Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Menggemaskan


__ADS_3

Dhira tak berhenti berceloteh sepanjang jalan menuju dapur, hanya perkara membuka sepatu saja harus serepot ini.


Para pelayan terlihat kaget ketika melihat Dhira masuk ke dapur.


"Nona Muda." Mereka menyapa sambil menundukkan kepala.


"Ah, tidak perlu sungkan. Kalian lanjutkan saja, aku cuma mau cuci tangan." Dhira tersenyum ramah pada semuanya.


Para pelayan itu patuh hanya dengan satu kalimat dari Dhira. Mereka tahu meski Dhira di anggap sebagai pelayan pribadi Tuan Hexa, Dhira tetaplah seorang majikan yang harus dipatuhi.


"Aku yakin sepatunya mungkin adalah tempat para kuman bersarang, bisa-bisanya menganggap tanganku jauh lebih kotor dari tangannya." Dhira bergumam kesal sambil mencuci tangannya.


Mereka yang mendengar celetukan Dhira hanya bisa berpura-pura tak terjadi apa-apa. Melakukan pekerjaaan sebagaimana mestinya.


Detik berikutnya Dhira kembali menghampiri Hexa, Sekertaris Jo dan Pak Wang masih setia berdiri di samping majikannya.


Aih, melihat pemandangan itu saja sudah mampu membuat Dhira tercekik oleh kenyataan, bahwa Hexa adalah aturan utama yang harus dipatuhi oleh siapa pun selama bekerja dengannya.


"Tangan saya sudah bersih, Tuan. Anda bisa mengeceknya sendiri." Dhira memperlihatkan telapak tangannya pada Hexa.


"Kau memintaku untuk menyentuh tanganmu?" Dengan santai Hexa berkata, yang mengundang rasa geram Dhira seolah ingin menggigit sesuatu. Namun, ia tahan dengan senyuman manis meski hatinya meronta.


"Saya mengatakan Anda bisa mengeceknya sendiri, tapi bukan berarti saya meminta Anda untuk menyentuh tangan saya langsung, Tuan." Kata-kata itu lolos begitu saja karena terlalu geram. Bahkan Pak Wang dan Sekertaris Jo pun tiba-tiba menatap Dhira.


Ya, Dhira tahu. Itu adalah ucapan yang tidak seharusnya ia katakan. Namun, dirinya sangat kesal wahai penduduk bumi. Percayalah, ia sangat-sangat ingin mengamuk di depan Hexa, tapi ... ia tak berani.


"Sudah berani menjawab sekarang?" Hexa merentangkan kedua tangannya di badan sofa dengan kaki yang terlipat, menatap Dhira begitu lekat sambil tersenyum miring.


Kepalan tangan Dhira semakin kuat, adakah yang ingin membantunya untuk menghajar tuan muda satu ini? Dia sangat menyebalkan, tapi Dhira tahu. Tidak ada dan tidak akan pernah ada yang mau membantunya.


Lagi-lagi Hexa tersenyum tipis melihat kepalan tangan wanita yang di hadapannya ini, sungguh sebuah hiburan yang tak membosankan.


"Maaf, Tuan. Saya salah." Dhira menunduk. Hanya bisa seperti itu, apalagi yang bisa ia lakukan selain meminta maaf dan bersikap manis di depan Hexa.


"Tahu salah kenapa masih diam saja?"


Dhira yang tak mengerti dengan ucapan Hexa, lantas menatap Pak Wang dengan tatapan penuh tanda tanya.

__ADS_1


Pak Wang yang mengerti, memberi isyarat dan diam-diam menunjuk ke arah sepatu Hexa.


Dhira langsung mengerti, sekarang waktunya melakukan tugas. Ia berlutut dengan cepat dan melepaskan sepatu Hexa, menggantinya dengan sendal rumah yang sudah disediakan oleh Pak Wang.


Hexa bangkit dari tempatnya. "Pulanglah. Kau bisa kembali pukul 19:00 malam ini." Ia berkata pada Sekertaris Jo.


Sekertaris Jo menunduk mengerti.


"Dan kau, ikut aku!" Kini Hexa memberi titah pada Dhira yang masih menenteng sepatunya.


Tanpa mengatakan apa pun, Dhira manut saja. Mengikuti Hexa dari belakang meski detak jantungnya sudah tak karuan.


Kini sudah tiba di kamar Hexa, pria itu tampak duduk di sofa, tepat di samping tempat tidur dan sekarang menatap Dhira yang masih berdiri di ambang pintu.


"Tutup pintu dan kemari!" perintahnya dengan wajah datar.


Dhira menurut tanpa kata, sekarang ia berada di hadapan Hexa.


