Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Tidur Sekamar


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu yang samar-samar, membuat Dhira setengah tersadar, saat ia mencoba untuk kembali tidur, ketukan pun terdengar semakin jelas dan tak berhenti, beberapa kali juga terdengar suara seseorang.


Dhira menatap ke arah pintu, menajamkan pendengaran, apa benar ada orang di luar kamarnya.


Dhira menatap jam di ponsel, sudah pukul 01:00 dini hari.


'Apakah dia lagi?' batin Dhira. Dengan malas ia mengibas selimutnya dan melangkah pelan untuk membuka pintu.


"Tuan? Ada apa?" tanya Dhira setelah tahu tebakannya benar, memang sudah diduga, memangnya siapa lagi yang begitu kurang kerjaan membangunkannya tengah malam begitu.


Entah kenapa mengganggu tidurnya menjadi kebiasaan pria itu.


Tanpa menjawab apa pun, Hexa langsung masuk dan berbaring di kasur Dhira. "Tuan, Anda kenapa pindah ke sini?" tanya Dhira heran. Kesambet apalagi si Hexa, apa yang dipikirkannya begitu sulit untuk ditebak.


"Aku tidak bisa tidur, sepertinya di sini akan lebih nyaman," jawab Hexa tanpa memikirkan perasaan Dhira yang tak ingin tidur seranjang dengannya.


Dengan kesal Dhira menggaruk kepalanya. "Sudahlah, kalau begitu saya pinjam kamar Anda malam ini, boleh tidak?" izinnya.


"Pakailah kalau kamu bisa." Jawaban Hexa sedikit ambigu, Dhira tak mengerti, tapi ia tetap keluar ingin menggunakan kamar Hexa, ia tidak mungkin tidur satu kamar dengan pria itu.


Namun, saat di depan pintu Dhira malah tak bisa membukanya karena dikunci, hal itu membuatnya kembali lagi ke kamar menghampiri Hexa. "Kamarnya dikunci, Tuan."


"Terkunci otomatis saat aku keluar tadi."


"Kata sandinya apa?" tanya Dhira lagi.


"Tidak tahu, lupa."


"Hah?" Dhira membuka matanya lebar-lebar, azab dari mana lagi datangnya ini, hukuman tak ada henti-hentinya berdatangan dengan caranya yang berbeda.


Dengan menghela napas sepanjang mungkin dan beberapa kali, akhirnya mau tak mau Dhira memutuskan tidur di ranjang yang sama berdua dengan Hexa, dengan posisi yang membelakangi pria itu.


Hexa diam-diam menatap punggung Dhira dan tersenyum tipis, hal itu terjadi begitu saja, ia tanpa sadar tersenyum setelah begitu lama ia tak pernah melakukannya.


Malam itu pertama kalinya bagi Hexa merasakan tidur yang begitu nyaman dan nyenyak sepanjang hidupnya.


Mentari menampakkan diri dengan berani, sinarnya menyeruak masuk melalui jendela yang sudah terbuka lebar, hingga cahaya yang masuk itu menimpa wajah yang nyaris sempurna itu. Rahang yang tegas, hidung yang menjulang tinggi, serta bibir yang begitu seksi dan menggoda.


Dhira yang baru saja habis mandi, menatap wajah sempurna itu, tanpa ia sadari, ia menelan salivanya dan teringat kembali kejadian semalam di kamar mandi, tiba-tiba wajahnya memerah semerah tomat, telinganya pun terasa panas membara.


Cepat-cepat ia menyisir rambutnya dan keluar dari kamar itu. Tidak bisa, ia tidak bisa terlalu lama di kamar, wajah Hexa yang sedang tertidur benar-benar berhasil menghipnotis jiwanya. Untung kesadarannya bisa cepat kembali hingga tak berbuat konyol hanya karena godaan sesaat.


'Benar-benar berbahaya. Dhira, please. Kendalikan dirimu, jangan sampai jatuh cinta padanya, dia itu ular yang berbisa, jika kau mendatanginya, dia akan membelitmu sampai mati.' Dhira memperagakan tangannya seolah sedang mencekik seekor ular dan terus menggelengkan kepala saat keluar dari kamar, tidak bisa membayangkan jika ia terjerat cinta oleh pria itu, ia akan mendapatkan rasa sakit yang paling menyakitkan jika mempercayakan hatinya pada Hexa.


