Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Saling Gosok Punggung


__ADS_3

Hexa membawa Dhira pulang ke rumah. Sementara mengenai tamu undangan di acara pernikahan mereka, ia tak peduli, lagian ada Sekertaris Jo yang akan menghendel semuanya.


"Pergilah mandi, agar bisa istirahat lebih awal."


Sorot mata Hexa tak sedingin dulu, sekarang mata itu berubah teduh menatap Dhira.


Lantas Dhira pun malah GR, berpikir mungkin Hexa pelan-pelan membuka hati, tapi itu hanya berlalu sepersekian detik, ia kembali menyadarkan dirinya bahwa ia tak pantas.


Ah, kenapa ia malah mengharapkan pria itu?


Dhira bergegas masuk ke kamar mandi tanpa mengatakan apa pun pada Hexa.


Tiba di kamar mandi, Dhira mengisi bathub dengan air sampai penuh, lalu menaburkan sabun mandi bubuk ke dalam air tersebut dan menguceknya agar timbul busa.


Usai busa melimpah di bak mandi, ia pun segera masuk dan menenggelamkan badannya yang hanya menyisakan kepala dan leher saja.


"Wah, nyaman sekali."


Dhira terlena dengan rasa hangat pada air tersebut, udara malam ini begitu sejuk, berendam air hangat benar-benar membuatnya nyaman dan memejamkan mata membayangkan hal-hal yang menyenangkan.


Namun, baru lima detik memejamkan mata, ia kembali dikejutkan oleh suara pintu yang dibuka oleh seseorang.


Hexa masuk tanpa izin, yang memang tidak dikunci oleh Dhira, ia berpikir bahwa Hexa juga tidak akan masuk, tapi nyataya?


Hexa hanya menggunakan sehelai handuk yang menutupi benda pusakanya, tapi tiba-tiba satu-satunya penghalang itu malah dilepas oleh Hexa dan tubuh pria itu benar-benar berdiri tanpa sehelai benang.


Dhira refleks menutup matanya dan sedikit memekik, ia tak menyangka Hexa akan mempertontonkan juniornya di hadapan Dhira.


Hexa masih berwajah datar, lalu sedetik kemudian, ia tersenyum tipis melihat tingkah malu-malu Dhira yang kini sudah menjadi istrinya.


Hexa masuk ke dalam bak mandi yang memang berukuran besar, ia duduk di samping Dhira dan menyandarkan punggungnya.


Hexa mengeluarkan suara merasa nyaman setelah seharian beraktivitas, tulangnya yang tadi terasa kaku, mulai melunak perlahan.


Dhira perlahan membuka mata, mendapati Hexa sudah berada di samping tubuhnya.


Pria itu sampai detik ini masih menutup mata dan menyandarkan kepala di bak mandi.


Dhira menelan salivanya melihat buah jakun di leher Hexa, leher dan wajah mulus pria itu mampu menghipnotis Dhira detik itu juga.


Saat Hexa membuka mata, Dhira segera mengerjab beberapa kali, tak ingin ketahuan bahwa ia sedang memperhatikan pria itu.


Dhira sedikit gelagapan saat Hexa menatapnya, ia melempar pandang ke arah mana pun yang bisa ia jangkau, asal jangan pada Hexa, ia terlalu gugup berhadapan dengan pria itu dengan status suami istri.


"Kau terlihat tegang, apa karena aku ada di sini?"

__ADS_1


'Pake nanya lagi, ya iyalah, habis karena apa lagi?' celetuk Dhira dalam hati.


"Ini belum seberapa, kau harus lebih membiasakan diri dengan hal-hal seperti ini." Sembari menggosok tubuhnya tanpa menatap Dhira.


"Kenapa Anda naik ke sini, Tuan? Saya belum selesai," ujar Dhira sedikit kaku.


Hexa diam saja, tapi detik berikutnya, ia bergerak maju dan duduk di tengah-tengah kaki Dhira.


Dhira terbelalak, maksudnya apa coba?


"Bantu gosok punggungku."


Lagi-lagi Dhira gelagapan, tapi tangannya tetap meraih spons yang diberi Hexa.


Sekali lagi Dhira mencoba bersikap tenang dengan menelan ludah berat, menghembuskan napas perlahan dan memulai menggosok pelan punggung putih itu.


Bagaimana mungkin seorang pria memiliki perawakan dan warna kulit yang begitu bagus? Bahkan Dhira yang seorang wanita saja merasa insecure terhadap tubuh Hexa.


Ini sebenarnya bukan pertama kalinya Dhira menggosok punggung Hexa, ia pernah memandikan pria itu, tapi entah kenapa rasanya kali ini berbeda, detak jantungnya tak henti-henti berdetak cepat, seperti mau lepas dari tempatnya.


Sekitar sepuluh menit Dhira menggosok punggung pria itu, kini Hexa mengambil alih spons di tangan Dhira, ia berpindah tempat ke samping Dhira dan tiba-tiba mengangkat tubuh wanita itu ke atas pahanya.


