
Pernikahan Hexa dan Dhira pun berlangsung, dan dihadiri oleh tamu undangan yang tak terhitung jumlahnya, semua tampak dari kalangan atas.
Dhira terus menekuk kedua lututnya bergantian, benar-benar membuatnya lelah menyalami tamu undangan yang tak ada habisnya datang mengucapkan selamat padanya dan juga Hexa.
Namun, entah bagaimana caranya Hexa terlihat biasa saja, ia tak lelah sama sekali? Pikir Dhira.
"Istirahatlah." Tiba-tiba Hexa bersuara.
"Ah, tidak apa-apa, Tuan. Saya masih bisa menemani Anda." Dhira memaksakan diri tersenyum, meski sebenarnya ia sangat ingin istirahat sejenak.
"Jangan membantah. Pergilah istirahat, aku akan ke sana menyapa para tamu."
Hexa menepuk pelan ujung kepala Dhira, perlakuannya itu benar-benar di luar dugaan Dhira.
Jangankan Dhira, bahkan para wanita yang melihat itu seketika berteriak histeris, sepertinya mereka benar-benar iri melihat Dhira yang mendapat perlakuan selembut itu dari seorang tuan muda yang penuh kharisma.
Semua wanita yang menyaksikan pernikahan itu, sangat mendambakan untuk berada di posisi Dhira, bahkan sorot tatapan tajam di antara mereka mampu membuat Dhira bergidik.
Sekuat itu pengaruh Hexa di kota ini, tampaknya semua tamu menghormatinya.
"Kalau begitu saya pamit untuk istirahat, Tuan."
Selain lelah fisik, sepertinya Dhira juga lelah hati dan pikiran, melihat tatapan tak suka dari para wanita itu, membuatnya semakin tak betah untuk tetap berada di sana mendampingi Hexa.
Dhira menuruni panggung pelaminan dengan dibantu oleh Hexa, pria itu memegangi tangannya untuk mencegah ia jatuh.
Itu membuat Dhira sedikit grogi, tiba-tiba suhu tubuhnya menurun hingga terasa sangat dingin.
"Tanganmu dingin, kau sakit?"
Pertanyaan Hexa semakin membuat Dhira salah tingkah.
Apa yang terjadi dengan pria yang kini menjadi suaminya? Dia tidak kesurupan, 'kan? Pikir Dhira sembari menatap Hexa tanpa berkedip.
'Ah, mungkin dia hanya melakukan sebuah pencitraan di depan para tamu, dia tidak mungkin memperlakukanku sebaik ini jika tidak ada yang melihat.'
Dhira pun segera menurunkan pandangannya dan lanjut menuruni panggung.
"Terimakasih sudah membantu, Tuan. Saya pamit dulu."
Hexa hanya diam saja, membiarkan Dhira pergi sendiri, sementara ia langsung bergabung dengan beberapa tamu untuk sekedar berbincang.
Saat Dhira melewati koridor untuk masuk ke ruang make up, ia berhadapan dengan wanita masa lalu suaminya, Ressa.
Dhira memutar bola mata malas, tetap berjalan seolah tak mengenal wanita itu.
Namun, ketika ia akan melewati Ressa, wanita itu lebih dulu mencengkram tangannya, mencegahnya untuk pergi.
"Tolong lepaskan!" ujar Dhira, masih dengan nada yang dibuat senatural mungkin, padahal hatinya sudah terbakar.
__ADS_1
Ressa malah menyunggingkan bibir tersenyum sinis. "Kau sungguh menganggap dirimu istimewa, hm?"
Lagi-lagi Dhira melengos, sudah ia tebak, pasti perempuan itu tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.
Akan ada banyak drama lain yang akan keluar dari mulut wanita itu sekedar untuk menghina dan merendahkannya.
Sebegitu terobsesinya kah wanita di hadapannya ini terhadap suaminya?
"Saya bilang tolong lepaskan! Apa Anda tidak mendengarnya?"
Namun, tampaknya Ressa semakin mengerahkan tenaganya untuk tetap mencengkram lengan Dhira kuat.
Dhira tak melakukan perlawanan, ia biarkan saja wanita itu memegang tangannya sepuas mungkin.
"Kau pikir Hexa menikahimu karena dia menyukaimu?" Ia mendekatkan wajahnya pada Dhira sembari tersenyum miring.
Dhira hanya bisa menghela napas kasar dan mengalihkan pandangannya dari wanita itu. Ia sudah sangat muak dengan ucapan Ressa yang dari kemarin selalu saja membuatnya jengkel.
