Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Mengerjai Hexa


__ADS_3

"Jo, semua jadwalku besok batalkan saja."


Mendengar Hexa bicara, Sekertaris Jo menoleh menatap bosnya itu.


"Besok dan beberapa hari kedepan, aku mungkin tidak masuk kantor, kamu bisa menghendel perusahaan tanpaku, 'kan?"


Sekertaris Jo berpikir sejenak.


"Maaf kalau saya lancang, Tuan. Namun, kalau boleh tahu, Anda mau ke mana?"


"Kau tidak perlu tahu."


Jawaban singkat dari Hexa sudah cukup menjelaskan bahwa ia memang tidak boleh lancang menanyakan urusan pribadi majikannya.


"Maaf, Tuan."


"Saya berjanji akan menjalankan amanat Anda dengan baik. Terimakasih sudah memberi saya kepercayaan."


Hexa tidak lagi menjawabnya, fokus pada layar komputer serta berkas-berkas di tangannya. Pun sebaliknya dengan Sekertaris Jo.


***


"Hm ... Kasih kado apa, ya?"


Kali ini Dhira sudah berada di sebuah pusat perbelanjaan, menatap ke sekeliling dengan bingung.


Uangnya cuma sedikit, itu pun uang yang diberikan oleh Hexa saat berhasil minum dua gelas susu waktu itu, Hexa mungkin tidak akan menyukai barang-barang murah yang tak bermerk.


Puas berkeliling, Dhira akhirnya merasa lelah, tapi tidak ada satu pun yang ia beli.


Bukan karena merasa tak cocok dengan barang-barangnya, tapi uangnya yang terlalu sedikit.


Akhirnya Dhira keluar dari pusat perbelanjaan dengan wajah masam dan kecewa, tadi ia terlalu bersemangat, tapi setelah melihat harga barang-barang di mall, ia mengurungkan niatnya dan keluar dari sana dengan tangan kosong.

__ADS_1


"Ah, sudahlah. Lagian apa pun yang akan kubelikan, dia juga tidak akan memakainya. Ya sudah, cari yang murah-murah saja."


***


Pukul 22:00 Hexa selesai dengan pekerjaannya, bersiap untuk pulang.


"Tuan muda, langsung pulang atau mau ke suatu tempat dulu?" tanya Sekertaris Jo.


Hexa mengerutkan alis. "Memangnya aku harus ke mana selain pulang?"


"Ya siapa tahu Anda ingin membelikan Nona Dhira sebuah kado sebelum pulang ke rumah. Kan hari ini ulang tahunnya Nona Dhira juga." Sambil menampilkan senyumnya yang jenaka.


Kerutan dahi Hexa semakin dalam. "Ulang tahunnya? Dia berulang tahun?"


"Iya, Tuan. Sama seperti Anda. Tanggal lahir Anda dan nona sama."


"Ck, jika kau tak memberitahu, aku juga tidak ingat kalau hari ini tanggal lahirku."


Akhirnya Hexa pun memutuskan untuk mengunjungi makam ibunya, berdoa dan berharap ibunya tenang dan bahagia di alam yang berbeda, alam setelah kematian.


Usai mengunjungi makam, Hexa meminta Sekertaris Jo mampir ke toko perhiasan, mungkin hanya itulah kado yang akan ia berikan pada Dhira.


Namun, ia belum memastikan apakah akan benar-benar memberikannya atau tidak, rasanya sangat canggung memberikan kado pada seorang wanita.


Sekitar pukul 23:30, Hexa pun tiba di rumah. Ya, sudah sangat larut.


Ia hanya disambut oleh Pak Wang dan beberapa pelayannya, Dhira tidak ikut turun menyambutnya. Hexa pun tak berharapkan wanita itu masih terjaga di jam segini, ia lebih senang jika Dhira sudah tertidur agar kesehatannya tetap terjaga.


Sekejam-kejamnya Hexa pada Dhira, pria itu juga tidak mungkin tega membiarkan wanita yang sudah menjadi istrinya sakit hanya karena begadang.


"Nona muda sudah tidur?" tanya Hexa sembari memberikan tas kerjanya pada Pak Wang.


"Kurang tahu, Tuan Muda, tapi waktu saya ketuk-ketuk ingin memberi segelas susu hangat, nona muda tidak menjawab, jadi saya simpulkan mungkin nona muda sudah tertidur." Pak Wang menjawab sambil menerima tas kerja Hexa.

__ADS_1


Hexa hanya mengangguk, lalu menoleh pada Sekertaris Jo, memberi isyarat bahwa dia sudah boleh pulang.


"Saya permisi, Tuan." Sekertaris Jo langsung mengerti dan berpamitan.


Seperti biasa, saat hari ulang tahunnya, rumah benar-benar bersih, mungkin secuil debu pun tidak akan terlihat meski memakai kaca pembesar.


Itu ia lakukan karena memang mendiang ibunya tidak suka kotor, daripada mengatakan bahwa ini adalah hari bahagianya, ia lebih suka mengatakan bahwa ini adalah hari kesakitan ibunya yang sedang bertaruh nyawa, tapi ia berharap ibunya bahagia sudah melahirkannya ke dunia ini.


Hexa langsung menuju ke kamarnya, saat membuka pintu, gelap. Ruangan itu gelap gulita.


Tumben sekali, pikirnya.


Hexa melangkah perlahan mencari keberadaan saklar untuk menghidupkan lampu, tapi ketika lampu menyala ....


"Astaga!"


ia terlonjak mundur beberapa langkah dengan jantung yang berdebar cepat.


Sambil memegangi dadanya yang naik turun, Hexa berusaha mengembalikan napasnya yang memburu cepat.


Terkejut bukan kepalang, ketika melihat Dhira mengenakan kain putih yang membalut seluruh tubuhnya, menggunakan bedak seputih mungkin serta lingkaran hitam di kedua matanya, persis seperti pocong kesurupan.


Loncat sana-sini sambil menampakkan giginya tersenyum pada Hexa.


"Kamu tidak ada kerjaan lain?"


Hexa mencebik kesal, wajahnya berubah masam menatap ke arah Dhira yang masih lompat-lompat tak jelas.


Ini kali pertama ada wanita yang berani membuatnya terkejut, bahkan nyaris pingsan.


Bukan takut, tapi keberadaan Dhira yang mendadak dengan bentuk seperti itu benar-benar membuat jantungnya hampir lepas, apalagi ia tak pernah membayangkan bahwa Dhira seberani itu mengerjainya.


Jika tak mengingat bahwa Dhira seorang perempuan, mungkin detik di saat lampu menyala, ia langsung menonjok wajah pocong jadi-jadian itu.

__ADS_1


__ADS_2