Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Buaya dan Kucing


__ADS_3

'Tuan Muda sungguh telah ada perubahan semenjak mengenal Nona Dhira. Apakah Anda akan kembali menemukan seseorang yang mampu mengisi kekosongan yang telah lama menemanimu, Tuan?' Sekertaris Jo berbicara sendiri dalam benaknya, sambil sesekali melirik Hexa yang mengulum senyum, terfokus pada layar ponsel di tangan.


"Jo, apa kau menyukai seekor kucing?" Tiba-tiba Hexa bertanya dengan sudut bibir yang melengkung.


"Ah?" Sekertaris Jo hanya terperangah bingung. Ada apa dengan kucing, kenapa tiba-tiba membahas tentang hewan?


"Aku sedang memelihara kucing rakus di rumah. Semalam aku memberinya dua gelas susu dan dia pun menghabiskan semuanya. Apa menurutmu aku sudah salah memeliharanya?"


Entah ngelantur atau apa, Sekertaris Jo malah bingung sendiri. Sejak kapan tuan mudanya suka kucing, selama ini tidak ada hewan apa pun di rumahnya.


"Selagi Anda menyukai kucing itu, saya rasa tidak masalah, Tuan." Sekertaris Jo menjawab dengan asal.


Hexa terdiam sejenak.


'Suka? Apa aku menyukainya? Tidak, 'kan?'


Teringat kembali saat Dhira yang sangat senang diberikan lembaran uang, moodnya kembali berubah, sudut bibirnya tertarik menampilkan senyuman miring.


"Dia hanya mainan unik yang kadang-kadang menjengkelkan," cetusnya kesal.


Alis Sekertaris Jo tertarik sambil menatap Hexa.


'Ada apa lagi dengan tuan muda?' batinnya.


Detik berikutnya, satu pesan masuk ke email Sekertaris Jo.


Ia membacanya dengan alis yang mengerut, tak lama pintu pun diketuk oleh seseorang.


Sekertaris Jo segera membukanya, seorang wanita yang bekerja di perusahaan itu membawa sebuah kartu undangan dan Sekertaris Jo menerimanya.


Lama ia terdiam, sambil sesekali menatap atasannya yang kini fokus pada layar komputer.


Ada rasa tak enak hati untuk menyampaikan hal itu, tapi ia juga takut Hexa akan mempertanyakannya di kemudian hari jika kartu undangan itu ia buang.


"Ada apa?" Hexa yang menyadari gelagat aneh bawahannya itu, segera langsung bertanya.


"Berikan padaku." Hexa langsung memintanya ketika melihat sebuah undangan di tangan Sekertaris Jo.


Johan mendekat dan memberikan undangan tersebut.


Sekertaris Jo sudah dapat menebak, pasti Hexa tidak akan menghadirinya.


Bibir yang melengkung miring, serta tatapan nanar tersirat di mimik wajah Hexa ketika membaca undangan tersebut.


"Sudah berapa lama, sekarang tiba-tiba mengundangku, pasti memiliki maksud dan tujuan," gumam Hexa.

__ADS_1


"Aku penasaran apa yang akan mereka lakukan dengan kehadiranku." Hexa tersenyum sinis, tatapannya seolah akan membakar seluruh isi ruangan tersebut.


"Siapkan sebuah gaun yang paling bagus untuk wanita itu, aku akan menghadiri acara yang paling mengesankan ini," titah Hexa.


"Baik, Tuan." Sekertaris Jo membungkuk hormat sebelum ia keluar dari ruangan Hexa.


'Ada apa dengan tuan muda? Bukankah ia tak ingin lagi berurusan dengan keluarga Nona Ressa?' batin Sekertaris Jo berucap.


****


"Huft ... aku sangat kenyang. Terimaksih sarapan sekaligus makan siangnya, Pak Wang." Dhira bersandar di kursi sambil memegangi perutnya yang penuh, telah diisi oleh nasi serta kawan-kawannya.


Pak Wang yang setia menunggu Dhira makan, tersenyum melihat nona mudanya menikmati makanan yang ia hidangkan.


Baru kali ini ia merasa tak sia-sia menyiapkan banyak makanan, semua ludes dalam sekejap.


Ketimbang saat tuan mudanya yang makan, hanya beberapa sendok saja, sudah mengakhirinya. Membuat Pak Wang terkadang berpikir apakah makanannya tidak sesuai dengan selera tuan muda.


"Terimakasih sudah makan dengan lahap, Nona. Saya senang Anda bisa menghabiskan makanan yang sudah saya siapkan," jawab Pak Wang sembari tersenyum sopan.


