
"Cukup! Berani kau bicara lagi, maka aku akan merobek mulut j*langmu itu." Lina menunjuk geram pada Dhira.
"Katakan, berapa uang yang kau butuhkan? Asalkan kau pergi dari kehidupan Kak Hexa, maka apa pun yang kau inginkan, akan kuberikan," tawar Lina sungguh-sungguh.
Suasana ramai itu seketika dirasakan begitu hening oleh Dhira di tengah kesibukan otaknya yang berpikir mengenai penawaran Lina.
"Apa pun itu?" Dhira mengulangi ucapan tersebut untuk memastikan.
"Ya, apa pun," jawab Lina yang tampak semangat, karena sepertinya Dhira mulai tertarik.
"Kalau begitu, bisakah kau menjamin aku pergi ke suatu negara di mana Tuan Hexa dan orang-orangnya tak bisa menemukanku?" tanya Dhira memastikan.
"Hanya itu?" tanya Lina dan Dhira pun mengangguk.
Lina pun tergelak dengan tawa yang sedikit nyaring, setelah itu ia kembali serius dan menatap Dhira begitu lekat.
"Tidak ada yang tak bisa kulakukan demi Kak Hexa. Katakan saja kapan kau siap meninggalkan negara ini, maka aku akan mengurus semuanya tanpa harus menyusahkanmu, tapi ingat, setelah kau pergi jangan harap bisa kembali ke negara ini lagi, paham?" Bola mata Lina membulat sempurna menatap Dhira penuh dengan peringatan.
Tanpa diberitahu pun, Dhira memang tak berniat untuk kembali, ia memilih jalan seperti itu agar bisa terhindar dari Hexa, pria itu benar-benar membuat hidupnya dipenuhi oleh ketakutan. Ia tak siap jika sewaktu-waktu Hexa akan menggila dan membuatnya kehilangan nyawa. Pria sepertinya tidak bisa dianggap enteng.
"Oke, deal." Dhira mengulurkan tangannya dan mereka pun berjabat, tanda kesepakatan telah dimulai.
'Tahu begini, aku tidak akan susah-susah melawanmu. Kenapa tidak kepikiran dari tadi meminta penawaran darinya? Dengan begitu aku bisa secepatnya pergi dari kehidupan pria itu,' batin Dhira yang merasa sedikit lega, satu beban mungkin akan luruh dari pundaknya.
'Seharusnya tak ada masalah, 'kan? Aku tidak menerima sedikit pun uang yang ia berikan kepada madam, semua dikuasai oleh wanita itu, jadi ini tidak berarti aku berhutang apa pun padanya.' lanjutnya lagi, hingga tak sadar ternyata Lina sudah tidak ada di hadapannya.
"Sepertinya energinya terisi penuh setelah mendapat kesepakatan ini." Dhira tersenyum dan menggelengkan kepala, jujur ia pun tak bisa menutupi rasa senangnya sendiri, mungkin dialah yang paling bersemangat sekarang.
Acara ulang tahun berjalan dengan lancar tanpa kendala, kini Tuan Tora tidak lagi memandang sinis pada Dhira, mungkin Lina sudah mengatakan kesepakatan yang terjadi di antara mereka berdua.
Keesokan pagi mereka kembali dan kini Dhira tidak lagi dibawa ke hotel, tapi langsung dibawa pulang ke rumah Hexa.
"Selamat pagi dan selamat datang kembali, Tuan Muda." Para pelayan semua berbaris di depan rumah menyambut kedatangan Hexa setelah tahu tuan muda mereka akan kembali, entah kapan sejak terakhir kali Hexa pulang ke rumah itu, waktunya terlalu padat, sibuk hingga tidur dan makan pun ia habiskan di perusahaan.
__ADS_1
'Beginikah kehidupan orang kaya? Pulang ke rumah pun mendapat sambutan yang begitu mengesankan,' batin Dhira yang merasa begitu takjub akan kekuasaan orang yang berduit, tiba-tiba saja ia berkhayal jika suatu saat ia memiliki segalanya, apakah ia juga akan diperlakukan dan disambut seperti itu saat pulang ke rumah? Ah, dunia khayalan memang lebih menakjubkan dan lebih indah dibanding kenyataan.
"Beri salam pada Nona Muda, kedepannya beliau yang akan menempati rumah ini bersama Tuan Muda," ujar Sekertaris Jo memberitahukan.
"Salam untuk Nona muda, selamat datang, kami siap 24 jam melayani Anda." Mereka mengatakan dengan serentak membuat Dhira semakin takjub.
'Seberapa lama mereka berlatih hingga mendapat hasil yang menakjubkan seperti ini?' batinnya lagi. Entah kenapa ia sekarang lebih senang bicara pada hatinya ketimbang pada udara, sebab ada Hexa di mana-mana, jadi lebih baik berbicara pada hati yang setia ketimbang pada udara yang sering berhianat.
