
Bu Sari langsung memberi pembelaan untuk dirinya, tidak ingin dituduh merampas. Sekaligus mengakui bahwa ia adalah ibu kandung Dhira, tapi sayangnya sudah terlambat.
Sekertaris Jo bahkan menyeringai mendengar kalimatnya, kenapa bisa ada orang yang bisa membuatnya jengkel setengah mati.
"Bu Sari."
Tiba-tiba Hexa memanggil.
"I-iya, Tuan." Tubuhnya langsung gemetar.
Pria itu, meski hanya duduk diam di tempatnya, tapi malah terlihat begitu menakutkan.
"Kemari." Hexa memberi perintahnya tanpa menoleh sedikit pun.
Bu Sari langsung berdiri, dengan cepat menghampiri, bersimpuh di hadapan Hexa.
Hexa menatapnya cukup lama, tidak ada ekspresi apa pun dari raut wajahnya, lalu detik berikutnya ia meraih sebuah map coklat di atas meja yang memang sudah disiapkan oleh Sekertaris Jo.
Map tersebut ia lempar dengan keras hingga membentur wajah Bu Sari.
Tentu saja Bu Sari terkejut bukan kepalang, ia memungut map tersebut yang jatuh ke lantai.
"Apa ini, Tuan?" tanyanya dengan nada suara yang sedikit kaku.
"Tanda tangani surat itu." Hexa berkata dengan santai.
"Ini berkas apa, Tuan?" Ia masih juga bertanya, semakin membuat Sekertaris Jo jengkel.
"Jangan banyak bertanya! Anda bisa baca sendiri. Jangan bilang bahwa Anda bahkan buta huruf." Kini Sekertaris Jo yang menjawab dengan lantang.
"Baik, Tuan." Bu Sari pun tertunduk takut.
Ia baca setiap bait tulisan hitam di atas putih tersebut.
Pemutusan hubungan antara ibu dan anak.
Pihak Kesatu (I) selaku Dhira.
Pihak kedua (II) selaku Bu Sari.
Kedua belah pihak secara sah telah memutuskan tali yang menyatukan antara ibu dan anak, tidak ada sangkut paut apa pun lagi ke depannya. Baik secara fisik, maupun material.
"Tuan, ini apa maksudnya?" Bu Sari tampak tak terima.
"Semua sudah jelas di dalam berkas itu, setelah menanda tanganinya, urusan antara Anda dan Nona Dhira sudah selesai."
Bu Sari segera menggeleng dengan cepat dan menatap Hexa dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Tuan, Anda tidak hisa seperti ini, Dhira putri saya, darah daging saya, meskipun Anda telah menikahinya, juga tidak berhak memutus hubungan kami berdua."
"Selamanya seorang anak tidak akan pernah bisa membalas setetes darah seorang ibu yang keluar saat melahirkannya." Ia berkata dengan penuh emosional.
Posisi Hexa yang semulanya bersender, kini bangkit dengan siku yang bertumpu di kedua lututnya, menatap penuh geram pada Bu Sari.
"Pertanyaan saya, apa Anda pernah menginginkan kelahirannya ke dunia ini?"
Seketika Bu Sari terdiam. Dari awal memang ia tidak pernah berharap Dhira akan lahir ke dunia ini.
"Ck." Hexa berdecak sinis, lalu ia bangkit dan menghampiri kedua wanita yang dari tadi berdiam diri.
"Bagaimana rasanya jika perusahaan suami kalian bangkrut dalam semalam?" Hexa bertanya dengan senyum yang merendahkan.
Mereka berdua akhirnya saling tatap, tentunya dengan sejuta ekspresi yang tak bisa digambarkan.
Langsung berlutut di hadapan Hexa memohon ampun.
"Tuan, tolong jangan lakukan itu! Kami tidak bersalah, tolong lepaskan kami."
"Iya, Tuan, tolong kasihani kami."
Hexa segera menjauh, sekarang melangkah menuju ke arah Bu Rosi.
"Tidak masalah jika Anda tak ingin menanda tanganinya, tapi satu peringatan saya yang merupakan peringatan terakhir, jika sampai Anda berani mengganggunya lagi, maka bersiaplah menantikan akibatnya, saya tidak pernah main-main, paham?!" Hexa berkata dengan tegas.
Ia benar-benar tidak akan pernah sungkan untuk melenyapkan seseorang yang berani mengganggu ketenangan wanita yang tinggal bersamanya.
Usai mengatakan hal itu, Hexa pun keluar dari kamar tersebut dan diikuti oleh Sekertaris Jo.
Setelah memberi peringatan terakhir pada mereka bertiga, kini Hexa kembali mendatangi rumah bordir di mana dulu ia memilih Dhira.
Siapa pun yang pernah menyakiti Dhira, satu persatu harus mendapat ganjaran darinya.
