Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Dhira Sakit Lagi


__ADS_3

"Pelayan!"


"Uhuk." Seketika Dhira terbatuk saat mendengar suara teriakan Hexa dari lantai atas.


"Astaga, dia benar-benar tak membiarkanku melakukan hal lain kecuali melakukan perintahnya," celetuk Dhira sambil berlari cepat menaiki anak tangga satu persatu.


"Iya, Tuan. Saya di sini," ucap Dhira kalang kabut.


"Lambat sekali, kau tidak punya telinga?" gerutu Hexa dengan menatap tajam ke arah Dhira.


"Maaf, Tuan." Dhira tertunduk.


'Memangnya dia kira aku seorang penyihir yang bisa berpindah tempat hanya dengan membaca mantra? Rumah segede ini tentu saja butuh waktu bagi manusia mana pun untuk tiba di kamarnya,' celetuk Dhira dalam hati.


"Ambil ini." Terlihat sebuah ponsel di tangan Hexa.


Dhira maju beberapa langkah mendekati Hexa, tapi Hexa dengan cepat menarik kembali ponsel tersebut sebelum Dhira sempat mengambilnya.


"Ingat, ini kuberikan bukan untuk menyimpan nomor orang lain, jika sampai ketahuan olehku kau menyimpan nomor selain nomorku di ponsel ini, tamat riwayatmu." Seperti biasa, wajah dingin dan tegasnya membuat Dhira jadi kikuk, tak berani menatapnya lebih lama.


"Baik, Tuan. Saya mengerti." Entah kenapa, kegigihan hatinya selalu melempem ketika berhadapan dengan Hexa si pria batu.


Lalu Hexa pun memberikan ponsel itu pada Dhira.


"Kenapa masih berdiri? Kau ingin minta apa lagi?" cetus Hexa dengan wajah juteknya.


Memangnya Dhira pernah minta apa? Dhira tidak pernah meminta apa pun pada Hexa. Ah, pria itu beranggapan bahwa ponsel yang dia berikan dengan kemauannya sendiri adalah permintaan dari Dhira, begitulah cara dirinya untuk menutupi apa yang seharusnya menjadi kenyataan dan membuat Dhira menanggung semuanya.


"Kalau begitu saya pamit keluar, Tuan." Dengan rasa keki dan gundah gulana di hatinya, Dhira berjalan keluar meninggalkan Hexa di kamar.


"Dasar pria landak, dia benar-benar berduri dan menusuk semua benda yang ia lewati," gerutu Dhira, melepaskan semua perasaan kesal yang mendalam di hati.


Malam hari, tepat pukul 01:00 dini hari, ponsel yang diberikan oleh Hexa tiba-tiba bergetar, hal itu membuat Dhira terbangun dan melihat siapa gerangan yang meneleponnya tengah malam begini.


Di depan layar Dhira menyipitkan mata yang masih mengantuk.


'Sang raja?' batin Dhira, lalu membuka mata sedikit lebih lebar untuk memastikan tulisan di layar ponsel itu.

__ADS_1


'Ck, ini pasti dia.'


Siapa lagi yang dengan pedenya memberikan nama 'sang raja' untuk dirinya sendiri, dan hanya dia pula yang begitu tidak masuk akal mengganggu orang di tengah malam buta seperti ini.


Dhira terus mengusap wajahnya kasar, geram pada sifat Hexa yang begitu tak memikirkan ketenangan orang lain. Namun, tetap saja ia tak berani membantah titah pria itu.


Dhira menggeser ponsel dengan ibu jarinya dan membesarkan volume, ia ingin dengar dengan jelas perintah apa lagi yang harus ia laksanakan di tengah malam yang bahkan jangkrik pun masih tertidur pulas di pangkuan rembulan.


"Ke kamarku sekarang!" Suara Hexa terdengar dari seberang telepon. Entah apalagi yang dia inginkan.


Dengan berat hati dan dengan keterpaksaan diri, Dhira akhirnya bangkit dari tidurnya dan berjalan malas menuju ke kamar Hexa yang hanya bersebelahan dengan kamarnya.


"Permisi, Tuan." Dhira mengetuk pintu pelan.


"Masuklah!" Dhira segera masuk setelah mendengar suara Hexa dari dalam.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"


"Debu di kamar ini membuatku tak bisa tidur, kau bersihkanlah cepat," pintanya yang tentu tidak boleh ditolak.


"Aku tidak akan memanggilmu sekarang jika memintamu membersihkannya tahun depan," sergah pria itu lagi dengan raut datar yang tergambar di setiap inci wajahnya.


