Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Tugas Sebagai Suami


__ADS_3

Tanpa menunggu Dhira bersuara, Hexa segera keluar dari kamar, sementara Dhira pun masih membeku.


Usai kepergian Hexa, Dhira mengacak rambutnya frustasi.


"Aish! Menyebalkan!"


Sebal pada dirinya sendiri, kenapa tak bisa berkutik hanya dengan satu sentuhan seperti itu.


Masih dengan jantung yang berdebar-debar, Dhira pun keluar untuk menyusul Hexa sarapan pagi.


"Selamat pagi, Nona," sapa Pak Wang yang kini sudah berdiri di samping Hexa.


Dhira melempar senyum ramah lalu duduk di sebelah kiri Hexa.


Diam-diam ia mencuri pandang pada pria itu, Hexa tampak bersikap biasa saja seolah tidak ada yang terjadi.


Melihat wajah datar Hexa tanpa rasa bersalah, Dhira semakin gemas dan tanpa sadar menusuk-nusuk sandwich di piringnya, seolah sedang menusuk tubuh Hexa.


Sejenak Hexa menghentikkan gerakan tangannya menyuap sandwich, menatap piring Dhira yang sudah berantakan.


"Tidak suka dengan sarapannya?"


Tanpa menjawab, Dhira terus melanjutkan aksinya dengan wajah geram, tapi tidak menatap ke arah Hexa, sehingga Hexa tidak menyadari bahwa wanita di sampingnya ini sedang marah padanya.


"Nona," bisik Pak Wang, berusaha untuk menyadarkan Dhira.


Namun, tetap saja gadis itu tidak sadar bahkan setelah saus pada sandwich tersebut sudah muncrat ke mana-mana bahkan mengenai punggung tangan Hexa, ia tetap pada aksinya.


Akhirnya Pak Wang menggoyang bahu Dhira pelan sambil memanggil, "Nona."


Dhira tersentak, mendongak menatap ke arah Pak Wang.


"Ada apa?"


"Itu, Nona." Tangan kanan Pak Wang menunjuk ke arah piring Dhira sementara tangan kirinya ia gunakan untuk menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal melihat tingkah nona mudanya.


Dhira mengalihkan pandangan ke arah sandwich yang berantakan di piring serta meja.


Matanya terbelalak hampir terlepas dari tempatnya.


Apa yang sudah ia lakukan?


Dhira membeku detik itu juga, kebodohannya ini benar-benar sumber masalah dalam hidupnya.


Lalu pelan-pelan ia menoleh pada tangan Hexa yang sudah kotor terkena saus, beralih menatap wajah pria itu dengan senyum canggung yang begitu memalukan.

__ADS_1


Segera mengambil tisu di atas meja lalu meraih tangan Hexa dan membersihkannya.


"M-maafkan saya, Tuan."


Dhira tak berhenti merutuki dirinya dalam hati, bisa-bisanya bodoh itu dipelihara.


Kali ini mungkin Hexa akan benar-benar ilfeel padanya.


"Lain kali jika tak suka dengan sarapannya, langsung katakan saja, Pak Wang akan menggantinya dengan menu baru, tidak perlu menghancurkan selera makanku."


Hexa menarik tangannya dan meraih tissu, ia membersihkan tangannya sendiri.


"Maaf, Tuan."


Dhira menunduk, ia sadar bahwa apa yang ia lakukan memang salah, ia tak akan menyangkal itu. Kasihan juga Pak Wang yang sudah repot-repot menyiapkan sarapan, tapi malah ia hancurkan begitu saja.


Tanpa mengatakan apa pun, Hexa bangkit dan menghentikan sarapannya, Sekertarisnya pun sudah menunggu di depan.


Dhira bergegas mengikuti dari belakang untuk mengantar suaminya berangkat kerja.


Tibanya di depan teras, Hexa membalikkan tubuh menatap Dhira, lalu mengulurkan tangannya di depan istri kecilnya itu.