Semua wanita di sana yang pernah memukul, menendang, menghina, serta membully Dhira, ia beri pelajaran dengan membuat mereka keluar dari naungan madam, membiarkan mereka mencari pelanggan sendiri yang tentunya pendapatan mereka tidak akan sama saat ketika bersama madam.
Itu akibat yang harus mereka terima karena berani membuat Dhira babak belur hingga demam dan tak sadarkan diri.
Urusan Hexa sama mereka berakhir hingga malam hari, sekarang ia pun pulang usai memastikan tidak akan ada lagi yang berani mengganggu wanitanya.
Mobil baru tiba di depan gerbang, tapi Dhira sudah menunggu di depan teras untuk menyambut kepulangan pria itu.
Tak lupa, juga ada Pak wang yang setia menemani Dhira untuk menjemput majikannya.
"Selamat datang, Tuan," sapa mereka serentak ketika Hexa keluar dari mobil. Bahkan secara bersamaan membungkukkan badan.
Hexa mengerutkan dahinya melihat pemandangan di depan mata.
__ADS_1
Kenapa lagi wanita itu, pikirnya.
Hexa memilih untuk mengabaikan sikap Dhira yang tak biasanya, yang selalu terus tersenyum padanya.
"Tuan, sini kakinya, biar saya lepas sepatu Anda." Dhira menarik kaki Hexa sebelum Hexa memberikannya.
Usai melepas sepatu serta kaus kaki, Dhira memasukkan kedua belah kaki Hexa di dalam mangkok besar yang berisi air hangat dan memijatnya perlahan.
"Bagaimana, Tuan. Enak bukan?" kata Dhira sembari tersenyum cerah.
'Apa otaknya bergeser?' pikir Hexa. Ia menoleh pada Sekertaris Jo, pun sama saja, pria itu tampaknya sedang menertawakannya.
'Pasti ada sesuatu di antara mereka.' Hexa menatap Dhira dan Sekertaris Jo bergantian, tatapan penuh selidik.
Selagi merendam kaki Hexa, Dhira cepat-cepat mengelap tangan di bajunya, hingga baju yang ia pakai jadi sedikit basah
"Mau dipijat bagian mana, Tuan?"
"Kau tampak bersemangat hari ini," ujar Hexa.
"Bukankah saya selalu seperti ini, Tuan?" Dhira tersenyum pada Sekertaris Jo.
Ya, mereka berdua memang ada apa-apanya.
Kejadian di luar tadi, Sekertaris Jo memberitahukannya pada Dhira, meminta pada Dhira agar memberikan perhatian lebih pada Hexa karena pria itu sudah sangat lelah membereskan orang-orang yang pernah mengacau di hidup Dhira, jadi sebagai bentuk rasa terimakasih, Dhira harus lebih semangat melayani pria itu tanpa harus diminta sekali pun.
Dhira juga cukup lega setelah tahu kartu yang dirampas ibunya sudah kembali ke tangan Hexa. Itu artinya, hutangnya tidak akan begitu banyak seperti sebelum kartu itu kembali.
"Tidak usah, aku mau mandi."
Baru saja ingin bangkit, Dhira seketika menahannya agar tetap bersandar di sofa, sementara wanita itu bergegas berlari kecil menuju ke arah kaki Hexa, kaki itu ia angkat dengan perlahan seperti sebuah benda berharga, mengelapnya dengan handuk bersih lalu memakaikan sendal rumah.
"Tuan tunggu sebentar, saya akan menyiapkan air mandi untuk Anda."
"Sudah, tidak perlu. Aku bisa sendiri."
Melihat keantusiasan Dhira melayaninya, ia malah tak ada niat untuk dilayani, selama ini ia meminta ini itu pada Dhira sebab ia senang melihat wajah jengkel Dhira, tapi sekarang wanita itu malah begitu bersemangat, tentu saja ia tak akan masuk perangkap.
Ya, ia berpikir Dhira sedang menyiapkan perangkap untuknya dengan bersikap manis yang tak seperti biasanya ia lakukan.
"Kau jangan mengikuti!" Hexa menunjuk Dhira agar tetap di tempatnya, jangan mengikuti walau selangkah saja.
"Baik, Tuan." Dhira mengangguk patuh dan Hexa pun bergegas masuk ke kamarnya tanpa didampingi oleh Dhira.
Kamarnya dengan cepat ia kunci lalu bersandar di daun pintu sambil memegangi dadanya.
"Ada apa ini?"
__ADS_1
Jantungnya berdetak sangat cepat, ia pun tak tahu apa penyebabnya, bahkan berpikir apakah ia mengalami gangguan penyakit jantung? Detakannya sangat tidak normal setelah Dhira memperlakukannya begitu berbeda dari biasanya.
Namun, itu hanya perlakuan sederhana saja, kenapa jantungnya merespon sedahsyat itu?