Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Binatang Liar


__ADS_3

"Kenapa? Kau tidak terima? Kau pikir dia begitu istimewa bagiku sampai kau rela datang ke sini dan mencoba membuatku marah? Ck, wanita yang kupungut dari rumah bordir, apa istimewanya?" cibir Hexa sinis.


"Lalu bagaimana dengan ibumu, Kak? Apa kau tidak pernah diberitahu kakek bagaimana kau terlahir di dunia ini? Kau terlahir dari hasil hubungan yang tak direstui, apa aku boleh mengatakan bahwa kau adalah anak haram?"Nafas Derta mulai ngos-ngosan.


"Ayahmu yang sekarang, itu bukan ayah kandungmu, 'kan? Seharusnya kau sudah tahu hal ini," lanjutnya.


Derta tak mau kalah, ia yang sedikit banyak mengetahui tentang rahasia keluarga ini, secara terang-terangan bicara pada Hexa.


Jika saja Hexa tidak mencoba menjelekkan Dhira, ia juga tidak perlu membuka rahasia lama mengenai kelahiran Hexa, yang mungkin akan menyinggung perasaan kakak sepupunya itu.


Namun, yang jadi pertanyaan, pria itu apakah memiliki perasaan?"


"Kau berani mengungkit tentang ibuku, hm?!" Hexa mendekat selangkah demi selangkah.


"Kau tidak terima, 'kan, Kak? Begitu juga dengan aku. Aku tak suka kau menjelekkan Dhira, dia salah apa terhadapmu? Jika kau berani menyakitinya, aku orang terdepan yang akan melindunginya." Dengan gagah berani Derta menentang Hexa.


"Ck, pahlawan bau kencur, aku tak berminat membicarakan hal tak penting seperti ini padamu." Hexa menyunggingkan bibir sinis dan berlalu pergi, meninggalkan adik sepupunya yang masih mematung.


Mata Derta mulai berkaca-kaca. Ia tak ingin hubungannya dan Hexa retak dan renggang, tapi ini semua adalah resiko yang harus ia tanggung ketika berani memprovokasi pria itu, apalagi sempat mengungkit kehidupan masalalu ibunya. Hexa mungkin tidak akan memaafkannya kali ini.


Bagi Hexa, ibunya adalah hal paling sensitif untuknya, satu pun tidak ada yang berani mengungkit, jika tidak ingin mendapat ganjaran yang lebih mengerikan dari Hexa sendiri.


Di sisi lain, Hexa terus memukul dinding kamarnya begitu keras, ia telah menghina Dhira di depan orang lain, jika sampai Dhira mengetahui setiap kata hinaan yang ia ucapkan, mungkinkah wanita itu akan menangis?


Namun, di sisi lainnya lagi, ia marah. Marah karena Derta mengatakan bahwa mereka sudah tidur bersama, apakah itu benar-benar terjadi? Bisa-bisanya ia tak mengetahuinya. Namun, apa Dhira setega itu?


Ck, Hexa tersenyum getir. Memangnya ia ada hubungan apa sampai mempertanyakan kenapa Dhira setega itu. Bukankah memang hak Dhira mau memutuskan ingin tidur bersama siapa? Dari awal ia hanya ingin memanfaatkan Dhira sebagai istri pura-puranya. Kenapa ia malah berharap lebih? Konyol, bukan?


Hexa semakin mengacak kamar itu dengan kesal. Ia tidak tahu, sebenarnya ia kesal kenapa? Kenapa begitu membayangkan Derta dan Dhira tidur bersama, hatinya memanas seperti dituang bara api. Ia tak bisa mengendalikan pikirannya, benar-benar kacau tanpa bisa dicegah. Semua terjadi begitu saja.




Di sisi lain, ada Lina yang datang menghampiri Dhira saat sedang duduk di teras rumah sambil menikmati halaman depan yang tampak asri itu.



"Beraninya kau menipuku, wanita licik."



Dhira hanya bisa menghela napas tanpa menoleh pada Lina. "Sebaiknya menyerah sajalah, aku tak bisa meninggalkannya," ucapnya dengan pandangan lurus ke depan.


__ADS_1


"Apa maksudmu dengan kata tak bisa? Kau jangan main-main, ya. Aku sudah susah payah, dan kau malah menjawabku dengan kata 'tak bisa'? Kau pikir siapa dirimu, hah?!" Sorot mata tajam itu tak teralihkan dari wajah Dhira. Lina tampak begitu marah.



Dhira menggaruk lubang telinganya mendengar suara lantang Lina yang sangat mengganggu.



