
"Enak makanannya?" Dengan dingin dan acuh Hexa bertanya pada Dhira.
'Haduh, aku harus jawab apa? Kalau bilang enak, dia pasti marah, kalau bilang tidak enak, nyatanya semua ayam habis.' Dhira kembali membatin, bingung akan pertanyaan Hexa.
Pada akhirnya Dhira tetap berakhir pada keterdiamannya, menunduk takut untuk menjawab.
"Angkat kepala dan tatap aku!" sergah Hexa tegas.
Dhira perlahan mengangkat kepala dengan ragu.
Pria kulkas itu kini juga menatapnya dengan aura yang begitu mengintimidasi, kapan pria itu akan melunak? Pikir Dhira.
"M-maaf, Tuan." Dengan tampang yang menyedihkan, Dhira inisiatif untuk meminta maaf duluan karena ia memang salah.
"Bagus kalau kamu tahu salah, kupikir masih akan berkelit dan tak ingin mengakui," cetus Hexa lagi.
"Kak, ini salahku. Jangan memarahi Dhira," ujar Derta yang merasa kasihan.
"Pikirkan keselamatanmu dulu sebelum memikirkan orang lain," bentak Hexa dingin. Derta pun bagaikan gurita yang direbus, langsung menciut.
"Malam ini tidak ada makan malam untuk kalian, tidak ada cemilan serta tak boleh minum sampai pagi." Hexa kembali memberi hukuman pada mereka.
Derta pun panik. "Kak, tidak boleh begitu dong, kamu mau kita berdua dehidrasi tak ada asupan air? Tak ada makanan, minimal kami masih boleh minum, kalau kita pingsan, gimana? Yang repot siapa?" protesnya, tak bisa membayangkan bagaimana lemahnya tubuh itu jika tidak ada air yang masuk.
"Siapa yang peduli? Biar mati sekalian," cetuk Hexa geram.
"Astaga, Kak. Kau kejam sekali," gumam Derta sambil menatap kakak sepupunya yang tak punya hati. Entah kenapa ia bisa melawan orang tuanya, tapi malah tak bisa melawan Hexa.
Ya, orang tuanya selalu mengekang untuk menjadikannya seperti apa yang mereka mau, sementara Hexa, pria itu selalu mendukung impiannya, hanya akan menghukum jika ia memang salah.
"Kau ikut aku sekarang!" Hexa pun menarik tangan Dhira untuk ikut bersamanya, masuk ke kamarnya sendiri dan mengunci Derta sendirian.
"Kak, jangan begitu, dong, jika kau bawa Dhira, tolong bawa aku juga, ini tidak adil, Dhira tak bersalah, Kak." Derta terus menggedor pintu dengan keras.
Kini sepasang insan berada di satu kamar berdua. Ya, berdua di kamar Hexa.
"Sejak kapan kau akrab dengannya?" tuntut Hexa.
__ADS_1
"Memangnya kami terlihat akrab, Tuan?" tanya balik Dhira. Hexa malah memasang wajah masam mendengar pertanyaan Dhira.
'Kami baru bertemu hari ini, hanya sekedar makan ayam goreng bersama, apa bisa dibilang akrab?' batin Dhira.
"Zania Andhira, ingat ucapanku baik-baik. Kau dilarang akrab dengannya selama bekerja denganku, kau juga dilarang berhungan dengan lelaki mana pun apalagi sampai pacaran, paham?!" Sebuah aturan yang tiba-tiba saja berlaku dalam hidup Dhira atas perintah Hexa, perintah yang tentunya tidak boleh ditolak atau dilanggar.
Entah kenapa lagi pria itu. Semakin hari peraturannya semakin aneh dan tak nyambung dari konteks permasalahan yang sedang terjadi.
"Paham, tidak?" desaknya lagi ketika Dhira diam saja.
"P-paham, Tuan." Dengan patuh Dhira mengangguk cepat, pria itu selalu saja berhasil membuatnya kalang kabut akan segala sikapnya yang posesif.
'Lagian apa hubungannya, sih, bekerja dengannya dan berpacaran? Memangnya salah jika aku punya kekasih? Aku, 'kan juga pengen seperti wanita-wanita lain yang diperhatikan oleh pria yang menyayangi mereka. Itu saja tidak boleh, benar-benar menyebalkan,' gerutu Dhira dalam hati, sungguh tak puas dengan peraturan Hexa yang menurutnya cukup mengekang.
'Haih.' Dhira menghela napas berat. Kapan Lina akan datang dan membawanya pergi dari Hexa, ia sungguh tak tahan lagi.
"Kenapa? Tidak suka dengan aturan yang kuberikan?" tanya Hexa, kini ia memasang wajah yang paling menyebalkan menurut pandangan Dhira.
"Kak Hexa, keluarkan aku, Kak!" Tiba-tiba suara Derta mengganggu pembicaraan mereka.
