
"Lantas, kenapa Tuan bisa ada di sini?" tanya Dhira penasaran.
"Jemput klien," kelit Hexa berbohong, ia tak ingin mengakuinya.
"Kok jemputnya di sini? Kan bisa tunggu di lobi, biasanya ada Sekertaris Johan, ke mana dia?" Sambil celingak-celinguk mencari.
"Memangnya kau siapa berani bertanya terlalu banyak?" Wajah Hexa berubah dingin dan Dhira pun tertunduk canggung. Bisa-bisanya ada kebetulan seperti ini, kenapa bisa ketahuan sih?
'Tuhan, kenapa begitu sulit lepas dari pria ini,' batinnya.
Hexa merampas pasport di tangan Dhira, usai melihat itu, ia kembali menatap lekat ke arah wanita di hadapannya ini.
"Apa kau sudah bosan hidup?" ketus Hexa dengan mata yang penuh dengan tuntutan, membuat Dhira semakin tak berani menatapnya.
"Kuakui kau ini wanita yang terlalu berani, tidak pernah kujumpai sebelumnya." Pasport di tangannya ia lempar ke pangkuan Dhira yang masih duduk di hadapannya.
"Ikut aku." Hexa pun menarik tangan Dhira untuk keluar dari bandara tersebut, pulang bersamanya ke rumah yang semula mereka tinggali.
Dalam perjalanan, tidak ada satu pun kata yang keluar dari Hexa, hal itu membuat Dhira semakin merasa horor duduk disampingnya.
Dengan kecepatan tinggi, tak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba di rumah.
"Masuk ke kamar," titah Hexa seperti sedang memarahi anak perempuannya yang susah diatur.
Dhira malah manggut-manggut mengerti dan patuh, tidak ingin membantah karena sudah keciduk langsung oleh Hexa.
Dhira kali ini tidak tahu apakah ia akan mendapat pengampunan dari Hexa, atau malah berakhir sampai di sini.
Apa yang berakhir?
__ADS_1
Ya, tentu saja nyawanya, Hexa terus mengancam menggunakan nyawanya, tentu saja ia takut, Dhira masih ingin hidup dan menikmati rasa garam dan MSG, alias micin. (lol)
Sementara di bawah, Hexa sedang mengumpulkan semua pekerja yang bekerja di rumah itu, termasuk satpam yang menjaga gerbang rumah.
"Ada berapa banyak jumlah kalian? Belasan orang bahkan tidak ada satu pun yang menyadari nona muda dibawa kabur?" Kini giliran para pekerjanya yang mendapat amarah dari Hexa.
"Apa gunanya aku mempekerjakan kalian kalau hal seperti ini saja begitu lalai?" bentak Hexa dengan geram.
"Pak Wang, apa yang Anda kerjakan sampai tidak memperhatikan Dhira? Anda tahu bahwa dia adalah orang yang harus lebih Anda perhatikan di rumah ini ketimbang yang lainnya? Bagaimana jika sampai saya tidak menemukannya? Anda ingin tanggung jawab?" Entah marah karena apa, padahal Dhira juga sudah ia temukan dan pulang ke rumah, tapi tetap saja ia tidak bisa menahan emosinya yang terus meluap-luap tanpa bisa ia kendalikan.
Semua pelayan, satpam, serta Pak Wang, mereka tertunduk tak ada yang berani menatap majikan mereka yang sedang marah, ini kali pertama bagi mereka melihat kemarahan yang mencakup untuk semua orang di rumah itu.
Hal itu membuat mereka berpikir bahwa Dhira benar-benar berharga di mata Tuan Hexa.
"Ada berapa orang satpam di rumah ini? Kenapa di antara kalian bertiga, tidak ada yang mencegah Lina membawa kabur Dhira, bahkan sekedar bertanya pun tidak sama sekali, seolah kalian bekerjasama dengannya untuk membuat Dhira pergi dari rumah ini, apa benar begitu?" Kini giliran ketiga satpam yang mendapat sorot mata tajam dari Hexa.
"Benar-benar tak berguna!" decih Hexa kesal.
