
"Anda butuh gelas, Tuan?" tanya Dhira.
Sebisa mungkin untuk bersikap tenang meski sudah ada sorot mata yang begitu tajam menantinya. Ia seperti tertikam pisau saking tajamnya tatapan itu.
"Iya," jawab Sekertaris Jo.
'Nona, tidak bisakah Anda patuh saja pada Tuan Hexa? Kenapa malah datang ke sini?'
Sekertaris Jo hanya bisa menyesali kelakuan Dhira yang tak ada habisnya. Yang ia lakukan, hampir semuanya yang tidak disukai oleh tuan mudanya.
Bukan apa-apa, jika kesenangan hati Hexa terganggu, ia yang akan repot menyelesaikan ini dan itu, pekerjaannya bisa bertambah dua kali lipat.
Dhira ragu, tapi ia tetap mengambil langkah dan mendekat, dengan satu nampan yang terdapat satu gelas bersih di atasnya.
"Ini gelasnya, Tuan." Dhira meletakkan nampan tersebut di atas meja, tentunya dengan tangan yang gemetar.
'Sial sekali, apa hidupku telah dikutuk oleh langit dan bumi? Aku tidak ingin ada di antara kedua orang ini.'
Dhira terus merutuki diri. Keringat dingin semakin menjalar ke seluruh tubuh.
"Di sini apa mereka tidak punya pelayan lelaki, kenapa yang datang wanita lagi?" gerutu pria yang di hadapan Hexa.
"Hei, kamu. Keluar sekarang, kenapa masih di situ?" bentaknya terhadap Dhira.
"Baik, Tuan." Senang, ia sangat senang karena ternyata ia bisa keluar dengan mudah.
Uh, tapi. Harapannya sirna begitu cepat.
"Kembali!" seruan itu berhasil menghentikan langkahnya.
'Aih, jangan panggil aku!' Teriaknya dalam hati sembari memejamkan mata, takut.
"Tidak dengar? Jangan membuatku berkata dua kali." Masih dengan nada yang begitu tenang.
"Nona, Tuan Hexa memintamu kembali." Sekertaris Jo memperjelasnya.
__ADS_1
Dhira berbalik badan. "Saya, Tuan?" sambil menunjuk dirinya sendiri. Berpura-pura bodoh karena berharap bukan dirinya yang dipanggil.
Baik Hexa maupun Sekertaris Jo, mereka sama-sama diam menandakan bahwa memang Dhira lah yang mereka maksud.
Seperti sedang ketahuan mencuri sesuatu, Dhira berjalan sangat pelan dengan kepala menunduk, tak berani menatap Sekertaris Jo apalagi Hexa.
"Kau ingin aku menuang air sendiri? Lalu apa tugasmu di sini?" ucapan Hexa setenang rembulan tapi sorot matanya sepanas bara api.
"Baik, Tuan. Akan saya tuangkan." Tanpa ia tahu bahwa bukan dirinya yang diajak bicara oleh Hexa, pria itu malah berdiri membungkuk menuangkan minuman soda di gelas bersih yang dibawa oleh Dhira barusan.
"Apa Tuan Hexa mengizinkan Anda menyentuh gelasnya?"
Seketika tangan pria itu berhenti dari aktivitasnya, kini sorot mata yang menakutkan sedang mengintainya dari jarak dekat.
"Bukankah Tuan Hexa tidak suka wanita menyentuh sesuatu yang akan ia sentuh?" jawabnya gelagapan, sekaligus panik yang semakin menyerang hingga ke ubun-ubun.
"Jika Anda belum menyelidiki secara mendetail tentang Tuan Hexa, sebaiknya urungkan niat Anda untuk bekerja sama dengan beliau, Anda hanya membuang waktu saja."
Sekertaris Jo menyimpan kedua tangan di belakang tubuhnya, berdiri tegap dengan wajah yang seolah ingin menghancurkan seisi ruangan.
Ya iyalah, lagian Sekertaris Jo mana berani berbicara kasar apalagi lancang terhadap wanita yang jelas-jelas mendapat perhatian lebih dari tuan mudanya. Cari mati namanya jika ia berani membuat Dhira ketakutan dengan sifat aslinya.
"Maaf, maafkan saya, Tuan. Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, akan saya ganti gelasnya dengan yang baru lagi." Ia bergegas mengambil gelas yang barusan ia isi, ingin menggantinya dengan yang baru.