"Duduk." Sambil menepuk tempat di sampingnya.


Dhira ragu, tapi tatapan Hexa menyadarkannya bahwa perintah itu tak boleh ditolak.


'Hih, siapa bilang kau tidak menyeramkan, kau bahkan lebih seram dari pocong yang kulihat di film-film,' celetuk Dhira yang begitu asik berbicara dengan hatinya.


"Aku tidak pernah memakan orang." Masih Hexa yang mengisi kekosongan suara di ruangan itu.


"Jikapun benar aku melakukan hal itu, setidaknya aku masih memilah siapa yang pantas kumakan, dagingmu bukan seleraku." Hexa melanjutkan sambil terkekeh. Ia duduk begitu santai tanpa mengetahui seberapa tegangnya Dhira yang kini duduk begitu dekat dengannya.


'Dia ini sedang membujuk atau menghina, sih? Setiap jengkal kata yang ia lontarkan selalu saja terdengar menyebalkan. Pria yang tidak tahu caranya berkata lembut pada wanita, pantas saja sampai sekarang tidak punya istri.'


Lagi dan lagi, Dhira hanya bisa berceloteh yang bahkan angin lewat pun tak dapat mendengarnya.


"Angkat kepalamu! Aku tidak memintamu duduk di sini hanya untuk berdiam diri seperti patung," titahnya lagi.


Dhira segera mengangkat kepalanya dan menoleh pada Hexa. "Maaf, Tuan."


"Aku cukup bosan mendengar kata maaf darimu, apa tidak ada yang lain yang bisa kau ucapkan?" Hexa menatap wajah Dhira cukup dekat, semakin dekat membuat Dhira hampir gila.

__ADS_1


"Kenapa tidak jujur mengenai kartu debit yang kuberikan?"


"Malah bekerja di tempat bising yang sangat mengganggu. Kau bekerja seumur hidup pun tak akan mampu mengimbangi jumlah uang di dalam kartu itu," lanjutnya.


Dhira seketika menoleh pada Hexa, sorot matanya menunjukkan sebuah pertanyaan, apakah Hexa mengetahui apa yang terjadi pada kartu itu?


"Tidak ada yang tak bisa kuketahui selama aku menginginkannya." Hexa paham apa yang dipikirkan oleh Dhira hanya dengan melihat sorot matanya.


Ya, Sekertaris Jo sudah menyelidiki tentang hal itu. Kecurigaan Hexa benar, memang bukan Dhira yang menggunakan kartu miliknya. Hampir Tiga jam sekali laporan transaksi masuk ke emailnya.


Dhira tak mungkin melakukannya sebab setelah kejadian kemarin wanita itu tidak pernah keluar rumah.


"M-Maafkan saya, Tuan. Ini kesalahan saya." Dhira segera turun dari sofa dan berlutut di hadapan Hexa.


'Wanita ini, masih saja menyalahkan dirinya atas kesalahan yang dibuat oleh orang lain. Pantas saja banyak yang menindasnya.'


Hexa menatap Dhira begitu lekat. Sebenarnya bukan sikap seperti itu yang ia inginkan. Cukup memintanya memberi pelajaran terhadap semua orang yang menindasnya, maka Hexa akan dengan senang hati melakukan itu untuk Dhira.


"Aku tidak memintamu berlutut," sergah Hexa.


Dhira kembali berdiri dengan cepat dan lagi-lagi meminta maaf.


Sudahlah, Hexa bosan mendengar kata maaf yang entah berapa kali diucapkan oleh Dhira hari ini.


'Aih, semua ini gara-gara dia, sekarang bagaimana caranya aku bertanggung jawab?' Dhira membatin sambil meremas ujung bajunya sampai kusut.


"Aku ada acara malam ini dan kau harus ikut!"


"Baik, Tuan."


'Pergi ke acara saja terus, aku seperti orang bodoh menghadiri acara tanpa pengalaman apa pun.'


Jika boleh jujur, Dhira tak ingin ikut ke acara-acara besar bersama Hexa. Perbincangan orang-orang kalangan atas itu membuatnya pusing karena tak mengerti dengan pembahasan mereka.


"Aku mau mandi."


"Baik, Tuan." Dhira kembali berlari kecil menuju ke kamar mandi, seperti biasa. Mau apalagi jika bukan menyiapkan air untuk mandi sang raja.

__ADS_1


Wanita itu semakin hari kian berhasil menyita waktu Hexa sekedar untuk memikirkan wajah Dhira dengan beberapa ekspresi yang kerap tampil setiap kali Hexa mengerjainya.


Sambil tersenyum, Hexa menggigit bibir bawahnya merasa gemas terhadap tingkah laku Dhira.


__ADS_2