"Karena kelalaian kalian, maka gaji bulan ini dipotong 30%, ini berlaku untuk semuanya. Aku tidak suka jika ada kesalahan, kelalaian dalam bekerja. Mengutus kalian ke rumah ini bukan hanya untuk mengurus rumah dan menyiapkan makanan, tapi juga memperhatikan wanita itu lebih dari apa pun, paham?" tegas Hexa dengan wajah yang begitu serius, rahang kokohnya itu terus mengeras sebab geram dengan para pekerjanya yang tak bisa menjaga Dhira.
"Apa ada yang keberatan?"
Jangan ditanya, mereka pasti tidak akan ada yang berani protes mengenai gaji, karena jika sekali saja mereka protes, maka kesempatan bekerja di rumah itu tidak akan pernah didapatkan lagi.
Hexa akan memecatnya dan menjadikannya sebagai daftar hitam, tidak bisa melamar pekerjaan di mana pun selama masih dalam jangkauan satu kota.
Apalagi gaji saat bekerja bersama Hexa, itu terbilang cukup besar, siapa yang akan memperhitungkan 30% itu, 30% hanya sedikit jika dibandingkan gaji yang mereka terima selama ini, belum lagi tips dan bonus yang selalu diberikan oleh Hexa saat kerja mereka bagus dan tak pernah lalai.
"Kedepannya kalian harus ingat, jika sampai hal ini terjadi lagi, maka tidak ada kesempatan kedua. Masih banyak orang yang membutuhkan pekerjaan ini, yang pastinya tidak lalai dengan tugas." Usai marah-marah, Hexa pun pergi meninggalkan mereka, kini menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Entah apa lagi yang akan ia cetuskan pada Dhira, sebab wanita itu adalah tersangka utamanya, dia yang sudah membuat Hexa kalang kabut serta menerapkan penjagaan lebih ketat lagi.
Entah karena apa, ia sendiri tak mengerti kenapa ia begitu tak ingin Dhira pergi, ingin selalu mengikat wanita itu di sisinya apa pun yang terjadi, padahal niat awal hanya ingin menjadikan Dhira alasan untuk tidak menerima perjodohan, kenapa semakin hari ia selalu ingin melihat wanita itu.
Memastikan apa yang dikerjakannya, memperhatikan kesehatannya, serta memikirkan apakah wanita itu nyaman atau tidak.
Ia tak mengerti, semuanya terjadi tanpa kendali.
"Dasar pria egois, pembohong pula. Dia bilang lupa sama kata sandi kamarnya, tapi tadi dia malah membukanya dengan mudah," celetuk Dhira sendirian di kamar itu.
Tak lama pintu kembali terbuka dan ia segera berdiri dengan tegap, ia yakin yang datang pasti Hexa, kini ia sudah siap akan segala kemungkinan yang akan terjadi.
Ketahuan di depan matanya langsung, Dhira tak berpikir ia akan selamat. Sebab saat kabur pertama kalinya di hotel saja, Hexa sudah memperingatinya untuk tidak melakukan hal itu lagi, jika tidak nyawanya akan melayang.
Apa mungkin sekarang ia akan benar-benar dilempar oleh Hexa dari jendela? Membayangkannya saja membuat bulu roma meremang seketika.
Saat tubuh Hexa terlihat, Dhira segera menundukkan kepalanya, berdiam diri seperti patung bernyawa.
Diam-diam Hexa menyunggingkan bibirnya tersenyum tipis. Amarah yang tadinya meluap-luap, seketika mereda begitu saja. Ia curiga bahwa Dhira melakukan sebuah trik semacam hipnotis untuk mengelabuinya.
"Kenapa begitu takut? Apa kau berpikir bahwa aku akan memakanmu?" tanya Hexa sambil mendekat ke arah Dhira.
Alis Dhira menukik tajam, lantas ia sedikit mengangkat kepalanya menatap Hexa, ekspresi pria itu tidak seperti yang ada dalam bayangannya, terlihat begitu santai.
"Apa Anda tidak ingin marah?" tanya Dhira ragu.
"Marah untuk apa? Karena kau mencoba untuk kabur?" Hexa balik bertanya, dan ia pun terkekeh ketika Dhira diam saja.
"Memangnya siapa yang akan peduli jika kau kabur? Berpikir terlalu banyak, kau tidak sespesial itu di mataku." Dengan santainya ia berkata seolah tidak peduli, padahal barusan ia sudah memarahi semua orang.
__ADS_1