"Lalu hubungannya denganmu apa, Nona?" Dhira balik menatap Ressa dengan sorot mata menantang.
"Aku tidak tahu ternyata Anda seorang perempuan yang begitu senang mencampuri urusan orang lain, kenapa tidak sekalian saja Anda jadi seorang wartawan? Kurasa profesi itu cocok untukmu." Dhira balik menyerang dengan senyum licik.
"Apa kau tidak diberi tahu oleh Hexa bahwa dia hanya ingin menggunakanmu sebagai alat pencetak anak? Kau akan segera dicampakkan setelah dia mendapatkan apa yang dia mau."
Ressa terus mencoba untuk memprovokasi Dhira.
Ressa semakin dibuat kesal, ia sudah mengatakan begitu banyak hal, tapi Dhira malah bersikap begitu tenang.
"Kau tidak pantas untuk Hexa!" serunya dengan suara yang sedikit meninggi.
"Lalu kenapa jika aku tak pantas? Setidaknya hanya aku satu-satunya wanita yang berhasil menikah dengannya, 'kan?"
"Kau!"
Senyuman Dhira sangat jelas terlihat seolah meledek Ressa.
"Sudahlah, Nona."
Dhira menepis tangan Ressa yang dari tadi mencengkram pergelangannya.
Ia mendekatkan wajahnya, dan berkata dengan suara pelan tepat di depan wajah Ressa.
"Berhenti menggonggong di depan seekor srigala jika kau tak ingin menjadi mangsanya."
Lalu Dhira menampilkan senyum licik, ia berbalik membelakangi Ressa, bersiap untuk meninggalkan wanita itu. Namun, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan kembali menoleh.
"Oh, ya."
"Kudengar, Anda tidak bisa hamil karena sempat mengidap kanker rahim? Apakah benar?"
__ADS_1
Wajah Ressa seketika memerah, napasnya ia tahan sembari menatap Dhira penuh amarah.
"Jangan-jangan Anda pernah berhubungan dengan pria lain sebelum itu?"
"Cukup!" teriak Ressa yang merasa semakin geram.
Dhira kembali menekuk bibirnya dan menyunggingkan bibir sinis.
Jika Ressa tidak lebih dulu mencari masalah dengannya, ia juga tidak perlu begitu tega mengungkit soal penyakit wanita itu yang menyebabkannya tak bisa hamil karena rahimnya sudah diangkat.
"Kau tak pantas mengkritik kehidupanku!" serunya lagi.
Dhira menatapnya tajam. "Lalu kau berpikir bahwa kau pantas mengkritik pernikahanku dengan Hexa?"
"Kenapa tidak? Hexa pernah menjalin hubungan denganku, tentu saja aku ada hubungannya dengan pernikahan kalian."
Dhira merasa semakin muak dengan sikap semaunya Ressa, ia tak diberi sedikit pun ruang untuk menghirup udara segar dan bergentayangan di mana-mana.
"Baginya, kau hanya masalalu yang tak lebih layak disandingkan dengan sebuah sampah."
Dhira pun tampak semakin berani, ia terus menantang dengan kalimat-kalimat yang bisa menyakiti Ressa.
"Kau!"
Ressa menunjuk wajah Dhira geram.
"Kenapa?"
"Dasar kurang ajar!"
Bersamaan dengan geramannya, Ressa melayangkan sebuah tamparan di wajah Dhira, keras dan kuat.
Wajah Dhira seketika memerah detik itu juga.
"Ressa!"
Tak jauh dari mereka berada, seorang pria berteriak, mendekat dengan langkah penuh amarah.
Pria itu adalah Hexa, Hexa menyaksikan bagaimana mantan kekasihnya memukul Dhira, wanita yang telah menjadi istrinya.
"H-Hexa?"
Tangan yang tadinya ia gunakan menampar Dhira tiba-tiba gemetar, wajahnya berubah menjadi pucat pasi melihat kedatangan pria yang paling tidak seharusnya menyaksikan adegan tersebut.
"Apa yang barusan kau lakukan padanya?"
"Hexa, dengarkan penjelasanku terlebih dahulu. Ini tidak seperti yang kau pikirkan!" ucapnya lirih
Ressa mencoba untuk meraih tangannya, tapi Hexa lebih dulu menjauh dan tak ingin wanita itu menyentuhnya.
__ADS_1