
'Kenapa rumah sebesar ini begitu sepi?' batin Dhira, sembari memindai setiap sudut ruangan yang kosong oleh manusia. Hanya ada benda mati yang menghiasi rumah besar itu.
"Belum ada yang datang, sebaiknya kau pergi mandi dulu, ikuti aku." Hexa pun melangkah menuju tempat yang mirip seperti koridor, lalu masuk ke sebuah kamar yang cukup besar, tapi sepertinya sudah lama tidak ditempati.
"Kenapa begitu terpencil, Tuan?" tanya Dhira penasaran. Rumah itu mirip seperti di rumah horor yang ada di film-film.
"Rumah ini berdiri sudah begitu lama, jadi wajar jika sedikit menyeramkan," ujar Hexa tanpa ditanya, ia sepertinya paham apa yang dipikirkan oleh Dhira.
Usai mandi, Dhira melihat ada pakaian wanita di atas tempat tidur, ia menatap Hexa yang kini sedang berdiri di depan jendela besar, menikmati pemandangan desa yang cukup membuatnya teringat kembali dengan masa kanak-kanaknya.
"Pakailah, kau tidak bawa baju ganti, 'kan?" titah Hexa.
"Ini baju siapa, Tuan," tanya Dhira penasaran, sebab baju itu terlihat sedikit kuno, tidak seperti model pakaian yang ada di jaman sekarang.
"Pakai saja, tidak usah banyak bertanya," sergah Hexa yang tak ingin banyak bicara.
Dhira tanpa mengatakan apa pun, langsung meraih baju itu dan memakainya di kamar mandi.
Detik berikutnya.
"Sudah selesai, Tuan. Saya juga sudah menyiapkan air di bathtub untuk Anda berendam," ujar Dhira setelah ia keluar dari bilik mandi.
"Tidak usah, kita langsung keluar saja. Sepertinya yang lain sudah datang."
Dahi Dhira mengerut melihat sikap Hexa yang semakin dingin, ada apa dengan pria itu, sepertinya ia memiliki banyak beban pikiran, yang orang lain tidak tahu dan tak akan paham.
Mereka berdua memasuki sebuah ruangan, lebih besar lagi, dan ada beberapa orang yang merupakan keluarga Hexa. Orang-orang yang sama saat di pesta ulang tahun kemarin.
Dhira semakin merasa canggung, saat semua mata memandang ke arahnya, ia tidak berani balik menatap, malah tertunduk karena ia merasa memang ini yang terbaik untuk menutupi rasa grogi yang menyerang.
Saat Dhira dilanda dengan rasa gugup, tiba-tiba tangan kekar dan hangat itu menyentuh telapak tangannya dengan erat. Iya, itu tangan Hexa, dan berhasil membuat Dhira mengangkat kepala menoleh pada pria itu.
__ADS_1
"Ingat pesanku kemarin?" ujar Hexa dengan suara yang pelan, dan Dhira mengangguk mengerti. Ia tidak lupa pesan Hexa yang memintanya untuk tidak tunduk pada siapa pun, tapi dalam keadaan seperti ini, bagaimana ia bisa tetap mendongakkan kepala. Semua orang menyerangnya melalui tatapan mata yang mengintimidasi.
"Hari ini kau adalah bintang utamanya, jangan takut, aku akan tetap di sisimu, tidak akan ada yang berani mengganggumu."
Ucapan Hexa seakan memberikan ia kekuatan untuk berani menghadapi mereka semua, tapi tunggu. Apa maksud pria ini mengatakan bahwa dirinya adalah bintang utama? Pikiran Dhira semakin berkelana ke mana-mana.
Saat Dhira mengangkat kepala, ia baru menyadari bahwa Derta juga ada di sana, dan kini sedang menatapnya begitu lekat. Tatapan ini seperti bukan Derta, yang biasanya begitu usil dan ceria. Tatapannya seolah ingin meminta sebuah jawaban dari Dhira.
"Kenapa semuanya menatapku begitu? Apa aku berbuat kesalahan?" tanya Dhira, tapi hanya tertahan di hatinya. Ia tak berani bertanya pada siapa pun kecuali pada hatinya sendiri.
Sementara Hexa masih menggenggam tangannya begitu erat, membawanya mendekat ke arah mereka semua, dan kakek, ia terbaring lemah di ranjangnya, tapi juga masih dapat menatap Dhira dan Hexa yang jalan bergandengan.
"Kakek sudah memilihkanmu calon istri, lepaskanlah dia," ujar sang Kakek dengan suara lemah. Kali ini ia mengumpulkan kedua anak serta cucunya untuk membahas ahli waris, serta pernikahan yang ia rencanakan untuk Hexa dan Lina.
Hexa menelan salivanya dengan berat, berat melihat kakeknya yang terbaring lemah tak berdaya. Kemarin masih begitu sehat, tapi kini malah ngedrop dan begitu lemah, itu membuatnya tak tega.
Meskipun kakeknya suka marah-marah, tapi di sini cuma kakeklah keluarga sesungguhnya bagi Hexa.