"Dhira, ayolah. Masih banyak pria baik di luar sana, kau bisa memilih satu di antara mereka." Dhira tampak berpikir sejenak. "Tapi masalahnya, mereka apa ada yang mau?" Haih, memikirkannya membuat Dhira pusing sendiri.

__ADS_1


Sekarang bukan waktunya memikirkan soal pria, yang lebih penting sekarang, bagaimana caranya agar ia bisa bebas dari jeratan Hexa dan pergi sejauh mungkin.


'Lina apa kabarnya dia? Bukankah dia bilang mau membantuku pergi dari pria itu? Sudah beberapa hari berlalu semenjak kesepakatan, dia tidak ada kabar sama sekali,' batin Dhira yang sambil berpikir bagaimana caranya agar bisa menghubungi Lina.


Usai mandi dan bersiap, Hexa turun ke bawah untuk sarapan, saat melihat keduanya ada di meja makan sambil tertawa dan bercanda, wajah Hexa berubah muram, ia tak suka melihat Dhira begitu bersemangat pada pria lain.



"Siapa yang mengizinkan kalian makan terlebih dahulu?" sindir Hexa dengan wajah masam.



"Apa sih, Kak Hexa? Kami bukan orang lain juga, apa salahnya, coba?" protes Derta, tak habis pikir perkara makan duluan pun jadi permasalahan.



"Tidak ada lain kali. Kedepannya, tak ada yang boleh makan jika aku belum turun, tak peduli kalian mau lapar atau tidak, selama aku tidak ada, kalian tidak boleh makan," tegas Hexa memberi peringatan.



"Berlebihan sekali," celetuk Derta.



"Tidak suka?" serang Hexa dengan nada ketus.




"Dan untuk kau." Hexa menunjuk Dhira.



"Kau tidak kuberi izin tersenyum dalam keadaan apa pun selama aku tidak ada, baik di rumah ini maupun di luar, kau tidak boleh tersenyum pada siapa pun, paham?" peringatan yang begitu tegas, tapi tak masuk akal.



Mendengar hal itu, Dhira dan Derta saling menatap tanpa kata. Peraturan macam apa yang ditetapkan Hexa ini? Sembarangan sekali.



"Kak, coba katakan bagaimana Dhira bisa melakukannya? Itu sangat sulit," tanya Derta yang benar-benar kehabisan kata lagi dengan berbagai peraturan Hexa yang sudah berada di luar nalar.



"Apanya yang sulit? Aku bahkan bisa melakukannya dengan mudah," jawab Hexa dengan wajah santai dan tenang, sambil menyuap sandwich ke mulutnya.

__ADS_1



"Ck," Derta terkekeh.



"Bagaimana mungkin kau bisa menyamakan antara dirimu dan juga Dhira? kalian itu jelas berbeda, kau itu bukan manusia, Kak. Kau lebih mirip seperti robot, kaku dan tak punya hati."



Hexa seketika menatap netra Derta dengan tajam dan dalam. Bagaimana ia tidak akan merespon ketika disebut sebagai robot oleh adik sepupunya sendiri.



Dhira yang mulai panik dan takut Hexa marah, ia segera menendang kaki Derta diam-diam, Derta pun menatapnya tanpa kata, lalu tersadar bahwa ia telah melakukan kesalahan fatal.



Lalu Hexa tersenyum miring pada Derta. Ketahuilah, senyum itu benar-benar mengerikan, seperti psikopat yang menemukan mangsanya.



Derta tak berharap masih bisa hidup sekarang, ia lebih memilih mendengar Hexa marah-marah ketimbang tersenyum tanpa kata seperti itu, seluruh tubuh Derta gemetar tanpa kendali.



"Kau benar-benar anak yang cerdas, kapan kau angkat kaki dari rumahku?"



Jleb!



Ucapan Hexa begitu tajam menusuk hati Derta, selama ini kakak sepupunya itu tidak pernah mengusirnya, ia bisa tinggal berapa lama pun di rumah itu tanpa masalah, sekarang kesalahan fatal ini tidak bisa ditoleransi dan tidak ada yang bisa menolongnya lagi.



"Ampun, Kak," mohon Derta ketakutan.



"Angkat kakimu sekarang juga, atau aku minta orang tuamu jemput ke sini," ancam Hexa.



Derta semakin merasa kepalanya gatal tak karuan, wajahnya suram, sesuram masa depannya.

__ADS_1



Tau ah, udah tau si Tuan Hexa lagi sensitif, malah dipancing-pancing. Huft.


__ADS_2