Hidung Dhira mulai kembang kempis menahan sesak di dada, hancurlah sudah mimpi indahnya barusan. Bagaimana tidak, bagaimana caranya mengekspresikan keadaan dirinya sekarang? Di saat enak-enaknya tidur, harus terbangun untuk membersihkan debu yang bahkan tidak terlihat secuil pun, hanya karena pria itu tak bisa tidur. Benar-benar tak masuk akal.


'Siapa pun orang yang ada di luaran sana, apakah ada yang bisa menolongku terlepas dari genggaman pria ini? Aku benar-benar tidak kuat lagi.'


Dhira semakin kesal saat Hexa hanya memperbolehkannya membersihkan kamar itu hanya dengan menggunakan kain lap yang sudah dibasahi, tidak mengizinkannya menggunakan pengepel lantai dan penyedot debu elektrik. Bukankah terlihat jelas bahwa ia memang sengaja ingin menyusahkan Dhira?


Mentari bersinar terang, cuaca begitu mendukung untuk para pejuang cuan.


Hexa terbangun dari tidurnya, ingatan pertama yang ada di pikirannya, adalah kejadian tadi malam di mana ia membangunkan Dhira dan meminta wanita itu membersihkan kamarnya.


Ia buru-buru bangun dan ingin melihat ke kamar Dhira, tapi tiba-tiba saja matanya tertuju pada wanita yang sedang terbaring meringkuk di atas lantai keramik yang dingin itu.


"Apa tadi malam dia tertidur di sana?"


Ya, saking lelah dan ngantuknya, apalagi efek demam masih sedikit terasa membuat Dhira tak kuat hingga tertidur saat membersihkan lantai kamar, bahkan sampai sekarang belum terbangun.

__ADS_1


Hexa perlahan mendekati Dhira dan mengamati wanita itu, hati yang semulanya keras, kini sedikit melunak, ada rasa kasihan yang terlintas di hatinya, tapi sayang hanya dalam hitungan detik saja. Ia kembali mengabaikan Dhira dan pergi ke kamar mandi untuk bersiap masuk kantor.


...****...


"Aku butuh beberapa pelayan wanita untuk masuk ke kamarku, suruh mereka mengangkat tubuh nona muda untuk naik ke kasur. Ingat, hanya pelayan wanita saja," titah Hexa dengan tegas pada Pak Wang sebelum ia berangkat ke perusahaan, semantara Sekertaris Jo pun telah menunggunya di halaman depan.


"Baik, Tuan muda," jawab Pak Wang sopan.


...****...


Baru saja tiba di ruang kantornya, tiba-tiba Sekertaris Jo mendapat kabar dari kepala pelayan bahwa Dhira sakit.


"Maaf mengganggu waktu Anda, Tuan Muda. Saya ingin menyampaikan kabar bahwa Nona Dhira sakit, sepertinya demamnya balik lagi," ucap Sekertaris Jo.


Hexa menghentikan gerakannya dan menatap Sekertaris Jo dengan alis yang mengerut. "Sakit?" ulangnya untuk memastikan.


"Iya, Tuan Muda."


Wajah Hexa tampak sedang berpikir. 'Apa karena yang tadi malam? Apa dia masuk angin?' batinnya dengan sungguh-sungguh memikirkan hal itu.


"Telepon Pak Wang, aku ingin bicara padanya," pinta Hexa.


Di sisi lain, Dhira merasa kepalanya begitu berat, mata serta napasnya terasa panas.


"Ah, kenapa aku tidur di sini?" Sembari memegangi kepalanya yang sakit. Lingkaran hitam juga terlihat jelas di pinggiran mata.


"Anda sudah bangun, Nona? Ini obat dari tuan muda, silahkan diminum." Satu pelayan wanita berkata yang dengan setia berdiri menunggu Dhira bangun dari tidurnya.


"Obat? Obat apa? Dia ingin meracuniku dengan obat itu?" tanya Dhira tak mengerti.


"Jangan salah paham, Nona. Anda sedang demam, Tuan muda Hexa memerintahkan kami menjaga Anda dengan ketat serta memberi obat agar Anda merasa lebih baik sembari menunggu dokter datang," jawab si pelayan tersebut sembari menyodorkan obat serta segelas air putih.


"Memangnya iya?" Dhira meraba tubuhnya, pantas saja terasa meriang, kepala berat dan seluruh tubuh sakit semua.


"Ternyata dia masih punya hati nurani." Dhira sedikit tersenyum tipis sebelum meminum obat yang konon katanya adalah dari Hexa.


Pria yang ia kenal kejam, ternyata masih peduli untuk memberinya obat dan meminta para pelayan menjaganya selama sakit.

__ADS_1


__ADS_2