
Dalam perjalanan, Dhira hanya dilanda kebisuan, sambil terus memerhatikan suasana di luar mobil, dengan pikiran yang berkelana entah ke mana.
Alangkah baiknya jika hidupnya sebebas dulu, bisa melakukan banyak hal tanpa harus diatur-atur oleh pihak lain.
Dulu? Ck, bahkan itu sudah sangat lama, semenjak ditinggal mati oleh sang nenek dan bertemu dengan ibunya, di sanalah kebebasan itu tak pernah lagi dirasakan olehnya.
Dhira tiba-tiba teringat kembali kenangannya bersama sang nenek, orang yang selalu penuh dengan kasih sayang, melindunginya, serta tempat ia bermanja dan berbagi keluh kesah. Namun, semua itu hanya tetap menjadi kenangan yang tak akan pernah terulang.
Manja? Apa itu manja? Ia bahkan sekarang lupa bagaimana caranya bermanja pada seseorang. Pikirannya tidak lagi soal bermanja seperti saat kecil, sekarang ia harus setegar karang agar tetap menikmati hidup apa adanya.
"Pak, berhenti, Pak," pinta Dhira, matanya tertuju pada bangunan besar, sebuah mall yang ramai diminati akhir-akhir ini.
Dulu sampai sekarang, ia tak pernah merasakan yang namanya menginjakkan kaki ke sebuah mall, apalagi mall besar yang diperuntukkan untuk orang-orang berduit.
Sekarang ia mulai tertarik, selagi ia punya waktu, bolehlah ia masuk untuk melihat-lihat isi di dalamnya, ingin merasakan seperti apa rasanya saat masuk ke sebuah mall, salah satu tempat yang tak pernah ia kunjungi itu.
"Mau masuk mall, Nona?" tanya Sopir yang kini sudah menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Apa boleh, Pak?" Dhira malah balik bertanya, membuat Pak Sopir keheranan. Dhira adalah majikannya, kenapa malah bertanya pada bawahan apakah boleh atau tidak. Bukankah aturannya adalah jika sang majikan berkata iya, maka bawahan tidak berhak untuk mengatakan tidak. Lah ini, Dhira malah minta izin padanya. Harus jawab apa?
"Saya hanya bertugas mengantar Anda ke mana pun yang Anda mau, Nona. Itu terserah Anda mau masuk mall atau tidak, saya tidak berhak atas keinginan Anda," jawab Pak Sopir dengan sopan.
"Ya sudah, saya mau ke sana untuk melihat-lihat sebentar."
"Baik, Nona." Pak Sopir pun segera menghidupkan kembali mesin mobil dan membawanya masuk ke tempat parkir di mall itu.
"Silahkan, Nona." Setelah membukakan pintu mobil untuk Dhira, Pak Sopir membungkukkan badan tanda hormat. Dhira merasa tak enak dilihat orang-orang yang berjalan melewati mobil mereka.
Siapa dia? Begitulah tafsiran Dhira saat ia melihat raut wajah orang-orang yang menatapnya.
__ADS_1
"Bapak tunggu di sini, ya. Saya tidak akan lama," ujar Dhira. Memang ia tak berniat untuk berlama-lama, lagian tidak ada yang akan ia beli, hanya untuk lihat-lihat saja.
Sesaat sebelumnya.
"Apa ada kabar lagi?" Hexa menghentikan pekerjaannya sejenak, sambil memainkan pulpen di tangan, matanya masih menatap layar komputer.
"Ada, Tuan. Sopir yang mengantar Nona Dhira mengatakan bahwa Nona Dhira ingin masuk mall yang baru-baru ini sedang ramai diminati," jawab Sekertaris Jo dengan lugas.
Hexa mengalihkan pandangannya dan menatap Sekertaris Jo. "Perintahkan beberapa orang di mall itu untuk menyambutnya saat masuk, pastikan ia tetap aman dan nyaman di setiap saat, akan kubuat mall itu bangkrut jika sampai ada yang berani memprovokasinya, katakan itu pada direkturnya langsung." Sorot mata elangnya yang selalu tak pernah gagal membuat orang terintimidasi, ditambah dengan setiap perkataannya yang penuh dengan peringatan yang tegas, membuat semua orang yakin bahwa pria ini tak pernah main-main dengan ucapannya.
