Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Kehormatan Dhira


__ADS_3

"Kau milikku," bisik Hexa ketika bibir mereka berhenti menyatu.


Pipi Dhira merona merah mendengar ucapan Hexa.


Tentu saja ia adalah milik Hexa, sudah dinikahi, ia tak pantas untuk mengelak pengakuan itu.


Hexa kembali menggendong tubuh Dhira ala bridal style, menuju ke kasur king size miliknya, semua adalah miliknya, termasuk wanita yang sedang ia gendong ini.


Dhira pasrah jika malam ini Hexa akan mengambil mahkotanya sebagai seorang gadis, sebab ia sudah menjadi istri pria itu, dan tak ada larangan apa pun untuk mereka bersatu.


Setelah Dhira berbaring di kasur, Hexa kembali membisikkan sesuatu.


"Apa kau tidak keberatan?"


Dhira terdiam sejenak, lalu kembali menjawab, "Lakukanlah." Ikut berbisik di telinga Hexa.


Hexa menyeringai, mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan menyalakan lampu tidur.


Cahaya remang akan membuat keharmonisan hubungan mereka semakin terlihat romantis.


Hexa naik ke kasur, kembali menautkan bibirnya ke bibir Dhira, dirasa tak ada penolakan, Hexa kembali menelisik semakin dalam hingga mendapat sambutan dari Dhira.


Sentuhan yang lembut kini berubah semakin cepat dan panas, tak puas berada di samping, Hexa kembali memposisikan diri di atas Dhira.


Satu persatu, pakaian terlepas dan berserakan di lantai.


Dhira menghela napas panjang dan mengeluarkannya perlahan.


Bukan tanpa alasan, ia gugup karena ini akan menjadi malam pertamanya dan akan menjadi sejarah yang tak terlupakan.


Dhira menyerah mempertahankan kesuciannya, mungkin memang ia sudah ditakdirkan untuk memberikan malam pertama itu pada Hexa.


Suami yang hanya menginginkan seorang anak, tanpa tahu apakah ia dicintai atau tidak.


Dhira rela, ia pasrah sampai tak bisa berkata-kata.


Sejenak ia memejamkan mata ketika merasakan sesuatu yang berusaha menerobos pertahanannya.

__ADS_1


Sakit, kenapa rasanya begitu sakit.


Kata orang, malam pertama adalah sesuatu yang menyenangkan dan enak, tapi Dhira tak merasakan itu, yang ada rasanya ingin menitikkan air mata saking perihnya area yang diterobos oleh Hexa.


Namun, ia tak berani menangis, takut Hexa akan berpikir bahwa ia hanya melakukannya dengan terpaksa.


Dhira hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan mata terpejam.


Melihat reaksi Dhira, seketika Hexa berhenti, beberpa detik tidak merasakan pergerakan apa pun, Dhira akhirnya membuka mata, dan sekarang Hexa sedang menatapnya.


Kini mereka saling menatap tanpa kata, entah apa yang sedang dipikirkan.


Hening dalam sekejap.


"Apa kau sungguh siap dengan ini?" tanya Hexa ragu.


Dhira hanya mengangguk pelan tanda setuju tanpa penolakan.


"Apa ini menyakitimu?" Hexa kembali bertanya.


'Dia sudah lama tidak melakukan pekerjaan seperti ini semenjak tinggal denganku, apa ini akan membuatnya merasa kesakitan?' batin Hexa.


"Apa kau yakin?" Hexa mengulangi pertanyaannya untuk memastikan bahwa Dhira tak masalah ia memulai hal itu.


Setelah mendapat anggukan pelan dari Dhira, Hexa pun kembali melanjutkan.


Pertahanan yang selama ini selalu dijaga oleh Dhira, akhirnya diterobos oleh Hexa.


Entah bagaimana Dhira akan mengekspresikan diri, ia terlalu syok sampai tak mampu berekspresi, hanya rasa sakit yang ia rasakan di bagian sana.


Sementara Hexa mulai memainkan perannya sebagai penunggang kuda yang tampak mahir memegang kendali atas dirinya.


Setelah berhasil mencapai puncaknya masing-masing, Hexa keluar dari jeratan Dhira yang benar-benar mampu membuatnya berteriak histeris dalam batinnya.


Bersamaan dengan dicabutnya benda pusaka itu, detik itu juga darah segar meluncur keluar, tidak banyak, tapi tidak pula sedikit.


Hexa mengernyit ketika menyadari hal itu.

__ADS_1


'Darah?'


Ia seketika menatap Dhira yang masih terbaring lemas, matanya masih terpejam tanpa mau membukanya. Ia terlalu lelah saat ini.


"Dhira ...," panggilnya lirih.


Untuk pertama kali dari sekian lamanya, Hexa menyebut namanya langsung, hal itu membuat Dhira membuka mata seketika bagaikan sebuah hipnotis.


"Kamu masih perawan?"


Jantung Hexa tak hentinya berdegup kencang, apa yang ia lakukan? Ia sudah merenggut kehormatan seorang wanita yang selama ini ia hina sebagai perempuan kotor yang tak suci lagi?


Bukannya menjawab, Dhira lebih memilih menutup matanya kembali, ia tidak kaget dengan pertanyaan Hexa, sebab setelah permainan selesai, ia sudah menduga bahwa Hexa pasti akan menanyakan hal itu.


"Dhira, jawab aku," desaknya sambil menggoyang pelan bahu Dhira.


"Bukankah itu sudah cukup jelas, Tuan?" jawab Dhira lirih, matanya masih enggan untuk terbuka.


"Sial." Hexa tanpa sadar mengumpati dirinya sendiri sambil memukul kepalanya cukup keras.


Ia bersalah sudah melakukan hal ini.


"Dhira, buka mata kamu." Hexa kembali menepuk wajah Dhira pelan.


"Aku akan bertanggung jawab," ucap Hexa setelah Dhira membuka mata.


Dhira tersenyum tipis. "Anda mau bertanggung jawab bagaimana, Tuan? Bukankah Anda sudah menikahi saya?"


Lagipula Dhira tak menyesal, ini pilihannya sendiri, Hexa sudah meminta izin terlebih dahulu dan dia pun mengiyakannya. Ini bukan salah Hexa, tapi kenapa pria di hadapannya ini tampak merasa begitu bersalah padanya? Dhira tak mengerti.


Hexa mengusap wajahnya dengan kasar.


Bagaimana bisa ada wanita sekuat Dhira? Terbuat dari apa hatinya sampai-sampai rela memberikan kehormatannya setelah apa yang ia lakukan pada wanita itu selama ini?


Ia sudah salah paham dan berulang kali menyinggung soal keperawanan Dhira, ia meragukan itu di depan Dhira sendiri, tapi wanita ini malah dengan lapang dada tersenyum tulus seolah semua baik-baik saja.


Apa masih ada lagi pria paling kejam darinya di dunia ini?

__ADS_1


__ADS_2