
"Dhira tak menyukai Hexa, dia hanya dipaksa untuk berpura-pura di hadapan kita," jawab Lina memecah keheningan.
Lagi-lagi semuanya menoleh pada wanita itu.
"Aku ingin memberitahu satu hal yang bisa membuktikan kalau dia memang tidak pernah menyukai Hexa apalagi tinggal dengannya." Lina mengarahkan pandangannya begitu lekat pada Hexa, masih ada harapan untuk melihat Hexa menyerah dan menerima dirinya sebagai calon pengantin wanita di keluarga Prinanda.
Semuanya masih menyimak tanpa kata, memberi waktu pada Lina untuk mengatakan apa yang diketahuinya.
"Dhira pernah meminta bantuanku untuk lari dari Hexa, ia ingin bebas, aku dengan baik hati menolongnya, memesankan tiket serta pasport atas nama aku sendiri agar ia bisa pergi dari negara ini tanpa ketahuan oleh Hexa, agar Hexa tidak dapat mencari riwayat penerbangan Dhira lagi, tapi sepertinya Dhira sedikit terlambat, dan Hexa menemukannya kembali. Hingga terjadilah seperti sekarang ini, Dhira masih bersamanya karena ancaman, benar begitu, Hexa?"
"Oh, salah. Seharusnya aku bertanya pada Dhira. Benar begitu, Dhira?" t
Tatapan matanya berpindah ke Dhira. Dengan sengaja ingin mericuhkan suasana yang pada dasarnya sudah canggung, tapi malah dibuat makin keruh oleh Lina.
Dhira menyadari Hexa mengepalkan tangannya, ia juga diam-diam memperhatikan setiap inci ekspresi wajah pria itu.
Dhira tak dapat menemukan jawaban dari wajah datar Hexa, tapi ia tahu melalaui kepalan tangannya, bahwa Hexa saat ini kesal dan marah terhadap Lina yabg terlalu banyak bicara. Sok paling tahu apa yang sedang terjadi di antaranya dan Hexa.
"Hexa, jawab kakek dengan jujur. Apa benar bahwa kau mengancam anak itu untuk ikut berbohong, berpura-pura menjadi pasangan padahal kau hanya ingin menolak perjodohan ini?" Kakek kembali angkat bicara.
Tak sempat menunggu Hexa menjawab, Dhira dengan tenang mengangkat tangannya setinggi bahu. "Apa saya boleh bicara?" ujarnya dengan nada yang sopan.
"Semua yang dikatakan oleh Nona Lina, itu semua bohong."
"Aku tidak pernah meminta bantuan padanya untuk kabur dari Hexa, justru dialah yang mencoba untuk menyingkirkan serta mengancamku untuk menjauhi Hexa. Tujuannya hanya satu, cuma ingin menjadi nyonya di keluarga Prinanda dan memperkuat bisnis ayahnya, setelah semua ia dapatkan, maka dia akan pergi meninggalkan Hexa." Sambil mengucapkan bait demi bait kalimat itu, Dhira juga sempat menatap Hexa dan tersenyum, pria itu tidak menyangka Dhira akan berani berkata seperti itu.
__ADS_1
"Bohong!" protes Lina begitu lantang.
"Buktikan jika itu memang benar, kau hanya bisa mengarang cerita. Lihatlah betapa mahirnya ia berbohong hingga Hexa pun memilihnya untuk berpura-pura di depan kita semua," sergah Lina sambil menunjuk ke arah Dhira dengan marah.
Dhira terkekeh sinis pada Lina. "Sebenarnya aku kasihan padamu, Nona. Sikapmu benar-benar tidak mencerminkan seseorang yang berasal dari keluarga terhormat, seperti yang tadi Hexa katakan, wanita terhormat tidak akan merelakan harga dirinya hanya untuk mengejar seorang pria, kecuali jika memang kamu sudah tidak memiliki harga diri," ujar Dhira dengan memberikan sedikit sensasi menyebalkan di raut wajahnya agar Lina semakin terbakar.
Itu terbukti, Lina benar-benar menyimpan amarah di hatinya yang semakin membuncah hebat, ingin rasanya ia mencabik-cabik lidah Dhira yang terlalu berani menghinanya.
