Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Pria Cap Kadal


__ADS_3

"Tuan, apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Dhira yang masih belum sepenuhnya bebas dari rasa kaget.


"Ini rumahku, aku bebas mau di mana saja."


Ayolah, Hexa. Masih saja bicara ketus begitu, kenapa susah sekali untuk bicara lebih lembut yang enak didengar. Bahasanya selalu saja begitu kasar, buat orang yang mendengarnya sakit telinga. Kehabisan kata-kata.


Dhira mengangguk, ia ingin pergi dan Hexa seketika menarik tangannya.


Dhira menaikkan alis begitu tinggi, ada apa lagi dengan pria itu, tumben sekali.


"Kau belum menjawab pertanyaanku." desak Hexa yang memaksa untuk dijawab, sementara Dhira, ia lupa pertanyaan apa yang ditanyakan Hexa tadi, hingga ia sedikit memutar bola matanya dan berpikir.


"Kau menangis di dalam sana, 'kan?"


"Apa kau tidak bisa jadi wanita yang lebih tahan banting lagi? Cuma karena kata-kataku tadi, kau menangis sampai matamu merah begini. Bagaimana jika ada yang mengusikmu, apa kau akan terus menangis sampai kehilangan bola matamu?"


Dhira tak habis pikir, apa sebenarnya yang ada di otak pria ini, dia sungguh tidak peka atau memang tidak punya hati? Sekuat apa pun dia, tetaplah juga seorang wanita yang punya perasaan, siapa yang bisa tahan jika diberikan kata-kata menyakitkan, apalagi kata-kata yang sama sekali tidak menggambarkan dirinya, itu sebuah penghinaan dan tuduhan.


Dhira menarik tangannya yang terus digenggam oleh Hexa, tapi semakin ia menariknya, genggaman itu semakin kuat dan kuat, ia tak mampu melepaskan diri.


"Kau milikku, apa pun yang ingin kulakukan padamu, itu hakku. Sekarang kau hanya perlu menjawab," ujarnya lagi, masih menunggu jawaban Dhira.


"Saya tidak menangis, Tuan. Mata saya merah karena terlalu lama main gedget," jawab Dhira dengan tenang.


Alis Hexa mengerucut seketika. 'Main gedget? Jadi dari tadi di dalam sana ia sibuk bermain-main? Sial.'


Hexa merasa dirugikan, ia bahkan sampai rela berdiri satu jam di depan kamar menunggu Dhira, ternyata wanita yang sedang dikhawatirkan itu malah enak-enaknya bermain.


"Ck." Hexa menepis tangan Dhira dan berlalu pergi meninggalkan wanita itu sendirian dengan sejuta tanda tanya di kepalanya. Dhira mematung memikirkan apa lagi yang membuat Hexa berdecak kesal dan pergi dengan wajah masam seperti itu.


"Kenapa lagi, sih, dia? Senang sekali main kucing-kucingan." Dhira menggelengkan kepala tak habis pikir, lalu turun ke bawah untuk melakukan sesuatu yang mungkin bisa ia lakukan.

__ADS_1


Malam harinya, Hexa pulang dari kantor dan langsung menjemput Dhira untuk pergi, ia tidak sempat untuk istirahat sejenak.


"Kita mau ke mana?" tanya Dhira ketika mereka sudah dalam perjalanan.


"Rumah kakek."


Kali ini tidak seperti pertama kalinya, Hexa menjawab pertanyaan Dhira dengan enteng, jika itu dulu, pertama kali Dhira dibawa ke pesta ulang tahun, bahkan bernapas saja dilarang bersuara. Benar-benar membuat tekanan batin.


Dhira sepanjang perjalanan juga tertidur dengan pulas.


Hexa melirik wajah dhira sekilas, ia tampak sedikit berpikir, lalu memanggil Sekertaris Jo yang sedang fokus dengan setir mobil.


"Ada apa, Tuan?" tanya Sekertaris Jo ketika dipanggil.


"Jangan keras-keras, nanti dia bangun," bisik Hexa lagi. Sekertaris Jo pun segera melirik kaca spion di hadapannya, dan ia tiba-tiba tersenyum. Kapan perubahan dari dalam diri majikannya itu terjadi? Kenapa juga ia begitu peduli jika Dhira terbangun.


"Buka jasmu," titah Hexa.


"Ck, jangan berpikir aneh, cepat buka," desaknya tak sabaran.


Sekertaris Jo pun menuruti kemauan Hexa dan membuka jasnya. "Sudah, Tuan."