Dhira tersentak mendapat perlakuan seperti itu, ini Hexa mau ngapain? Pikirnya.


"T-Tuan, Anda ...."


Hexa tak ingin banyak mendengar pertanyaan dari Dhira, ia ingin melakukan apa pun yang ia mau tanpa ditanya ini dan itu.


"Diam dan patuh, itu saja yang aku mau." Lalu Hexa membalikkan wajah Dhira agar membelakanginya.


Dira kehabisan kata-kata di depan Hexa, ternyata pria itu menggosok punggungnya. Pelan, tapi pasti, dan juga sangat lembut, Dhira tak menyangka pria seperti Hexa ternyata bisa lembut juga terhadap wanita.


"Bagaimana? Apa kau suka?"


"I-iya, Tuan." Dhira menjawab begitu saja tanpa ia pikir terlebih dahulu.


"Kalau begitu setiap hari aku akan melakukannya dua kali, pagi dan malam, kita mandi sama-sama setiap hari."


Hah? Demi apa pun Dhira rasanya ingin memekik kencang bahwa ia menyesal telah mengatakan 'iya' pada Hexa, bagaimana mungkin pria ini menjadi lebih agresif? Lagian untuk apa juga mandi sama-sama? Hexa hanya akan membuatnya sesak napas.


"Tuan, saya bisa melakukannya sendiri." Dhira mencoba untuk menjauh, tapi lagi-lagi Hexa menahannya dan berkata, "Diam, jangan bergerak, atau kau akan meyentuh sesuatu yang tidak seharusnya kau sentuh sekarang."


Dhira terdiam, ia akhirnya patuh dan membelakangi Hexa dengan cepat.


Sekarang Hexa tak menggunakan sehelai benang pun di tubuhnya, jika benar itu terjadi dan ia tanpa sengaja memegang benda pusaka itu, mau taruh di mana mukanya, bahkan bersembunyi saja tidak cukup untuk menghilangkan rasa malu itu.

__ADS_1


Usai Hexa menggosok punggung Dhira, kini mereka lanjut menggosok tubuh masing-masing, mereka juga bercengkrama satu sama lain seolah seperti sepasang suami istri yang sudah lama menikah.


Tidak ada kecanggungan dan mereka malah tertawa ria ketika sesekali Dhira membuat lelucon.


"Malam ini, aku akan melakukannya."


Ucapan Hexa tiba-tiba menghentikan gelak tawa Dhira, ia menutup kembali bibir sumringahnya dan menatap Hexa bingung, ia tak mengerti akan kalimat pria itu.


"Melakukan apa, Tuan?"


"Panggil aku Hexa mulai dari sekarang."


"B-baik." Dhira gelagapan dan melempar pandangan ke arah busa di air.


"Lahirkan anakku secepat mungkin."


"Tapi ... melahirkan anak tidak semudah itu, Tuan. Eh, maksudnya, Hexa."


"Prosesnya bertahap, 'kan?" lanjutnya.


"Maka dari itu kita lakukan secepat mungkin."


Dhira semakin tak tahu harus berkata apa, ia bingung menjawabnya. Sekarang ini, ia benar-benar belum siap, tapi bagaimana harus menolaknya?


"Kenapa? Kau tampak tak suka dengan usulku?" Hexa langsung bersuara ketika tidak mendengar jawaban dari Dhira.


"B-bukan begitu, Tuan."


Duh, ia keceplosan lagi, sulit sekali rasanya mengubah panggilan yang sudah terbiasa ia ucapkan.


"Jangan bilang kau meragukan kejantananku?" Hexa menyeringai sinis.


"Tidak perlu meragukan apa pun, kau tidak akan kecewa, bahkan mungkin aku lebih unggul ketimbang lelaki lain yang pernah kau cicipi sebelumnya."


Lelaki lain? Lelaki lain apa maksudnya?


Jujur Dhira sedikit tersinggung dengan kalimat Hexa, jangan mentang-mentang ia dipilih Hexa di rumah bordir, lantas Hexa dengan gampangnya mengatakan bahwa ia pernah bermain gila dengan pria mana pun.


Dhira seketika tampak lesu, ia malah tidak lagi berselera untuk menatap wajah pria yang sudah menjadi suaminya itu.


Ia ingin menolak bukan karena meragukan Hexa, tapi ia tak memiliki pengalaman apa pun tentang hubungan intim seperti itu, tapi Hexa malah berpikir bahwa ia pernah bermain dengan beberapa lelaki.


Sakit juga rasanya mendengar Hexa mengira bahwa ia tak suci lagi.


Dhira tersenyum getir, tatapannya nanar, dadanya sesak sekali saat ini.

__ADS_1


"Terserah bagaimana mau Anda, Tuan. Saya hanya perlu diam dan patuh. Iya, 'kan?"


Hexa tiba-tiba mengernyit melihat sebuah kegetiran di senyuman Dhira, kenapa lagi wanita ini pikirnya.


__ADS_2