(Kalian paham kan maksudnya? Hehe)
"Terimakasih." Dhira ikut menunduk menghormati keterampilan mereka yang telah membuat dirinya cukup terhibur.
"Nona Muda, harap tetap ingat pesan Tuan muda," tegur Sekertaris Jo.
Dhira mengerutkan alisnya begitu dalam, pesan apa?
Hingga ia pun teringat pada pesan Hexa untuk tidak menundukkan diri pada siapa pun kecuali padanya.
"Astaga, aku kenapa bisa sampai lupa?" Dhira memejamkan mata merasa dirinya sangatlah bodoh, selalu saja membuat kesalahan.
Kembali mengamati Hexa yang kini dilayani oleh para pelayan, dari mulai membuka jas, melepas sepatu, pijatan lembut pada pundak dan kepala, semuanya dilakukan dengan sempurna, tapi yang melakukan semuanya pelayan pria. Sementara Hexa hanya duduk diam dan bersandar manis di sofa.
"Permisi, Nona. Silahkan duduk, kami akan memijit Anda." Salah satu pelayan wanita menghampirinya.
"Ah, tidak. Aku tidak membutuhkannya, biar Tuan Hexa saja, saya tidak terbiasa," tolak Dhira dengan sopan.
"Baik, Nona." Pelayan itu pun mundur dengan patuh.
"Anda tidak ingin dipijit, Tuan?" tanya Dhira pada Sekertaris Jo. Entah apakah dia berpura-pura atau memang tidak tahu bahwa yang boleh dilayani di rumah itu hanya Tuan Hexa saja.
"Ini bukan tempat jasa pijat, Nona. Tolong perhatikan sikap Anda, jangan sampai Anda menawarkannya pada orang lain untuk dipijat di rumah Tuan muda." Sekertaris Jo berucap dengan tegas.
'Sepertinya ia juga sudah tertular oleh sikap dinginnya pria ini, bagaimana mungkin mereka berlomba menjadi pria paling dingin di dunia? Benar-benar sekelompok pria aneh,' benaknya sembari menatap kedua pria itu silih berganti dengan rasa kesal yang terpendam.
__ADS_1
"Sudah, cukup. Kalian bisa pergi dari sini!" Tiba-tiba Hexa bersuara dan membuka matanya.
"Kamu, kemari!" perintahnya dengan menunjuk ke arah Dhira.
"A-ada apa, Tuan?" tidak bisa jika tidak tergagap jika bertanya, membuat Hexa mengerutkan alisnya menatap wanita itu.
"Apa kau memiliki gangguan? Kau tidak bisa bicara dengan benar?"
'Hei, ayolah, Tuan muda yang terhormat. Ini bukan gangguan, tapi sebuah bawaan ketika seseorang sedang gugup.' Dhira kembali membatin, hatinya terus meronta.
"Maaf, Tuan." Dhira berucap sambil terus merundukkan kepalanya.
"Mulai sekarang kau adalah pelayan pribadiku, kemarilah. Berikan aku pijatan," titahnya dengan suara dingin.
'Apa? Pelayan pribadi? Ck, dia benar-benar ingin menyiksaku dan mati secara perlahan.' Dengan malas Dhira melangkah mendekati Hexa.
"Kau bisa kembali, hari ini aku tidak masuk kantor, datanglah besok pagi," ucap Hexa pada Sekertaris Jo.
"Baik, Tuan Muda. Saya mengirim sebuah video di email Anda, Anda bisa membukanya saat senggang." Sekertaris Jo pun memberi hormat lantas pergi meninggalkan rumah tersebut.
Detik berikutnya.
"Sudah cukup, ikuti aku." Hexa bangkit dan berjalan menaiki tangga, sesuai perintah, Dhira mengekor di belakangnya. Entah siksaan apalagi yang akan ia dapatkan setelah ini.
Tiba-tiba Hexa menghentikan langkahnya. " Siapa yang menyuruhmu berjalan begitu cepat?"
"Hah?" Otak Dhira tiba-tiba ngeblank.
"Jaga jarak, kau harus tahu batasanmu, tidak lebih dari satu meter dariku." Dengan kata lain ia ingin Dhira mundur kembali.
"Kau hanya perlu datang saat aku panggil. Jika tidak, semakin jauh maka lebih baik, paham?" sergahnya sambil terus menunjuk jarak di antara mereka.
"Baik, Tuan." Dhira pun mengangguk patuh, sekarang ia hanya butuh kesabaran yang berlipat-lipat dari sebelumnya.
__ADS_1
'Sabar, Dhira. Jangan ambil hati apapun yang dia ucapkan. Kau hanya perlu patuh, maka hidupmu akan aman. Anggap saja otak pria ini sedang korslet.' Dhira terus mengatur napasnya dan mengelus dada saat Hexa tak melihat. Dari belakang, rasanya ingin sekali mencabik-cabik punggung pria itu, tapi sayang nyawanya lebih penting untuk saat ini.