Pilihan Tuan Muda

Pilihan Tuan Muda
Diperlakukan Bagai Ratu


__ADS_3

"Tuan, apa Anda masih lama di dalam? Saya kebelet," panggil Dhira ketika beberapa menit berlalu Hexa tak juga kunjung keluar dari kamar mandi, sementara ia sudah menahan diri untuk tidak ngompol di celana.


Mendengar suara Dhira, Hexa bergegas keluar, ia sampai lupa kalau Dhira dari tadi belum menggunakan kamar mandi sejak ia bangun.


"Kamu mau langsung mandi?" tanya Hexa ketika membuka pintu.


"Iya, mau sekalian saja, Tuan." Sembari mengangguk pelan.


"Mau kubantu?"


Dhira tergagap. "T-tidak perlu, Tuan. Saya bisa sendiri."


"Ya sudah."


Dhira tersenyum samar sambil melangkah masuk, jujur **** ************* masih perih hingga untuk berjalan saja ia tertatih.


Hexa segera memegangi kedua bahu Dhira untuk memberi keringanan agar lebih nyaman untuk melangkah.


"Terimakasih, Tuan," ucap Dhira ketika ia sudah berada di dalam kamar mandi.


Hexa mengangguk. "Panggil aku saja jika butuh sesuatu."


Lalu ia pun keluar tanpa menunggu jawaban Dhira.


Beberapa menit berikutnya, Dhira keluar, dan ternyata Hexa masih menunggu di depan pintu, hingga membuat Dhira terjingkat kaget.


"Ayo." Hexa kembali membantu Dhira untuk berjalan.


Gila, dirinya sudah seperti baru melahirkan saja, sampai harus dipegangi terus menerus saat jalan, padahal tanpa dibantu pun ia bisa sendiri, tapi ia merasa tak enak jika harus menolak perhatian kecil Hexa padanya.


"Apa bisa ganti baju sendiri? Atau mau aku bantu?"

__ADS_1


Dhira cepat menggeleng. "Saya bisa, Tuan."


Yang benar saja, meski Hexa sudah melihat setiap inci tubuhnya tanpa sehelai benang, tapi ia masih malu untuk memperlihatkannya dalam keadaan seperti ini.


Lagi-lagi Hexa menunggu dengan sabar, sampai Dhira keluar lagi dengan setelan gaun putih bermotif bunga mawar di bagian depan.


Itu adalah baju yang disiapkan oleh Hexa di lemari pakaiannya, masih banyak lagi di sana, Hexa pasti menghabiskan puluhan atau bahkan ratusan juta untuk membeli pakaiannya saja, padahal ia tak meminta itu, tapi ya tau sendirilah bagaimana watak suaminya ini, keputusannya tak bisa diganggu gugat.


"Ayo, sarapan," ajak Hexa.


Hexa baru saja mau membantunya untuk berjalan, tapi segera ia tolak. Lama-lama risih juga dipegangi terus menerus, ya walaupun niatnya baik, tapi kan malu jika sampai dilihat Pak Wang dan pelayan lain.


Jika ditanya, masa iya mau bilang kalau semalam melakukan adegan panas hingga tak bisa berjalan, yang benar saja.


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya bisa jalan sendiri, malu dilihat Pak Wang nanti."


"Menurut saja, kenapa harus malu? Aku pemilik rumah, jika ada yang berani menertawakanmu, aku pecat mereka."


"Selamat pagi, Tuan Muda, Nona Muda." Pak Wang langsung menyapa ketika mereka tiba di depan meja makan.


"Pagi, Pak Wang," sapa balik Dhira.


"Saya sudah siapkan sarapan sesuai request Anda, Nona."


Dhira pun menoleh ke arah meja makan, ada dua mangkuk lontong sayur, satu untuknya dan satu untuk Hexa, juga ada satu mangkuk besar tambahan jika Dhira memerlukannya.


Itu sangat menggoda, Dhira tak tahan untuk tidak menelan salivanya. Sudah lama sekali tidak sarapan seperti ini.


Selama tinggal sama Hexa, ia hanya diperbolehkan sarapan sandwich, roti, atau tidak salad, seperti orang diet, padahalkan tubuhnya sudah kecil.


Tanpa disadari, Hexa sudah membuka kursi untuk diduduki oleh Dhira, ia benar-benar diperlakukan bagai ratu di rumah ini, bukan hanya Pak Wang dan para pelayan saja yang peduli, kini bahkan Hexa ikut-ikutan dan bahkan lebih protektif.

__ADS_1


Sementara Pak Wang membuka kursi untuk Hexa, lalu mereka menyantap sarapannya.


Namun, tidak begitu, Hexa masih diam tanpa menyentuh semangkuk lontong sayur di hadapannya, matanya sibuk memperhatikan Dhira yang makan dengan lahap, melihat wanita ini makan saja, ia sudah merasa kenyang.


Dhira berhenti mengunyah ketika menyadari Hexa terus menatapnya, pelan-pelan meraih gelas berisi air di samping mangkuk dan meneguknya dengan hati-hati.


Jangan-jangan Hexa tidak berselera karena melihatnya makan terlalu rakus.


"Maafkan saya, Tuan." Dhira pun tersenyum canggung sekaligus malu.


Hexa mengerjap beberapa kali, melempar pandangannya ke sembarang arah.


"Lanjutkan sarapanmu, setelah itu siap-siap berangkat."


Hexa mulai memasukkan lontong sayur ke mulutnya, ia tak bisa berkata apa-apa lagi, bahkan sarapan itu serasa hambar di lidah saking gugupnya ketahuan oleh Dhira.


Dhira bingung, tapi tak mengindahkan ucapan Hexa, ia melihat Pak Wang dan beberapa pelayan lain masuk ke kamar Hexa, ia mengernyit sejenak, lalu kembali melanjutkan sarapannya, mungkin Pak Wang mau membersihkan kamar itu, pikirnya.


Setelah selesai sarapan, mereka kembali ke kamar. Setelah tiba, ternyata Pak Wang dan beberapa pelayan yang lain masih di sana, tampak keluar dari ruang ganti dengan menyeret dua koper berukuran besar.


"Sudah semua? Jangan sampai ada yang tertinggal," ucap Hexa pada Pak Wang. Dhira hanya bisa menatap bingung, tak tahu apa-apa mengenai hal itu.


"Sudah, Tuan Muda, saya sudah memastikan semuanya lengkap," jawab Pak Wang.


"Tuan, ini ...." Dhira memberanikan diri untuk bertanya.


"Aku ingin membawamu ke suatu tempat." Sembari tersenyum samar nyaris tak terlihat.


'Suatu tempat? Di mana itu?'


Dhira terus menerka dalam batin. Namun, tidak mendapatkan jawabannya, lagian mau dibawa ke mana sih? Sampai bawa banyak perlengkapan, seperti mau nginap berbulan-bulan saja.

__ADS_1


__ADS_2