"Bagaimana aku tidak menikmatinya, Pak Wang, masakanmu saja enak begini, tapi jika makan bersama Tuan Hexa, aku tak enak bersikap serakus tadi." Dhira tersenyum cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.


Berbicara soal Hexa, Dhira tiba-tiba teringat akan satu hal.


"Aish, Pak Wang, ini semua salahmu, kenapa masak begitu enak? Aku, 'kan, jadi lupa sama tugasku." Lihatlah, Dhira ngelantur seenaknya menyalahkan Pak Wang yang sudah memberinya makan enak siang ini.


'Apa salah saya, Nona? Barusan Anda memuji masakan saya, tapi sekarang Anda menyalahkan saya dengan semua masakan itu.'


Sungguh sangat malang menjadi seorang kepala pelayan. Semua yang dilakukan menjadi serba salah, tidak ada benarnya.


"Maafkan saya, Nona." Pak Wang membungkuk hormat meminta maaf.


"Ah, tidak perlu begitu, Pak, aku hanya asal bicara tadi. Aku harus ke atas sekarang." Dhira segera berlari ke atas menuju kamarnya.


Membuka kamar mandi dengan cepat. Ya, masih ada segitiga bermuda yang terendam air sabun di dalam bak mandi.


Dhira mengangkatnya dan bau apek tercium. "Astaga, apa yang kulakukan, pakaian dalamnya jadi bau terendam air sabun semalaman. Kenapa bisa lupa, sih, Dhira?" Ia bergumam merutuki diri, begitu teledor melupakan tugas yang satu ini.


Segera ia mencucinya lagi, bersih dan hingga benar-benar wangi, tangannya sampai pegal hanya untuk menyelesaikan satu pakaian dalam pria. Sangat memalukan, tidak ada pria lain yang pernah ia cucikan pakaian dalamnya kecuali milik Hexa.


Entah apakah Hexa, ataukah Dhira yang beruntung, sebab pakaian dalam Hexa pun tidak pernah ada wanita lain yang mencucikannya.


Ketimbang mengatakan itu adalah sebuah keberuntungan, Dhira malah menganggap ini sebuah musibah baginya. Siapa yang mau disuruh mencuci ****** ***** secara cuma-cuma.


Usai mencuci, Dhira menjemurnya di balkon kamar, ia letakkan di pagar balkon tanpa menggunakan jepitan.

__ADS_1


"Akhirnya selesai juga, waktunya mandi."


Dhira bersenandung pelan di kamar mandi sambil membersihkan tubuhnya yang semalam tidak sempat ia bersihkan.


Suara ketukan tiba-tiba terdengar.


"Ih, apa tidak bisa membiarkan aku mandi dengan tenang?" gerutunya.


"Nona Muda, ada kiriman dari tuan muda."


Dhira hapal dengan suara itu, pasti Pak Wang.


Ia buru-buru menyelesaikan ritualnya di kamar mandi dan mengenakan baju secepat kilat. Membuka pintu dengan tergesa. "Ada apa, Pak?"


"Kiriman dari tuan muda, Nona." Sembari menyerahkan kotak persegi di tangannya.


Dhira mengernyit, kiriman apa lagi pikirnya.


"Terimakasih, Pak."


"Sama-sama, Nona. Saya permisi." Pak Wang menunduk lalu pergi meninggalkan Dhira.


Baru kembali masuk ke kamar, tiba-tiba ponselnya berdering.


Nama yang paling menyebalkan tertera di layar ponsel.


"Ish, kenapa lagi, sih?" rutuknya kesal. Sebelum mengangkat, Dhira mengatur napas agar suaranya terdengar senatural mungkin, bersiap untuk berakting manis pada pria itu.


"Halo, Tuan," ucapnya setelah telepon tersambung.


"Kiriman sudah kau terima?" Suara dingin dan angkuh terdengar di seberang sana.


'Sudah seperti peramal saja,' batin Dhira.


"Sudah, Tuan," jawab Dhira yang dibuat semanis mungkin.


"Sudah kau buka?"


"Belum, Tuan."


"Beraninya kau mengabaikan sesuatu yang sudah kukirim, bosan hidup?" sergah Hexa tak suka.


'Hei, buaya. Kirimannya saja baru sampai, beraninya menuduhku.'


Ingin sekali Dhira meneriaki hal itu pada Hexa, tapi apa daya, ia tak punya nyali untuk segala hal yang menyangkut dengan pria itu.

__ADS_1


__ADS_2