"Baik, Tuan." Sekertaris Jo menunduk patuh dan segera melaksanakan apa yang diinginkan oleh bosnya.
Di sisi lain, bagian Dhira.
"Selamat datang di pusat perbelanjaan kami, Nona." Kata sambutan itu terucap serentak dari bibir orang-orang yang berbaris rapi di depan mata Dhira. Mereka membungkuk hormat saat Dhira berdiri di pintu masuk utama.
Dhira terdiam seperti patung yang kemasukan makhluk halus.
'Memang layak diminati banyak orang, pelayanan saat masuk saja sudah seperti ini,' batinnya terus berkata-kata sepanjang ia berjalan masuk. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan melihat mereka yang masih belum mengangkat kepala saat ia sudah melewati mereka semua.
Dari kejauhan tampak seorang laki-laki berjas berlari menghampirinya.
"Selamat datang di pusat perbelanjaan kami, Nona. Saya manager di mall ini, jika butuh bantuan, bisa langsung katakan, kami siap melengkapi kebutuhan Anda kapan saja selama berada di sini," ujar sang manager dengan sopan dan tunduk.
Dhira menggaruk pelipisnya bingung.
"Tidak-tidak, tidak perlu, saya tidak membutuhkan bantuan apa pun," tolaknya dengan cepat, akan memalukan jika ketahuan oleh mereka bahwa ia tak membeli satu apa pun di mall itu.
"Kalau begitu biarkan saya mengutus salah satu karyawan untuk menemani Anda ke dalam," tawarnya lagi dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Terimakasih sekali lagi, Tuan, tapi sungguh tidak perlu. Saya tidak terbiasa ditemani siapa pun." Dhira terus menggeleng dan menolak.
"Baiklah kalau begitu, Nona. Jika nanti Anda butuh bantuan, langsung hubungi saya saja, ini kartu nama saya, jika ada yang macam-macam, Anda telepon ke nomor ini secepatnya." Beliau, sang manager itu memberikan sebuah kartu nama dan Dhira menerimanya dengan sungkan. Lagian ia bisa apa dengan kartu nama itu, sementara Hexa saja tak membiarkannya menelepon siapa pun menggunakan ponsel yang diberikan padanya.
"Baik, Tuan. Terimaksih. Saya pergi dulu." Dhira terus berterimakasih, pria itu sudah bekerja keras membujuknya, tapi ia hanya bisa menolak dan menolak.
"Duh, merepotkan sekali. Apa semua pelanggannya ia perlakukan seperti itu?" gumam Dhira sambil kembali menoleh ke belakang melihat sang manager itu, dan ia malah mendapat senyuman sopan lagi darinya, ia pun reflek menunduk dan balas tersenyum. Cepat-cepat berjalan hingga setengah berlari, benar-benar seperti diteror.
"Apa orang-orang kaya itu juga menerima tawaran seperti itu? Bukankah berarti mereka tidak akan memiliki privasi jika menerimanya?" Semakin lama berpikir, semakin membuatnya pusing. Sudahlah, lagian untuk apa memusingkan diri sendiri untuk memikirkan kehidupan orang lain.
'Seperti yang itu tuh, si tuan muda manja, ke mana-mana selalu diikuti oleh sekertarisnya,' cibir Dhira dalam hati dengan bibir yang terus condong ke depan meledek Hexa.
"Dhira!"
Menit berikutnya setelah menyusuri beberapa tempat, tiba-tiba terdengar seseorang memanggilnya. Dhira pun menoleh ke arah sumber suara.
Dahinya mengerut dalam, begitu jelas siapa orang yang berjalan mendekatinya. Raut wajah Dhira berubah, tak suka dengan kehadiran orang itu. Jika bisa, ia tak ingin bertemu orang itu lagi.
"Kenapa? Mau pura-pura tak kenal?" ujarnya pada Dhira dengan nada yang sinis.
__ADS_1
"Mau apa lagi?" Dhira tak ingin berlama-lama, bertemu dengan wanita itu hanya akan mengingatkannya dengan semua kejadian buruk, tidak ada kenangan yang baik tentang wanita itu, semuanya hal buruk yang tak ingin ia kenang lagi.