Dhira gelagapan, tak mengerti maksud dari tangan yang terulur itu.


Pak Wang pun memberi isyarat dengan menciun tangannya sendiri, barulah Dhira mengerti dengan maksudnya.


Dhira meraih tangan Hexa dan berjabat, tak lupa menciumi punggung tangan suaminya.


Tak berhenti sampai di situ, Hexa meraih kepala Dhira dan mencium puncak kepala wanita yang sudah sah menjadi istrinya.


Dhira menelan salivanya dengan susah payah, tak menyangka Hexa akan melakukan hal itu padanya.


Di tengah debaran yang terus melanda, serta wajah tegang yang tampak serius, Hexa pun berkata, "Jangan salah paham, aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang suami."


'Tugas? Maksudnya bersalaman serta menciumku saat akan bekerja sudah menjadi tugasnya?'


'Tapi kan, dia bisa saja menghapus hal semacam itu jika ia tak menginginkannya.'


Dhira sibuk berbicara pada hatinya sementara tak menyadari kepergian Hexa dan Sekertaris Jo.


Lagi-lagi, Pak Wang lah yang selalu menyadarkannya.


Saat tersadar, Dhira kebingungan mencari sosok laki-laki yang tadi sudah mencium keningnya.


"Tuan Hexa ke mana, Pak?"

__ADS_1


"Lho, Tuan Hexa sudah pergi barusan, Nona tidak melihatnya?" Pak Wang ikut heran.


"Oh iya." Dhira terkekeh cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali, lalu berpamitan pada Pak Wang untuk masuk ke rumah lebih dulu.


Pak Wang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Dhira yang semakin hari terlihat semakin menggemaskan seperti anak-anak.


***


Satu jam kemudian, Dhira turun lagi untuk menghirup udara segar, tapi ia dikejutkan oleh para pelayan serta Pak Wang yang sibuk membersihkan setiap sudut rumah.


Setiap hari memang selalu dibersihkan tapi, hanya dua atau tiga orang pelayan saja yang bertugas, tapi kali ini, semua pelayan bahkan Pak Wang turut andil dalam hal itu.


Pemandangan ini tidak seperti biasanya, Dhira pun menghampiri Pak Wang untuk bertanya.


"Apa yang terjadi, Pak Wang?"


Tadinya Pak Wang sedang membersihkan lemari hias, tapi mendengar suara Dhira, ia segera berhenti dan menoleh.


"Nona." Ia menunduk terlebih dahulu, setelah itu mengedarkan pandangan ke beberapa pelayan yang sedang bersih-bersih sembari tersenyum.


"Tidak terjadi apa-apa, Nona."


"Setiap satu tahun sekali kami memang melakukannya atas perintah tuan muda."


"Memangnya kenapa, Pak?"


"Hari ini ulang tahun tuan muda, Nona. Setiap hari ulang tahunnya, tuan muda hanya ingin melihat rumah benar-benar bersih ketika ia pulang nanti."


Dhira berpikir sejenak, lalu kembali bertanya, "Hari ini tanggal berapa, Pak?"


"10 Desember, Nona."


"10 Desember?" Dhira bergumam.


"Kenapa, Nona?"


Dhira segera menggeleng. "Tidak apa-apa, Pak."


'Kenapa bisa kebetulan seperti ini?' batinnya.


Sebab hari ini juga merupakan hari ulang tahunnya, ia tak pernah menyangka ternyata tanggal lahirnya dan Hexa sama-sama 10 Desember.


Dhira sedikit tersenyum, lalu berlari menapaki anak tangga menuju ke kamar, hari ini ia harus mempersiapkan suatu kejutan untuk Hexa sekalian merayakan ulang tahunnya.


"Semoga pria itu senang," gumamnya sambil memilih baju di dalam lemari, bersiap keluar rumah untuk membeli sesuatu untuk suaminya.

__ADS_1


__ADS_2