Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Kamu Milikku


__ADS_3

"Hexa, ini aku, kamu tak mengenaliku lagi?" Raut wajah kesedihan tak dapat terbendung. Ia berharap Hexa tidak berpura-pura melupakannya.


"Tolong jangan lancang, memangnya kau pantas menyebut namaku?" desis Hexa dengan wajah yang sedatar mungkin. Begitu banyak orang, ia tak ingin dirinya dan Ressa menjadi sorotan.


"Dhira, ayo kita pergi," bisik Derta, ia tak ingin mengganggu kedua insan yang saling bertemu selama beberapa tahun terpisah.


Dhira pun mengangguk mengerti, meski ia sangat penasaran dengan hubungan kedua orang itu.


"Aku tak mengizinkanmu pergi." Hexa Menarik tangan Dhira dengan cepat saat wanita itu akan pergi bersama Derta.


"Biarkan kami memberimu waktu untuk bicara dengan Kak Ressa, kami akan kembali setelah kau selesai," ucap Derta dengan suara pelan, tak ingin mengundang perhatian.


"Diam kau! pergi saja sendiri, jangan ajak Dhira!" bentak Hexa kesal.


Ressa diam-diam melirik tangan Hexa yang terus menggenggam tangan Dhira dengan erat.


Hatinya terus bertanya ada hubungan apa antara Hexa dan wanita kecil itu.


Apakah sungguh tidak ada harapan lagi baginya untuk mendekati mantan kekasihnya itu?


Tiba-tiba hatinya terasa sakit, bagaimanapun dirinya sendirilah yang memberi peluang pada wanita lain untuk bisa mendapatkan Hexa.


Andai dulu ia tak meninggalkan Hexa, mungkin mereka masih akan bersama, atau bisa jadi mereka telah menikah dan memiliki beberapa anak.


Ah, tapi di dunia ini tidak ada kata andai, semua berjalan sebagaimana mestinya.


"Tuan, biarkan saya dan Derta pergi sebentar, saya rasa ada sesuatu yang nona ini ingin katakan, tapi tidak enak karena ada banyak orang di sini," bisik Dhira yang merasa tak enak hati pada Ressa yang terus melirik genggaman tangan pria ini terhadapnya. Takut akan terjadi kesalahpahaman yang nanti membuat hidupnya semakin rumit.


"Aku dan dia tidak ada hubungan apa pun," ucap Hexa begitu saja, seolah sedang memberi penjelasan agar Dhira tak salah paham mengenai Ressa dan dirinya.


"Ini bukan masalah ada hubungan atau tidak, tapi sepertinya nona ini mau bicara berdua dengan Anda, Tuan," sergah Dhira semakin merasa tak enak hati.

__ADS_1


Namun, bukannya mendengarkan ucapan Dhira, Hexa malah menarik tubuh wanita kecil itu masuk dalam dekapannya. "Memangnya aku terlihat peduli padanya? Aku sudah memilikimu, aku tak butuh wanita mana pun lagi."


Seketika Dhira melotot mendengar ucapan Hexa, bagaimana mungkin dia tiba-tiba berkata seperti itu dalam situasi seperti ini, itu sama saja memancing kesalahpahaman orang-orang.


"Tuan, tolong lepaskan dulu, tidak enak dilihat banyak orang." Dhira berusaha untuk melepaskan diri. Namun, semakin ia berusaha, Hexa malah semakin kuat mendekapnya, seperti gurita yang menyedotnya hingga terasa sakit.


Semakin lama Ressa merasa tak betah diabaikan begitu saja oleh Hexa, belum lagi pria itu malah sengaja memeluk wanita lain seolah ingin memanasinya.


"Aku ingin bicara berdua denganmu, jika kamu merasa bahwa masih mengenaliku, datanglah ke kamar Dua Belas lantai Tujuh, aku menunggumu di sana." Ressa pun tak ingin memaksa kehendaknya di depan umum, ia pergi usai mengutarakan ajakannya terhadap mantan kekasihnya tersebut.


'Kak Hexa ini kenapa, sih? Mau main tarik ulur? Kenapa bawa-bawa Dhira masuk ke masalahnya?' batin Derta tak senang.


Ia dengan cepat menarik tangan Dhira sembari berkata, "Tolong jaga sikapmu, Kak. Kau bukan orang biasa di sini, setiap gerakmu selalu dipantau, apalagi di sini ada awak media yang selalu on time."


Dhira seketika merasa tubuhnya jadi lega setelah Hexa melepaskannya, ia mungkin akan kehilangan napas jika berada dalam dekapan pria ini lebih lama lagi.


"Kamu ikut aku."


"Ke mana?"