"Begini sajalah. Kenapa tidak kamu sendiri yang datang pada Tuan Hexa, minta dia untuk melepaskanku. Jika dia setuju, aku akan pergi dengan sendirinya tanpa kamu minta." Dhira menatap Lina begitu lekat.



"Namun, jika dia berkata tidak, maka maaf, sepertinya kamu harus kecewa. Dan stoplah menggangguku." lanjutnya.



Dhira sama sekali tidak panik, ia yang pada dasarnya memang tidak pernah takut jika ada yang mengganggunya, tapi entah kenapa malah takut pada Hexa, mungkin karena ada begitu banyak perbedaan di antara mereka, lantas Dhira tak bisa berbuat banyak selain patuh pada pria itu.



Tak dapat dipungkiri bahwa ia juga merasa bahwa Hexa tidak begitu jahat, pria itu masih punya hati nurani, buktinya saat ia sakit, Hexa membawanya ke rumah sakit untuk dirawat.




"Kamu tidak berani mengatakannya langsung pada Tuan Hexa, 'kan? Sebaiknya kamu sadar diri saja. Mau bagaimanapun cantiknya rupamu, itu tidak bisa membuat Tuan Hexa jatuh cinta."



Wajah Lina tampak semakin geram.



Dhira tersenyum kecil. "Buktinya ia lebih memilihku, bukan? Dia menolakmu secara terang-terangan di hadapan keluarganya, apa kamu tidak malu?"



Dhira kembali menyenderkan punggungnya di kursi.



"Ini bukan urusan yang mudah, harga diri itu lebih penting. Jadi, lebih baik mundur secara teratur, dari pada memaksa maju di jalanan licin, kamu akan terjatuh, dan akibatnya akan fatal," tegas Dhira memperingati, lalu ia bangkit dari tempat duduknya melewati Lina dengan sedikit berkacak pinggang.


__ADS_1


Sebenarnya ingin memberitahu Lina melalui sikapnya, bahwa meskipun ia bukan berasal dari keluarga kaya, tapi dia bukan wanita yang mudah untuk ditangani, apalagi diatur-atur.



Saat akan masuk kembali, ia tersentak ketika melihat Hexa telah berdiri di ambang pintu, entah sejak kapan pria itu berdiri di sana, mungkin juga ia sudah mencuri dengar pembicaraannya bersama Lina, raut wajahnya tampak tak begitu bersahabat.



Percayalah, Dhira. Meski ekspresi Hexa sedatar aspal dan sedingin salju, tapi di hatinya ia sedang tersenyum, senyum penuh kepuasan karena ia mendukung setiap kata yang Dhira ucapkan pada Lina. Ia suka wanita tangguh seperti Dhira. Namun, enggan untuk mengatakannya. Lebih memilih memasang wajah datar agar tidak memengaruhi wibawanya sebagai seorang lelaki.



Haih, tolonglah, Hexa. Dhira bukannya berpikir kau itu wibawa, ia malah menganggapmu pria kutub jika terus memasang wajah masam seperti itu.



Jelas-jelas pemikiran mereka berbeda, tapi malah memaksa Dhira untuk memahami setiap keinginannya yang bahkan menurut Dhira semuanya aneh.



"Dasar wanita gila," celetuk Lina yang tak suka melihat mereka saling tatap seperti itu, ia bahkan sempat menyenggol tipis bahu Dhira, membuat wanita yang disenggol pun mencebikkan bibir kesal.



"Kau tidak ingin membalas perlakuannya barusan?" tanya Hexa yang semakin mengompori.



Dhira terus menatap punggung Lina yang berlalu pergi, sembari berkata, "Binatang liar tidak akan pernah mengerti jika diajak bicara oleh manusia, diusik juga akan semakin menggila, aku lebih suka ketenangan, aku tak suka melihat binatang buas mengamuk, sangat mengganggu."



Sorot mata yang tajam itu, baru pertama kalinya dilihat oleh Hexa.



'*Aku baru sadar bahwa dia wanita yang cukup menarik. Tidak, bahkan lebih. Ia sangat menarik*.'



Kedua sudut bibir Hexa tertarik saat Dhira tak melihatnya. Hexa menyukai perumpamaan kata Dhira yang ditujukan untuk Lina, ternyata wanita itu cerdik dalam berbahasa, bibir Hexa terus melengkung seperti bulan sabit. Tersenyum sempurna karena puas, ia memilih wanita yang tepat.



Ah, Hexa. Apa yang kau pikirkan? Wanita itu, wanita yang berada di hadapanmu ini, sudah tidur bersama adik sepupumu sendiri, kau malah ingin berada di tengah, bukankah hanya jadi pengganggu?

__ADS_1


__ADS_2