dhira untuk menikahi anak orang kaya seperti Hexa? Bukankah ini terbalik? Oh, no, tidak seperti itu konsepnya. Dhira masih ingin dipinang oleh lelaki normal, bukan dirinya yang meminang.


Entah apakah harus ketawa atau sedih, situasi ini sulit untuk dipahami. Apakah Hexa mulai gila setelah ketemu mantan? Pikir Dhira lagi.


"Saya baru tahu Anda pandai dalam membuat lelucon." Dhira memaksakan diri untuk tersenyum meski terlihat begitu palsu, senyumnya terlalu dibuat-buat.


"Kau tak sanggup, 'kan? Kalau begitu turuti saja apa yang kumau." Hexa pun kembali menarik tangan Dhira, dan kini tidak ada perlawanan dari wanita itu. Lagian siapa juga yang mampu menerima syaratnya.


Di hadapan Dhira, di depan mata Dhira, Hexa tanpa sungkan membuka tiap helai pakaian yang menggantung di tubuhnya. Hingga hanya menyisakan sebuah celana boxer yang menutupi barang antik itu.


Dhira menelan salivanya. Tolong, adakah yang bisa menjawab kenapa ia tak bisa mengatur napasnya? Kenapa tiba-tiba ia sesak? Sakit jantungkah? Apalagi entah sengaja atau tidak mata itu menangkap jebolan yang sedikit menonjol di balik celana boxer milik Hexa. Tuhan, tolonglah Dhira, apakah ia akan pingsan sebelum memandikan pria itu?


(Mimin ikut traveling ini. Wkwk)


Ini kali pertama bagi Dhira melihat tubuh lelaki tanpa busana, untung masih ada boxer penyelamat hingga batang kehidupan itu tidak terlihat langsung oleh mata suci Dhira. Ya meski ia sudah melihat akar-akarnya yang berserabut keluar.


Entah kenapa seakan tubuh Dhira merespon pemandangan itu hingga tubuhnya gemetar hebat, ia seperti akan menggigil mendapat pemandangan fantastis, bombastis, dan spektakuler.


Hexa pun duduk di pinggiran bathtub, kali ini ia tak ingin berendam, hanya ingin menikmati siraman shower saja.


Entah kenapa pria itu betul-betul tak peka, bisa-bisanya ia bersikap biasa saja sementara si wanita sudah akan kejang-kejang melihat penampilan tubuhnya yang aduhai.


Tangan gemetar itu perlahan mengambil shower, siapa pun yang melihat Dhira saat ini, pasti akan mengira bahwa ia sedang sawan, atau dengan bahasa medisnya, epilepsi.


Apakah jantung Dhira sedang senam? Detakannya begitu berirama dan kuat. Ususnya apakah juga sedang menari-nari? Ia tiba-tiba mendadak mules.


'Tolonglah, siapapun yang ada di sana, adakah yang bisa menggeser kembali otak pria ini, biar normal lagi seperti biasanya,' batin Dhira. Semakin tak kuat dengan pemandangan yang ada, apalagi ketika celana boxer itu terguyur air hingga membuat bentukan di dalamnya semakin menonjol.


Dah, ah. Mimin mau kabor. Otak mimin mulai gak aman.

__ADS_1


Para pembaca sekalian yang budiman, baik hati, dan tidak sombong, jangan lupa bantuin Dhira tuh buat geser otak Tuan Hexa, biar balik ke tempat semula. Wkwk.


__ADS_2