Derta ia tinggal begitu saja, seperti anak yang tak dianggap.


"Dasar, Kak Hexa. Setidaknya ajak aku juga kalau mau bawa Dhira. Aku di sini mau ngapain?" celetuknya sambil memindai beberapa orang yang ada di ruangan itu, tidak ada satu pun yang ia kenal, mau bicara sama siapa?


"Derta." Suara yang tak asing terdengar jelas dari belakangnya. Derta menoleh dan seketika berubah tegang, napasnya memburu cepat.


"Hai, Pa, Ma." Tersenyum dengan paksa, sangat tidak terbayangkan kenapa bisa bertemu kedua orang tuanya di sini.


"Ngapain kamu di sini?" tanya papa.


"Ma, Pa. Aku ada urusan lain, aku pergi dulu, bye. I love you." Derta memberikan kiss bye pada keduanya dan berlari terbirit-birit, ia tak ingin pulang begitu cepat, masih ingin tinggal lama bersama Dhira.

__ADS_1


Kedua orang tua yang ditinggalkan begitu saja kini berdiri mematung melihat tingkah anak semata wayang mereka, dalam hati berpikir kenapa bisa mereka melahirkan anak yang begitu tidak kenal sopan pada orang tua sendiri.


"Huh, akhirnya berhasil kabur, untung tidak tertangkap," gumamnya sambil memegangi kedua lututnya, ngos-ngosan berlari.


"Kak Hexa dan Dhira ke mana, ya?" Tiba-tiba teringat pada kedua orang itu.


Di lain sisi, seorang wanita dewasa yang anggun dan kalem itu, masih duduk menunggu sambil menatap ke arah jendela, di luar gelap, segelap hubungannya pada Hexa. Berharap akan ada bulan dan bintang yang bisa sedikit menerangi.


Ia melirik jam tangannya, sudah satu jam ia menunggu, tapi Hexa tak kunjung datang menghampirinya.


"Apa dia benar-benar melupakanku?"


Kriet!


Mendengar suara pintu terbuka, ia dengan cepat menoleh dan sedikit tersenyum senang, akhirnya Hexa masih tak bisa melupakannya meski berpura-pura tak peduli sekalipun.


Namun, ketika yang terlihat bukan Hexa, semula senyum yang tadinya merekah, kini kembali menguncup. Kecewa, kenapa yang datang malah Derta dan bukan Hexa.


"Hexa mana?" tanyanya langsung.


Derta mematung dengan sedikit menggeleng. "Kukira Kak Hexa ke sini." Sambil memaksakan diri tersenyum meski terlihat begitu palsu.


"Kalau begitu aku tidak ganggu, ya, Kak." Baru mencoba ingin keluar dari sana, tiba-tiba Ressa memanggilnya, perlahan ia kembali membalikkan tubuh, entah kenapa perasaannya jadi tak enak, sepertinya akan ada introgasi yang terjadi di ruangan ini.


"Kamu kenal dengan wanita yang bersama Hexa tadi, 'kan?" tanya Ressa ketika cunguk itu sudah duduk di hadapannya. Derta masih diam, tidak menjawab pertanyaannya.


"Apa hubungan mereka begitu dekat? Mereka berpacaran atau sudah menikah?" Ressa memberi pertanyaan lain membuat Derta makin kikuk.


"Kak, bukankah informasi Kak Hexa mudah didapatkan dari berbagai media sosial, kurasa Kakak sudah menyelidikinya sebelum memutuskan bertemu Kak Hexa, 'kan?" elak Derta, tak ingin menjawab karena takut salah.


"Derta, kurasa kamu orang yang smart. Kamu tahu sendiri semua berita media itu tidak dapat dipercaya 100%, aku tidak bisa hanya dengan melihat berita lalu percaya bahwa dia masih lajang, kamu sendiri lihat perlakuan Hexa pada wanita itu, tidak ada hubungan tak mungkin begitu dekat sampai pelukan di depan umum."

__ADS_1


Lagi-lagi Derta menghela napas berat, seberat cobaan hidupnya, tapi ia paksakan lagi untuk tersenyum.


"Kak, aku cuma orang luar, 'kan, ya? Sepertinya masalah ini cuma bisa kamu tanyakan sama Kak Hexa langsung, aku tak bisa menjawab semua rasa penasaranmu, jadi sekarang aku harus pergi." Derta bergegas bangkit dan sedikit berlari keluar agar tak dicegah lagi oleh Ressa yang terus menanyainya tentang sesuatu yang tidak ia ketahui, walau bagaimanapun, siapa yang bisa mengerti hati Hexa? Sejauh ini pria itu masih sulit dimengerti.


__ADS_2