"Jangan banyak omong, kau tidak punya bukti, 'kan? Di mana buku nikah kalian, keluarkan sini, biar semuanya melihat dengan jelas bahwa kalian benar sudah menikah atau belum," tantang Lina, sebisa mungkin menahan emosi agar imagenya sebagai wanita anggun tetap terjaga.
Aih, wanita anggun? Tapi kenapa malah memaksa seorang pria untuk menikahinya? Ah, maklum sajalah, otaknya memang sedikit geser.
"Sayangnya kami datang tidak dengan membawa buku nikah. Nona Lina mau bukti yang semacam apa selain buku nikah? Apa perlu aku dan Hexa bercium*n di hadapan kalian semua?" Dhira menatap Hexa sembari tersenyum, ia juga meraih tangan pria itu dan bergenggaman tangan satu sama lain.
Kini giliran Hexa yang tidak dapat menebak isi pikiran Dhira, setiap jengkal kalimat yang diucapkan, sama sekali tidak terlintas di pikirannya.
"Ck, sepertinya itu kurang sopan, Kakek juga mungkin tidak setuju, 'kan?" lanjutnya lagi sambil tersenyum tipis, matanya terus mengedar, menatap mereka semua dan terhenti pada wajah Lina yang kini semakin terbakar, tersengat, dan tertampar.
"Sudah cukup, Dhira. Jangan berpura-pura lagi, seberapa banyak Kak Hexa membayarmu? Aku bisa memberikan dua kali lipat, asal kamu jangan berbohong lagi." Kini Derta mulai tak sabaran.
Dhira mengepalkan tangannya kesal dengan ucapan Derta, Hexa yang menyadari, langsung merengkuh pinggang Dhira tanpa aba-aba. Kini jarak mereka semakin dekat.
Hexa mendaratkan sebuah sentuhan ke bibir Dhira, sentuhan lembut, hangat, dan tipis. Itu berlangsung cukup cepat, hanya beberapa detik saja, di hadapan mereka semua yang dari tadi selalu minta pembuktian untuk hubungan mereka.
Dalam detik itu juga Dhira kaget bukan kepalang, matanya membulat sempurna manatap Hexa yang tiba-tiba saja menciumnya tanpa memberitahunya terlebih dahulu, setidaknya bertanya apakah ia setuju atau tidak dengan aksinya barusan.
__ADS_1
'Mampuslah, bagaimana ini? Dia merenggut keperawanan bibirku. Selama ini aku menjaganya dengan baik, malah diambil olehnya.' Usai Ciuman secepat kilat itu, Dhira tak berani membuka matanya, ia berubah menciut setelah kejadian barusan.
"Puas kalian berdua? Apa masih kurang? Mau melihatnya lagi?" ucap Hexa yang tampak puas melihat Derta dan Lina terdiam detik itu juga.
"Sudah cukup! Apa-apaan kau ini, Hexa? Tidak menghargai kakek lagi?" sela pamannya. Tak ingin kejadian tadi berkelanjutan, apalagi anaknya, Derta masih lajang.
Ayolah, paman, Derta bukan anak polos lagi, mungkin tanpa sepengetahuanmu, Derta sudah sering melihat adegan semacam itu, atau bisa jadi ia juga sudah pernah mempraktekkannya sendiri.
Sementara Dhira yang tadinya begitu berani dan banyak bicara, sekarang sudah tidak mengatakan apa pun, ia seperti kerupuk yang disiram air, melempem.
Setelah kejadian ini, bukankah hubungannya dan Hexa akan semakin canggung?
Tadi saat menggenggam tangan Hexa saja, hatinya jedag-jedug tak karuan, apalagi sampai bersentuhan bibir, seluruh organ di dalam tubuhnya pun seolah ikut berdisko ria.
'Tidak benar, ini sudah salah, kenapa napasku memburu begitu cepat, apa lagi ini? Jangan bilang aku menyukainya. Haduh, Dhira, sadar dirilah kamu, jangan sampai berharap begitu banyak, kau akan terjatuh lebih dalam lagi,' batinnya ikut berteriak, kini ia terus menunduk, tidak berani memperlihatkan wajahnya.
"Dhira, angkat kepalamu," titah Hexa, yang baru menyadari ternyata Dhira sudah seperti siput yang ketakutan.
Ikutin terus cerita Dhira dan Tuan Hexa, ya, Guys.
Oh, ya. Para penggemar dapet salam juga nih dari Lina dan Derta.
__ADS_1
Authornya mau kabur dulu. Wkwk.