
Lama Hexa duduk di sofa dengan mata terpejam setelah kepergian Sekertaris Jo. Dhira juga masih duduk berlutut di depannya. Bagaikan seorang babu pada jaman dulu yang menunggu perintah dari sang raja.
" aku mau mandi," ujar Hexa dengan mata yang masih tertutup.
'Ternyata masih hidup? Kirain sudah mati,' celetuk Dhira dalam hati.
Kakinya bahkan terasa mati rasa karena terlalu lama berlutut menunggu Hexa bicara. Ia tahu kesalahannya, sebab itu tak berani bicara duluan sebelum diminta.
"Baik, Tuan." Akhirnya Dhira berdiri dengan susah payah sambil menenteng sepatu Hexa serta jas dan tas kerjanya.
Namun, apa yang terjadi? Ia tak bisa berdiri seimbang hingga tubuhnya goyang, dan dibantulah oleh Pak Wang, pria paruh baya itu memegangi kedua bahu Dhira agar dia tak jatuh.
Entah ada angin apa, mata yang semulanya terus terpejam, tiba-tiba terbuka.
"Bersihkan tangan Anda, Pak Wang," titah Hexa dengan wajah datarnya.
"Baik, Tuan Muda." Pak Wang berbalik badan menuju ke dapur, sesuai apa yang diperintahkan, ia harus membersihkan tangannya.
'Hei, apa-apaan ini? Memangnya tubuhku sangat kotor sampai minta Pak Wang bersihkan tangan? Ck, pengen kucekik saja ini orang.' Dhira mendelik kesal.
Hexa menatap Dhira cukup lama. "Aku tidak suka mengulangi kata-kataku." Nada suara yang terdengar tajam, setajam pohon kaktus, menusuk.
"B-baik, Tuan." Dhira pun lari terbirit-birit menaiki tangga menuju ke kamar untuk menyiapkan air.
Ada kesenangan tersendiri bagi Hexa melihat tingkah Dhira yang kalang kabut, bibir yang semulanya terus menekuk, kini mulai melengkung tipis membentuk bulan sabit.
Pak Wang yang sudah berada di samping Hexa setelah mencuci tangan, sedikit memasang wajah heran, kenapa tuan mudanya tiba-tiba tersenyum? Ini tak pernah terjadi sebelumnya.
"Anda lihat gadis itu, Pak Wang? Dia sedikit terlihat patuh, bukan?" Senyumnya makin merekah.
Pak Wang malah dibuat bingung, bukan bingung karena Dhira patuh, bingung dengan ucapan Hexa, bukankah selama ini Dhira memang selalu patuh?
Namun, Pak Wang tak berani berkata apa pun, ia hanya menampilkan seulas senyum, entah senyum apa, apakah harus senang karena Hexa akhirnya sedikit melunak setelah bertahun-tahun, atau ia harus sedih karena Dhira akan mendapatkan perlakuan yang tak biasa dari Hexa.
Pak Wang merasa, jika Hexa jatuh cinta pada Dhira, maka Dhira mungkin akan semakin merasa seperti berada dipenjara. Terkurung, diatur, dan lain sebagainya.
Tuan mudanya itu berbeda dari yang lain dalam segala hal, termasuk dalam menyukai seseorang.
Detik berikutnya, Dhira kembali menapaki tangga turun menemui Hexa.
Ah, lelah sekali. Pikirnya
__ADS_1
"Airnya sudah saya siapkan, Tuan," ujarnya dengan nada yang dibuat sesopan mungkin.
Ia harus patuh mulai dari sekarang. Teringat kembali kartu yang diberikan oleh Hexa yang dirampas paksa oleh ibunya, itu membuat Dhira semakin gila ketika terbayang bilamana Hexa tahu kebenaran itu. Harus berapa banyak uang yang akan dilunasinya? Bahkan nyawanya pun tak ada arti.
Hexa bangun dari tempatnya dan berjalan ke atas, diikuti oleh Dhira di belakang.
"Eh, tunggu dulu, kenapa dia masuk ke kamarku?" batin Dhira. Panik karena Hexa berhenti di depan kamarnya dan membuka pintu.
"Mmm ... Tuan, kenapa masuk ke kamar ini?" Ia memberanikan diri bertanya.
"Aku mau mandi," jawab Hexa sesingkat mungkin dengan wajah datarnya.
"Saya sudah menyiapkan air di kamar Anda, Tuan," timpal Dhira lagi.
"Lalu?" ucap Hexa dengan sebelah alis yang terangkat, membuat Dhira tak tahu mau jawab apa.
