
Dhira kian gelisah, keringat dingin mulai menjalar ke seluruh tubuh saat Hexa tidak berhenti mendekapnya.
Hexa pun menyadari kegelisahan Dhira saat ini.
Namun, Hexa tak mengerti kenapa Dhira bersikap seolah pertama kalinya mendapat dekapan dari seorang pria di atas ranjang.
'Tidak bisa, aku harus melepaskan diri.'
Perlahan Dhira meraih tangan Hexa, pelan-pelan agar Hexa tak terbangun.
Ya, Dhira mengira Hexa sudah tidur dan mendekapnya tanpa sadar.
Namun, saat baru menyentuh tangan itu, tiba-tiba Hexa bersuara dan membuat Dhira terkejut, lalu melepas tangan Hexa, kembali membeku dengan pikiran yang tiba-tiba kosong.
"Haruskah aku melakukannya malam ini?"
"M-melakukan apa, Tuan?"
"Tidak usah berpura-pura polos, ini bukan pertama kalinya kau berhadapan dengan lelaki di atas kasur."
Jujur, kalimat Hexa benar-benar menyayat hati, ingin rasanya ia mengatakan yang sebenarnya, tapi apakah Hexa akan percaya dengan ucapannya?
Bukan Dhira tak tahu mengenai ucapan Hexa, ia sangat tahu maksud dari kalimat Hexa yaang mengatakan bahwa ia mau melakukannya malam ini.
Dhira paham, tapi isi otaknya sekarang sedang berkecamuk dan hatinya belum siap untuk melayani Hexa, apalagi ini kali pertama, maka muncullah pertanyaan konyol itu dari mulutnya.
Dia sungguh tidak bermaksud untuk berpura-pura polos hingga Hexa lagi-lagi menuduhnya seorang wanita yang pernah menjajalkan diri pada pria lain.
Sakit sekali rasanya, Dhira ingin menangis, tapi air matanya tak bisa keluar, mungkin saking kebalnya ia saat ini, bahkan air mata pun tak berani muncul di kelopak mata.
Tangan Hexa bergerak perlahan, meraba kancing baju piyama yang dikenakan Dhira, ia melepas kancing piyama Dhira perlahan, tapi saat menuju kancing kedua, Dhira menahan tangannya.
"Tuan ...." Suara Dhira terdengar lirih.
__ADS_1
Gerakan tangan Hexa berhenti, mencoba untuk menunggu apa yang akan dikatakan oleh Dhira selanjutnya.
"Jangan." Suara Dhira terdengar semakin lirih, ada ketakutan yang tak tergambar di hatinya sehingga mengatakan hal itu.
"Jika kau tak sanggup mengandung anakku, katakan dari awal, aku tidak akan menikahimu."
Hexa menarik kembali tangannya.
Ia sudah seperti pria bodoh sekarang, bisa-bisanya ia tergoda oleh tubuh Dhira.
"B-bukan begitu maksud saya, Tuan."
Dhira berbalik badan menatap wajah Hexa dari samping.
"Saya hanya belum siap untuk malam ini." Kembali menjelaskan, berharap Hexa akan mengerti.
Ah, sepertinya Hexa sudah benar-benar gila, bagaimana mungkin ia bisa kesal ketika Dhira menolaknya.
Kenapa terlihat seperti dirinya yang terlalu terobsesi untuk berhubungan intim dengan Dhira, di mana letak wibawanya sebagai seorang Hexa.
"Saya berjanji akan melayani Anda, tapi tidak malam ini, berikan saya waktu sampai saya siap."
Nada suara Dhira terdengar biasa saja, tapi percayalah bahwa dirinya sangat tegang saat mengucapkan kalimat demi kalimat.
Berusaha menyusunnya dengan rapi agar Hexa tak marah.
"Aku juga tak tertarik."
Akhirnya Hexa pun menjawab tanpa menoleh pada Dhira.
'Tak tertarik?'
Alis Dhira terangkat. Bagaimana Hexa bisa mengatakan bahwa dirinya tak tertarik? Lantas yang barusan itu apa? Kenapa membuka kancing bajunya?
__ADS_1
Lain di mulut, lain di hati.
Dhira hanya bisa berdecak dalam batinnya melihat tingkat keangkuhan Hexa yang terlalu tinggi.
Namun, bukankah memang Hexa hanya ingin mendapatkan anak dari hubungan itu? Bisa saja Hexa memang tak tertarik pada tubuhnya, tapi terpaksa harus melakukan itu agar ia mendapatkan keturunan sekaligus harta warisan kakeknya.
Kedua sisi otak dan pikiran Dhira berperang satu sama lain. Satu mengatakan bahwa Hexa tertarik padanya, dan yang satunya lagi mengatakan bahwa Hexa melakukan itu hanya demi sebuah keturunan, tidak lebih dan tidak kurang.
Malah Dhira yang pusing sendiri dengan pertempuran otaknya, dan ia benci dengan pikiran-pikiran itu.
"Saya tahu Anda tidak tertarik, maka dari itu izinkan saya membuat Anda tertarik terlebih dahulu."
Dhira menyentuh wajah Hexa dan mendaratkan bibirnya di sana.
Spontan saja hal itu membuat jantung Hexa berdetak kencang, mendapat ciuman dari Dhira secara mendadak, tubuhnya bahkan belum siap.
Hexa pun refleks menoleh pada Dhira.
Namun, Dhira yang nyosor duluan, tapi malah dirinya yang malu.
Wajahnya bersemu merah ketika Hexa menatapnya tanpa kata, tapi juga takut kalau Hexa akan marah karena ia menyentuh wajahnya tanpa izin.
'Ah, aku pasti sudah gila. Apa yang barusan kulakukan?'
Dhira berteriak histeris dalam hati, sambil berdoa Hexa tidak akan murka padanya, ia benar-benar begitu lancang.
Hexa tak mengatakan apa pun saat menatap Dhira, ada sekitar satu manit ia menatap Dhira dan lalu mengalihkan pandangannya ke lain, tubuhnya ia balik membelakangi Dhira tanpa sepatah kata.
Dhira semakin mencelos lesu.
Apakah Hexa marah padanya?
Namun, di balik itu, diam-diam Hexa tersenyum tipis, bekas ciuman Dhira masih membekas dan masih dirasakannya.
__ADS_1
Ia tak menyangka Dhira memiliki keberanian itu terhadapnya.