"Kamu tidak pernah membangkang keinginan kakek, Hexa. Apa karena wanita ini yang sudah mencuci otakmu?" timpal ayahnya.
"Apa aku mengizinkanmu untuk berpikir jelek tentang wanitaku?" balas Hexa sinis. Hubungan ia dan ayahnya memang tidak pernah akur semenjak Hexa tahu bahwa pria itu bukanlah ayah kandungnya. Terlebih begitu sering ia mendengar kalimat cacian untuk ibunya ketika sang ayah sedang memarahinya, hal itu membuat Hexa benci pada pria itu.
Ibunya meninggal ketika ia masih berumur delapan tahun, dan belum genap dua bulan setelah kepergian ibunya, sang ayah membawa pulang wanita asing yang sama sekali tak pernah ia lihat sebelumnya.
Dari sanalah hubungan ayah dan anak itu mulai merenggang karena ayahnya tidak lagi memiliki waktu untuk sekedar menghiburnya, sibuk dengan istri baru.
"Sudahlah, kalian semua keluar dari sini, aku ingin memberi Hexa sedikit waktu lagi sampai nanti malam, kalian bisa berkumpul lagi nanti," ucap sang kakek yang tak ingin berdebat dengan cucu kesayangannya, apalagi kondisinya begitu lemah, kebiasaannya yang sering marah-marah ingin sedikit ia kurangi, mengingat kesehatannya tidak lagi sama seperti kemarin.
"Cih, selalu saja menyusahkan orang. Urusanmu membuatku menghabiskan waktu dengan sia-sia," ucap pamannya saat melewati Hexa.
"Kau, wanita yang berdiri di samping Hexa. Jika kau sadar diri siapa dirimu, tolong jauhi cucuku, kau juga tidak pantas mengenakan pakaian almarhum ibunya." ujar kakek pada Dhira.
__ADS_1
Hexa semakin mengeratkan genggamannya, mereka saling memandang satu sama lain, sebab Dhira juga tak tahu harus menjawab apa, jadi ia hanya bisa menoleh pada Hexa, barang kali pria di sampingnya ingin memberi kode, apa yang harus ia katakan agar tidak menyinggung.
"Tolong Anda jangan mengintimidasinya, apa pun yang terjadi dia akan tetap menjadi pilihan terakhirku, percuma menunggu sampai malam, pilihanku tetap sama. Yaitu Dhira."
Deg!
Hexa menyebut nama Dhira, itu kali pertama Dhira mendengar namanya keluar dari mulut pria itu.
Suara detakan apa ini? Kenapa tiba-tiba jantung Dhira berdetak cepat dan berirama. Apa ada yang salah? Tapi ia merasa sedikit senang mendengar kalimat Hexa. Ah, Dhira. Kau berharap terlalu jauh, sejak kapan kau begitu peduli tentang apa yang diucapkan pria ini, kenapa kau begitu berani mengharapkan pria pemarah seperti Hexa.
Dengan lugas dan enteng Hexa mengatakannya tanpa beban, seolah apa yang dikatakannya adalah cerminan dari isi hatinya yang sebenarnya. Namun, entahlah, Hexa masih begitu sulit dipahami, saking sulitnya bahkan Hexa tidak bisa memahami dirinya sendiri.
Bagaimana perasaannya pada Dhira, ia tak mengerti, yang jelas hanya ingin Dhira tetap dalam pantauannya, ingin mengikat wanita itu agar tetap di sampingnya.
Tidak ingin memberi ruang pada pria lain untuk mendekatinya, bahkan hanya sekedar melempar senyum sekalipun. Ia marah serta kesal jika itu terlihat oleh matanya.
Kakek yang benar-benar malas untuk berdebat, ia pun mengisyaratkan dengan gerakan tangannya untuk meminta Hexa keluar dari ruangannya.
"Kamu berkelilinglah ke sekitar sini, aku ada urusan sebentar," ucap Hexa ketika mereka keluar dari ruangan kakek. Dhira yang pada dasarnya selalu patuh, ia pun manut saja dan meninggalkan Hexa untuk melihat-lihat.
Hexa menghampiri Lina yang duduk di ruang tamu sendirian.
"Ikut aku sebentar," pinta Hexa tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
Lina yang begitu kesal saat melihat Dhira masih berada di kota ini dan bahkan masih berada di sisi Hexa, kini hanya bisa menatap kesal pada pria itu.
"Jika kamu memohon dengan tulus, aku akan ikut dengamu," jawab Lina yang tak ingin dengan mudah menuruti ajakan Hexa.
Tanpa berpikir panjang dan tak ingin bertele-tele, Hexa pun menarik tangan Lina dengan paksa agar mengikutinya.
Diam-diam Dhira yang melihat mereka berdua, rasanya ada sebuah kesalahan di hatinya, kenapa ia merasa tak senang melihat Hexa menyentuh kulit wanita lain? Ada rasa tak terima di hati kecil itu. Namun, ia juga tak berpikir bahwa itu adalah bentuk rasa suka dan ingin memiliki. Ia tak mengerti dirinya dikuasai oleh apa hingga uring-uringan sendirian.
__ADS_1