"Ck, anak ini."
Ponsel Hexa bergetar, sebuah panggilan dari Sekertaris Jo.
"Ada apa?" tanya Hexa tanpa basa-basi setelah menerima panggilan itu.
"Saya lupa mengatakan pada Anda, Tuan. Malam ini Anda diundang ke acara amal, klien kita ini cukup penting dalam kerjasama pengembangan proyek nanti, jadi kalau ada waktu, bisakah Anda datang?"
"Hmm, baiklah." Hanya jawaban singkat dan padat, tapi cukup memberitahu Sekertaris Jo bahwa ia setuju untuk menghadiri acara tersebut.
"Kau bersiaplah, nanti malam temani aku menghadiri acara," ujar Hexa setelah menutup panggilan telepon.
"Apa boleh saya tidak ikut, Tuan?" pinta Dhira. Walau bagaimanapun ia hanya gadis dari kalangan biasa, tidak cocok menghadiri pesta besar yang diperuntukkan hanya pada orang-orang kaya yang mengenal bisnis.
"Tidak ada tawar-menawar, turuti saja apa yang kumau." Hexa pun keluar dari kamar itu dan membukakan pintu untuk Derta.
"Ah, akhirnya kau sadar bahwa aku sangat mengagumimu, Kak." Derta pun bergelendotan di tubuh Hexa merasa senang karena dibebaskan.
__ADS_1
"Berhenti bersikap kekanakan. Ikut aku!" Hexa pun melangkah pergi dengan cepat hingga Derta ketinggalan jauh di belakang.
"Kita mau ke mana, kak?" tanya Derta sembari menyetir mobil menyusuri jalan.
"Ke mana saja, tempat di mana ada yang jual gaun pesta," jawab Hexa dingin.
"Gaun pesta? Buat siapa?" tanyanya lagi begitu penasaran.
"Apa kau perlu menanyakan sebanyak itu? Mau kulempar keluar?"
"Iya-iya, aku tidak tanya lagi, lagian apa salahnya, sih, dijawab. Sensitif sekali, seperti wanita yang sedang datang bulan." gumam Derta dengan suara yang sedikit berbisik.
"Apa kau bilang?" Tatapan mata Hexa penuh dengan ancaman.
"Haha. Tidak, Kak. Tidak ada. Jangan marah-marah, nanti cepat tua, ya walaupun memang sudah tua, sih," celetuknya lagi tanpa rasa jera diberi hukuman oleh Hexa.
"Anak sialan," umpat Hexa geram.
"Oh, ya, Kak. Ngomong-ngomong, kabar Kak Ressa gimana?" Tiba-tiba Derta mengarah ke topik lain.
"Kau masih mencintainya, Kak?" Melihat Hexa diam, ia menimpali dengan pertanyaan lain meski masih dalam topik yang sama.
"Kurasa dia punya alasan kenapa pergi tanpa memberitahumu, yang dia sendiri tak bisa mengatakannya langsung."
"Cukup, Derta. Sekali lagi kau membahasnya, aku akan benar-benar mengirimmu ke padang pasir sana!" bentak Hexa yang tak tahan lagi dengan ocehan Derta mengenai mantan kekasihnya itu.
Ya, seorang Hexagonal Prinanda yang dingin dan kejam, sebenarnya juga memiliki hari di mana ia pernah memadu kasih dengan seorang wanita, wanita yang berhasil mengetuk hatinya dengan kelembutan, dan juga berhasil merubahnya menjadi lelaki yang tak memiliki hati setelah kepergian tanpa pamit itu.
Namun, semuanya sudah berlalu begitu lama, bahkan saat ia masih belum mengenal bisnis.
"Kenapa begitu galak, sih? Aku, 'kan hanya memberikan saran untuk berpikir positif, agar Kak Hexa juga tidak terus-terusan salah paham sama Kak Ressa," ujar Derta memberikan pembelaan pada dirinya sendiri.
Hexa menyunggingkan bibir dengan sinis. "Memangnya kau tahu apa tentang aku dan wanita itu? Kau bahkan saat itu masih belum bisa mengelap ingus. Sok mengajariku dengan sesuatu yang kau sendiri tidak paham."
"Sembarangan saja, gini-gini aku lebih berpengalaman tentang cinta, sementara Kak Hexa? Pacaran sekali, habis itu gak bisa move on hingga bertahun-tahun. Sepertinya tidak ada lagi pria yang bisa menandingi kesetiaanmu yang cenderung bodoh itu, Kak."
"Atau jangan-jangan, Kak Hexa menolak perjodohan kakek karena masih berharap pada Kak Ressa?" Derta tersenyum lebar meledek kakak sepupunya itu.
__ADS_1
Anak ini benar-benar tidak ada takut-takutnya memancing amarah Hexa.