Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Menyalahkan Pak Wang


__ADS_3

"Tuan Muda, ini dokumen yang harus Anda tanda tangani." Sekertaris Jo memberikan sebuah berkas dokumen di hadapan Hexa.


Sembari menandatangani berkas tersebut, Hexa berkata, "Jadwalku hari ini apa saja?"


"Siang nanti ada rapat di ruang meeting yang dipimpin oleh Tuan Defan. Jam Tiga sore, Anda memiliki janji temu dengan klien di sebuah cafe. Jam delapan malam, Anda perlu menghadiri pesta amal yang diadakan oleh perusahaan elektronik yang sempat bekerjasama dengan perusahaan kita," jawab Sekertaris Jo cepat dan lugas.


"Apa bisa atur waktu secepatnya untuk janji temu? Sekitar jam dua siang, mungkin?" tanya Hexa.


"Seharusnya bisa, Tuan. Nanti saya akan menghubungi pihak sebelah untuk memajukan jadwal pertemuan."


"Oh, ya, satu lagi. Untuk pesta amal malam nanti, kau saja yang pergi mewakiliku, aku ada kesibukan lain malam ini, tidak bisa hadir," titahnya lagi.


"Baik, Tuan Muda." Sekertaris Jo mengangguk patuh.


Tepat pada jam Tujuh malam hari, Hexa tiba di rumah, ia sudah berusaha sebisa mungkin untuk pulang cepat, tapi jadwal pekerjaan yang padat membuatnya tetap pulang pada malam hari.


Seperti biasa, kedatangannya selalu disambut oleh para pelayan, tapi kali ini ia tidak ingin dipijat sama sekali.


"Wanita itu mana?" tanya Hexa pada kepala pelayan, Pak Wang.


"Ada di atas, Tuan Muda."


"Apa dia sudah makan?" tanyanya lagi.


"Tadi saya sudah mengantarkan makanan untuknya, tapi saya belum memastikan apakah nona muda memakannya atau tidak," jawab Pak Wang yang masih trauma akan gajinya yang dipotong, jika sampai Hexa marah karena dirinya tidak memastikan bahwa Dhira sudah makan atau belum, maka bisa saja ia tidak akan mendapat gajinya sepeser pun bulan ini.


Namun, melihat majikannya itu langsung naik ke atas tanpa bertanya lagi, Pak Wang seketika merasa lega dengan mengembuskan napas yang terasa plong, untung saja Hexa tidak memarahinya lagi kali ini.


Saat Hexa membuka pintu kamarnya, tidak ada Dhira di sana, ia pun lantas berpindah tempat dan membuka pintu kamar milik Dhira, tidak ada kata izin sama sekali saat masuk ke sana.


'Astaga, membuatku kaget saja. Apa dia tidak punya mulut untuk memanggil dari luar? Menerobos masuk seakan ingin menggeledah kamar ini.' Dhira membatin sambil menatap Hexa yang berjalan ke arahnya.

__ADS_1


Hexa berdiri tepat di samping Dhira, ia menatap wanita itu cukup lama hingga Dhira terus menduga-duga apa lagi yang ingin dikatakan Hexa sebagai bentuk perintahnya yang tak bisa dibantah, tugas apa lagi yang harus ia kerjakan sekarang?


Tiada angin, tiada hujan, tiba-tiba saja Hexa menempelkan punggung tangannya di dahi Dhira, membuat wanita itu terbelalak seketika.


"Sudah mendingan? Apa ada yang terasa sakit?" Pertanyaan Hexa entah kenapa membuat kedua pipi dan telinga Dhira merah merona. Apa Hexa sedang memberi perhatian padanya? Sejatinya, Dhira tetaplah wanita biasa yang akan merasa senang jika mendapat perhatian dari orang yang biasanya begitu cuek pada hidupnya.


"Kau tidak menyentuh makananmu sama sekali?" Hexa menatap sepiring nasi yang masih lengkap dengan lauk pauk di atas nakas.


"Saya tidak memiliki selera untuk makan, Tuan," Dhira menjawab, tampak wajahnya masih pucat.


"Tidak berselera? Lantas kau ingin membuang makanan yang sudah disiapkan? Kau tidak tahu bagaimana susahnya mencari uang?" cetus Hexa sedikit tersulut.


'Ada apa lagi dengannya, kenapa untuk hal sekecil ini dia malah begitu perhitungan? Ayolah, kau baru saja memberi sedikit perhatian terhadapku, jangan secepat itu berubah sikap,' batin Dhira terus mengoceh.


"Sekarang kau makan dan minum obatmu, aku tidak ingin tinggal satu rumah dengan orang sakit, jadi kedepannya pandai-pandailah menjaga kesehatan, aku tidak ingin kau menyebar virus dan menularkannya padaku."