"Berikan padaku." Hexa mengulurkan tangannya. Sekertaris Jo masih begitu penasaran mau diapakan jasnya.


Hexa menyibak jas Sekertaris Jo lalu meletakkannya di tubuh Dhira, takut wanita itu kedinginan, jangan sampai masuk angin.


Sekertaris Jo dari tadi terus memerhatikan dengan mata yang seperti burung hantu, lalu ia tersenyum tipis tanpa sepengetahuan Hexa.


'Tuan muda ini kenapa lagi, sih? Kan bisa pakai jasnya sendiri, kenapa harus punyaku?' batinnya.


"Nanti kalau dia bangun, jangan bilang kalau aku yang memberikannya, katakan saja bahwa kau kasian dan memberikan jasmu untuk dia pakai," ujar Hexa dengan wajah yang masih begitu datar.

__ADS_1


"Mengerti, Tuan," jawab Sekertaris Jo.


'Ternyata tuan muda begitu perhatian terhadap Nona Dhira, tapi sayang wataknya sulit dirubah, ia masih begitu sulit untuk memperlihatkan dirinya yang peduli itu, pasti tidak ingin Nona Dhira berpikir bahwa ia mudah ditaklukkan. Padahal diam-diam ia memang sudah ditaklukkan oleh Nona Dhira,' Suara hati Sekertaris Jo, sepertinya dialah yang paling mengerti watak majikannya itu.


Mereka tiba di pagi hari, memang sejauh itu perjalanan menuju rumah kakek, sebab itu pula Hexa sangat jarang mengunjungi kakeknya karena terhalang dengan jarak. Jika tidak ada hal yang penting dan serius, ia tidak akan datang.


Saat mesin mobil dimatikan, Dhira terbangun dengan sendirinya, sedikit lama ia bengong sampai ia sadar bahwa sekarang dirinya tidur di dalam mobil.


Dhira sedikit menggeliat, tak sadar bahwa dua pasang mata sedang memerhatikannya.


"Ayo, turun," ajak Hexa.


Dhira mengangguk dan menyadari ada kain yang menutupi tubuhnya. "Punya siapa?" tanya Dhira pada Hexa, pria itu hanya mengangkat bahunya tak menjawab. Pura-pura tidak tahu.


"Ah, itu punya saya, Nona. Saya kasihan melihat Anda tertidur dan takut Anda masuk angin, jadi saya berikan jas itu," jawab Sekertaris Jo sesuai intruksi Hexa saat di perjalanan tadi.


"Ah, Anda begitu perhatian. Betapa beruntungnya pasangan Anda mendapatkan pria seperti Tuan Johan." Dhira meleyot dengan sedikit perhatian yang ia kira dari Sekertaris Jo.


"Apa Anda sudah punya pacar atau istri, Tuan Jo?" tanya Dhira dengan senyum yang tampak merekah. Dia begitu bersemangat setelah tidur, ditambah dengan sedikit perhatian dari seorang pria yang membuat hatinya luluh.


"Sudah, dia sudah punya istri. Istrinya ada tiga dan anaknya dua belas. Tidak masalah jika kau mau jadi istri keempatnya, siap-siap saja jadi mangsa dari ketiga istrinya, kau akan dicakar sampai mati." Entah siapa yang menanyainya, Hexa malah menjawab dengan cepat, jawaban yang membuat Dhira sulit untuk percaya.


Akankah Sekertaris Jo menangis dengan jawaban Hexa, dia bahkan masih lajang, tidak pernah pacaran barang sekali pun, bagaimana mungkin majikannya bisa mengarang cerita yang tak masuk akal itu.


"Benar begitu, Tuan Jo?" tanya Dhira yang tak percaya dengan ucapan Hexa.


Sekertaris Jo sedikit bingung, ia harus jawab apa? "Iya, Nona. Itu benar." Ya sudahlah, pasrah saja, daripada tuan mudanya murka dan ia dipecat. Tapi citranya sebagai lelaki sejati malah tercemar. Ia bahkan tidak pernah untuk berpikir mencari seorang istri, bagaimana mungkin tiba-tiba punya tiga istri dan anak sampai satu lusin.


"Dia itu pria cap kadal, kau bukan wanita pertama yang mendapat perhatian kecil seperti itu, semua wanita juga sudah pernah. Jadi tidak usah terbawa perasaan." Kata-kata itu terucap begitu saja. Apakah ia takut Dhira akan jatuh cinta pada Sekertaris Jo?


Sial, kenapa hatinya terasa tak aman setiap kali Dhira mengagumi pria lain? Ia tidak terima.

__ADS_1


__ADS_2