"Aku mau mandi di sini," lanjutnya.
"Tapi ini kamar saya, Tuan."
"Kamarmu?" Hexa mengulangi disertai senyuman miring. Dhira bergidik karenanya.
"Rumah ini milikku, semua bagian dari rumah ini berarti milikku, kau berani melarang untuk beberapa tempat yang kuinginkan?"
'Sudahlah, mau protes bagaimanapun juga, aku tidak akan menang darinya.' kesal Dhira.
"Saya yang salah, Tuan. Tolong maafkan saya." Dhira membungkuk hormat pada Hexa.
Pria itu melirik tangan Dhira yang terkepal, mulutnya bisa bicara manis, tapi hatinya tak bisa berbohong.
Hexa lagi-lagi terhibur melihat hal itu, senyum simpul kembali terukir tanpa dilihat oleh Dhira. 'Dia pasti sangat kesal sekarang.' batinnya.
"Berhenti menjilat, siapkan air sebelum aku selesai buka baju," titahnya tegas tanpa boleh dibantah.
"Baik, Tuan." Dhira bergegas, berlari secepat kilat menuju kamar mandi. Lagi, pria itu lagi-lagi membuatnya kalang kabut, tak membiarkannya bernapas dengan bebas.
"Dia mirip seperti tupai yang ketakutan," gumam Hexa.
'Ah, aku pasti sudah gila memerhatikannya sampai sejauh ini,' batinnya lagi.
Belum juga sempat mengatur suhu air, tiba-tiba Hexa sudah masuk ke kamar mandi dan melempar handuk ke wajah Dhira. "Gantung!" perintahnya.
__ADS_1
'Itu tempat gantungannya ada di belakangmu, tidak bisakah gantung sendiri?' cetus Dhira
Ia hanya memejamkan mata, dalam hati mengelus dada. Menggantung handuk milik sang tuan muda dengan sukarela rasa terpaksa.
"Keluar!" seru Hexa.
'Iya, iya, gak perlu disuruh juga aku akan keluar sendiri, dasar kadal cap badak.'
Dhira menceloteh dengan bibir monyong setelah ia keluar dan menutup pintu kamar mandi.
"Haih, ini rumah mewah, tapi rasanya seperti di neraka. Panas sekali," celetuk nya sambil mengibas rambut yang sedikit basah karena keringat.
Tentu saja, berlari ke sana-sini, bagaimana ia tak berkeringat. Baunya pasti sudah masam sekarang.
Detik berikutnya, keringat yang belum sempat mengering, tiba-tiba Hexa keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi bagian bawahnya, menampilkan jajaran roti sobek serta dada yang berotot.
Dhira bisa ileran jika melihatnya lebih lama lagi. Benar-benar tubuh yang sempurna, selera semua kaum hawa.
"Pakaian gantiku di mana?" tanya Hexa sambil menatap Dhira dengan tatapan menukik.
Dhira celingak-celinguk menatap ke sekeliling.
"Jadi maksudmu aku harus keluar seperti ini untuk ambil pakaian sendiri?"
Belum sempat menjawab, Hexa kembali menodong dengan kalimat berikutnya.
Ggrrr!
Lama-lama Dhira bisa bertaring serta bertanduk melihat betapa cerewetnya pria di hadapannya ini.
Apakah level penyiksaan sudah ditingkatkan? Ini semua gara-gara ibunya, jika uangnya tidak dirampas, ia tak akan bekerja di bar itu dan bertemu dengan Hexa, pulang terlambat hingga mendapat hukuman yang berlipat-lipat. Ah, panas sekali.
"Saya akan ambilkan, Tuan." Dhira baru saja ingin berlari keluar, tiba-tiba Hexa memanggilnya, membuat langkahnya terhenti.
"Itu pakaianku bawa ke tempat yang seharusnya."
Dhira berbalik dan melihat kemeja, dasi, serta celana yang ada di atas kasur bekas dipakai oleh pria itu tadi.
Lantas mengambilnya, dibawa ikut bersamanya, memeluk erat bagaikan sesuatu yang paling berharga.
Tentunya cuma di depan Hexa saja, setelah keluar dari kamar itu, Dhira meremas semuanya sampai terlihat kusut, bahkan ia gigit sekalian saking kesalnya pada pemilik pakaian itu.
__ADS_1
"Ingin kuperlakukan dia seperti baju ini, dasar pria otak encer, meluber ke mana-mana," gerutu Dhira sepanjang waktunya memilah baju diruang ganti milik Hexa.