"Jika nanti aku masuk ke sini makananmu belum juga dimakan, maka kau tidak boleh makan selama tiga hari kedepan," ancamnya.


"Dia sungguh pria yang plin-plan," cebik Dhira sembari menatap punggung Hexa yang berlalu pergi dari kamarnya.


"Pak Wang!"


Mendengar sang tuan muda memanggil namanya, Pak Wang segera keluar dari dapur dan menghampiri Hexa yang tengah duduk di meja makan menghadap ke beberapa makanan yang sudah tersedia.


'Jangan-jangan tidak sesuai dengan seleranya lagi,' batin Pak Wang dengan hati yang sedikit was-was.


"Ya, Tuan Muda. Ada yang Anda butuhkan?" tanya pria paruh baya itu.


"Apa yang Anda berikan pada Dhira semalam? Dia makan apa? Kenapa tiba-tiba sakit? Jelas-jelas semalam ia sudah sehat." Hexa pun memulai introgasinya, dan entah kenapa selalu Pak Wang lah yang menjadi kambing hitam atas ulahnya sendiri, terkadang begitu kasihan melihat Pak Wang selalu mendapat masalah tanpa berbuat apa pun.


Ini semua mungkin saja salahnya sendiri, tapi pria itu? Apakah ada yang bisa menebak sikapnya?

__ADS_1


"Maafkan saya, Tuan Muda. Tolong maafkan kesalahan saya, ini memang saya yang telalu lalai. Nona muda kemarin meminta saya untuk merebuskan mie instan yang ia beli di supermarket dekat sini." Meski tidak tahu penyebab pasti demamnya Dhira, Pak Wang merasa mungkin adalah kesalahan dirinya yang membiarkan Dhira makan-makanan instan yang tak bergizi.


"Dan Anda membiarkannya makan makanan tak sehat seperti itu?" Hexa menatap tajam pada Pak Wang.


"Maafkan saya, Tuan Muda. Saya sudah memberitahu nona untuk tidak memakannya, tapi nona muda tak ingin mendengarkan, dia tetap memakannya sampai habis." Pak Wang pun merasa semakin bersalah. Ia benar-benar mengira bahwa dirinya lah yang menjadi penyebab utama sakitnya Dhira.


"Pak Wang, Anda tahu kenapa saya mempekerjakan Anda di sini?"


Pak Wang diam, ia tak berani menjawab.


"Anda memiliki keterampilan memasak yang bagus dan cepat, tetapi Anda membiarkan orangku memakan makanan tak sehat seperti itu, bukankah Anda bisa membuangnya dan membuatkan mie yang lebih sehat? Di sini tidak kekurangan bahan makanan, bagaimana mungkin dia sakit karena sebuah makanan luar?" Hexa terus mendakwa Pak Wang dengan tegas.


"Jika terjadi sesuatu padanya, saya tidak akan menjamin untuk tetap mempekerjakan Anda di sini, saya tidak suka orang-orang yang lalai." Usai mengatakan hal itu, Hexa pun bangkit dan pergi meninggalkan Pak Wang, bahkan ia tak mencicipi sedikit pun makanan yang terhidang di meja makan.


Baru separuh jalan menaiki anak tangga, Hexa mendengar suara Dhira yang sepertinya sedang muntah, pria itu bergagas dengan cepat dan masuk ke kamar Dhira.


"Buka pintunya!" panggil Hexa sambil mengetuk daun pintu kamar mandi.


"Kau kenapa?" tanyanya lagi setengah berteriak karena Dhira tak menjawab panggilan darinya.


Detik berikutnya, Dhira pun keluar dan melihat Hexa berada di ambang pintu.


"Tuan, Anda sedang apa di sini?" tanya Dhira, wajahnya kini makin pucat.


"Aku hanya ingin memastikan bahwa kau tidak kabur dengan berpura-pura sakit!" Hexa memalingkan wajahnya bersikap seperti biasa, dingin dan datar. Padahal barusan sangat jelas ia tampak panik.


Dhira yang merasa tubuhnya sangat lemah, kini tak peduli pria itu mau beranggapan apa tentangnya, ia berjalan melewati Hexa menuju ke tempat tidurnya, tapi belum juga sampai ke tempat tidur, tiba-tiba ada sesuatu yang ingin keluar, dan akhirnya.


Hueekk!


Tidak sempat lagi, Dhira mengeluarkan sisa makanan di perutnya ke lantai kamar, hingga muntahan itu pun berceceran di mana-mana. Hexa dengan cepat menghampiri Dhira dan membantu wanita itu berdiri.

__ADS_1


"Kau kenapa?" tanya Hexa dengan wajah yang tak tergambarkan . Mungkin ia panik sekaligus khawatir. Ah, entahlah, pria itu mana bisa untuk ditebak hanya melalui ekspresi wajahnya.


__ADS_2