Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Menurutmu Bagaimana?


__ADS_3

Keesokan hari, Dhira akhirnya bisa terbangun tanpa terlambat.


Ia menguap sembari meregangkan tubuhnya meski masih berada di atas kasur.


Eh, tunggu. Apa ini?


Dhira tersadar bahwa tangan Hexa masih berada di atas perutnya.


'Astaga, pria ini apa tidak pernah melepaskan tangannya dari sana?'


Matanya membulat, lalu menoleh pada Hexa yang masih tertidur pulas.


'Dia tidak begadang, tumben jam segini belum bangun,' batinnya.


Namun, dilihat-lihat, Hexa benar-benar tampan dengan mata tertutup seperti itu.


"Apa dia titisan pangeran?"


Dhira bergumam pelan, dan tanpa ia sadari, tangannya sudah berada di kepala Hexa, menyentuh dan membelai rambut pria itu.


Namun, seketika Hexa menangkap tangan Dhira dan seketika itu juga Dhira tersadar dan terkejut dengan mata yang membulat sempurna.


Melihat wajah terkejut Dhira, Hexa malah tersenyum tipis tanpa memperlihatkan giginya.


"Kenapa? Sekarang kau sudah sadar bahwa aku adalah pria tertampan di dunia ini?"


Suara Hexa terdengar serak-serak basah setelah bangun tidur, dan Dhira malah menelan salivanya merasa tak kuat melihat senyum manis itu, bahkan suara Hexa di pagi hari mampu membuatnya tergoda.


Dhira berpaling muka, ia tak kuasa menahan godaan lebih lama lagi.


Hexa lagi-lagi tersenyum puas melihat Dhira yang malu-malu, ia lantas semakin tertantang untuk menggoda wanita itu.


Hexa naik ke atas Dhira, lantas wanita itu pun semakin terbelalak melihat Hexa yang sudah berada di atasnya.


"A-apa yang Anda lakukan, Tuan?" Dhira berucap dengan terbata.


Hexa mendekatkan wajahnya, dan Dhira malah menutup mata sekuat mungkin, alisnya bahkan mengerut.


"Aku hanya ingin turun."


Hexa menyebrangi tubuh Dhira dan turun dari ranjang, sambil tersenyum penuh kemenangan karena berhasil menipu Dhira.


Sekarang Dhira tak dapat menggambarkan bagaimana dalamnya rasa malu yang sudah menggunung saat ini, rasanya ingin lenyap saja dari muka bumi ketimbang memikul rasa malu itu di pundaknya.


Hexa masuk ke kamar mandi, kali ini ia tak meminta Dhira untuk menyiapkannya air di dalam bak, mungkin ia tak ingin berendam.


Dhira pun memutuskan untuk turun ke bawah untuk menyapa beberapa pelayan dan juga Pak Wang. Sekaligus juga penasaran apa yang sedang dilakukan oleh Pak Wang beserta para pelayan lain di pagi hari, pasti mereka sangat sibuk.


Namun, ketika ia tiba di bawah, malah tak mendapati satu orang pun, bahkan dapur terlihat kosong melompong.


Tidak ada Pak Wang atau para pelayan yang biasanya sudah sibuk berkutat untuk menyiapkan segala keperluan dan sarapan untuk tuan muda mereka.


"Pada kemana mereka semua?" gumamnya, sembari memindai setiap tempat yang biasannya para pelayan berada di sana melakukan pekerjaan mereka masing-masing.


"Anda mencari siapa, Nona?"

__ADS_1


Dhira tersentak, tiba-tiba saja Sekertaris Jo berada di belakangnya, entah dia keluar dari mana.


"Anda mengagetkanku saja."


"Eh, tapi tunggu, kenapa pagi-pagi begini Anda sudah berada di sini? Bukankah Anda datang setiap jam tujuh?" tanya Dhira penasaran akan kehadiran Sekertaris Jo.


"Semalam saya tidur di sini, sekarang sedang menunggu Tuan Hexa keluar dari kamarnya."


"Apa beliau sudah siap?"


Dhira menggeleng. "Dia baru mandi."


"Lantas kenapa Nona ada di sini pagi-pagi begini?"


"Oh, iya, kira-kira apa Anda tahu kemana perginya orang-orang di rumah ini? Kenapa begitu sepi?"


"Mereka sudah berangkat ke gedung pernikahan Anda dan tuan muda, Nona."


"Hah!"


"Kenapa, Nona?"


"Oh, tidak apa-apa." Dhira menggeleng sembari memaksakan diri tersenyum pada Sekertaris Jo.


'Jadi pernikahan yang ia madsud, itu serius?'


"Kapan?" tanya Dhira pada Sekertaris Jo.