"Cukup, kau membuatku pusing. Letakkan gelas itu dan ambil proposalmu, aku tidak tertarik." Hexa melempar map di tangannya ke atas meja, raut wajah gusar menandakan ia tak suka dengan kebisingan.
"T-tapi, Tuan." Wajah pria itu berubah tak sedap, ia sudah berjanji pada atasan untuk mendapatkan tanda tangan kontrak kerjasama dengan Hexa, ia tak bisa pulang dengan tangan kosong, kini jabatannya telah menjadi taruhan jika ia tak berhasil.
"Beri saya kesempatan sekali lagi, Tuan," mohonnya dengan memelas.
"Bawa tamu kita keluar dengan terhormat, Jo," perintah Hexa sambil menyenderkan kepalanya di badan sofa, dengan mata yang tertutup rapat.
"Tuan, saya mohon." Kini ia berpindah memelas pada Sekertaris Jo.
"Mari keluar, Tuan." Sekertaris Jo membentangkan tangannya mempersilahkan, dengan bibir yang tersenyum. Bahkan Dhira tahu bahwa senyum itu sangat palsu, Sekertaris Jo juga dalam keadaan tak senang saat ini.
__ADS_1
Usai Sekertaris Jo keluar bersama pria itu, kini dalam ruangan hanya ada Dhira dan Hexa.
Dhira tak henti-hentinya berdoa dan meminta pertolongan lewat hati terdalamnya. Kini ia hanya tinggal berdua dengan pria itu, segala kemungkinan buruk bisa saja terjadi selagi tidak ada yang melihat.
Perlahan Dhira sedikit mengangkat kepalanya menatap pria yang masih bersender di sofa, matanya juga masih terpejam, tidak mengeluarkan suara sama sekali.
Semakin tidak ada suara di dalam ruangan itu, semakin pula Dhira takut untuk bernapas, bahkan suara napasnya bisa saja membuat hati Hexa semakin gusar.
'Aahh! Aku ingin bersembunyi saja di dalam lubang kepiting, sepertinya kepiting pun jauh lebih memiliki perasaan ketimbang pria di hadapanku ini.' Pekiknya lewat hati yang sedang gundah gulana.
Semakin hari, Dhira bukannya merasa terbiasa, tetapi malah semakin merasa takut menghadapi pria tanpa ekspresi di hadapannya ini.
'Ahh, kenapa dia tidak bersuara? Apa ia tidak berpikir bahwa diamnya jauh lebih menakutkan ketimbang saat ia marah?' Sembari terus meremas roknya hingga terlihat kusut.
Tak lama setelah itu, Sekertaris Jo kembali masuk ke ruangan.
"Kau sudah membereskannya?" tanya Hexa masih dengan mata yang tertutup, jika ia tak bersuara, mungkin Dhira akan mengira bahwa pria itu tertidur.
"Sudah, Tuan."
Hexa membuka mata, sekilas melirik ke arah Dhira dengan tatapan mengintimidasi, seolah mengatakan pada Dhira, selanjutnya dirimu yang akan kubereskan. Begitu yang ditangkap oleh Dhira.
Hexa benar-benar keluar dari ruangan itu tanpa mengatakan apa pun pada Dhira.
Namun, Sekertaris Jo masih berdiri di sana menatap nona mudanya.
"Saya tidak berharap Anda melupakan pesan yang saya katakan tadi pagi, Nona."
"Saya Permisi."
Sekertaris Jo membungkuk hormat lantas berlalu meninggalkan Dhira yang masih mematung di ruangan itu.
Entah seperti mendapat sengatan listrik aliran pendek, Dhira terus membeku sepanjang drama yang berjalan barusan. Ia baru bergegas berlari keluar setelah kedua pria itu lenyap dari pandangannya.
"Mati aku, ternyata mereka mengenaliku, lantas kenapa tidak bicara dari tadi? Membuatku susah saja," gusar Dhira sambil berjalan cepat menuju ke ruang ganti, ia harus bisa secepat kilat, harus berada di rumah sebelum Hexa tiba di sana lebih dulu.
__ADS_1
Begitu pesan Sekertaris Jo yang masih ia ingat, bahkan sampai di luar kepalanya.