Namun, Sekertaris Jo malah diam saja.


"jauh lebih lama dari dugaan Anda, Nona."


"A-apa?"


Dhira tak percaya itu. Bagaimana mungkin ia tak menyadarinya semenjak Hexa merencanakan itu?


Jika kemarin ia menolak, apakah rencana Hexa akan sia-sia begitu saja? Yang sudah diselesaikan, apakah berakhir begitu saja?


Ah, tapi memangnya apa ia bisa berkata tidak dan menolak pernikahan ini? Hexa pasti sudah memprediksi semuanya, ia tidak mungkin akan menyiapkan segala sesuatu tanpa memikirkannya secara matang.


Namun, apa ia benar-benar siap menjadi seorang istri dari pria angkuh dan dingin itu?


Apakah ia akan hidup selayaknya manusia dan bahagia seperti istri-istri lainnya?


'Aih, Dhira. Untuk apa kau memikirkan hal itu, dari dulu bukankah hidupmu memang tak pernah bahagia? Kau sudah terbiasa dengan penderitaan, 'kan?'


Dhira tersenyum getir, tatapannya kosong dan nanar, mungkin memang inilah jalan takdir yang harus ia jalani, ia tak bisa mengelak apalagi membantah.


Cukup tersenyum dan berpura-pura bahagia, maka semua akan baik-baik saja.


Dhira terus meyakinkan dirinya untuk tetap tegar, menguatkan diri sendiri sebab ia hanya bisa percaya pada dirinya, jika bukan dia yang tetap berpikir optimis, lantas siapa lagi yang akan memberinya semangat.


"Kau akan pergi dengan penampilan seperti itu?"


Dhira menoleh ke arah sumber suara, Hexa sudah berpakaian rapi menuruni anak tangga.

__ADS_1


"Berangkat sekarang?" tanya Dhira.


Ketika Hexa sudah di hadapan Dhira, ia melirik jam tangan, lalu berkata, "10 menit dari sekarang, apakah cukup?"


"10 menit? Apa tidak bisa tambah sedikit, Tuan?" tawar Dhira, sebab mustahil baginya bisa bersiap dengan waktu 10 menit itu.


"Kau hanya punya waktu 10 menit, jika tidak selesai dari 10 menit, kau pergi sendiri saja." Hexa melangkah melewati Dhira dan duduk di sofa ruang tamu.


"B-baik, Tuan." Dhira bergegas lari naik ke atas.


Sepertinya ia tak sempat untuk keramas, persetanlah dengan bau rambutnya, siapa suruh ia hanya diberi waktu terlalu sedikit.


***


Usai bersiap seadanya, Dhira kembali turun, bahkan setengah berlari menapaki anak tangga.


"Sudah?"


"Sudah, Tuan." Dhira mengangguk patuh.


Hexa bangkit dari tempatnya dan melangkah keluar, diikuti oleh Sekertaris Jo, lalu disusul oleh Dhira.


Tidak memakan waktu lama, mereka tiba di gedung yang akan menyelenggarakan pernikahan antara Hexa dan Dhira.


Belum ada yang datang, hanya beberapa kru dan tim yang digerakkan oleh Sekertaris Jo untuk mengurus segala sesuatunya.


Dhira memindai setiap pergerakan orang-orang itu, serta memperhatikan mewahnya dekorasi gedung tersebut.


'Mereka tampak bekerja keras untuk menciptakan suasana megah ini'


"Tuan, apa nanti akan ada banyak orang yang datang?" Dhira memberanikan diri bertanya.


"Memang sudah seharusnya seluruh orang di kota ini tahu tentang pernikahan ini, mereka yang mendapat undagan tidak akan melewatinya."


'Bukankah ini hanya sekedar pernikahan untuk mendapatkan hak waris? Kenapa semua orang harus tau mengenai pernikahannya? Bukankah itu tidak penting?'


'Seharusnya ia memeriahkan pernikahannya bersama orang yang dia cintai nanti.'


"Apa yang kau pikirkan?"


Seketika suara Hexa memecah lamunannya, ia pun tergagap.


"B-bukan apa-apa, Tuan."


"Kau memikirkan tentang orang yang aku cintai?"


'Hah? Bagaimana bisa ia tahu mengenai pikiranku?'


"Anda memiliki wanita yang dicintai, Tuan?"


Sebenarnya Dhira ragu untuk menanyakannya, tapi karena Hexa berhasil menebak isi pikirannya, lebih baik langsung tanyakan saja.


"Menurutmu bagaimana?"


Hexa balik bertanya, sebelah dari sudut bibirnya tertarik menatap Dhira.

__ADS_1


__ADS_2